Kesetiaan dalam Hal-Hal Kecil
Juni 12, 2022
Copy Link
https://endtimes.video/id/kesetiaan-kitab-suci/
Copy Embed
vatikankatolik.id - Saluran dalam Bahasa Indonesia

|

Bruder Peter Dimond

Banyak orang ingin melakukan hal-hal yang besar untuk Allah dalam suatu cara tertentu, tetapi mereka tidak jujur, tidak setia, berkompromi, dan tidak memiliki kasih dalam melakukan hal-hal kecil. Sewaktu Allah melihat bahwa orang-orang tidak setia dalam hal-hal kecil itu, Ia tidak memercayakan hal-hal yang lebih besar kepada mereka atau memberikan mereka rahmat-rahmat yang istimewa. Kenyataannya, itulah alasan Allah meninggalkan banyak orang di dalam kegelapan.

“Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.” - Matius 25:23

Di dalam kitab 1 Samuel, Allah memilih pengganti Raja Saul. Kita membaca bahwa Allah memilih seseorang yang sesuai dengan hati-Nya.          

“Namun sekarang, kerajaanmu tidak akan bertahan. Tuhan telah memilih seseorang yang sesuai dengan hati-Nya, dan Tuhan telah menetapkan dia sebagai pemimpin atas para umat-Nya, sebab engkau tidak menjaga apa yang Tuhan telah perintahkan kepadamu.” - 1 Samuel 13:14

Samuel diberi tahu bahwa Allah telah memilih salah seorang dari antara para putra Isai. Sewaktu nabi Samuel melihat putra Isai yang bernama Eliab, ia berpikir secara keliru: Tentunya orang yang diurapi Tuhan ada di hadapannya.

“Tetapi Tuhan berkata kepada Samuel, ‘Janganlah memandang penampilannya atau tinggi badannya, sebab Aku telah menolaknya. Sebab Tuhan tidak sebagaimana manusia melihat: manusia memandang penampilan luar, tetapi Tuhan memandang hati.’” - 1 Samuel 16:7 

“Tuhan memandang dari Surga; Ia melihat semua umat manusia … dan memperhatikan semua perbuatan mereka.” - Mazmur 33:13-15

 “Sebab mata-Nya mengawasi jalan seorang manusia, dan Ia melihat segala langkahnya.” - Ayub 34:21

Tuhan memandang semua penghuni Israel, dan dari antara mereka, Ia melihat Daud yang berada di padang. Tuhan tahu bahwa intensi Daud yang terutama adalah untuk menaati Tuhan. Jadi, Ia mengambil Daud dari tempat di mana ia tidak dikenal – dari rumah bapanya – dan menjadikannya Raja atas Israel.

“ … [Tuhan berkata] Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika engkau menggiring kambing domba, dan menjadikan engkau sebagai raja atas umat-Ku Israel.” - 2 Samuel 7:8

 Jika seseorang yang memiliki iman sejati setia kepada Allah dan menunaikan keadaan hidupnya dengan intensi yang layak, meskipun perbuatannya itu tidak pernah diakui oleh seorang pun di muka bumi, Allah tentunya memperhatikannya. Orang itu diberikan-Nya rahmat-rahmat yang penting di dalam hidup ini, dan imbalan pada waktu yang direncanakan-Nya.

“Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir.” - Matius 20:16

 Satu-satunya pengadilan yang pada akhirnya berarti adalah coram Deo – hal yang dilakukan di hadirat Allah.

Alasan Allah membiarkan begitu banyak orang berada di dalam berbagai jenjang kebutaan, atau bidah, atau dosa, adalah bahwa mereka tidak jujur, tidak setia, tidak adil, atau berkompromi dalam perkara-perkara kecil termasuk urusan-urusan, komentar-komentar, dll.

Di samping dosa-dosa berat yang jelas, tindak-tindak berikut akan tergolong contoh-contoh dari ketidaksetiaan semacam itu dalam perkara-perkara yang lebih kecil:

Ketidakjujuran dalam argumentasi, menyetujui perilaku yang tidak pantas dari orang lain, gagal untuk mengevangelisasikan orang lain sewaktu anda seharusnya melakukannya, melebih-lebihkan hal-hal tentang orang-orang yang tidak anda sukai, berulang kali gagal untuk menepati perkataan anda, memalsukan fakta, mempromosikan musik atau hiburan yang tidak senonoh, tidak menunaikan tanggung jawab dari keadaan hidup anda, seperti untuk membesarkan anak secara benar atau mendisiplinkan anak, dll.

Hal-hal seperti ini dan berbagai kegagalan lainnya adalah suatu alasan Allah tidak memberikan rahmat kepada orang-orang. Dan beberapa dari hal itu tentunya dapat disebut sebagai hal-hal yang lebih besar, tergantung hal-hal yang spesifik dari setiap kasus.

“Tetapi Aku berkata kepadamu, bahwa setiap perkataan yang sia-sia yang akan diucapkan oleh manusia, mereka akan mempertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Sebab oleh perkataanmu engkau akan dibenarkan, dan oleh perkataanmu engkau akan dikutuk.” - Matius 12:36-37

St. Sirilus dari Yerusalem, Ceramah Katekese 1, #3, Abad ke-4:
“Barangsiapa memendam kemunafikan bahkan secara tersembunyi, Allah menolak orang itu sebagai orang yang tidak pantas untuk memberikan pelayanan yang benar. Tetapi barangsiapa terbukti pantas, Ia siap memberikan rahmat-Nya kepada orang itu. Hal-hal suci tidak diberikan-Nya kepada anjing; tetapi di mana Ia melihat hati nurani yang baik, di situlah Ia mencurahkan lautan yang memukau, yang menuntun kepada keselamatan, yang membuat para iblis bergidik ngeri dan yang diakui oleh para malaikat.”

Allah tahu siapa yang berniat untuk menjadi berkenan kepada-Nya dan siapa yang memiliki rencana yang berbeda. Allah melawan orang-orang yang berniat untuk menyenangkan manusia atau dunia. Bilamana seseorang populer atau bilamana ia berpengaruh kepada banyak orang atau mengerahkan upaya yang begitu banyak dan memakan banyak waktu untuk hal-hal yang dianggap dilakukan untuk Allah, semua hal itu percuma jika orang itu tidak memiliki motivasi atau intensi yang layak. Jika memang demikian adanya, orang itu akan menjadi musuh kehendak Allah dan tidak akan menerima imbalan.

St. Alfonsus:
“Dari sudut pandang manusia, nilai suatu tindakan meningkat sebanding dengan waktu yang dihabiskan untuk melaksanakan tindakan itu; tetapi di hadapan Allah nilai suatu tindakan meningkat sebanding dengan kemurnian intensi yang menyertai pelaksanaan tindakan itu. Sebab, Kitab Suci berkata, manusia hanya memandang tindak-tindak eksternal, sedangkan Allah memandang hati ….”

St. Benediktus, Aturan Suci:
“Maka, jenjang pertama dari kerendahan hati, adalah bahwa manusia senantiasa memiliki rasa takut akan Allah di hadapan matanya, dengan menghindari segala kelupaan dan bahwa ia selalu ingat akan segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Allah, bahwa ia senantiasa merenungkan di dalam benaknya bagaimana orang-orang yang membenci Allah akan terbakar di dalam Neraka akibat dosa-dosa mereka, dan bahwa kehidupan kekal disiapkan bagi mereka yang takut akan Allah.”

 

SHOW MORE