Teks Latin Dekret Kepausan Penyintas Tertua Menolak “Pembaptisan Keinginan”
September 3, 2023
SUPPORT
Copy Link
https://endtimes.video/id/teks-latin-dekret-kepausan-menolak-pembaptisan-keinginan/
Copy Embed
vatikankatolik.id - Saluran dalam Bahasa Indonesia

| |

Bruder Peter Dimond, OSB

TEKS LATIN DEKRET KEPAUSAN PENYINTAS TERTUA MENOLAK “PEMBAPTISAN KEINGINAN”

Pada tahun 385, Paus St. Sirisius mengeluarkan sebuah dekret kepada Himerius. Dokumen ini sering disebut sebagai sepucuk Surat kepada Himerius. Namun dokumen ini sebetulnya adalah sebuah dekret otoritatif, yang di dalamnya Paus St. Sirisius menggunakan otoritas apostoliknya, mempermaklumkan undang-undang, dan mendeklarasikan bahwa dekretnya harus diedarkan kepada semua uskup Gereja Katolik, dan harus mereka taati. Maka dokumen ini adalah sebuah akta otoritatif dari Takhta Suci. Dekret Paus St. Sirisius kepada Himerius kenyataannya adalah dekret Kepausan tertua yang tetap terjaga utuh. Tentunya ada dekret-dekret Kepausan sebelum masa St. Sirisius, dan St. Sirisius bahkan membuat rujukan kepada dekret-dekret tersebut. Namun dekret Sri Paus ini adalah dekret tertua yang terjaga secara utuh. Di dalam dekret itu, Paus St. Sirisius membuat pernyataan-pernyataan yang mengejutkan, tentang perlunya pembaptisan bayi dan pembaptisan orang dewasa. Ia juga secara eksplisit sama sekali menolak konsep pembaptisan keinginan atau baptis rindu. Kalau kita mencermati teks bahasa Latin dokumen itu, kita mendapat bukti yang pasti bahwa Paus St. Sirisius dan ajaran Gereja Katolik menentang gagasan pembaptisan keinginan.

Fakta-fakta di bawah membuktikan kepada semua orang yang jujur, bahwa dekret  St. Sirisius dan Gereja perdana menolak gagasan “pembaptisan keinginan”. Meskipun demikian, ada banyak orang yang luar biasa tidak jujur di dunia, termasuk mereka yang mengklaim diri “Katolik tradisionalis”. Sayangnya, beberapa dari antara mereka begitu lekat dengan konsep “pembaptisan keinginan” (dan bidah keselamatan di luar Gereja) sehingga mereka akan secara langsung menyangkal adanya kutipan atau fakta apa pun yang menentang “pembaptisan keinginan”, tidak peduli betapa pasti keberadaannya atau betapa jelas ajarannya. Mereka dalam prosesnya kehilangan segala kredibilitas.

Menimbang kegagalan mereka bahkan dalam mengakui realitas pun (yaitu adanya kutipan-kutipan yang melawan posisi mereka), mereka pantas dibandingkan dengan para pendukung homoseksualitas yang mengklaim bahwa Alkitab tidak mengutuk perbuatan homoseksual. Ya, ada banyak orang yang mengaku diri “Kristen” dan benar-benar berargumen bahwa tidak ada ayat dalam Kitab Suci yang berlaku untuk mengutuk perbuatan homoseksual. Mereka mencoba mencari-cari alasan untuk setiap ayat alkitab yang pada umumnya dikutip dalam perkara itu. Mereka bahkan membela pandangan mereka itu dalam karya-karya mereka yang tercetak! Anda mungkin berkata bahwa perbuatan mereka itu absurd. Nah, seperti yang dibuktikan oleh fakta-fakta berikut, menyangkal bahwa dekret Paus St. Sirisius menentang gagasan “pembaptisan keinginan” itu adalah perbuatan yang sama absurdnya.

Kami mengundang setiap orang yang ingin kebenaran - misal. setiap orang yang setia dan percaya akan ajaran Katolik dan otoritas yang Kristus anugerahkan atas St. Petrus dan para penerusnya - supaya mereka mencermati fakta-fakta ini dengan saksama. Kami meminta mereka supaya merenungkan penting serta bobot dekret Kepausan ini dan fakta-fakta yang terkait pada perkara tersebut, dan tunduk kepada posisi Katolik yang didiktatkan hal-hal itu.

BAGIAN KUNCI DEKRET INI

Berikut yang dikatakan Sri Paus:

Paus St. Sirisius, Dekret kepada Himerius, 385 M:

LATIN: “Sicut sacram ergo paschalem reverentiam in nullo dicimus esse minuendam, ita infantibus qui necdum loqui poterunt per aetatem vel his, quibus in qualibet necessitate opus fuerit sacra unda baptismatis, omni volumus celeritate succurri, ne ad nostrarum perniciem tendat animarum, si negato desiderantibus fonte salutari exiens unusquisque de saeculo et regnum perdat et vitam.”

