Apakah Alkitab Memprediksikan 70 Tahun Tanpa Seorang Paus?
Maret 20, 2023
SUPPORT
Copy Link
https://endtimes.video/id/alkitab-prediksi-tidak-ada-paus/
Copy Embed
vatikankatolik.id - Saluran dalam Bahasa Indonesia

| | | | | |

Bruder Peter Dimond, OSB

Meskipun ada segudang bukti bahwa para pengklaim Kepausan Vatikan II (yaitu Yohanes XXIII hingga Fransiskus) bukanlah Paus sejati, melainkan Anti-Paus yang bidah yang menurut ajaran Katolik tidak pernah duduk di Takhta Santo Petrus, banyak orang menolak posisi sedevakantis karena menurut mereka Allah tidak mungkin telah membiarkan Gereja Katolik tanpa Paus yang sejati selama beberapa puluh tahun. 

Paus Paulus IV, Cum ex Apostolatus Officio, 15 Februari 1559:
“ … agar Kami tidak akan mendapatkan kemalangan untuk melihat sang Pembinasa keji, yang telah dibicarakan oleh sang nabi Daniel, di dalam Tempat Suci … Kami memberlakukan, menetapkan, mendekretkan dan mendefinisikan bahwa jika pada waktu kapan pun tampak bahwa Uskup mana pun … sebelum promosinya atau pengangkatannya sebagai Kardinal atau Paus Roma, telah menyimpang dari Iman Katolik atau jatuh ke dalam suatu bidah … promosi atau pengangkatan tersebut, bahkan jika tidak ditentang dan tercapai lewat persetujuan yang bulat suara dari semua Kardinal, tidak sah, batal, dan tidak bernilai ….”

Santo Robertus Bellarminus, De Romano Pontifice, Buku II, Bab 30: “Seorang Paus yang adalah bidah secara manifes [terang-terangan] secara otomatis berhenti menjadi Paus dan kepala, layaknya ia berhenti menjadi seorang Kristiani dan seorang anggota dari tubuh Gereja. Maka dari itu, ia dapat dihakimi dan dihukum oleh Gereja. Ini adalah ajaran dari semua Bapa Kuno yang mengajarkan bahwa para bidah manifes langsung kehilangan semua yurisdiksi.”

Mereka percaya posisi sedevakantis tidak selaras dengan ajaran dogmatis Gereja Katolik pada Konsili Vatikan I, yaitu ajaran bahwa Santo Petrus akan memiliki para penerus untuk selama-lamanya di dalam keutamaannya. Penolakan mereka ini salah, dan sudah pernah dibantah sebelumnya. Namun, video ini akan membahas beberapa poin baru yang sangat penting. Semoga poin-poin ini dapat membuka mata lebih banyak orang kepada kebenaran. Fakta-fakta ini semakin menunjukkan bahwa orang-orang yang menolak posisi sedevakantis (yaitu posisi Katolik yang benar sehubungan dengan krisis Vatikan II pada masa kini) membuat kesalahan yang sangat besar. Mohon mencermati fakta-fakta berikut ini.

 

Takhta Daud yang Abadi

Di dalam berbagai ayat dari Perjanjian Lama, Allah berjanji bahwa takhta Raja Daud akan abadi, dan bahwa Daud akan memiliki para penerus untuk selama-lamanya di atas takhta itu.

Sebagai contoh:

2 Samuel 7:16 - “Rumahmu dan kerajaanmu akan bertahan untuk selama-lamanya di hadapan-Ku; takhtamu [Daud] akan tegak untuk selama-lamanya.

1 Raja-Raja 2:45 (atau 3 Raja-Raja 2:45 dalam Alkitab Katolik Douay Rheims yang berbahasa Inggris): “Namun Raja Salomo akan diberkati, dan takhta Daud akan ditegakkan di hadapan Tuhan untuk selama-lamanya.”

Mazmur 89*:3-4, 35-36 – “Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku, ‘Aku akan menegakkan anak cucumu untuk selama-lamanya, dan mendirikan takhtamu untuk semua keturunan ... Aku tidak akan berdusta kepada Daud. Anak cucunya akan bertahan untuk selama-lamanya, takhtanya akan terus ada selama matahari ada di hadapan-Ku.’

*(Mazmur 88 dalam versi-versi tertentu)

2 Tawarikh 13:5 - “ ... TUHAN, Allah Israel, memberikan kuasa rajani atas Israel untuk selama-lamanya kepada Daud dan para putranya melalui suatu perjanjian.”

Ada beberapa ayat lain yang dapat dikutip, namun perhatikanlah Yeremia 33:17:

 Yeremia 33:17“Sebab demikianlah firman Tuhan: Daud tidak akan pernah kekurangan orang yang menduduki takhta keluarga Israel ….”

Seperti yang dapat kita lihat, Allah sendiri berjanji bahwa Kursi atau Takhta Daud akan tegak untuk selama-lamanya, bahwa Takhta itu akan selama-lamanya memiliki para penerus, dan bahwa Daud tidak akan pernah kekurangan orang dari keluarganya yang akan menduduki takhtanya itu. 

Namun coba anda tebak apa yang terjadi. Tidak lama setelah Nabi Yeremia bernubuat demikian, Kekaisaran Babilonia menghancurkan Yerusalem dan membawa Zedekia, seorang raja penerus takhta Daud, ke tempat pengasingan di mana ia meninggal. 

Setelah Raja Zedekia meninggal sekitar tahun 586 SM, tidak ada penerus takhta Daud selama lebih dari 500 tahun. Kursi/Takhta Daud yang telah dijanjikan Allah sendiri secara infalibel akan tegak untuk selama-lamanya, akan selama-lamanya memiliki para penerus, dan tidak akan pernah kekurangan orang dari keluarga Daud yang akan mendudukinya:

Dibiarkan Kosong oleh Allah selama Lebih dari 500 tahun

Coba saya ulangi. Takhta itu dibiarkan kosong selama lebih dari 500 tahun

Akibatnya, beberapa orang berpikir bahwa janji Allah telah gagal atau mereka tidak tahu bagaimana janji itu akan digenapi. Lantas, bagaimanakah suksesi yang abadi yang dijanjikan Allah sehubungan takhta Daud dilanjutkan dan digenapi? Setelah terjadinya kekosongan itu selama lebih dari 500 tahun, suksesi Daud dilanjutkan dan digenapi oleh Yesus sendiri. Yesus datang dan mengambil takhta Daud, dengan cara yang tidak disangka-sangka oleh banyak orang, dan Yesus memegang takhta itu untuk selama-lamanya. 

