Sejarah “Ortodoksi” Timur yang Sesungguhnya
April 17, 2022
Copy Link
https://endtimes.video/id/sejarah-ortodoksi/
Copy Embed
vatikankatolik.id - Saluran dalam Bahasa Indonesia

|

Bruder Peter Dimond, OSB

Video ini membahas banyak hal baru yang lain, termasuk:

• Bagaimana sekte-sekte “Ortodoks” Timur sebanding dengan Kerajaan Samaria yang memberontak, yang senantiasa dituntun ke dalam penawanan akibat pemberontakan terhadap Allah

• Bukti lebih lanjut bahwa Konsili Florence adalah suatu konsili ekumenis yang diterima oleh Gereja-Gereja Timur

• Suatu kutipan baru yang sangat menarik dari St. Robertus Bellarminus

• Suatu bantahan terhadap argument manusia jerami yang menipu dari seorang “Ortodoks” Timur

• Bagaimana sejarah dan penawanan kaum “Ortodoks” Timur pasca Konsili Florence, sewaktu dibandingkan dengan evangelisasi Gereja Katolik yang berhasil, memperlihatkan bahwa vonis Gereja berpihak kepada umat Katolik • Sejarah dan penawanan yang menyingkapkan dari Sekte “Ortodoks” Rusia

• Eklesiologi sekte-sekte “Ortodoks” Timur yang tidak logis dan berkontradiksi

• Bagaimana seorang filsuf Rusia yang terkenal membuat suatu prediksi yang mencolok yang benar tentang suatu skisma di kemudian hari antara “Ortodoksi” Yunani dan Rusia

• Bagaimana Mt. 18, sewaktu dipertimbangkan bersama Mt. 16, menjadi bukti lebih lanjut untuk Kepausan

• Posisi sekte “Ortodoks” Rusia yang menjijikkan tentang perceraian dan “pernikahan kembali”

• Ekumenisme sesat dari sekte-sekte “Ortodoks”

• Dan lain-lain.

Setelah meninggalnya Raja Salomo pada tahun 931 SM, kesepuluh suku utara memberontak terhadap Kerajaan Israel Bersatu. Suku-suku itu membentuk apa yang di kemudian hari dikenal sebagai Kerajaan Israel atau Kerajaan Samaria, sedangkan Kerajaan selatan, yang disebut Yehuda, tetap setia kepada putra Raja Salomo yang bernama Rehoboam. Ibu kota Kerajaan Israel utara yang memberontak itu bertempat di Samaria. Kerajaan itu jatuh ke dalam bencana penyembahan berhala dan memisahkan diri dari ibadat yang sejati terhadap Allah dengan mendirikan dua bait di mana mereka menyembah berhala. Akibat pemberontakan kerajaan utara itu terhadap Allah dan perpisahannya dari ibadat yang sejati dan dari Bait yang sejati, Allah menghukum mereka sehingga Kerajaan mereka sama sekali dimusnahkan. Kehancuran kerajaan ini dinubuatkan oleh Amos, seperti yang kita baca di dalam Amos 9:8:

Amos 9:8 - “’Lihatlah, mata Tuhan Allah tertuju kepada kerajaan yang penuh dosa itu, dan Aku akan melenyapkannya dari muka bumi, tetapi Aku tidak akan sepenuhnya menghancurkan rumah Yakub,’ demikianlah Tuhan berfirman.”

Dan hal itu pun terjadi. Raja Asiria mengepung kerajaan Israel utara yang penuh dosa itu dan menghancurkannya. Kerajaan Israel tidak lagi ada pada tahun 722 SM. Kesepuluh sukunya lalu disebut sebagai Sepuluh Suku Israel yang Hilang.

Kehancuran kerajaan utara yang penuh dosa itu sebanding dengan jatuhnya Konstantinopel dan Kekaisaran Bizantina yang terjadi pada Pesta Pentakosta di tahun 1453. Peristiwa itu terjadi tidak lama setelah begitu banyak orang Yunani memberontak terhadap apa yang sebelumnya telah secara resmi disetujui oleh Konsili Ekumenis Florence dan para pemimpin mereka sendiri, sehubungan dengan kebenaran dogma Filioque dan Keutamaan Yurisdiksi Kepausan.

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Laetentur Caeli,” 6 Juli 1439:
“Dalam nama Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, Putra, dan Roh Kudus … Kami mendefinisikan … bahwa Roh Kudus berasal secara abadi dari Bapa dan Putra, dan bahwa Ia memiliki esensi-Nya dan keberadaan-Nya sendiri yang subsisten dari Bapa bersama dengan Putra, dan bahwa Ia berasal secara abadi dari keduanya sebagai dari satu pokok dan dari satu spirasi yang esa.”

Kenyataannya, berikut suatu kutipan dari Uskup Hilarion Alfeyev, seorang teolog yang terkemuka dari Gereja “Ortodoks” Rusia. Ia adalah metropolitan tituler di dalam sekte Ortodoks Rusia, dan seorang anggota permanen dari Sinode Patriarkat Moskwa. Ia mengakui bahwa Konsili Florence memiliki semua ciri dari suatu Konsili Ekumenis.

Bagaimanapun, ia tidak menerima ajaran Konsili Florence karena ia menganut suatu pandangan bidah yang radikal, yakni Teori Resepsi. Teori ini menyatakan bahwa berbagai gereja setempat dapat memilih untuk tidak menerima ajaran dari suatu Konsili Ekumenis, dan bahwa suatu konsili hanya menjadi Konsili Ekumenis yang mengikat semua orang sewaktu terdapat cukup banyak gereja setempat yang memutuskan untuk menganut ajaran konsili itu.

Posisi itu tentunya akan membuat batal dan tidak bermakna segala otoritas yang dimiliki oleh hierarki Gereja untuk mengajar umat dengan cara yang mengikat. Bagaimanapun, ia mengakui :

Uskup Hilarion Alfeyev, The Reception of the Ecumenical Councils in the Early Church [Penerimaan Konsili-Konsili Ekumenis di dalam Gereja Awal]: “Kita sampai kepada contoh kita yang terakhir, yakni, Konsili Florence-Ferrara (1438-1439). Konsili itu memenuhi semua ciri khas dari suatu Konsili Ekumenis dan merupakan konsili yang paling representatif, sehubungan dengan jumlah hadirinnya, dari seluruh sejarah Kekristenan. Para delegasi dari semua Gereja hadir, termasuk Patriark Konstantinopel dan Metropolitan Moskwa, dan pastinya pula Kaisar Bizantina.”

Seperti yang dibuktikan oleh video kami tentang Ortodoks Timur dan Konsili-Konsili, gereja-gereja Ortodoks menyetujui Surat Bulla Persatuan pada Konsili Florence yang mengajarkan dogma Filioque dan Keutamaan Yurisdiksi Kepausan. Hal ini adalah suatu fakta dan sama sekali tidak dapat dielakkan!

Tetapi, banyak orang di dalam Kekaisaran Bizantina memberontak. Mereka melawan apa yang telah sebelumnya disetujui oleh Gereja Allah dan para pemimpin mereka sendiri. Terlalu memalukan adanya bagi mereka untuk menerima institusi yang telah didirikan oleh Kristus, yakni, Kepausan dan doktrin sejati tentang prosesi Roh Kudus – yakni, dogma Filioque. Akibat ketegaran diri mereka ini, Allah membiarkan segenap Kekaisaran Bizantina dihancurkan para Hari Pentakosta – pesta agung yang dibaktikan kepada Roh Kudus.

