Allah Tritunggal & Filioque – Agama Katolik Membantah “Ortodoksi” Timur
Juni 7, 2026
SUPPORT
Copy Link
https://endtimes.video/id/allah-tritunggal-filioque-agama-katolik-membantah-ortodoksi-timur/
Copy Embed
vatikankatolik.id - Saluran dalam Bahasa Indonesia

|

Bruder Peter Dimond, OSB

Filioque adalah istilah bahasa Latin yang berarti “dan Putra”. Istilah ini mengacu pada pandangan yang diajarkan oleh Gereja Katolik sebagai dogma bahwa Roh Kudus sepanjang segala keabadian berasal dari Bapa dan Putra. Posisi ini disangkal oleh kaum “Ortodoks” Timur yang berpandangan bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa, namun bukan dari Putra.

Ketika sedang membahas Filioque, yang kita bahas adalah misteri mendalam tentang Allah, misteri Allah Tritunggal Mahakudus dan ajaran yang disampaikan kepada kita tentang misteri tersebut dalam wahyu ilahi. Sederhananya, Allah Tritunggal merupakan kebenaran bahwa ada satu Allah dalam tiga pribadi ilahi: Bapa, Putra dan Roh Kudus. Selain itu, setiap pribadi Allah Tritunggal adalah Allah, karena ketiga pribadi-Nya memiliki esensi ilahi yang sama – esensi ilahi tunggal satu-satunya.

Tritunggal atau yang juga disebut Trinitas dalam bahasa Indonesia adalah topik yang luar biasa rumit dan pembahasannya harus dilakukan dengan penuh kerendahan hati. Kata-kata yang kita gunakan tentu saja tidak bisa secara penuh atau sempurna menjelaskan atau menangkap misteri tak terhingga ini. Namun Allah mewahyukan beberapa hal tertentu tentang Tritunggal dan memerintahkan kita supaya percaya hal-hal itu. Dengan berbagai macam kata dan konsep yang kita gunakan, kita mencari tahu kaidah iman yang benar, membela kaidah iman itu, dan sejauh yang kita mampu memperoleh pemahaman pasti namun tidak sempurna tentang misteri-misteri terkait.

Video ini akan membuktikan dari Alkitab dan dari Gereja perdana bahwa posisi Katolik tentang Filioque tentunya merupakan posisi Kristen alkitabiah yang benar. Seperti yang akan kita lihat, penolakan terhadap Filioque merupakan bidah yang menyerang iman dan keyakinan Kristen akan Allah Maha Esa yang benar. Karena Ortodoksi Timur kenyataannya bukan agama Kristen ortodoks (meskipun mengaku diri demikian), kami biasanya merujuk padanya sebagai “Ortodoksi” Timur dan para penganutnya sebagai kaum “Ortodoks” Timur. Tetapi, supaya tidak diulang-ulang, pada video ini kami akan sering merujuk kepada agama itu hanya sebagai Ortodoksi Timur dan para penganutnya sebagai kaum Ortodoks Timur.

Supaya perkara ini bisa dipahami, ada baiknya kalau kita pertama-tama mencermati penjelasan teologis Katolik tentang Allah Tritunggal Mahakudus. Ini akan memberi kita introduksi tentang kelahiran abadi Putra Allah dan tentang diembuskannya Roh Kudus, yang juga disebut sebagai Spirasi Roh Kudus. Selanjutnya, akan kami bahas bukti alkitabiah dan patristik Filioque. Penjelasannya seperti ini:

Di dalam setiap kodrat rohani, ada dua aktivitas imanen, maksudnya, dua aktivitas yang tetap berada di dalam pelakunya. Kedua aktivitas itu adalah aktivitas akal dan aktivitas kehendak.

Karena Allah itu Roh, seperti diajarkan dalam Yohanes 4:24, Allah memiliki kekuatan akal dan juga kekuatan kehendak. Selain itu, sejak segala keabadian, Allah memahami diri-Nya sendiri, mengenali diri-Nya sendiri, mengintelektualisasi diri-Nya sendiri. Kekuatan akal milik Allah itu tak terhingga dan sempurna secara absolut. Dengan demikian, dalam memahami diri-Nya sendiri, Allah melahirkan konsep tak terhingga diri-Nya sendiri, Firman/Sabda – Logos dalam bahasa Yunani.

Yohanes 1:1 – “Pada mulanya adalah Firman [ὁ λόγος]; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.”

Firman atau Sabda yang secara abadi dilahirkan oleh Allah ini merupakan gambar yang sungguh-sungguh sempurna dan tidak terhingga dari Allah yang melahirkan Firman itu. Itulah sebabnya, mengenai Allah Putra, Kolose 1:15 berkata demikian: 

Kolose 1:15 – “Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan ....”

Sekiranya Firman yang dilahirkan oleh Allah dalam memahami diri-Nya sendiri tidak sama tak terbatasnya dan tak sesempurna Allah, lantas kekuatan Allah dalam memahami diri-Nya sendiri akan tidak sempurna, dan itu kemustahilan.