Kisah Para Rasul 2:30-32 - “Maka sebagai seorang nabi, dan karena ia [Daud] tahu bahwa Allah telah bersumpah kepadanya, bahwa Ia akan mendudukkan salah seorang dari keturunannya pada takhtanya, ia telah bernubuat dan berbicara tentang kebangkitan Kristus, bahwa Ia tidak diserahkan kepada alam maut, dan bahwa tubuh-Nya tidak akan mengalami kebinasaan. Yesus inilah yang telah dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi."

Seperti yang dikatakan dalam Lukas 1:32:  

Lukas 1:32 – “Ia akan menjadi besar dan akan disebut Putra Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepadanya takhta Daud, bapa leluhurnya.

Yeremia 33:17 berkata:

"Sebab demikianlah firman Tuhan: Daud tidak akan pernah kekurangan orang yang menduduki takhta keluarga Israel ….”

Terkait ayat tersebut, Komentar Haydock dalam Alkitab Katolik Douay-Rheims berkata demikian:

Komentar Haydock, Yeremia 33:17 - "Ayat 17. Daud. [Nubuat] Ini telah terbukti dalam diri Kristus, yang berasal dari keluarga Daud, dan yang kerajaan-Nya yakni Gereja-Nya tidak akan berkesudahan … Suku Yehuda tetap menjadi suku yang teragung sampai pada kedatangan-Nya. Namun tidak ada raja sampai Hiram, dan dia [Hiram] ini berasal dari suku yang lain. Para imamlah yang memerintah setelah Nehemia, sampai Herodes diangkat oleh orang Romawi. Oleh karena itu, [nubuat] ini haruslah menjadi penjelasan untuk kerajaan Kristus yang kekal.”

Para komentator non-Katolik juga mengakui terjadinya kekosongan takhta Daud yang sangat lama ini. Berikut sebuah komentar yang ditulis oleh Joseph Benson, seorang Metodis yang terkenal yang meninggal pada tahun 1821:

Komentar Joseph Benson, Yeremia 33 – “Sangat jelas bahwa nubuat-nubuat dalam ayat-ayat ini [yaitu Yeremia 33:17-18] tidak digenapi di kalangan orang Yahudi setelah pembuangan ke Babilonia; sebab, sejak saat itu sampai waktu kedatangan Kristus, Daud tidak memiliki penerus dari keluarganya yang duduk di atas takhta Yehuda atau Israel ... Oleh karena itu, tidak dapat diragukan bahwa Yeremia di sini menubuatkan kerajaan Mesias ....”

Jadi, takhta Daud tidak ada penerusnya sejak kematian Raja Zedekia, yaitu sekitar atau setelah tahun 586 SM, sampai kedatangan Tuhan Yesus Kristus yang terjadi lebih dari lima ratus tahun kemudian. Jika jabatan yang menurut janji Allah akan memiliki para penerus untuk selama-lamanya dan tidak akan pernah kekurangan orang dari keluarga Daud mungkin kosong selama lebih dari 500 tahun, maka Takhta Petrus yang kosong selama 70 tahun mungkin saja terjadi, sebagai penghakiman alkitabiah yang menggenapi nubuat tentang akhir zaman. Kekosongan Takhta Santo Petrus yang berkepanjangan adalah apa yang telah kita lihat secara persis dalam Kemurtadan Vatikan II, seperti yang dibuktikan oleh banyak bukti teologis.

 

Konsili Vatikan I & Kekosongan Takhta Petrus

Sebelum kami membahas lebih lanjut tentang Takhta Daud dan bagaimana takhta itu terkait secara langsung dengan situasi masa kini, mari kita kembali meninjau Konsili Vatikan I. Vatikan I membuat sejumlah pernyataan dogmatis tentang keabadian Jabatan Kepausan. Ada satu kanon dari Konsili Vatikan I yang sering dikutip dalam perkara ini, yaitu sebagai berikut:

Paus Pius IX, Konsili Vatikan Pertama, 1870 – “Maka, barang siapa berkata bahwa bukanlah atas dasar institusi Yesus Kristus Tuhan kita, atau atas dasar hak ilahi, Petrus yang terberkati memiliki para penerus untuk selama-lamanya dalam Keutamaannya atas segenap Gereja; atau bahwa Sri Paus Roma bukanlah penerus Petrus yang terberkati dalam keutamaan yang sama; terkutuklah dia.”

Kanon ini tentunya tidak berarti bahwa Takhta St. Petrus tidak mungkin kosong. Takhta St. Petrus sudah kosong berkali-kali dalam sejarah Gereja setelah seorang Paus meninggal dan sebelum Paus yang berikutnya terpilih. Masa ini, di mana tidak ada seorang Paus, disebut sebagai interregnum, dan periode ini dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Sebaliknya, makna kanon Konsili Vatikan I ini adalah bahwa setiap kalinya ada seorang Paus yang valid, ia merupakan seorang penerus St. Petrus di dalam keutamaan yang sama. Dalam kata lain, ia memiliki otoritas yang sama yang dimiliki St. Petrus atas Gereja.

Matius 16:18-19 - “Dan Aku pun berkata kepadamu: engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku, dan pintu-pintu gerbang Neraka tidak akan berjaya melawannya. Aku akan memberikan kepadamu kunci-kunci Kerajaan Surga, dan apa pun yang kauikat di atas bumi akan terikat di dalam Surga dan apa pun yang kaulepaskan di atas bumi akan terlepas di dalam Surga.”

Hak keutamaan ini akan bertahan sampai akhir zaman.

Yohanes 21:15-17  - “Ketika mereka telah selesai makan pagi, Yesus berkata kepada Simon Petrus, ‘Simon, putra Yunus, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada hal-hal ini?’ Ia berkata kepada-Nya, ‘Ya, Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.’ Ia berkata kepadanya, ‘Berilah makan anak-anak domba-Ku!’ Ia berkata lagi kedua kalinya kepadanya, ‘Simon, putra Yunus, apakah engkau mengasihi Aku?’ Ia berkata kepada-Nya, ‘Ya, Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.’ Ia berkata kepadanya, ‘Gembalakanlah domba-domba-Ku!’ Ia berkata kepadanya untuk ketiga kalinya, ‘Simon, putra Yunus, apakah engkau mengasihi Aku?’ Petrus menjadi sedih hatinya karena Ia berkata kepadanya untuk ketiga kalinya, ‘Apakah engkau mengasihi Aku?’ Maka ia berkata kepada-Nya, ‘Tuhan, Engkau mengetahui segala sesuatu. Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau!’ Yesus berkata kepadanya, ‘Berilah makan domba-domba-Ku!’”