St. Robertus Bellarminus, Doktor Gereja Katolik, mengomentari peristiwa ini. Berikut terjemahan kami dari bahasa Latin. Ia berkata:

St. Robertus Bellarminus, De Christo, Buku 2, Bab 30: “ … agar mereka [orang-orang Yunani] mengerti bahwa alasan kehancuran mereka adalah  ketegaran dalam kesalahan sehubungan dengan prosesi Roh Kudus, pada hari-hari raya Roh Kudus itu sendiri, Konstantinopel ditaklukkan oleh orang-orang Turki, sang kaisar dibunuh, dan kekaisaran itu sepenuhnya dilenyapkan … Maka dari itu, banyak orang membandingkan Gereja Yunani dengan Kerajaan Samaria, yang telah memisahkan diri dari bait yang sejati, dan pada akhirnya senantiasa dituntun kepada penawanan.”

Kehancuran Konstantinopel pada Pesta Pentakosta sendiri (Pesta yang dibaktikan kepada Roh Kudus) jelas merupakan suatu pertanda yang besar dari Allah bahwa orang-orang Katolik benar, dan bahwa orang-orang Yunani dihukum dengan kehancuran oleh karena bidah mereka.

Bagaimanapun, beberapa orang skismatis mencoba untuk menghindari kenyataan ini dengan mengajukan argumen-argumen yang menyesatkan atau dengan berdusta secara terbuka. Seorang individu yang beragama “Ortodoks” Timur (yang sebenarnya seorang penipu, dan yang argumen-argumen sesatnya begitu menyedihkan dan memuat begitu banyak dusta, sehingga sang pengecut itu tidak berani mencantumkan namanya kepada argumen-argumen itu), berkata demikian:

[Skismatis Pengecut:] Di dalam video Dimond Bersaudara yang berjudul “Ortodoks” Timur: Kesalahan Fatal Mereka tentang Para Uskup & Konsili-Konsili Ekumenis, mereka berargumen dengan mengajukan beberapa poin utama. Dimond Bersaudara mengklaim bahwa kota Konstantinopel jatuh karena persatuan itu tidak ditegakkan. Semua pernyataan ini bukan hanya salah, tetapi juga sepenuhnya dusta.

Tidak, itu bukanlah argumen kami. Karena para bidah tidak dapat membantah apa yang kami terbitkan, mereka sering membuat misrepresentasi atas argumen kami dan menyerang manusia jerami. Kami tidak berkata bahwa tidak ada upaya untuk menegakkan persatuan itu. Walaupun upaya itu seharusnya dilakukan dengan lebih baik dan mungkin telah dapat dilakukan dengan lebih baik, suatu upaya telah dikerahkan untuk menegakkan Persatuan Florentina.

Kami secara spesifik menyebutkan bahwa persatuan dari Konsili Florence itu bahkan secara resmi diproklamasikan pada Gereja utama di Konstantinopel pada tanggal 12 Desember 1452. Itu adalah bukti lebih lanjut bahwa gereja-gereja Timur telah secara resmi menerima Konsili Florence! Sebaliknya, kami mengajukan bahwa walaupun persatuan itu dilangsungkan, banyak orang secara umum tetap melawan persatuan tersebut.

Perlawanan itu begitu ganas sehingga terkadang para otoritas gerejawi yang mendukung Persatuan Florence harus mengungsi dari gereja negeri mereka sendiri. Begitu banyak rakyat tidak berniat untuk menerima apa yang telah diajarkan secara resmi oleh Gereja tentang Kepausan dan Prosesi Roh Kudus, karena mereka adalah pemberontak yang angkuh.

Seperti yang dicatat oleh sejarahwan Ortodoks Timur, Edward Siecienski:

A. Edward Siecienski, Orthodox Christianity, A Very Short Introduction [Kekristenan Ortodoks: Perkenalan yang Amat Singkat], Bab. 3: “Kendati upaya-upaya yang terbaik dari para kaisar, persatuan Florentina tetap tidak populer, sebagaimana yang dipercayai oleh orang-orang Bizantina secara umum ‘lebih baik mati daripada menjadi Latin.’”

Orang-orang pada masa itu dilaporkan berkata demikian:

“Lebih baik turban Turki daripada tiara Kepausan.”

Dan lihatlah, mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan!

St. Robertus Bellarminus juga mencatat bahwa orang-orang Yunani sering hendak setuju akan kebenaran, dan kemudian, mereka kembali kepada muntahan diri mereka sendiri. Maka, suatu upaya telah dikerahkan untuk menegakkan Persatuan Florentina – tetapi terjadi pemberontakan yang signifikan dari antara pihak rakyat terhadap apa yang telah diajarkan oleh Konsili Ekumenis dari Gereja Allah. Dan pendek kata, semangat pemberontakan yang sama dapat disaksikan dari begitu banyak kaum Ortodoks Timur pada hari ini! Mereka mempertunjukkan keangkuhan yang besar dan kurangnya cinta kasih. Sebabnya adalah watak mereka adalah watak yang memberontak terhadap institusi yang telah didirikan oleh Yesus Kristus, yakni Kepausan.

Kurangnya kerendahan hati dalam diri mereka untuk tunduk kepada apa yang telah didirikan oleh Allah, menyebabkan mereka untuk menciptakan “hierarki” mereka sendiri yang tidak memiliki otoritas. Itulah mengapa di sepanjang sejarah mereka (setelah mereka memisahkan diri dari Kepausan), mereka semakin mengalami penawanan.

A. Edward Siecienski, Orthodox Christianity, A Very Short Introduction [Kekristenan Ortodoks: Perkenalan yang Amat Singkat], Bab. 3: “Sewaktu abad kelima belas tiba, Kekaisaran Bizantina yang dahulu perkasa disusutkan menjadi kota Konstantinopel dan beberapa daerah kekuasan yang kecil di Yunani.”

Para skismatis terus-menerus kehilangan daerah kekuasaan dan kebebasan, sehingga kekaisaran mereka hampir sepenuhnya dilenyapkan pada Pesta Roh Kudus. Walaupun demikian, beberapa orang Ortodoks Timur membuat argumen yang agak putus asa, dengan menyatakan bahwa Konstantinopel jatuh pada Pesta Pentakosta akibat Persatuan Florentina! Dalam kata lain, menurut mereka, Kejatuhan Konstantinopel terjadi karena sang Kaisar dan/atau para otoritas agamawi menerima dogma Filioque. Tetapi, gagasan semacam itu adalah omong kosong. Pikirkanlah hal itu baik-baik.

Roma telah secara resmi mengajarkan Filioque jauh sebelum Konsili Florence dilangsungkan pada abad ke-15.

Paus Gregorius X, Konsili Lyons II, 1274: “ … kami mendeklarasikan bahwa Roh Kudus berasal secara abadi dari Bapa dan Putra, bukan sebagai dari dua pokok, melainkan dari satu pokok ….”