“Maka sebagaimana yang Kami katakan bahwa penunaian ibadat Paskah suci sama sekali tidak boleh dikurangi, Kami juga berkata bahwa kepada bayi-bayi yang belum bisa berbicara oleh karena usia mereka atau kepada mereka yang dalam keadaan darurat apa pun akan memerlukan aliran pembaptisan suci, Kami menghendaki agar pertolongan dibawakan dengan segala ketangkasan, sebab jiwa-jiwa kita akan terjurus kepada kebinasaan, seandainya mata air yang menyelamatkan itu ditolak bagi mereka yang menginginkannya dan tiap-tiap dari mereka yang meninggalkan dunia ini kehilangan baik Kerajaan maupun kehidupan.”

“Quicumque etiam discrimen naufragii, hostilitatis incursum, obsidionis ambiguum vel cuiuslibet corporalis aegritudinis desperationem inciderint, et sibi unico credulitatis auxilio poposcerint subveniri, eodem quo poscunt momento temporis expetitae regenerationis praemia consequatur. Hactenus erratum in hac parte sufficiat; nunc praefatam regulam omnes teneant sacerdotes, qui nolunt ab apostolicae petrae, super quam Christus universalem construxit Ecclesiam, soliditate divelli.”

“Barang siapa jatuh ke dalam bahaya karamnya kapal, serbuan musuh, ketidakpastian akibat pengepungan atau keputusasaan akibat penyakit jasmaniah apa pun, dan mengemis supaya dilegakan dengan satu-satunya pertolongan iman, biarkanlah mereka memperoleh pahala-pahala kelahiran kembali yang amat didambakan itu pada saat yang sama mereka mengemis pertolongan tersebut. Cukup sudah kesalahan yang lalu dalam perkara ini; [namun] sekarang hendaknya semua imam memelihara kaidah yang telah disebutkan itu, jikalau mereka tidak ingin terenggut dari kekukuhan batu karang apostolik yang di atasnya Kristus mendirikan Gereja universal-Nya.”

Kata-kata Sri Paus ini sangat jelas. Ia sama sekali menolak gagasan pembaptisan keinginan.

Sri Paus memulai dengan berbicara tentang suatu disiplin, yaitu menyelenggarakan pembaptisan konvert orang dewasa pada masa Paskah. Masa Paskah adalah masa perayaan Kebangkitan. Pembaptisan merupakan kebangkitan dari keadaan pengutukan ke dalam hidup baru dalam Kristus (lihatlah Kolose 2:12, Roma 6:3-4, dll.). Itulah sebabnya, pada waktu itu timbul suatu kebiasaan untuk menyelenggarakan pembaptisan konvert orang dewasa pada masa Paskah, setelah para katekumen yang belum dibaptis melalui masa ujian dan pengajaran sebagai persiapan menjalani kehidupan Kristiani. Seperti yang dibuktikan dengan jelas oleh dekret ini dan dekret-dekret lainnya, kebiasaan menunda pembaptisan orang dewasa sampai masa Paskah tidak bertentangan dengan posisi dan ajaran Gereja yang infalibel - bahwa semua orang yang mempersiapkan diri untuk dibaptis memang akan binasa jika mereka meninggal sebelum dibaptis. Tidak seorang pun dapat diselamatkan tanpa pembaptisan, seperti yang dinyatakan Yesus dalam Yohanes 3:5 dan diajarkan Gereja secara infalibel. Allah bisa dan memang akan menjaga jiwa-jiwa yang berkehendak baik dan tulus supaya tetap hidup sampai dibaptis. Ialah yang memegang kendali.

Praktik membaptis konvert dewasa pada masa Paskah dan kebiasaan katekumenat yang diperpanjang merupakan suatu disiplin pada zaman itu. Praktik dan kebiasaan itu bukanlah suatu kewajiban dari Tradisi Apostolik, seperti yang kita lihat pada Kisah Para Rasul bab 8. Di dalam bab itu kita melihat bahwa Filipus membaptis sida-sida dari Etiopia setelah berdiskusi dengan amat singkat tentang dasar-dasar iman Kristiani. Jadi, ketika menyatakan bahwa penunaian ibadat Paskah suci harus dilanjutkan, St. Sirisius menambahkan bahwa jika para katekumen yang belum dibaptis ini mendapati diri mereka dalam keadaan darurat macam apa pun, mereka harus dibaptis dengan segala ketangkasan, yang berarti: secepatnya atau dengan segera. Ia kemudian menjelaskan alasannya menitikberatkan poin ini. Sri Paus menyatakan bahwa mereka harus cepat-cepat dibaptis sesegera mungkin kalau berada dalam keadaan darurat macam apa pun.