Johann Franzelin adalah seorang teolog pada Konsili Vatikan I yang diangkat sebagai Kardinal oleh Paus Pius IX. Pada tahun 1887, setelah ditetapkannya definisi dogmatis Konsili Vatikan I, ia menulis hal berikut tentang perkara keabadian jabatan Kepausan.

Kardinal Franzelin, Theses De Ecclesia Christi, Tesis 13, 1887, hal. 227:
Itulah sebabnya timbul perbedaan antara kursi itu dan orang yang mendudukinya dalam perkara keabadian. Oleh karena hukum Allah yang tidak dapat berubah dan penyelenggaraan supernatural-Nya, dan oleh karena hak dan kewajiban Gereja dalam menjaga untuk selama-lamanya sebagai suatu khazanah kuasa yang diinstitusikan secara ilahi bagi para penerus Petrus secara perorangan dan untuk mengadakan suksesi mereka melalui suatu hukum yang teguh, kursi itu, yaitu hak abadi atas keutamaan, tidak akan pernah berakhir.

Namun para ahli waris [kursi itu] secara perorangan atau mereka yang menduduki kursi Apostolik adalah manusia fana, dan itulah sebabnya kursi itu tidak mungkin pernah gugur, tetapi kursi itu dapat menjadi kosong, dan sering kali kosong. Meskipun pada waktu hal itu terjadi, tetap ada hukum ilahi dan institusi keabadian ....”

Maka institusinya tetap abadi meskipun Takhtanya kosong. Ada sejumlah teolog yang mengajarkan bahwa Takhta St. Petrus bisa mengalami kekosongan selama jangka waktu yang panjang. Romo Edmund O’Reilly adalah salah satu contohnya. Ia ini adalah seorang teolog terkemuka yang lain yang meninggal setelah Konsili Vatikan I, Menurut pendapatnya, suatu interregnum Kepausan (yaitu periode tanpa seorang Paus) bisa saja terjadi dalam kurun waktu yang setara dengan seluruh masa Skisma Besar Barat (yang dahulu terjadi selama hampir 40 tahun). Berikut pendapat yang disetujuinya setelah berlangsungnya Konsili Vatikan I:

Romo Edmund J. O'Reilly, The Relations of the Church to Society [Hubungan Gereja dengan Masyarakat], 1892, hal. 287-288:
“Skisma besar di Dunia Barat [1378-1417] membuat saya teringat akan suatu renungan yang langsung saja saya tuangkan di sini … perkara apakah Gereja yang sejati harus berada antara tiga puluh dan empat puluh tahun tanpa seorang Kepala yang sepenuhnya pasti, dan tanpa wakil Kristus di atas bumi, hal ini tidak akan terjadi. Namun hal ini sudah pernah terjadi; dan kita tidak mempunyai jaminan bahwa hal ini tidak akan terulang kembali

Yang hendak saya simpulkan adalah bahwa kita tidak boleh terlalu sigap untuk memutuskan apa yang mungkin dibiarkan terjadi oleh Allah … kita, atau para penerus diri kita yaitu generasi-generasi orang Kristiani di masa depan, mungkin akan melihat kejahatan-kejahatan yang lebih ganjil daripada yang pernah dialami sebelumnya, bahkan pada saat-saat menjelang berakhirnya segala sesuatu di atas bumi yang akan mendahului hari penghakiman … ketidakpastian-ketidakpastian sehubungan Gereja, yang tidak dimustahilkan oleh janji-janji Ilahi, tidak dapat secara praktik dipandang sebagai mustahil, hanya karena hal-hal semacam itu akan menjadi sangat amat mengerikan dan menggelisahkan.”

“ ... suatu interregnum yang mencakup seluruh periode [Skisma Besar Barat] itu bukan berarti mustahil atau tidak konsisten dengan janji-janji Kristus, karena hal ini sama sekali tidak pasti ....”

Poin-poin yang diajukannya itu penting. Namun apa yang telah kami buktikan terkait Takhta Daud yang kosong selama 500 tahun lebih – suatu Takhta yang telah dijanjikan Allah akan memiliki para penerus untuk selama-lamanya – merupakan bukti bahwa kekosongan Takhta St. Petrus yang berkepanjangan sama sekali tidak menentang Konsili Vatikan I, indefektibilitas ataupun janji-janji Allah kepada Gereja-Nya. Memang benar, ada nubuat yang memberi pertanda dan menyiratkan terjadinya kekosongan Takhta St. Petrus yang berkepanjangan ini.

 

Kekosongan Takhta Daud & Kekosongan Takhta Petrus

Ada suatu hal yang juga menarik sewaktu kita membandingkan kosongnya Takhta Daud dan kosongnya Takhta Santo Petrus pada saat ini, yaitu bahwa Babel terlibat pada kedua kekosongan tersebut. 

  • Babel dalam Perjanjian Lama, atau Kekaisaran Babilonia, adalah apa yang menghancurkan Yerusalem, dan menyebabkan kekosongan takhta Daud selama 500 tahun lebih. Allah membiarkan terjadinya kekosongan yang berkepanjangan itu sebagai hukuman atas dosa-dosa manusia. 
  • Dan Babel dalam Perjanjian Baru, yang adalah Pelacur Babel, yaitu Kontra-Gereja akhir zaman yang telah dinubuatkan, atau Sekte Vatikan II di Roma di bawah para Anti-Paus yang pemurtad, adalah apa yang yang secara tidak sah telah mengambil kendali atas struktur fisik Gereja. Akibatnya, Takhta Santo Petrus telah kosong selama beberapa dekade, sementara para bidah manifes yang tidak terpilih secara valid telah berpura-pura sebagai Paus di Roma.

Video-video kami yang berjudul Wahyu di Vatikan Sekarang; Babel Sudah Jatuh, Sudah Jatuh; dan Wahyu 18:2 Telah Terjadi memperlihatkan bahwa Sekte Vatikan II dan para Anti-Pausnya yang pemurtad itu menggenapi nubuat tentang Pelacur Babel dengan berbagai cara yang mengejutkan. 