Dan bahkan di Florence, Kepausan adalah otoritas yang paling signifikan yang mendukung persatuan itu. Jadi, seandainya Allah mendatangkan kehancuran kepada orang-orang yang mengajarkan atau menganut dogma Filioque, mengapa Roma dan Vatikan terus berada sebagai kota-kota Kristiani dan tidak ditaklukkan oleh orang-orang kafir Islamik sebelum dan jauh setelah Konsili Florence berlangsung? Jelas bahwa argumen mereka salah.

Memang benar, bahwa pada periode itu, terjadi banyak pertarungan dan perselisihan antara berbagai fraksi di Eropa. Negara Kepausan, Roma, dan kota-kota Katolik lainnya terkadang mengalami agresi yang parah. Suatu contoh yang baik untuk agresi semacam itu adalah agresi pasukan Karolus V kepada kota Roma pada tahun 1527 yang menyebabkan banyak kerusakan dan kematian. Tetapi, kerusakan semacam itu hanya bersifat sementara. Agresi itu bahkan menyebabkan perubahan fokus sehingga lebih terarah kepada Kontra-Reformasi. Konflik-konflik internal di Eropa itu sering kali merupakan cara Allah menghajar para umat-Nya sendiri atas dosa-dosa mereka dan konflik-konflik seperti itu jauh berbeda dari kehancuran atau penaklukkan permanen yang didatangkan Allah kepada suatu kelompok yang telah dicampakkan-Nya.

Ibrani 12:6: “Sebab Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah setiap orang yang diakui-Nya sebagai anak.”

Kendati konflik-konflik Eropa itu, yang sungguh berbeda dengan apa yang terjadi kepada Konstantinopel dan para skismatis, kota Roma tetap tidak ditaklukkan oleh orang-orang kafir Muslim. Dan para Paus dapat meneruskan karya Gereja dan menyokong evangelisasi yang berbuah limpah.

Faktanya, pertimbangkanlah Pertempuran Lepanto di mana umat Katolik mengalami kemenangan telak terhadap orang-orang Muslim pada pesta Rosario Suci di tahun 1571. Beberapa orang menganggap peristiwa itu sebagai pertempuran laut yang paling signifikan di sepanjang sejarah. Banyak orang percaya bahwa kemenangan tersebut dan beberapa peristiwa lainnya pada periode itu menyelamatkan dunia Kristiani Barat sehingga tidak diambil alih oleh Islam!

Tetapi, rakyat Konstantinopel yang tegar tidak mengalami keberhasilan yang sama. Kenyataannya, sejarah rakyat Konstantinopel adalah sejarah perlawanan terhadap kebenaran dogma Filioque. Dan mereka pada akhirnya ditaklukkan akibat pemberontakan mereka. Pelanggaran mereka yang keterlaluan yang menjatuhkan murka Allah atas diri mereka adalah penolakan mereka terhadap Konsili Florence -  suatu Konsili yang jelas bersifat ekumenis dan yang disetujui oleh para perwakilan mereka sendiri!

Seperti komentar dari Romo Adrian Fortescue di dalam karyanya The Orthodox Eastern Church:

Romo Adrian Fortescue, The Orthodox Eastern Church [Gereja Timur Ortodoks], 1908: “Konsili itu [Konsili Florence] berlangsung di hadirat Sri Paus, Patriark Konstantinopel, dan para duta dari para Patriark Aleksandria, Antiokhia, dan Yerusalem. Hadirin dari Dunia Timur jauh lebih banyak jumlahnya daripada orang-orang Latin yang dahulu hadir pada sinode-sinode awal yang kita semua setujui menyandang nama ekumenis … Sehingga kemungkinan, selain Nicea pada tahun 325, tiada suatu konsili pun yang telah sedemikian jelasnya berhak untuk dianggap ekumenis.”

Kehancuran terakhir yang menimpa kerajaan yang pemberontak itu, yang memiliki sejarah melawan kebenaran Filioque, terjadi pada Pesta Roh Kudus, untuk membuktikan bahwa mereka telah melawan doktrin sejati tentang Roh Kudus. Bukti alkitabiah dan patristik yang begitu banyak untuk dogma Filioque dapat dilihat dengan menonton video kami yang berjudul Allah Tritunggal dan Filioque.

St. Atanasius, Surat Pertama kepada Serapion #21, 357 M (Khaled Anatolios, Athanasius [Atanasius], hal. 220.): “ … Roh itu, kemudian, menerima dari Putra; ‘Ia akan mengambil dari apa yang adalah milik-Ku,’ ujar-Nya, ‘dan menyatakannya kepadamu’ [Yohanes 16:14] … Maka dari itu, karena Roh memiliki relasi kodrat dan tatanan yang sama sehubungan dengan Putra yang dimiliki oleh Putra sehubungan dengan Bapa, bagaimanakah orang yang menyebut Roh sebagai ciptaan dapat meloloskan diri dari keperluan untuk berpikir seperti itu pula tentang Putra?”

Di samping itu, sewaktu anda mempertimbangkan apa yang terjadi kepada masing-masing kelompok setelah jatuhnya Konstantinopel, analisis ini menjadi semakin kuat. Setelah jatuhnya Konstantinopel pada abad ke-15, sang Sultan Islamik memberlakukan pembatasan-pembatasan yang berat kepada para skismatis Yunani. Mereka dilarang untuk melakukan karya misionaris. Mereka tidak berdaya. Mereka tidak dapat berevangelisasi.

Tetapi, apakah yang terjadi kepada negara-negara Katolik dan kerajaan-kerajaan Katolik (sehubungan dengan karya Roh Kudus) untuk mewartakan Injil kepada negeri-negeri lain? Kita dapat melihat bahwa setelah Kejatuhan Konstantinopel, orang-orang Katolik menemukan Dunia Baru dan mengalami keberhasilan yang luar biasa – mereka secara kolektif mengonversikan jutaan orang di Amerika, Meksiko, Asia, dan Amerika Selatan. Banyak peristiwa ajaib serta mukjizat juga dibuat pada periode itu.

Memang benar bahwa ada banyak orang yang amoral di dalam pemberontakan Protestan, tetapi kendati semuanya itu, Gereja Katolik terus melakukan karya Roh Kudus dan memenangkan banyak sekali orang yang berkonversi melalui penginjilan sampai ke tempat-tempat yang jauh dan luas. Roh Kudus bekerja dengan penuh kuasa di dalam Gereja yang sejati – Gereja Katolik – tetapi, para pengikut kerajaan yang penuh dosa, yang telah dihancurkan itu, yakni, para skismatis Timur sebaliknya tidak berdaya. Vonis dari Allah berpihak kepada umat Katolik. Gereja Katoliklah yang menginjili bangsa-bangsa. Sementara itu, di Konstantinopel:

A. Edward Siecienski, Orthodox Christianity, A Very Short Introduction [Kekristenan Ortodoks, Perkenalan yang Amat Singkat], Bab. 3: “Jabatan patriark, yang sekarang hanya dianugerahkan oleh Sri Sultan kepada mereka yang dianggap cukup dapat diandalkan, acapkali dijual kepada penawar yang mengajukan harga yang tertinggi, yang terkadang menyebabkan suksesi para kandidat yang hanya mengejar posisi itu demi keuntungan pribadi.”