" ... sebab jiwa-jiwa kita akan terjurus kepada kebinasaan, seandainya mata air yang menyelamatkan itu ditolak bagi mereka yang menginginkannya dan tiap-tiap dari mereka yang meninggalkan dunia ini kehilangan baik Kerajaan maupun kehidupan.”

Pernyataannya itu tentunya sama sekali menolak konsep pembaptisan keinginan. Sri Paus mengajarkan bahwa semua orang yang menginginkan pembaptisan air tetapi mati tanpa menerimanya tidak akan selamat.

 

MENCERMATI TEKS LATINNYA DENGAN LEBIH SAKSAMA

Untuk memperkuat bukti bahwa dekret Paus Santo Sirisius menolak pembaptisan keinginan, mari kita mencermati perkataannya dengan lebih saksama. 

Paus St. Sirisius, Dekret kepada Himerius, 385 M:

LATIN: “Sicut sacram ergo paschalem reverentiam in nullo dicimus esse minuendam, ita infantibus qui necdum loqui poterunt per aetatem vel his, quibus in qualibet necessitate opus fuerit sacra unda baptismatis, omni volumus celeritate succurri, ne ad nostrarum perniciem tendat animarum, si negato desiderantibus fonte salutari exiens unusquisque de saeculo et regnum perdat et vitam.”

“Maka sebagaimana yang Kami katakan bahwa penunaian ibadat Paskah suci sama sekali tidak boleh dikurangi, Kami juga berkata bahwa kepada bayi-bayi yang belum bisa berbicara oleh karena usia mereka atau kepada mereka yang dalam keadaan darurat apa pun akan memerlukan aliran pembaptisan suci, Kami menghendaki agar pertolongan dibawakan dengan segala ketangkasan, sebab jiwa-jiwa kita akan terjurus kepada kebinasaan, seandainya mata air yang menyelamatkan itu ditolak bagi mereka yang menginginkannya dan tiap-tiap dari mereka yang meninggalkan dunia ini kehilangan baik Kerajaan maupun kehidupan.”

“Quicumque etiam discrimen naufragii, hostilitatis incursum, obsidionis ambiguum vel cuiuslibet corporalis aegritudinis desperationem inciderint, et sibi unico credulitatis auxilio poposcerint subveniri, eodem quo poscunt momento temporis expetitae regenerationis praemia consequatur. Hactenus erratum in hac parte sufficiat; nunc praefatam regulam omnes teneant sacerdotes, qui nolunt ab apostolicae petrae, super quam Christus universalem construxit Ecclesiam, soliditate divelli.”

“Barang siapa jatuh ke dalam bahaya karamnya kapal, serbuan musuh, ketidakpastian akibat pengepungan atau keputusasaan akibat penyakit jasmaniah apa pun, dan mengemis supaya dilegakan dengan satu-satunya pertolongan iman, biarkanlah mereka memperoleh pahala-pahala kelahiran kembali yang amat didambakan itu pada saat yang sama mereka mengemis pertolongan tersebut. Cukup sudah kesalahan yang lalu dalam perkara ini; [namun] sekarang hendaknya semua imam memelihara kaidah yang telah disebutkan itu, jikalau mereka tidak ingin terenggut dari kekukuhan batu karang apostolik yang di atasnya Kristus mendirikan Gereja universal-Nya.”

Pada versi Latin dekret itu, kita menemukan kata: desiderantibus. Kata itu adalah partisip masa kini jamak dalam bentuk datif dari kata kerja:

desidero

Saya menginginkan atau menghendaki

Di sini, desiderantibus secara harfiah berarti bagi mereka yang menginginkan. Maka dari itu, dekret ini berbicara secara langsung tentang para katekumen yang belum dibaptis, yang menginginkan pembaptisan air. Dalam kalimat tersebut kita juga menemukan kata-kata berikut: negato... fonte salutari

Itu adalah ablatif absolut - yaitu, frasa yang umumnya terdiri dari kata benda dan partisip yang memodifikasi dalam kasus ablatif.

  • Di sini kata bendanya adalah fonte, yang berasal dari kata fons, yang berarti: air mancur, mata air, bejana (dalam pembaptisan).
    • Kata itu mengacu kepada mata air pembaptisan.
  • Kata salutari yang berarti menyelamatkan, adalah kata sifat yang menyertai fonte dalam kalimat ini.
  • fonte salutari berarti dengan mata air yang menyelamatkan.
  • Kata negato adalah partisip perfek pasif, yang berasal dari kata kerja nego, yang berarti saya menyangkal atau menolak.
    • Kata negato di sini merupakan partisip perfek pasif dalam kasus ablatif, yang berarti telah ditolak.
  • Jadi, makna harfiah dari ablatif absolut – negato fonte salutari adalah dengan mata air yang menyelamatkan, yang telah ditolak; atau yang dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yang lebih lancar menjadi: seandainya mata air yang menyelamatkan itu ditolak.