Paus yang pertama, yaitu Santo Petrus, menjadi martir di Roma. Ia dimakamkan di lokasi Basilika Santo Petrus (yang ada di Kota Vatikan modern). Perkataan Santo Petrus sendiri dalam 1 Petrus 5:13 menjadi petunjuk bahwa Babel dalam Perjanjian Baru terletak di tempat Santo Petrus berlokasi. 

1 Petrus 5:13 - Gereja yang berada di Babel, yang terpilih bersama dengan kalian, memberi salam kepada kamu sekalian ....”

Artinya adalah bahwa lokasi Babel dalam Perjanjian Baru adalah Roma, dan lebih khususnya Basilika Santo Petrus di Vatikan (tempat Santo Petrus dimakamkan). Itulah mengapa nubuat tentang Pelacur Babel telah digenapi di tempat yang satu itu. 

Eusebius dari Kaisarea, Sejarah Gerejawi, Buku 2, Bab. 15: “Dan Petrus menyebutkan Markus di dalam surat pertamanya, yang ujar mereka ditulisnya di Roma sendiri: seperti yang diindikasikan olehnya, sewaktu ia menyebut kota tersebut, secara kiasan, Babel.”

Berikut salah satu contohnya, Wahyu 18:2 berkata bahwa Babel sudah jatuh dan menjadi tempat tinggal para iblis dan penjara bagi setiap burung dan binatang yang najis. 

Wahyu 18:2 - “Dan ia [sang malaikat] berseru dengan suara yang kuat, ’Sudah jatuh, sudah jatuh, Babel yang agung! Dan ia telah menjadi tempat tinggal para iblis dan penjara segala roh yang najis, dan penjara setiap burung yang najis, dan penjara setiap binatang yang najis dan yang dibenci.’”

Di tanggal 8 Desember 2015, pada hari peringatan 50 tahun penutupan Vatikan II, pertunjukan cahaya Fiat Lux diadakan. Pada pertunjukan cahaya ini, Vatikan memproyeksikan gambar-gambar dari burung-burung dan binatang-binatang yang najis pada bagian depan Basilika Santo Petrus, tepat di atas tempat Santo Petrus dimakamkan. Peristiwa ini secara menakjubkan berselaras dengan kata-kata Wahyu 18:2. Maka kejadian itu bertempat di lokasi yang tepat dari Babel Perjanjian Baru.

 

Taman Gantung Babilonia

Sekarang mari kita pertimbangkan hal ini. Babel/Babilonia Perjanjian Lama menghancurkan Yerusalem pada tahun 586 SM di bawah pemerintahan Raja Nebukadnezar II. Raja ini diyakini telah membangun Taman Gantung Babilonia di ibu kota kekaisaran Babilonianya itu.

Taman ini dianggap sebagai salah satu dari tujuh keajaiban dunia kuno. Berikut suatu gambaran yang terkenal yang melukiskan seperti apa Taman Gantung Babilonia itu.

Anda bisa melihat tanaman merambat dan pepohonan yang menggantung di atas pilar-pilarnya. Taman gantung di Babilonia ini mungkin merupakan ciri yang paling menonjol di ibu kota kekaisaran Babilonia yang membawa umat Allah ke dalam pembuangan dan menyebabkan kekosongan di Takhta Daud.

Sekarang, mari kita melihat gambar-gambar ini dari pertunjukan cahaya Fiat Lux di Basilika Santo Petrus.

Selain gambar-gambar dari burung-burung dan binatang-binatang yang sesuai dengan deskripsi Pelacur Babel dalam Wahyu 18:2, anda bisa melihat bahwa gambaran pertunjukan Fiat Lux ini menjiplak Taman Gantung Babilonia.

Perhatikan tanaman merambat yang terjuntai di atas pilar-pilarnya, persis seperti di Taman Gantung Babilonia. 

Apakah menurut anda itu hanya suatu kebetulan? Tentunya itu bukan hanya suatu kebetulan. Ini adalah tanda lain untuk menegaskan hubungan antara Babel Perjanjian Lama, atau Kekaisaran Babilonia, yang membawa umat Allah ke dalam pembuangan sebagai bagian dari penghakiman alkitabiah, dengan Babel Perjanjian Baru, yaitu Sekte Vatikan II yang pemurtad yang muncul menjelang akhir zaman di tempat Santo Petrus berada, sebagai bagian penghakiman alkitabiah selama Kemurtadan Besar. 

Banyak orang yang dahulunya merupakan anggota Gereja yang sejati, yaitu Gereja Katolik, telah digiring oleh Babel Perjanjian Baru ke dalam kemurtadan dan dibawa olehnya menjauh dari iman Katolik yang sejati - dan mereka dengan demikian mengalami pembuangan rohani. Jadi, orang-orang yang berpikir bahwa mereka membela Gereja Katolik dengan membela para Anti-Paus Vatikan II, mereka benar-benar teperdaya. Yang anda bela bukanlah Gereja Katolik, dan anda justru berpihak kepada para Anti-Paus yang pemurtad dalam Pelacur Babel akhir zaman yang telah dinubuatkan.

Sekte Vatikan II merupakan Pembuangan Babilonia pada akhir zaman. Namun, pembuangan ini adalah penghakiman yang dinubuatkan Alkitab atas umat Allah Perjanjian Baru. Itulah sebabnya pembuangan ini terjadi di Babel Perjanjian Baru, tempat beradanya Santo Petrus, yaitu di Vatikan, dan bukan di Babel Perjanjian Lama. Pembuangan ini juga terjadi sehubungan dengan penipuan rohani. 

Wahyu 13:14 -  “ ... ia menipu orang-orang yang tinggal di bumi, dengan berkata kepada orang-orang yang tinggal di bumi untuk membuat sebuah gambar bagi binatang yang dilukai oleh pedang, yang walau bagaimanapun hidup.”

Vatikan II yang merupakan Pembuangan Babel pada Perjanjian Baru telah menyebabkan kekosongan yang berkepanjangan pada Takhta Santo Petrus, sama seperti Pembuangan Babilonia di Perjanjian Lama yang berhubungan dengan kekosongan Takhta Daud. 