Sebelum kami berlanjut, kami perlu menyebutkan secara singkat bahwa beberapa orang Ortodoks Timur berargumentasi bahwa Patriark Yosef II dari Konstantinopel yang meninggal pada Konsili Florence sebenarnya tidak mendukung ajaran Konsili itu dan bahwa surat yang dianggap miliknya adalah surat yang dipalsukan. Pertama, tidak ada bukti bahwa surat yang dianggap miliknya dipalsukan. Kedua, hal itu bahkan tidak akan menjadi masalah, karena, seperti yang dinyatakan oleh Joseph Gill, pakar Konsili Florence yang terkemuka, Yosef II telah mengizinkan para perwakilannya untuk mengambil bagian di dalam Konsili Florence dan bertindak atas namanya. Dan mereka semua menerima Surat Bulla Persatuan Konsili Florence.

Joseph Gill, The Council of Florence [Konsili Florence], Cambridge Univ. Press, 1959, hal. 110-111: “Akibat ketidakhadiran sang Patriark oleh karena kesehatannya yang buruk … telah disetujui bahwa suatu ketetapan harus dibacakan yang menunjukkan bahwa ia menyetujui agar Konsili itu dibuka dan bahwa ia mengizinkan para pejabat gerejawi dari Gerejanya untuk berpartisipasi. Hal itu dilakukan dalam bahasa Yunani dan Latin … juga pada waktu di mana kredensial-kredensial para prokurator dari para Patriark Dunia Timur yang lain dipertunjukkan.”

Di samping itu, kedua penerus yang berikutnya dari Yosef sebagai Patriark Konstantinopel menerima Surat Bulla Persatuan Konsili Florence. Maka, Takhta Konstantinopel menyetujui Persatuan itu.

Beberapa orang lain juga mengklaim bahwa pada tahun 1442 dan 1443, para Patriark Aleksandria, Antiokhia, dan Yerusalem bertemu pada suatu konsili dan mengutuk persatuan itu. Tetapi, dokumen-dokumen yang disangka berasal dari pertemuan itu tidaklah asli, seperti yang juga dicatat oleh buku Joseph Gill.

Joseph Gill, The Council of Florence [Konsili Florence], Cambridge Univ. Press, 1959, hal. 354: “Tentang sinode ini, Uskup Agung Papadopolous mencatat:  ‘Sebagaimana yang diketahui dengan baik, sinode ini sungguh-sungguh berhimpun, tetapi dokumen-dokumen yang terjaga mengenai sinode itu tidaklah asli’ … Seandainya sinode itu sungguh terjadi, mengejutkan adanya bahwa sinode itu memiliki pengaruh yang sedemikian kecilnya di kalangan orang-orang yang anti-persatuan … Skolarius masih belum mengetahuinya pada akhir tahun 1448 ….”

Walaupun dokumen-dokumen itu tidak asli, sama sekali tidak akan ada bedanya seandainya dokumen-dokumen itu asli – sebab persatuan dari Konsili Florence sudah disetujui oleh Takhta-Takhta tersebut. Gereja Allah tidak dapat membatalkan ajarannya tentang Iman dan Moralitas. Gereja-Gereja Timur kenyataannya menyetujui Surat Bulla Persatuan Konsili Florence, seperti yang diakui oleh Uskup Ortodoks Timothy Ware tentang konsili tersebut.

Uskup Timothy Ware, The Orthodox Church [Gereja Ortodoks], Penguin Books, hal. 70-71: “Suatu konsili reuni kedua diadakan di Florence pada tahun 1438-9. Kaisar Yohanes VIII … hadir secara pribadi, bersama dengan Patriark Konstantinopel dan suatu delegasi yang besar dari Gereja Bizantina, serta para perwakilan dari Gereja-Gereja Ortodoks lainnya … suatu rumusan persatuan disusun, yang membahas Filioque, Api Penyucian, ‘azyma’, dan klaim-klaim Kepausan; dan rumusan ini ditandatangani oleh semua kaum Ortodoks yang hadir pada konsili tersebut kecuali satu orang … Maka, dalam perkara doktrin, kaum Ortodoks menerima klaim-klaim Kepausan … mereka menerima doktrin … Prosesi Roh Kudus …; mereka menerima ajaran Roma tentang Api Penyucian ….”

Tetapi, akibat perlawanan yang menyebar luas di kalangan rakyat terhadap apa yang telah diajarkan oleh Gereja, Kekaisaran Timur jatuh pada hari Pentakosta.

Nah, karena Konstantinopel dikendalikan oleh orang-orang Muslim, pusat Ortodoks Timur berpindah ke arah utara dan timur menuju Moskwa. Kiasannya, mereka tercerai-berai ke arah Utara dan Timur. Apa yang disebut-sebut sebagai Patriarkat Moskwa sekarang memiliki kehormatan dan otoritas yang besar di kalangan Ortodoks Timur. Tetapi, mengapa hal itu terjadi? Bagaimanakah hal itu bermula? Pada dasarnya, hal itu terjadi sebagai berikut:

Karena Konstantinopel berada di bawah kendali orang-orang Muslim, kaum Ortodoks Timur mencari pusat-pusat kekuasaan yang baru untuk hierarki dan kerajaan mereka yang skismatis. Jadi, bangsa Rusia mendesak Patriark Konstantinopel untuk menciptakan Patriark Moskwa. Hal itu pun dilakukannya pada tahun 1589. Tetapi, pikirkanlah saja betapa bodohnya hal ini, sehubungan dengan eklesiologi Ortodoks Timur. Jika Patriark Konstantinopel dapat sederhananya menciptakan seorang Patriark yang baru yang lalu akan memiliki kuasa agamawi yang signifikan atas umat di Rusia – dan bahkan kuasa atas jiwa-jiwa di negeri-negeri yang jauh seperti di Amerika dan negeri-negeri lainnya – lantas, Patriark Konstantinopel secara defacto memiliki yurisdiksi universal!

Seseorang hanya dapat memberikan apa yang ia miliki. Ia hanya dapat menganugerahkan apa yang ia punyai. Jika yurisdiksi atas jiwa-jiwa di Rusia (dan di banyak tempat lain di luar Rusia) pada akhirnya berasal dari Patriark Konstantinopel, maka Takhta itu, yakni, Takhta Konstantinopel, harus, dalam suatu cara tertentu, memiliki yurisdiksi atas semua daerah kekuasaan itu – Rusia, Amerika, dll. Keadaan yang demikian, faktanya, mencerminkan kepemilikan yurisdiksi universal. Jadi, di satu sisi, kaum “Ortodoks” mengaku menolak gagasan bahwa seorang Uskup memiliki yurisdiksi universal; mereka menyebut gagasan itu bidah. Gereja-gereja otosefalus mereka mencerminkan pandangan yang sama.

Tetapi di sisi yang lain, kenyataan bahwa mereka menciptakan para Patriark yang baru di berbagai tempat yang jauh dan luas membuktikan bahwa, secara praktik, mereka menganut gagasan yurisdiksi universal yang inheren dalam satu Takhta  - sebab apa yang disebut-sebut sebagai yurisdiksi dari para Patriark yang sama itu yang berada di luar Konstantinopel pada akhirnya berasal dari Konstantinopel! Maka dari itu, tindakan-tindakan mereka membuktikan bahwa satu orang Uskup di dalam Gereja mampu – dan kenyataannya dimaksudkan untuk memiliki – yurisdiksi universal.