Ditolak bagi siapa? Sri Paus berkata: desiderantibus, bagi mereka yang menginginkannya. Jadi, dekret ini secara langsung membahas kasus-kasus ditolaknya Sakramen Pembaptisan bagi mereka yang menginginkannya. Di dalam paragraf-paragraf ini, Sri Paus kenyataannya menggunakan banyak kata kerja untuk menggambarkan situasi saat orang akan meminta atau bahkan mengemis supaya dibaptis.  Namun, mereka semua akan binasa jika mereka tidak mendapatkannya, seturut ajaran Sri Paus.

Faktanya, kalau seseorang berkehendak baik, Allah akan menjaga orang itu tetap hidup sampai menerima Pembaptisan.

St. Agustinus, Contra Julianum [Melawan Julianus], Buku 5, Bab 4: “Dari jumlah orang-orang pilihan dan terpredestinasi, mereka yang bahkan telah menjalani kehidupan terburuk pun dituntun kepada pertobatan melalui kebaikan Allah… Tidak satu pun dari mereka binasa, terlepas usianya pada waktu kematian; tidak pernah dikatakan bahwa seorang manusia yang ditakdirkan kepada kehidupan akan diizinkan mati tanpa sakramen sang Perantara [Pembaptisan]. Sebab orang-orang ini, ujar Tuhan kita: ’Inilah kehendak dari Ia yang mengutus-Ku, Bapa, bahwa Aku tidak akan kehilangan apa pun yang telah diberikan-Nya kepada-Ku’.”

Dia Allah yang baik, Mahakuasa dan adil.  Namun dekret Sri Paus dan ajaran Gereja menegaskan bahwa tidak seorang pun diselamatkan tanpa pembaptisan air – dan ajaran ini juga berlaku bahkan kepada mereka yang menginginkannya.

Di samping itu, menurut saya sangat menarik bahwa dekret itu menggunakan kata desiderantibussebuah bentuk partisip dari kata desidero. Seperti yang akan ditunjukan oleh etimologi, desidero adalah kata yang turunannya adalah kata desire dalam bahasa Inggris. Ada banyak kata kerja dalam bahsa Latin yang dapat digunakan untuk mengungkapkan konsep bagaimana seseorang bermaksud, menghendaki atau menginginkan sesuatu. Sirisius kenyataannya menggunakan sejumlah kata itu di samping desidero (yaitu, poposcerint, expetitae). Namun desidero merupakan kata yang paling persis bertepatan dengan kata kerja desire dalam bahasa Inggris. Jika kita memahami “pembaptisan keinginan” sebagai “pembaptisan menginginkan” - baptism of desiring, orang bisa melihat hubungan yang persis antara rujukan Sri Paus kepada desiderantibus dan konsep “pembaptisan keinginan” - suatu konsep yang secara langsung ditolak oleh dekretnya.

Dalam kata lain, bukan hanya semata-mata suatu kebetulan bahwa dekret Sirisius menggunakan sebuah partisip dari desidero. Allah memastikan agar dekretnya ini menggunakan kata yang secara persis bertepatan dengan istilah bahasa Inggrisnya, yaitu kata kerja desire, sehingga gagasan “pembaptisan keinginan” - “baptism of desire” akan ditolak secara langsung oleh dekret Kepausan penyintas tertua. (Pada poin ini, silakan melihat bagian di bawah tentang pentingnya dekret ini untuk hari-hari terakhir). 

 

DEKRET SIRISIUS TENTUNYA MEMBUKTIKAN BAHWA GEREJA PERDANA MENOLAK “PEMBAPTISAN KEINGINAN”

Sirisius adalah seorang Bapa Gereja. Ia seorang santo.  Dan yang paling penting untuk perkara yang satu ini, ia seorang Paus.  Ia memegang otoritas Santo Petrus dan para penerusnya yang sah.  Dekret Sri Paus ini membuktikan secara pasti bahwa Gereja perdana menolak gagasan pembaptisan keinginan. Meskipun makna dekretnya ini sangat jelas, beberapa pendukung pembaptisan keinginan yang keras kepala begitu tidak jujurnya sehingga mereka benar-benar akan mengklaim bahwa dekret Sri Paus ini tidak bertentangan dengan pembaptisan keinginan. Menakjubkan!  Banyak dari mereka bahkan dengan lancang mengklaim bahwa tidak ada Bapa, Santo atau Paus yang menolak gagasan pembaptisan keinginan. Pernyataan mereka itu tentunya sama sekali omong kosong dan sepenuhnya dusta, yang dihancurkan oleh fakta-faktanya. Dekret Sirisius sendiri, serta banyak poin lainnya yang dapat kami kemukakan, membuktikan bahwa Gereja perdana menolak pembaptisan keinginan. Sungguh mencengangkan, ketidakjujuran dan misrepresentasi yang tercela, yang secara berkala diperlihatkan oleh para pendukung pembaptisan keinginan.