 

Paralel Kerajaan Daud & Gereja Kristus

Di samping itu, ada suatu hubungan yang tidak dapat disangkal antara jabatan Daud dalam Perjanjian Lama dan jabatan Santo Petrus dalam Perjanjian Baru. Orang-orang yang terlibat dalam apologetika Kepausan menyadari hubungan ini. Kerajaan Yesus, yaitu Gereja-Nya, mencontoh kerajaan Daud dan Israel dalam Perjanjian Lama. Para menteri kerajaan yang membentuk kabinet rajani dalam monarki Daud, dan juga ke-12 suku Israel, merupakan gambaran awal yang menandakan ke-12 rasul Yesus. Perdana menteri raja Daud menerima sebuah kunci, dan Yesus memberi kunci-kunci Kerajaan kepada Santo Petrus. 

Yesaya 22:20-22 - “Pada hari itu, Aku akan memanggil hamba-Ku, Elyakim bin Hilkia, dan Aku akan menjubahinya dengan jubahmu [Sebna], dan Aku akan mengikatkan ikat pinggangmu kepadanya, dan pemerintahanmu akan Kuserahkan ke dalam tangannya. Dan ia akan menjadi seorang bapa bagi para penghuni Yerusalem dan bagi kaum Yehuda. Dan Aku akan menempatkan kunci rumah Daud di atas bahunya. Ia akan membuka, dan tiada seorang pun yang akan menutup; dan ia akan menutup, dan tiada seorang pun yang akan membuka.”

Video kami yang berjudul "Kitab Suci Membuktikan Kepausan”, juga menunjukkan bahwa ada kesesuaian yang mengejutkan antara apa yang dilakukan Raja Daud pada suatu konsili di Yerusalem yang tercatat dalam 1 Tawarikh 28, dengan apa yang dilakukan oleh Santo Petrus pada Konsili Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 15.

 Pada konsili di 1 Tawarikh 28, Daud berdiri dan berkata:  

1 Tawarikh 28:4 - “Namun Tuhan, Allah Israel, telah memilih aku dari antara segenap kaum keluargaku untuk menjadi raja atas Israel selama-lamanya ....”

Di Kisah Para Rasul 15, Petrus berdiri dan berkata:

Kisah Para Rasul 15:7 - “‘Saudara-saudara, kalian tahu bahwa sejak dahulu kala, Allah telah memilih dari antara kalian, supaya dengan perantaraan mulutku bangsa-bangsa lain akan mendengar berita injil dan percaya.’”

Pada Konsili Yerusalem, Petrus mengatakan dan melakukan apa yang dikatakan dan dilakukan Daud, dengan menggunakan kata yang persis sama, yaitu “telah memilih”, persisnya karena Petrus memiliki otoritas tertinggi atas Gereja Perjanjian Baru, sama seperti Raja Daud memiliki otoritas tertinggi atas Israel. 

Gereja adalah Israel milik Allah (Galatia 6:16).

Galatia 6:15-16 - “Sebab sunat maupun tak bersunat tidak berarti apa-apa, namun yang penting adalah menjadi ciptaan baru. Dan bagi semua orang yang hidup menurut peraturan ini, kiranya damai sejahtera dan kasih kerahiman menyertai mereka, dan bagi Israel milik Allah."

Maka sangat masuk akal bahwa sebagaimana Pembuangan ke Babilonia dalam Perjanjian Lama terkait dengan kekosongan yang panjang dari takhta Daud, Pembuangan di Babel di akhir zaman juga terkait dengan kekosongan yang panjang pada takhta atau kursi Santo Petrus. Patut dicatat pula bahwa kekosongan yang berkepanjangan dari takhta Daud, akibat Kekaisaran Babilonia, mendahului kedatangan pertama Yesus Kristus. Itulah sebabnya masuk di akal bahwa kekosongan Takhta Santo Petrus yang berkepanjangan akan mendahului Kedatangan Kedua Yesus Kristus. 

 

70 Tahun Kekosongan Takhta St. Petrus?

Jadi, bagaimanakah suksesi yang abadi pada Takhta Santo Petrus akan berlanjut setelah kekosongan panjang ini yang diakibatkan oleh para Anti-Paus Vatikan II?

Pada milenium yang pertama, para paus sering kali dipilih melalui aklamasi oleh para klerus dan rakyat Roma. St. Robertus Bellarminus menunjukkan bahwa seandainya semua kardinal meninggal dunia sekaligus, hak pemilihan Paus akan jatuh ke tangan suatu konsili atau para klerus di Roma. Allah dapat mengatur terjadinya peristiwa-peristiwa sehingga seorang Katolik sejati akan diaklamasikan sebagai paus di Roma dan dikonsekrasikan sebagai uskup, serupa dengan cara pemilihan paus pada milenium pertama. 

Namun, menimbang kenyataan bahwa kita jelas-jelas berada di akhir zaman dan sedang menyaksikan penggenapan nubuat tentang Pelacur Babel, Binatang akhir zaman dan sang Antikristus, saya tidak yakin itu adalah skenario yang paling mungkin terjadi.

Wahyu 13:3 - “Salah satu dari kepala-kepalanya [yakni, salah satu dari tujuh raja Roma yang terkait dengan sang Pelacur Babel – lihat Why. 17] tampak memiliki luka yang mematikan, tetapi luka yang mematikannya itu sembuh, dan seluruh bumi takjub seraya mengikuti sang binatang.”

Peristiwa yang menurut keyakinan saya paling mungkin terjadi adalah bahwa sama seperti Yesus Kristus sendiri datang pertama kalinya dan mengakhiri kekosongan Takhta Daud dengan duduk di atas takhta itu dan memegangnya untuk selama-lamanya, Yesus akan datang kembali, mengambil Takhta Santo Petrus, dan memegangnya untuk selama-lamanya (secara abadi). 

Yesus adalah kepala Gereja yang tidak kelihatan. Seorang paus yang valid hanyalah semata-mata perwakilan Yesus atau Vikaris-Nya, dan dikatakan sebagai kepala Gereja yang kelihatan. Ketika Yesus datang kembali dalam kemuliaan, Ia akan mengambil keutamaan dan kepemimpinan yang terlihat atas kawanan domba-Nya. Dengan demikian, suksesi Takhta Santo Petrus dapat dilanjutkan untuk selama-lamanya dengan cara yang persis sama seperti suksesi yang abadi dari Takhta Daud dilanjutkan untuk selama-lamanya oleh Yesus sendiri (setelah kekosongan yang panjang). 