Mereka sederhananya gagal untuk mengakui bahwa orang yang memiliki yurisdiksi universal bukanlah patriark skismatis di Konstantinopel atau di Moskwa; melainkan seorang Paus yang valid, seorang penerus St. Petrus. Dan walaupun kaum Ortodoks berpikir bahwa mereka memiliki yurisdiksi yang sejati dari Allah atas jiwa-jiwa, mereka kenyataannya tidak memilikinya – karena mereka terpisah dari Kepausan dan Gereja yang sejati.

Paus Leo XIII, Satis Cognitum #15, 29 Juni 1896: “Itulah mengapa kita melihat dengan jelas bahwa para uskup kehilangan hak dan kuasa untuk memerintah, seandainya mereka secara sengaja memisahkan diri dari Petrus atau dari para penerusnya. Sebab, oleh karena perpecahan ini, mereka sendiri tercabut dari fondasi yang di atasnya seluruh bangunan harus bertumpu, dan mereka juga berada di luar bangunan itu sendiri; dan oleh karena itu, mereka terpisahkan dari kandang domba, yang pemimpinnya adalah sang Gembala Utama; dan terasing dari Kerajaan, yang kunci-kuncinya telah diberikan oleh Allah kepada Petrus seorang.”

Skisma yang pada saat ini terjadi antara Patriark Konstantinopel dan Patriark Moskwa menggambarkan lebih lanjut bahwa posisi Ortodoks Timur tidak logis dan berkontradiksi diri. Suatu skisma telah meletus di antara mereka karena mereka tidak dapat setuju di mana “yurisdiksi” yang satu berakhir, dan di mana “yurisdiksi” yang lain bermula.

Memang benar, di dalam karya tulisnya pada abad ke-19, filsuf Rusia yang terkenal yang bernama Vladimir Soloviev yang berkonversi kepada agama Katolik, membuat suatu prediksi yang mengejutkan tentang suatu perpecahan yang akan terjadi di kemudian hari antara sekte Ortodoks Rusia dan sekte Ortodoks Yunani. Lebih dari 100 tahun lalu, ia berkata:

Vladimir Soloviev, Russia and the Universal Church [Rusia dan Gereja Universal], Bagian 1, 1889: “ … sebab pada hari di mana Gereja-Gereja Rusia dan Yunani secara resmi berpisah yang satu dari yang lain, seluruh dunia akan melihat bahwa Gereja Ekumenis Timur semata-mata adalah suatu fiksi belaka dan bahwa di Dunia Timur hanya terdapat Gereja-Gereja nasional yang terisolir.”

Prediksi Soloviev sungguh terjadi. Kaum Ortodoks Timur bukanlah Gereja Kristus yang universal, melainkan sekelompok sekte yang tercerai-berai yang batasan utamanya ditentukan oleh batasan etnik. Itulah sebabnya kita melihat golongan Ortodoks Rusia … Ortodoks Yunani … Rumania, Serbia, dll. Mereka adalah sekte-sekte nasionalis yang otosefalus, atau sekte-sekte yang memerintah diri sendiri. Tidaklah mengejutkan bahwa di kemudian hari, mereka tercerai-berai menjadi sekte-sekte yang dinasionalisasikan setelah mereka menolak institusi yang telah didirikan oleh Kristus untuk memerintah Gereja universal. Mengenai keberadaan mereka secara umum, Soloviev mencatat:

Vladimir Soloviev, Russia and the Universal Church [Rusia dan Gereja Universal], Bagian 1, 1889: “Hampir tidak perlu diimbuhkan bahwa semua Gereja nasional ini sederhananya adalah Gereja-Gereja Negara yang sama sekali tidak memiliki kebebasan gerejawi macam apa pun.”

Pada tahun 1872, sekte Ortodoks Yunani mengekskomunikasikan sekte Ortodoks Bulgaria dan menyampaikan keputusan itu kepada kepemimpinan Ortodoks Rusia. Sekte Ortodoks Rusia memutuskan untuk mengabaikan keputusan itu, dan tetap berada dalam persekutuan bersama orang-orang Bulgaria, sedangkan sekte Ortodoks Yunani menolak untuk bersekutu dengan mereka. Suatu situasi yang serupa terjadi sehubungan dengan Serbia. Pemerintahan menggulingkan hierarki dari sekte Ortodoks Serbia dan membuat suatu hierarki yang baru. Sekte Ortodoks Rusia tidak menerima hierarki yang baru itu, tetapi sekte Ortodoks Yunani menerimanya.

Soloviev juga mencatat bahwa kondisi rohani dari para pengikut “gereja-gereja” ini sangatlah terpuruk. Ia mengutip seorang Eksark dari Gereja Ortodoks Bulgaria yang menyatakan:

Vladimir Soloviev, Russia and the Universal Church [Rusia dan Gereja Universal], Bagian 1, 1889: “Rakyat banyak bersikap dingin dan tidak acuh, sedangkan kelas-kelas yang terdidik pastinya memusuhi segala sesuatu yang bersifat sakral; hanya rasa takut terhadap orang-orang Rusialah yang mencegah penghapusan Gereja di Bulgaria.”

Soloviev berkomentar:

Vladimir Soloviev, Russia and the Universal Church [Rusia dan Gereja Universal], Bagian 1, 1889: “Kita tidak perlu menunjukkan bahwa kondisi keagamaan di Rumania dan Yunani pada dasarnya sama dengan kondisi keagamaan bangsa Serbia dan Bulgaria.”

Jika kita mempertimbangkan Matius 16:19 bersama dengan Matius 18:18, kita mendapatkan bukti lebih lanjut bahwa St. Petrus, Paus yang pertama telah diberikan yurisdiksi atas semua Rasul dan segenap Gereja. Dan dengan demikian, kita juga mendapatkan bukti yang kuat yang membantah posisi Ortodoks Timur.

Matius bab 16 sangatlah terkenal. Di dalam bab ini, Kristus berjanji untuk memberikan kepada St. Petrus, Sri Paus yang pertama, kunci-kunci kerajaan Surga dan Kristus berkata, apa pun yang kauikat di atas bumi akan terikat di dalam Surga, dst. Tetapi, kaum Ortodoks akan sering menyanggah dengan berkata bahwa di dalam Matius 18:18, Kristus mengatakan hal yang sama kepada semua Rasul.

[Bidah Ortodoks:]  Omong-omong, Yesus telah memberikan kepada segenap dewan Rasul kemampuan untuk mengampuni dan mempertahankan dosa-dosa serta untuk mengikat dan melepaskan. Bukan hanya Petrus. Ia tidak memberikan kemampuan ini kepada Petrus dan lalu berkata kepada Petrus untuk memberikannya kepada para rasul yang lain.

Tetapi, itulah persisnya apa yang pada dasarnya dilakukan oleh Yesus, seperti yang akan kita lihat. Matius 18:18 berbicara tentang para Rasul secara bersama dan ayat ini menyatakan:

Matius 18 :18: “Amin, Aku berkata kepada kalian, apa pun yang kalian ikat di atas bumi akan terikat di dalam Surga, dan apa pun yang kalian lepaskan di atas bumi akan terlepas di dalam Surga.”