 

SRI PAUS BAHKAN MENYEBUTKAN KECELAKAAN, KEJADIAN TAK TERDUGA, DLL. - KEADAAN-KEADAAN YANG SECARA KHUSUS AKAN DIKLAIM ORANG AMAT PANTAS BERLAKU UNTUK “PEMBAPTISAN KEINGINAN” - DAN SRI PAUS MENOLAK GAGASAN PEMBAPTISAN KEINGINAN DALAM KONTEKS YANG SAMA ITU

Dalam konteks ini, Sri Paus juga berbicara tentang bagaimana orang-orang yang menginginkan pembaptisan air mungkin mengalami bahaya karamnya kapal, serbuan musuh, penyakit - atau apa pun juga.  Bisa saja peristiwa yang tiba-tiba dan tak terduga menimpa mereka. Sri Paus merujuk kepada segala jenis keadaan darurat. 

“Quicumque etiam discrimen naufragii, hostilitatis incursum, obsidionis ambiguum vel cuiuslibet corporalis aegritudinis desperationem inciderint...”

“Barang siapa jatuh ke dalam bahaya karamnya kapal, serbuan musuh, ketidakpastian akibat pengepungan atau keputusasaan akibat penyakit jasmaniah apa pun ....”

Namun, apa yang dikatakannya tentang nasib orang-orang dalam situasi seperti itu, yang menginginkan pembaptisan tetapi mati tanpa menerimanya? Ia mengajarkan bahwa mereka semua akan kehilangan Kerajaan dan kehidupan jika mereka meninggalkan dunia ini tanpa pembaptisan air.

“... si negato desiderantibus fonte salutari exiens unusquisque de saeculo et regnum perdat et vitam.”

“ ... seandainya mata air yang menyelamatkan itu ditolak bagi mereka yang menginginkannya dan tiap-tiap dari mereka yang meninggalkan dunia ini kehilangan baik Kerajaan maupun kehidupan ....”

Sri Paus menggunakan kata unusquisque yang berarti masing-masing dari mereka atau tiap-tiap dari mereka – untuk menekankan fakta bahwa tidak ada pengecualian dalam hal ini. Jika anda tidak dapat melihat bahwa pernyataannya ini sepenuhnya menolak pembaptisan keinginan sama sekali, maka anda hanyalah seorang pendusta. Dokumen ini juga merupakan dekret Paus dan Santo dari Gereja perdana, yang di dalamnya ia menggunakan otoritas tertingginya dan memberlakukan dekretnya kepada Gereja universal. 

 

SIRISIUS JUGA MENYATAKAN BAHWA PEMBAPTISAN AIR ADALAH “UNICO CREDULITATIS AUXILIO” (SATU-SATUNYA PERTOLONGAN IMAN): SATU-SATUNYA CARA UNTUK DISELAMATKAN

Dalam paragraf berikutnya, Sri Paus menekankan bahwa pembaptisan air adalah satu-satunya pertolongan bagi mereka, satu-satunya cara untuk diselamatkan - baik bagi mereka yang masih bayi maupun bagi mereka yang menginginkan pembaptisan dan berada dalam bahaya, kecelakaan, dll.

“Quicumque etiam discrimen naufragii, hostilitatis incursum, obsidionis ambiguum vel cuiuslibet corporalis aegritudinis desperationem inciderint, et sibi unico credulitatis auxilio poposcerint subveniri, eodem quo poscunt momento temporis expetitae regenerationis praemia consequatur. Hactenus erratum in hac parte sufficiat; nunc praefatam regulam omnes teneant sacerdotes, qui nolunt ab apostolicae petrae, super quam Christus universalem construxit Ecclesiam, soliditate divelli.”

“Barang siapa jatuh ke dalam bahaya karamnya kapal, serbuan musuh, ketidakpastian akibat pengepungan atau keputusasaan akibat penyakit jasmaniah apa pun, dan mengemis supaya dilegakan dengan satu-satunya pertolongan iman, biarkanlah mereka memperoleh pahala-pahala kelahiran kembali yang amat didambakan itu pada saat yang sama mereka mengemis pertolongan tersebut. Cukup sudah kesalahan yang lalu dalam perkara ini; [namun] sekarang hendaknya semua imam memelihara kaidah yang telah disebutkan itu, jikalau mereka tidak ingin terenggut dari kekukuhan batu karang apostolik yang di atasnya Kristus mendirikan Gereja universal-Nya.”

Sri Paus menyebut pembaptisan air sebagai unico credulitatis auxilio - yaitu, satu-satunya pertolongan iman atau kepercayaan. 