Itulah, menurut saya, skenario yang paling masuk akal. Kekosongan Takhta Daud dahulu berlangsung selama lebih dari 500 tahun. Tentunya, kami tidak percaya kekosongan Takhta Santo Petrus saat ini akan berlangsung selama itu. Meskipun Israel tidak memiliki seorang Raja yang menduduki takhta itu selama ratusan tahun, rakyatnya dibawa ke pembuangan di Babilonia, yang seturut nubuat Yeremia berlangsung selama 70 tahun. Lihatlah Yeremia 25:11-12 dan Yeremia 29:10.

Yeremia 25:11-12 - "Seluruh negeri ini akan menjadi reruntuhan dan ketandusan, dan bangsa-bangsa ini akan mengabdi kepada raja Babel selama tujuh puluh tahun. Lalu sesudah genap tujuh puluh tahun, Aku akan menghukum raja Babilonia dan bangsa itu, yaitu bangsa Kaldea, oleh karena kejahatan mereka, demikianlah firman Tuhan, sehingga negeri itu menjadi reruntuhan untuk selama-lamanya.”

Sekte Vatikan II dan para Anti-Pausnya yang pemurtad itu pastinya mewakili dan melambangkan Pelacur Babel serta Pembuangan Babilonia pada akhir zaman. Dan itulah sebabnya akan masuk di akal bila situasi saat ini (di mana tidak ada Paus yang valid, melainkan hanya ada serangkaian Anti-Paus di Roma) mungkin berlangsung selama 70 tahun. Lantas dari semua kata yang bisa digunakan Tuhan Allah, mengapa memangnya Ia memilih menggunakan kata “Babel” secara spesifik dalam 1 Petrus 5 dan kitab Wahyu, sehingga Ia membuat kaitan langsung dengan Babel Perjanjian Lama - kecuali Allah bermaksud menunjukkan bahwa pembuangan Babel pada akhir zaman di tempat Santo Petrus berada juga akan berlangsung selama beberapa dekade, seperti halnya Pembuangan Babilonia Perjanjian Lama yang berlangsung selama beberapa dekade (70 tahun, pada kenyataannya).

Anti-Paus yang pertama dari Sekte Vatikan II, yaitu Yohanes XXIII yang merupakan seorang bidah manifes, mengambil kendali di Roma setelah pemilihan palsunya pada tanggal 28 Oktober 1958. Inilah peristiwanya, yang paling masuk akal sebagai tanda dari awal Pembuangan Babel Perjanjian Baru. Beberapa orang mungkin berargumentasi bahwa Pembuangan itu benar-benar dimulai dengan pemakluman Konsili Vatikan II pada tanggal 8 Desember 1965. Pertunjukan cahaya Fiat Lux yang sesuai dengan deskripsi Wahyu 18:2 terjadi pada hari peringatan 50 tahun penutupan Vatikan II. Itu bukan hanya suatu kebetulan karena Sekte Vatikan II adalah Pelacur Babel. Namun karena para Anti-Paus sudah memerintah di Roma, pandangan bahwa Pembuangan itu tidak bermula sampai tahun 1965 lebih kecil kemungkinannya. 

Pembuangan Babel Vatikan II ini mungkin berakhir lebih cepat daripada 70 tahun atau mungkin akan berlangsung lebih lama. Namun 70 tahun akan menjadi suatu paralel lain yang tepat dengan apa yang terjadi dalam Perjanjian Lama. Untuk menggambarkan berbagai peristiwa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sehubungan dengan Babel, Kitab Suci menggunakan gaya bahasa sangat mirip di berbagai ayat dalam Kitab Yeremia dan Apokalipsis (yaitu Kitab Wahyu).

Dan tentunya tidak seorang pun tahu hari atau jam di mana Yesus Kristus akan datang kembali. Terlepas akan seberapa lama kekosongan ini dan Pembuangan Babel, kita sedang berada di akhir zaman dan kita sedang menyaksikan penggenapan nubuat tentang binatang akhir zaman, Pelacur Babel, sang Antikristus, dll. Tontonlah video kami "Wahyu di Vatikan Sekarang.

Fakta-fakta dalam video ini membuktikan bahwa ajaran Katolik atau ajaran Vatikan I sama sekali tidak menentang posisi bahwa tidak ada paus yang valid sejak Paus Pius XII, dan bahwa semua pengklaim kepausan Vatikan II adalah Anti-Paus yang bidah. Itulah posisi yang benar. Dan itulah kesimpulan yang harus dicapai berdasarkan ajaran Katolik sehubungan dengan fakta-fakta yang ada. Para Anti-Paus Vatikan II adalah bidah dan pemurtad secara terbuka. Mereka bukanlah paus yang sejati.  Mereka memimpin Pelacur Babel, yaitu Kontra-Gereja akhir zaman yang telah dinubuatkan.   

Video ini hendak kami tutup dengan cuplikan singkat dari video kami “Wahyu di Vatikan Sekarang” yang membahas tentang Pelacur Babel.

 

Vatikan II & Pelacur Babel

Vatikan II, yang ditutup pada tanggal 8 Desember 1965, merupakan Konsili Kemurtadan. Konsili ini mendatangkan dan mencirikan Kontra-Gereja apokaliptik, yakni Pelacur Babel akhir zaman. Jelas adanya, bahwa Sekte Vatikan II juga menggenapi nubuat tentang Pelacur Babel dalam berbagai cara yang lain. Wahyu 18:3 berkata bahwa segala bangsa telah meminum anggur nafsu percabulannya.

Wahyu 18:3 - "Sebab segala bangsa telah meminum anggur hawa nafsu percabulannya ....”

Wahyu 18:2 - " ... mereka yang menghuni bumi telah dibuat mabuk oleh anggur percabulannya.”

 Wahyu 14:8 - " ... anggur hawa nafsu percabulannya ....”

Kitab Wahyu menyebutkan anggur percabulan sang Pelacur lebih dari satu kali karena setelah Vatikan II, ada sejumlah perubahan yang dibuat terhadap bagian anggur dari formula konsekrasi dalam Misa Baru. Perubahan kata banyak menjadi semua dalam formula konsekrasinya memalsukan kata-kata Kristus, dan menyebabkan “Misa-Misa” itu menjadi tidak valid.