Tetapi, ayat ini sama sekali tidak menentang Kepausan, dan sebenarnya justru memperjelas kebenaran dari posisi Katolik dan membantah posisi Ortodoks Timur. Alasannya: Matius 18:18 tidak menyebutkan kunci-kunci kerajaan Surga. Kunci-kunci itu hanya dijanjikan kepada St. Petrus, seperti yang kita baca di dalam Matius 16. Di dalam Matius 16, kita juga melihat bahwa seseorang mengikat dan melepaskan dengan menggunakan kunci-kunci. Izinkan saya mengulanginya: seseorang mengikat dan melepaskan dengan menggunakan kunci-kunci. ‘Aku akan memberikan kepadamu kunci-kunci Kerajaan Surga, dan apa pun yang kauikat di atas bumi ….’, dst.

Apa yang digunakan untuk mengikat dan melepaskan hanya diberikan kepada Petrus seorang. Jadi, sewaktu semua Rasul diberikan otoritas untuk mengikat dan melepaskan (seperti yang kita baca di dalam Matius 18:18), dengan apakah mereka akan mengikat dan melepaskan? Dengan kunci-kunci itu tentunya!

Tetapi hanya Petrus seorang dirilah yang diberikan kunci-kunci itu (seperti yang kita lihat di dalam Matius 16). Jadi, apa makna dari hal ini? Maknanya adalah bahwa otoritas yang dimiliki oleh semua Rasul untuk bertindak tunduk kepada keputusan Petrus membagikan atau membatasi kunci-kunci tersebut. Karena Petrus diberikan kunci-kunci yang digunakan oleh para Rasul yang lain untuk bertindak secara otoritatif, Petrus dapat membagikan kunci-kunci itu kepada orang-orang tertentu atau ia dapat menarik kembali kunci-kuncinya. Karena para Rasul membutuhkan kunci-kunci itu untuk bertindak, dan Petruslah yang memiliki kunci-kunci itu, otoritas para Rasul tunduk kepada otoritas Petrus. Maka, bertentangan dengan pandangan kaum Ortodoks, kedua ayat ini, jika dipertimbangkan bersama secara cermat, merupakan bukti lebih lanjut untuk Kepausan: ajaran Yesus Kristus yang mereka lawan secara memberontak.

Kita melihat suatu kontradiksi lain di dalam posisi Ortodoks Timur, karena mereka siap mengakui bahwa Takhta Roma memiliki keutamaan kehormatan berdasarkan ayat-ayat seperti Matius 16, Yohanes 21, dll., tetapi menurut mereka, keutaman tersebut bukanlah keutamaan otoritas.

Uskup Timothy Ware, The Orthodox Church [Gereja Ortodoks], Penguin Books, 1993, hal. 27-28: “Keutamaan yang dinikmati oleh Roma bersumber dari tiga faktor … Gereja Ortodoks mengakui Petrus sebagai yang pertama dari antara para Rasul: ia tidak melupakan ‘ayat-ayat Petrina’ yang terkenal di dalam Injil (Matius xvi, 18-19; Lukas xxii, 32; Yohanes xxi, 15-17) … kebanyakan [teolog Ortodoks] … mengakui bahwa Uskup Roma adalah penerus Petrus dalam suatu makna yang khusus.”

Tetapi, pandangan semacam itu jelas adalah omong kosong, karena ayat-ayat itu membahas otoritas, seperti yang telah kami tunjukkan. Perihal mengikat, melepaskan, menggembalakan kawanan domba adalah hal-hal melibatkan otoritas. Jadi, jika ayat-ayat tersebut mengajarkan bahwa penerus St. Petrus di Roma memiliki Keutamaan (yang adalah suatu hal yang juga diakui oleh kaum Ortodoks), maka, Keutamaan itu akan merupakan dan memang merupakan keutamaan otoritas/yurisdiksi – dan bukan semata-mata keutamaan kehormatan.

Nah, tidak lama setelah Patriarkat Moskwa yang skismatis didirikan, Patriarkat skismatis itu dihapuskan pada tahun 1721 oleh Tsar Petrus. Pada tahun 1721, Tsar Petrus I (Agung) menghapuskan patriarkat Moskwa dan menggantikannya dengan Sinode Pemerintahan Kudus, yang dibentuk dengan meniru sinode-sinode yang dikendalikan oleh negara dari gereja Lutheran di Swedia dan Prusia dan secara ketat dikendalikan oleh negara.

Dan kepala dari Sinode ini adalah seorang pejabat awam. Jadi, patriarkat skismatis yang baru ini – yang mereka maksudkan untuk menjadi Pusat Kekuasaan Gerejawi mereka yang baru, karena Konstantinopel berada di bawah dominasi Islam – dihapuskan pada tahun 1721 dan dipimpin oleh seorang pejabat awam. Hal yang menarik dan yang juga seturut Penyelenggaraan Ilahi, adalah bahwa Tsar yang menghapuskan kedudukan patriark bernama Petrus. Maka, terlepas bilamana mereka menyukai kenyataan itu atau tidak, mereka menyaksikan diri mereka sendiri tunduk kepada otoritas Petrus. Mengenai situasi yang bermula di bawah Tsar Petrus, Romo Adrian Fortescue menulis:

Romo Adrian Fortescue, The Orthodox Eastern Church [Gereja Ortodoks Timur], 1908: “Tiada seorang penguasa pun yang lebih berkuasa secara mutlak atas suatu Gereja daripada Tsar. Pertama, Sinode Kudus memutuskan segala perkara gerejawi di Rusia, pelestarian iman, pengajaran agama, penyensoran semua buku yang berkenaan dengan agama, segala permasalahan ritual … Petrus meniru gagasan Konsistori-Konsistori Lutheran di dalam sinodenya … Dan pria yang mengepalai Sinode Kudus adalah sang Prokurator … seorang awam, yang pada umumnya adalah seorang tentara, yang ditunjuk oleh Pemerintah untuk memastikan agar hukum-hukumnya dilaksanakan. Orang-orang Rusia sendiri menyadari betapa Gereja mereka sekarang sepenuhnya terbaring di bawah tumit autokrasi itu.”

Soloviev mencatat bahwa:

Vladimir Soloviev, Russia and the Universal Church [Rusia dan Gereja Universal], Bagian 1, 1889: “ … segala komunikasi (‘setiap dokumen’ menurut istilah dalam bahasa Rusia) yang berkenaan dengan perkara-perkara Gereja harus disampaikan kepada sang Prokurator.”

Jadi, mereka mendirikan Patriarkat skismatis mereka yang baru di Moskwa, tetapi Patriarkat itu dihapuskan dan sekte Ortodoks Rusia sepenuhnya berada di bawah dominasi Tsar. Itu adalah suatu contoh bagaimana mereka mengalami penawanan. Situasi ini berlangsung dari sekitar tahun 1721 sampai 1917 dan sewaktu terjadinya Revolusi Bolshevik. Sewaktu pemerintahan yang mendukung Tsar tumbang di dalam revolusi itu, para skismatis bergerak cepat untuk kembali mendirikan jabatan Patriark. Tetapi, para Komunis segera mengambil kendali atas jabatan tersebut dan mendominasi institusi itu – dan peristiwa ini menyebabkan suatu penawanan lebih lanjut bagi para skismatis.