  • Credulitatis - yang berarti iman atau kepercayaan - adalah bentuk genitif dari credulitas, yang berarti iman atau kepercayaan.

Maka menurut ajaran Sri Paus, menerima Sakramen Pembaptisan adalah satu-satunya pertolongan iman. Menerima Sakramen Pembaptisan adalah syarat pertama dan satu-satunya cara untuk diselamatkan, melalui iman, seperti yang juga diajarkan oleh Kitab Suci.  

Galatia 3:26-27 - “ ... sebab di dalam Kristus Yesus, kamu semua adalah anak-anak Allah melalui iman itu διὰ τῆς πίστεως ]. Karena kamu semua, yang dibaptis ke dalam Kristus, telah mengenakan Kristus.”

Kolose 2:12 - “ ... karena kalian telah dikuburkan dengan Dia di dalam pembaptisan, yang olehnya kalian juga dibangkitkan bersama dengan-Nya melalui iman itu [ διὰ τῆς πίστεως ]  ...." -

Efesus 2:8-  “ Sebab oleh rahmat kalian telah diselamatkan melalui iman itu [ διὰ τῆς πίστεως ] …."

Tidak ada yang namanya iman atau kepercayaan – suatu credulitas - yang dapat membawa seseorang kepada keselamatan tanpa pembaptisan air. Pembaptisan air adalah satu-satunya cara seseorang menerima iman sejati yang menyelamatkan. Itulah alasan Gereja juga telah mengajarkan bahwa hanya mereka yang telah menerima Sakramen Pembaptisan yang merupakan bagian dari para umat beriman. Kata unico ... auxilio ada dalam bentuk ablatif. Kata-kata ini adalah bentuk ablatif dengan makna suatu cara, yang berhubungan dengan kata subveniri, yaitu - dilegakan. Sri Paus berkata bahwa mereka yang pada keadaan darurat apa pun mengemis Sakramen Pembaptisan harus dilegakan … unico auxilio: dengan satu-satunya pertolongan … credulitatis: iman. Menerima Sakramen Pembaptisan adalah satu-satunya cara bagi mereka untuk diselamatkan.

 

SATU-SATUNYA PERTOLONGAN MEMUSTAHILKAN SARANA KESELAMATAN LAINNYA DAN YANG DISEBUT-SEBUT “PEMBAPTISAN LAINNYA”

Kata unico yang merupakan suatu bentuk dari unicus, berarti

unik, satu-satunya, tiada tara, tak tertandingi

Tidak mungkin ada alternatif yang lain. Tidak ada jenis pembaptisan yang lain. Menerima pembaptisan air adalah cara yang unik dan satu-satunya untuk memperoleh keselamatan, bagi bayi-bayi, bagi mereka yang menginginkannya, bagi mereka yang mengalami segala macam kesulitan, penyakit, keadaan darurat dll. Itulah ajaran Paus St. Sirisius. Itulah ajaran Gereja Katolik. Itulah yang kita temukan dalam setiap dekret infalibel dan dogmatis dari Gereja universal tentang perkara ini - meskipun Allah membiarkan kesalahan diajarkan pada perkara ini dalam sumber-sumber falibel dan oleh orang-orang falibel.

Paus Klemens V, Konsili Vienne, 1311-1312:
“Di samping itu, satu pembaptisan yang esa yang meregenerasikan semua orang yang dibaptis dalam Kristus harus diakui dengan setia oleh semua orang, sama halnya dengan ‘satu Tuhan dan satu iman yang esa’; Pembaptisan ini, yang diselenggarakan di dalam air dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Kami memercayainya sebagai obat yang sempurna untuk keselamatan baik bagi orang dewasa maupun anak-anak.”

Paus Paulus III, Konsili Trente, Kanon 5 tentang Sakramen Pembaptisan, Sesi 7, 1547:
“Barang siapa berkata bahwa pembaptisan [Sakramen] adalah hal yang opsional, yaitu, tidak diperlukan untuk keselamatan: terkutuklah dia.”

Paus Paulus III, Konsili Trente, Kanon 2 tentang Sakramen Pembaptisan, kanon-kanon tentang Sakramen Pembaptisan, Sesi 7, 1547, ex cathedra:Barang siapa berkata bahwa air sejati dan alami tidak diperlukan untuk pembaptisan, dan oleh karena itu kata-kata Tuhan kita Yesus Kristus: ‘Jika seseorang tidak dilahirkan kembali dari air dan Roh Kudus,’ [Yohanes 3:5], terdistorsi menjadi suatu metafora: terkutuklah dia.”

Sangat menarik pula bahwa dekret Paus St. Sirisius pada perkara ini diulangi dengan gaya bahasa yang sangat mirip, oleh Paus St. Leo Agung dalam banyak pernyataannya. Anda bisa menemukan kutipan-kutipan itu dalam versi terkini dari buku kami tentang Keselamatan. Hal itu berarti bahwa pernyataan Sirisius yang menentang gagasan pembaptisan keinginan - dan keselamatan apa pun tanpa pembaptisan air - adalah ajaran yang diulang-ulangi oleh para Paus dan Takhta Apostolik mengenai perkara ini. 