Wahyu 17:4-5 - “Dan wanita itu didandani dengan kain ungu dan kain merah padam dan dihiasi dengan emas dan batu permata dan mutiara, sambil memegang cawan emas di tangannya yang penuh dengan kekejian dan kenajisan percabulannya. Dan pada dahinya ada tertulis suatu nama, suatu misteri: ‘Babel yang agung, Ibu dari para pelacur dan dari kekejian bumi.’”

Kitab Wahyu berkata bahwa Sang Pelacur didandani dengan kain ungu dan kain merah padam, sebab para uskup mengenakan kain ungu sedangkan para kardinal mengenakan kain merah padam, dan pria yang mengenakan kain ungu dan merah padam sering dijumpai di Kota Vatikan. Sang Pelacur menyerupai Gereja Katolik yang sejati dalam berbagai macam penampilan luarnya, walaupun ia tidak memiliki substansi Gereja Katolik yang sejati. Sang Pelacur mabuk oleh karena darah orang-orang kudus dan para martir, sebab ia mencemooh santo-santa dengan ekumenisme sesatnya serta indiferentisme keagamaannya.

Wahyu 17:6 - “Dan aku melihat wanita itu, yang mabuk oleh karena darah orang-orang kudus dan oleh karena darah para martir Yesus. Sewaktu aku melihatnya, aku merasakan keheranan yang besar.”

Kita membaca dalam Wahyu 17:6 bahwa ketika Santo Yohanes melihat sang pelacur, ia merasakan keheranan yang besar. Kata benda yang diterjemahkan menjadi keheranan dalam ayat itu adalah thauma. Kata ini hanya digunakan satu kali lagi dalam Perjanjian Baru, yaitu dalam 2 Korintus 11:14, di mana kata ini digunakan untuk menggambarkan keterkejutan, keheranan, atau kebingungan yang ditimbulkan oleh para rasul palsu yang menyamar sebagai para rasul Kristus. Masuk akal bahwa ketika Santo Yohanes melihat sang pelacur, ia merasakan keheranan yang besar karena apa yang dilihatnya adalah Kontra-Gereja yang dipimpin oleh para rasul dari Petrus yang palsu - yaitu, para Anti-Paus yang mengaku sebagai penerus Rasul Petrus, walaupun sebenarnya bukan. 

Kata Benda θαῦμα (Keheranan) Hanya Digunakan Dua Kali di dalam Perjanjian Baru

2 Korintus 11:13-15 - “Sebab orang-orang semacam itu adalah rasul-rasul palsu, para pekerja penipu yang menyamar sebagai rasul-rasul Kristus. Tidaklah mengherankan [οὐ θαῦμα ] sebab bahkan Setan sendiri menyamar sebagai malaikat terang. Jadi tidaklah mengejutkan jika para pelayannya juga menyamar sebagai pelayan-pelayan kebajikan.”

Wahyu 17:6-7 - “Sewaktu aku melihatnya, aku merasakan keheranan yang besar [ θαῦμα μέγα ]. Tetapi sang malaikat berkata kepadaku, ‘Mengapa engkau keheranan? Aku akan mengatakan kepadamu misteri sang wanita, dan binatang yang membawanya, yang mempunyai tujuh kepala dan sepuluh tanduk.’”

Memang benar, untuk mengungkapkan bahwa orang akan heran saat melihat binatang itu karena ia telah kembali, Kitab Wahyu menggunakan kata kerja thaumazo, bentuk verbal dari thauma. 

Wahyu 17:8 - “Dan orang-orang yang berdiam di bumi, yang nama-namanya tidak tertulis di dalam Kitab Kehidupan sejak permulaan dunia, mereka akan heran [ θαυμασθήσονται ] saat melihat sang binatang, sebab ia dahulu ada, dan sekarang tidak ada, dan akan datang.”            

θαυμάζω (thaumazo) - Saya heran, saya takjub

θαυμάζω - “menjadi luar biasa terpukau atau terusik oleh sesuatu(BDAG, hal. 444).

Kenyataan ini menjadi petunjuk lain bahwa sewaktu Roma pagan datang kembali, ia akan mengambil rupa para rasul dan pelayan Kristus - yaitu, Roma pagan akan menyamar sebagai Gereja: suatu Kontra-Gereja. Maka sewaktu Roma pagan datang kembali pada akhir zaman dengan menyamar sebagai para rasul dan pelayan Kristus, apa yang dia coba lakukan bukanlah penganiayaan jasmani, melainkan penyesatan rohani.

Menurut Wahyu 17:4, sang Pelacur memiliki cawan emas di tangannya. Kata-kata ini mengacu kepada imamat palsu dan Misa palsu dalam Kontra-Gereja Vatikan II. Wahyu 18:6 menyebutkan cawan yang digunakan Pelacur itu untuk mencampur. Kata-kata ini mengacu kepada percampuran air dan anggur pada Misa Baru. Perkataan yang satu ini menandakan bahwa sang Pelacur telah melakukan penyelewengan berat dalam bagian liturgi itu, dengan memalsukan ibadat Gereja Katolik yang sejati. 

Wahyu 18:6 – “Balaslah kepadanya sebagaimana dia juga telah membalas kepadamu, dan gandakanlah kepadanya dua kali lipat sesuai dengan perbuatannya: ke dalam cawan di mana ia telah mencampur, campurlah baginya dua kali lipat.”

Hal yang menarik, lukisan kuno yang mengganbarkan wanita Europa ada pada bejana yang digunakan untuk mencampur air dan anggur. Itu adalah suatu petunjuk lain bahwa perkataan Wahyu 18:6 ini mengacu kepada Eropa yang telah menjadi pelacur rohani karena ia telah menjadi murtad dari iman Katolik dan melakukan kekejian-kekejian liturgisnya.

Di samping itu, pernyataan ayat itu yang berkata, gandakanlah kepadanya dua kali lipat sesuai dengan perbuatannya, selaras dengan perkataan 1 Timotius 5:17. Di dalam ayat ini, kita membaca bahwa para imam yang memimpin dengan baik patut dihargai dengan kehormatan dua kali lipat.

1 Timotius 5:17 – “Hendaknya para imam yang memimpin dengan baik, dihargai dengan kehormatan dua kali lipat, terutama mereka yang berjerih payah dalam sabda dan doktrin.”