Sewaktu tahun 1927 tiba, pemimpin dari sekte Ortodoks Rusia sepenuhnya mendukung rezim Komunis. Pada tanggal 29 Juli 1927, Metropolitan Sergius (yang kemudian menjadi “Patriark”) mengeluarkan suatu deklarasi yang terkenal, yang menyatakan bahwa ia mengakui Gereja Ortodoks Rusia bersetia secara mutlak kepada Uni Soviet dan kepada kepentingan-kepentingan pemerintahannya.

Philip Walters, The Russian Orthodox Church and the Soviet State [Gereja Ortodoks Rusia dan Negara Soviet], 1986: “Saat tahun 1939 tiba, Gereja Ortodoks Rusia hampir tiada lagi sebagai suatu institusi.”

Karena para Komunis menyadari bahwa mereka dapat mempergunakan institusi Ortodoks Rusia, organisasi itu pun dipulihkan untuk melakukan sejumlah kecil kegiatan – selama tidak terlalu mengganggu para Komunis. Gereja Ortodoks Rusia adalah sekte Kristen palsu yang diperbudak. Sekte mereka adalah anggota dari organisasi yang bidah, yakni, Dewan Gereja-Gereja Sedunia, di mana sekte mereka berupaya untuk memberikan kesan bahwa penganiayaan yang dilakukan oleh kaum Soviet tidak separah yang sebenarnya. Mereka tidak memiliki kebebasan. Philip Walters, yang menulis pada periode kemudian di bawah pemerintahan para Komunis, berkata demikian:

Philip Walters, The Russian Orthodox Church and the Soviet State [Gereja Ortodoks Rusia dan Negara Soviet], 1986: “Gereja Ortodoks Rusia berada di dalam Uni Soviet sebagai suatu institusi yang kelihatan, dan para pengunjung kota-kota besarnya dengan mudah dan secara berkala terkesan oleh keagungan ibadat liturgisnya dan oleh kenyataan bahwa gereja-gerejanya penuh … Bagaimanapun Gereja Ortodoks Rusia kenyataannya sangat terpuruk dan hampir tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk membuat suatu kontribusi Kristiani yang kreatif di dalam masyarakat.”

Ini adalah suatu contoh lain bagaimana penampilan luar dari para bidah amat sering menyembunyikan, atau mengalihkan perhatian dari, suatu kehampaan yang nyata. Pada periode ini, sekte Ortodoks Rusia mengizinkan perceraian dan pernikahan kembali untuk segala jenis alasan, yang secara langsung bertentangan dengan ajaran Yesus tentang indisolubilitas dari pernikahan sakramental.

Lukas 16:18:“Barangsiapa menceraikan istrinya dan menikah dengan seorang wanita yang lain, ia berbuat zina, dan barangsiapa menikahi seorang wanita yang diceraikan dari suaminya, ia berbuat zina.”

Berikut posisi sekte Ortodoks Rusia pada masa kini, yang merupakan kemaksiatan yang penuh hujat, yang mendukung perzinaan.

Kevin Schembri, Oikonomia, Divorce and Remarriage in the Eastern Orthodox Tradition [Oikonomia, Perceraian dan Pernikahan Kembali di dalam Tradisi Ortodoks Timur], Pontificio Instituto Orientale, 2017, Bab 4:
“Dewasa ini, Gereja Ortodoks Rusia menerima ketiga belas hal berikut sebagai dasar-dasar untuk perceraian: kemurtadan; perzinaan atau praktik-praktik seksual tertentu yang melawan kodrat, seperti sodomi yang dilakukan sebelum pernikahan; penyakit kusta dan sifilis; ketidakhadiran pasangan selama tiga tahun berturut-turut, dan dua tahun dalam kasus peperangan atau bencana; vonis kriminal yang merampas hak-hak sipil dari pasangan; bahaya yang mengancam hidup pasangan atau anak-anak; inses, pelacuran atau pelecehan terhadap pasangan yang berkekurangan; perihal dirayakannya pernikahan yang lain; gangguan kegilaan psikis; ditinggalkannya seorang pasangan secara sengaja dan secara penuh; alkoholisme dan kecanduan obat yang terkonfirmasi secara medis; aborsi yang dilakukan tanpa sepersetujuan suami.”

Pandangan semacam itu jelas sama sekali tidak selaras dengan ajaran Yesus dan Perjanjian Baru tentang pernikahan.

Di dalam video ini, kami telah menunjukkan bahwa penawanan merupakan ciri dari sejarah Ortodoksi Timur pasca-Konsili Florence. Mereka ditawan dan tersingkir pada bagian besar dari masa di mana Gereja mengalami peristiwa-peristiwa yang amat penting di dalam sejarahnya – sedangkan Roh Kudus bekerja dengan penuh kuasa di dalam Gereja Katolik untuk mengonversikan banyak orang.  Demikianlah vonis dan penghakiman Allah atas kerajaan yang penuh dosa yang pemberontak itu – yang sebanding dengan Kerajaan Samaria.

Tetapi seseorang mungkin berkata, “Tampaknya ada suatu antusiasme di kalangan orang-orang tertentu untuk agama Ortodoks Timur sekarang.” Janganlah disesatkan. Kita sedang berada di dalam masa Kemurtadan Besar – periode di mana segala bangsa telah menolak Kristus. Pada masa Kemurtadan ini, masa yang dinubuatkan oleh Kitab Wahyu, banyak orang kehilangan iman dan menganut berbagai jenis hal yang fasik, mengikuti gerakan-gerakan yang jahat, serta sekte-sekte yang bidah – seperti ateisme, Protestantisme, Ortodoksi Timur, berbagai jenis paganisme, dll. Itu adalah cerminan dari Lukas 18:8 yang berkata:

Lukas 18:8: “Sewaktu Putra Manusia datang, akankah Ia menemukan iman di bumi?”

Keadaan di masa kini bukanlah suatu petunjuk bahwa gerakan-gerakan semacam itu valid. Seperti yang dikatakan oleh St. Basilius:

St. Basilius, Surat 257, abad ke-4: “Ingatlah bahwa orang-orang yang diselamatkan bukanlah khalayak ramai, melainkan orang-orang pilihan Allah. Maka, janganlah takut akan khalayak ramai yang terombang-ambingkan ke sana dan kemari oleh angin seperti air di laut.”

Juga, di samping berbagai macam masalah mereka yang lain, organisasi riset Pew Research menyatakan bahwa di Rusia – negara yang memiliki jumlah populasi Ortodoks terbanyak di dunia – hanya enam persen dari orang-orang Ortodoks di sana berkata bahwa mereka menghadiri Gereja sekali seminggu, dan bahkan tidak sampai seperlimanya berdoa setiap hari. Menurut riset yang sama, jumlah populasi “Ortodoks” di Amerika yang menentang “pernikahan sesama jenis” bahkan tidak sampai separuhnya, dan sekitar separuh dari populasi itu berpikir bahwa aborsi seharusnya legal. Masalah-masalah semacam itu adalah masalah-masalah yang ada di samping bidah-bidah mereka yang lain! Mereka bukanlah orang Kristen yang sejati – penampilan luar mereka saja yang terlihat Kristen.