Otoritas dari dekret Paus Sirisius kenyataannya perlu ditekankan. Dekret ini dikeluarkan kepada Gereja Katolik dengan segenap otoritas Paus Sirisius. Dalam dekret tersebut, Sri Paus berulang kali merujuk kepada jabatan apostoliknya yang tertinggi dan ia menggunakan otoritas jabatan tersebut. Sri Paus menegaskan bahwa apa yang dinyatakannya itu bersifat mengikat. Ia berkata bahwa dekretnya harus dikirim kepada seluruh gereja, semua uskup, serta semua imam, dan harus mereka taati. 

Dari sudut pandang hukum gereja, dekret Sri Paus ini adalah dekret tertinggi dan paling otoritatif yang dapat dikeluarkan seorang Paus. Dan, seperti yang telah kita lihat, ada termuat dalam undang-undang dan dekretnya ini, ajaran bahwa semua orang yang menginginkan pembaptisan air, namun meninggal tanpa menerimanya, semua orang itu binasa - dan bahwa menerima mata air pembaptisan yang menyelamatkan adalah satu-satunya cara bagi orang-orang untuk diselamatkan, baik bagi mereka yang masih bayi, atau yang menginginkan pembaptisan, maupun mereka yang sedang berada dalam keadaan darurat apa pun.

Saya rasa bukan suatu kebetulan jika dekret Kepausan yang sama sekali menolak gagasan pembaptisan keinginan dan menegaskan kebenaran tentang keharusan mutlak pembaptisan air untuk keselamatan adalah dekret Kepausan penyintas tertua di zaman kita. Sebab ciri utama dari periode yang kita lalui ini - yaitu, masa Kemurtadan Besar dan hari-hari terakhir - adalah penolakan terhadap perlunya pembaptisan serta penolakan terhadap perlunya penyaturagaan ke dalam Yesus Kristus dan Gereja Katolik untuk keselamatan. 

Memang benar suatu fakta di zaman kita ini, bahwa doktrin sesat pembaptisan keinginan merupakan inti dari penolakan tersebut.

Jadi, Allah mengatur agar dekret Paus St. Sirisius yang menolak gagasan pembaptisan keinginan akan menjadi dekret yang menyintas hingga akhir zaman dan menjulang di zaman kita ini sebagai dekret yang terkuno - sehingga pada periode yang bercirikan doktrin sesat pembaptisan keinginan dan penyangkalan terhadap perlunya penyaturagaan ke dalam Gereja, dekret Kepausan yang paling terhormat di sepanjang sejarah dari sudut pandang usianya, akan menjadi sebuah dekret yang secara jelas menolak doktrin sesat pembaptisan keinginan dan menegaskan kebenaran Yesus Kristus bahwa tidak seorang pun dapat diselamatkan tanpa dilahirkan kembali dari air dan Roh di dalam sakramen pembaptisan.

Dalam kata lain, kalau seseorang ingin menemukan ajaran otoritatif dan historis para Paus dan Kepausan, yang menyandang otoritas yang diberikan Yesus Kristus kepada Santo Petrus dan para penerusnya, dan yang membahas perlunya pembaptisan air dan tentang gagasan pembaptisan keinginan - dekret Kepausan penyintas tertua adalah titik permulaan yang tepat. Dan di dalam dokumen itu terdapat penolakan yang jelas terhadap doktrin sesat pembaptisan keinginan.

Omong-omong, patut dicatat bahwa surat Paus Klemens yang terkenal kepada jemaat di Korintus, tentu saja lebih awal dari dekret St. Sirisius.  Tertanggal dari abad pertama dan sekitar tahun 95, surat Paus Klemens ini merupakan contoh yang baik tentang Keutamaan dan otoritas Kepausan dalam Gereja kuno, seperti yang juga termuat dalam dokumen-dokumen lainnya.  Dalam surat kepada jemaat di Korintus, Gereja Roma yang dipimpin oleh Klemens menggunakan otoritasnya untuk memerintah jemaat di Korintus dengan berbagai cara. Itulah contoh otoritas Gereja Roma atas gereja-gereja lain pada periode terawal dalam sejarah Gereja.

Namun, surat ini bukanlah sebuah dekret Kepausan tentang poin-poin hukum Gereja dalam makna yang sempit, yang kemudian diterapkan pada jenis-jenis dokumen Kepausan tertentu. 

Dari antara surat-surat dekret Kepausan tersebut, dekret Paus Sirisius adalah dekret Kepausan tertua yang tetap terjaga utuh.