Namun alasan Wahyu 18:6 berkata tentang Pelacur itu, gandakanlah kepadanya dua kali lipat sesuai dengan perbuatannya, adalah sang Pelacur melambangkan para imam dan pelayan palsu yang bertindak dan memimpin dengan cara yang jahat. Masih ada lagi contoh lain yang dapat diberikan untuk hubungan Sekte Vatikan II dengan Pelacur Babel.

Wahyu 17:3 - “Dan ia membawaku dalam roh ke padang belantara, dan aku melihat seorang wanita yang terduduk di atas seekor binatang merah padam yang penuh dengan nama-nama penghujatan, dan yang memiliki tujuh kepala dan sepuluh tanduk.”

Karena Sekte Vatikan II jelas merupakan Pelacur Babel, dan sang Pelacur duduk di atas binatang akhir zaman, masuk akal bahwa sang Antikristus -  ia yang terluka dan yang gambarnya kemudian dihormati - terkait dengan peristiwa-peristiwa di Kota Vatikan selama masa ini. Kenyataan ini semakin memperkuat kesimpulan bahwa Yohanes Paulus II adalah sang Antikristus. Selain itu, ketika sang binatang di bawah Nero menghukum mati St. Petrus, Petrus dibunuh di Bukit Vatikan, yang berlokasi di Kota Vatikan pada zaman ini.

Wahyu 13:14 -  “ ... ia menipu orang-orang yang tinggal di bumi, dengan berkata kepada orang-orang yang tinggal di bumi untuk membuat sebuah gambar bagi binatang yang dilukai oleh pedang, yang walau bagaimanapun hidup.”

Jadi, ketika binatang itu muncul pada abad pertama, ia menganiaya pemimpin Gereja yang kelihatan di tempat yang satu itu, yang sekarang menjadi Kota Vatikan. St. Petrus dimakamkan di sana, di tempat yang sekarang menjadi Kota Vatikan, dan makamnya terletak di bawah altar utama di Basilika Santo Petrus. Ketika agama Kristiani menaklukkan Roma dan Eropa secara rohani, bangunan fisik yang paling menonjol dalam Kekristenan didirikan di tempat di mana Santo Petrus dimakamkan, yaitu di tempat yang sekarang menjadi Kota Vatikan.

Maka, masuk akal bahwa ketika binatang itu kembali, dan sang Pelacur duduk di atasnya, nubuat-nubuat itu akan digenapi di sana, di Kota Vatikan, tempat dimakamkannya Santo Petrus. Dan itulah yang telah terjadi. Itulah sebabnya kita melihat bahwa nubuat-nubuat tentang sang binatang, ketujuh raja, sang Antikristus, dan Pelacur Babel telah digenapi di sana, di Kota Vatikan.

Nubuat-nubuat ini digenapi di Roma, dan hal ini justru membuktikan, dan bukan membantah, kenyataan bahwa Gereja Katolik adalah Gereja Yesus Kristus yang satu dan sejati. Inti dari penipuan besar pada akhir zaman adalah menipu mereka yang mengaku Katolik, dan mereka yang mengaku bersatu dengan Roma.

St. Ireneus, Adversus Haereses [Melawan Bidah], Buku 3, Bab 3, 180 M:
"Namun karena akan menjadi sangat panjang untuk menyebutkan satu per satu suksesi dari semua Gereja dalam karya semacam ini, kami hanya akan mengambil salah satu dari antaranya, yakni Gereja yang amat besar dan amat kuno, dan yang dikenal oleh semua orang, Gereja yang dibangun dan didirikan di Roma oleh kedua Rasul yang teramat mulia, Petrus dan Paulus; dengan menunjukkan bahwa Tradisi yang dimiliki Gereja itu dari para rasul serta iman yang diwartakannya kepada umat manusia telah sampai kepada kami melalui suksesi para uskup, kami akan mengacaukan mereka semua yang entah bagaimanapun juga berhimpun dalam perkumpulan-perkumpulan yang tidak diizinkan ... Sebab oleh karena keutamaan yang lebih kuasa milik Gereja ini, segenap Gereja, yaitu umat beriman di segala tempat, niscaya harus setuju dengan Gereja ini [yaitu Gereja Roma] ….”

Banyak bukti alkitabiah untuk iman Katolik akan anda temukan pada situs internet kami vatikankatolik.id dan dalam materi kami. Nubuat-nubuat tentang persundalan dan jatuhnya kota Roma terkait dengan ditinggalkannya iman Katolik oleh kota Roma, karena iman Katolik adalah iman yang satu dan sejati akan Yesus Kristus, di luar mana tidak terdapat keselamatan. Namun untuk menjadi orang Katolik sejati, seseorang harus menjadi seorang Katolik tradisional.

SHOW MORE



10:04
Benediktus XVI Mengenakan Bintang Daud!
2 tahun lalu
1:14:07
“Ortodoksi” Timur Terbongkar: Doktrin Sesat Mereka tentang Allah
4 bulan lalu
1:49:32
Wahyu di Vatikan Sekarang
1 tahun lalu
1:35
Fransiskus “Memberkati” Serikat Sipil Zina Mantan Presiden Kolombia
1 tahun lalu
2:39
Anti-Paus Fransiskus Berkata kepada Seorang Homoseksual bahwa Ia Diciptakan Seperti Itu
1 tahun lalu
12:50
Apakah Gereja Katolik Mengutuk Semua Orang yang Disunat?
2 tahun lalu
25:55
Bidah Protestan Vatikan II
2 tahun lalu
31:49
Vatikan II Adalah Agama Baru (Bukti Visual)
2 tahun lalu
1:32
Banyak Orang Merayakan Tahun Baru dengan Menyerahkan Diri Mereka Sendiri kepada Iblis
3 tahun lalu
4:43
Matius 18 Juga Membuktikan bahwa Petrus Adalah Paus yang Pertama
2 tahun lalu
10:17
Mengapa Begitu Banyak Orang Tidak Dapat Percaya
2 tahun lalu
26:47
Dilarang Misa Latin atau Berdoa bagi Orang Non-Katolik yang Meninggal – Ajaran Kepausan
10 bulan lalu
18:27
Mengapa Persisnya Joe Biden Bukan Orang Katolik
1 tahun lalu
17:22
Bagaimana Cara Menghindari Dosa (Menaklukkan Diri Anda Sendiri)
2 tahun lalu
50:28
Paus Pius IX Tidak Mengajarkan Keselamatan di luar Gereja
2 bulan lalu