Di samping bidah-bidah yang jelas melawan Kepausan, Filioque, pernikahan, dll. sekte-sekte Ortodoks Timur pada saat ini memeluk jenis ekumenisme sesat yang sama dengan yang mencirikan Sekte Vatikan II. Perwakilan dari Sekte Ortodoks Rusia dan Yunani hadir pada pertemuan doa pagan Assisi yang keji pada tahun 1986 – suatu acara yang memiliki makna apokaliptik yang signifikan, seperti yang dibahas oleh materi kami. Perwakilan mereka juga hadir pada acara-acara Assisi di kemudian hari.

Pemimpin Sekte Ortodoks Rusia pada saat ini yang bernama Kirill, percaya bahwa orang-orang Muslim dan Kristen menyembah Allah yang sama, yang adalah bidah. Ia terlibat di dalam ekumenisme sesat dan ia bahkan menandatangani deklarasi bersama Anti-Paus Fransiskus, yang menyatakan bahwa mereka setuju untuk tidak mengonversikan orang-orang tertentu. Jadi, mengapakah seseorang hendak bergabung ke dalam sekte sesat semacam itu? Jelas bahwa mereka seharusnya tidak melakukannya.

Tetapi, bagaimana dengan apa yang telah terjadi di Roma setelah Vatikan II? Materi kami membahas hal itu secara rinci. Kitab Wahyu menubuatkan secara khusus bahwa kota Roma akan diambil alih oleh suatu Kontra-Gereja, suatu Gereja palsu, dan kota itu akan kembali menjadi pagan pada hari-hari terakhir, ini adalah suatu peristiwa yang menyusutkan Gereja sejati menjadi suatu sisa.

Sang binatang = Roma pagan

Wahyu 17:8“Dan orang-orang yang berdiam di bumi, yang nama-namanya tidak tertulis di dalam Kitab Kehidupan sejak permulaan dunia, mereka akan heran saat melihat sang binatang, sebab ia dahulu ada, dan sekarang tidak ada, dan akan datang.” 

Kita diberi tahu bahwa sang binatang (suatu sebutan yang mengacu kepada Roma pagan) akan kembali pada hari-hari terakhir sehubungan dengan sang Pelacur Babel (yang mengacu kepada Kontra-Gereja akhir zaman di Roma).

Wahyu 17:4-5: “Dan wanita itu didandani dengan kain ungu dan kain merah padam, dan dihiasi dengan emas dan batu permata dan mutiara, sambil memegang cawan emas di tangannya yang penuh dengan kekejian dan kenajisan percabulannya. Dan pada dahinya ada tertulis suatu nama, suatu misteri: ‘Babel yang agung, Ibu dari para pelacur dan dari kekejian bumi.’”

Penyesatan pada akhir zaman ini berpusat kepada Bait Allah. Bait Allah pada akhir zaman bukanlah sebuah Bait Yahudi yang dibangun kembali (yang tidak akan merupakan Bait Allah, melainkan Bait Penyembahan Berhala). Bait Allah adalah Basilika St. Petrus di Vatikan.

Paus Pius XI, Quinquagesima Ante (#30), 23 Des. 1929, TENTANG BASILIKA ST. PETRUS:
 “ … khalayak yang begitu besar jumlahnya berhimpun di Basilika Santo Petrus pada hari pertama dari bulan Desember … sehingga Kami mungkin belum pernah sebelumnya melihat Bait [Aedem] yang terluas megah ini begitu padat.”

Aedēs Bait

Bait Allah itu telah diambil alih oleh para Anti-Paus yang bidah para hari-hari terakhir, seturut yang dikatakan oleh nubuat. Orang-orang keheranan saat mereka melihat binatang ini dan pelacur ini, seperti yang dikatakan oleh Kitab Wahyu, sebab keheranan (thauma dalam bahasa Yunani) terkait secara khusus di dalam Perjanjian Baru dengan keterkejutan dan kebingungan terhadap para rasul palsu dan para pelayan Setan yang menyamar sebagai para Rasul Kristus.

Izinkan saya mengulanginya. Keheranan di dalam Perjanjian Baru, secara spesifik terkait dengan rasul-rasul palsu dan para pelayan Setan yang menyamar sebagai para rasul Kristus. St. Yohanes merasakan keheranan yang besar sewaktu ia melihat sang Pelacur Babel persisnya karena ia melihat suatu Kontra-Gereja akhir zaman – Sekte Vatikan II – yang bercirikan para rasul palsu. Dalam kata lain, St. Yohanes melihat para Anti-Paus pemurtad yang secara palsu mempertunjukkan diri sebagai para Penerus Rasul Petrus. Kontra-Gereja ini mempromosikan bidah dan paganisme, tetapi, seperti yang telah diprediksikan, Kontra-Gereja itu melakukannya dengan kedok Kekristenan.

Itulah Penyesatan Besar, hal yang dilambangkan oleh Kemurtadan Vatikan II, dan kita sedang melaluinya pada saat ini. Tontonlah video kami: Wahyu di Vatikan Sekarang dan banyak hal lainnya untuk bukti yang begitu mengejutkan dan menggemparkan. Penggenapan dari nubuat-nubuat di Roma ini membuktikan lebih lanjut – dan bukan membantah – agama Katolik. Sekte Vatikan II bukanlah Gereja Katolik. Penyesatan Besar melibatkan upaya untuk menyesatkan umat Katolik, sebab agama Katolik adalah iman yang sejati. Nubuat-nubuat juga memberikan petunjuk bahwa bagian dari kota Roma di mana Kemurtadan ini terjadi akan dihancurkan.

Tetapi, penghakiman itu serta pengambilalihan Roma oleh suatu Kontra-Gereja yang telah kita lihat sudah dipersiapkan untuk hari-hari terakhir pada masa Kemurtadan Besar. Beberapa orang Ortodoks Timur begitu teperdaya sehingga mereka percaya bahwa kaum Ortodokslah yang akan harus mengevangelisasikan seluruh dunia sebelum Kedatangan sang Antikristus dan akhir dunia, karena jelas bahwa orang-orang Katoliklah, dan bukan orang-orang Ortodoks, yang telah mengevangelisasikan dunia.

Tidak, walaupun orang tentunya harus melanjutkan karya evangelisasi sampai akhirnya, bangsa-bangsa secara umum sudah dievangelisasikan dan telah menolak Kristus – dengan para Anti-Paus dari sekte Vatikan II memimpin jalannya secara rohani menuju Kemurtadan Besar. Maka, segala bangsa telah meminum anggur dari percabulannya             

Wahyu 18:3: “Sebab segala bangsa telah meminum anggur dari kemarahan percabulannya…”

Nubuat-nubuat tentang sang binatang akhir zaman serta sang Antikristus sedang digenapi pada saat ini seperti yang dibahas oleh materi kami. Inilah Kemurtadan Besar, dan untuk memperoleh keselamatan, orang perlu menganut iman yang satu dan sejati terhadap Yesus Kristus: iman Katolik tradisional.

SHOW MORE