Yesus Kristus adalah Alfa dan Omega. Yang Awal dan Yang Akhir. Iman yang diwahyukan-Nya tidak berubah. Dia berjanji akan menyertai Gereja-Nya sampai akhir zaman. Menjelang hari terakhir, ketika Gereja menghadapi banyak orang yang telah meninggalkan dogma Katolik tentang perlunya Gereja untuk keselamatan - biasanya dengan dalih “pembaptisan keinginan” - kita bisa membuka lembar halaman sejarah yang terawal, pada teks dekret Kepausan terawal yang kita punyai, dan di dalamnya secara khusus ada bantahan terhadap doktrin sesat pembaptisan keinginan.

 

DEKRET SIRISIUS MEMBUKTIKAN BAHWA MAGISTERIUM BIASA DAN UNIVERSAL JUGA MENENTANG “PEMBAPTISAN KEINGINAN”, SERTA MEMBUKTKAN POSISI KAMI

Dan juga, dekret St. Sirisius membuktikan sebuah poin penting mengenai ajaran Magisterium Biasa dan Universal. Magisterium Luar Biasa yang dilaksanakan, misalnya, dalam dekret-dekret dogmatis konsili-konsili universal, telah menyatakan bahwa tidak seorang pun dapat diselamatkan tanpa menerima Sakramen Pembaptisan. Dan karena Magisterium Biasa dan Universal bersifat infalibel, tentunya Magisterium itu tidak dapat menentang Magisterium Luar Biasa. 

Dekret Paus St. Sirisius membuktikan bahwa Magisterium Biasa dan Universal menolak pembaptisan keinginan dan menegaskan kebenaran bahwa tidak seorang pun dapat diselamatkan tanpa sakramen pembaptisan. Sebabnya adalah dekretnya ini, yang menolak pembaptisan keinginan, atas dasar perintah Paus Sirisius, harus diajarkan kepada semua uskup dalam Gereja, dan harus mereka ulangi.  Maka dengan mengikuti dekret St. Sirisius ini, seluruh Gereja akan mengajarkan apa yang diajarkan Sri Paus: yaitu menerima mata air pembaptisan yang menyelamatkan adalah satu-satunya cara untuk diselamatkan, bahkan bagi mereka yang menginginkannya. 

Untuk tahu lebih lanjut tentang ajaran Gereja mengenai dogma Di Luar Gereja Katolik Tidak Terdapat Keselamatan dan perkara pembaptisan, mohon membaca buku kami tentang Keselamatan, menyimak video Argumen Terbaik untuk Melawan “Pembaptisan Keinginan” serta materi lainnya di situs internet kami.

Paus Eugenius IV, Konsili Florence:
“Dan karena maut memasuki alam semesta melalui manusia pertama, ‘jika kita tidak dilahirkan kembali dari air dan Roh, kita tidak dapat,’ sebagaimana yang dikatakan oleh sang Kebenaran, masuk ke dalam Kerajaan Surga [Yohanes 3:5]. Materi dari sakramen ini adalah air yang sejati dan alami.”

SHOW MORE



31:49
Vatikan II Adalah Agama Baru (Bukti Visual)
2 tahun lalu
59:21
Argumen Terbaik untuk Melawan “Pembaptisan Keinginan”
2 tahun lalu
36:22
Bukti Keberadaan Allah yang Menakjubkan – Bukti Ilmiah Keberadaan Allah
2 minggu lalu
39:11
Pria Ini Ditembak & Melihat Neraka – Video Mengejutkan yang Mesti Ditonton
2 bulan lalu
33:06
Apakah Alkitab Memprediksikan 70 Tahun Tanpa Seorang Paus?
1 tahun lalu
31:30
Bukti untuk Sedevakantisme & bahwa Fransiskus Bukan Paus dari Teks Gerejawi
2 tahun lalu
7:18
Fransiskus Berpartisipasi dalam Doa kepada Roh-Roh Jahat
2 tahun lalu
22:32
Mengapa Fransiskus Tidak Boleh Dianggap Paus
3 tahun lalu
6:27
Mengapa Neraka Harus Abadi
3 tahun lalu
12:50
Apakah Gereja Katolik Mengutuk Semua Orang yang Disunat?
3 tahun lalu
50:28
Paus Pius IX Tidak Mengajarkan Keselamatan di luar Gereja
5 bulan lalu
40:09
Faustina & Kerahiman Ilahi – Suatu Penipuan
1 tahun lalu
8:58
Doa Agama Buddha bersama Fransiskus di Gereja Katolik Kuno Genapi Nubuat
3 hari lalu
3:47
Benediktus XVI mengungkapkan rasa syukurnya atas Sinagoga, dan menggunakan Kalender Yahudi
2 tahun lalu
1:19:59
Maria Tanpa Dosa: Dokumenter Kitab Suci
3 tahun lalu