St. Agustinus, Tentang Tritunggal Mahakudus, Buku 15, Bab 14:
“Bapa melahirkan Sabda yang setara diri-Nya sendiri dalam segala sesuatu; sebab Dia tidak mungkin menuturkan diri-Nya sendiri dengan utuh dan sempurna sekiranya dalam Sabda-Nya ada sesuatu pun yang lebih atau kurang daripada diri-Nya sendiri.”

Itulah sebabnya mengenai kelahiran abadi Putra dari Bapa, Syahadat Nisea-Konstantinopel menyatakan bahwa Putra Allah adalah: Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa.

Konsili Konstantinopel I, 381: “Kami percaya akan satu Allah, Bapa yang Mahakuasa, pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan, dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang tunggal. Ia lahir dari Bapa sebelum segala abad, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa … Dan akan Roh Kudus ....”

Yesus dalam Kitab Suci dinyatakan sebagai Logos – yaitu Firman/Sabda – itulah sebabnya misteri Kelahiran abadi Putra Allah sering dibandingkan (menggunakan analogi tak sempurna) dengan bagaimana firman/kata/pikiran tergagas dalam akal tercipta makhluk manusia. Ketika manusia memahami sesuatu, orang itu dalam akalnya menggagaskan sebuah gambar atau citra dari hal yang dia pahami. Aktivitas atau prosesi akal manusia ini, yang di dalamnya terlahir kata batin atau gambaran dari hal yang dia pahami, merupakan aktivitas yang tetap berada di dalam agennya.

Sekarang, dengan analogi ini, coba dicatat bahwa perbandingannya bukanlah dengan kata lisan atau atau ujaran manusia. Suara dari kata lisan manusia yang kita dengar merupakan sesuatu yang keluar dari orang itu. Yang kita bahas dalam analogi ini adalah kata yang tetap berada dalam manusia, perbandingannya dengan kata batin manusia – dengan kata atau konsep yang timbul dalam akal manusia sebelum kata lisan disuarakan. Boleh disebut juga kata hati. Satu-satunya alasan suara lisan memiliki makna adalah suara lisan mewakili konsep atau kata yang ada dalam batin. Suara lisan yang tidak mewakili sesuatu yang dapat dimengerti bukanlah suatu kata. Jadi, ketika kita membahas Kelahiran Abadi Sang Logos, dan membuat analogi tak sempurna dengan bagaimana manusia menggagaskan suatu kata, perbandingannya bukanlah dengan kata lisan manusia, namun dengan kata batin dalam dirinya.

Bapa Gereja Timur, St. Gregorius dari Nazianzus, berkata demikian tentang Firman/Sabda Allah:

St. Gregorius dari Nazianzus, Orasi 30, #20:
“Putra disebut Logos karena relasi-Nya dengan Bapa sama dengan relasi Sabda dengan Akal.”

St. Basilius, Homili tentang Permulaan Injil Yohanes:
“Mengapa Sabda? Sebab Sabda adalah gambaran dari Sang Pelahir, istilah yang dengan sendirinya mencerminkan Sang Pelahir seutuh-utuhnya … bahkan seperti perkataan kita mencerminkan gambaran seluruh pikiran kita.”

Terlebih, meski kita bisa membuat analogi tak sempurna antara proses manusia menggagas kata batin berbanding dengan kelahiran abadi Sabda Allah, kedua-duanya tentunya tidak sama. Pada kenyataannya, ada perbedaan tak terhingga antara kedua-duanya. Berikut beberapa saja perbedaannya:

  • Dalam diri manusia, kata yang digagas dalam akal merupakan gambaran tak sempurna dari hal yang dipahami. Dalam diri Allah, Firman/Sabda-Nya itu sungguh-sungguh sempurna.
  • Dalam diri manusia, kata yang digagas merupakan aksiden dari jiwa – maksudnya, kata yang digagas itu tidak berada dengan sendirinya, namun hanya merupakan aspek dari suatu hal lain. Dalam diri Allah, Firman/Sabda-Nya itu substansial dan memiliki hidup dalam diri-Nya sendiri. Firman/Sabda Allah merupakan suatu Pribadi.
  • Dalam diri manusia, kata yang digagas itu punya permulaan. Dalam diri Allah, Firman/Sabda-Nya abadi.
  • Dalam diri manusia, kita menggagas banyak kata, karena daya gagas kita tidak sempurna dan tidak memadai. Dalam diri Allah, Firman/Sabda-Nya itu tidak terhingga, memadai dan sempurna. Itulah sebabnya Firman/Sabda Allah hanya ada satu.

Kendati berbagai perbedaan ini, oleh para Bapa Gereja dan di dalam sejarah Kekristenan telah dibuat sebuah analogi berdasarkan Yohanes 1:1, antara proses kata batin (selaku gambaran dari hal yang dipahami) muncul dari dalam akal manusia dengan Kelahiran Sabda dari Bapa sepanjang segala keabadian. Sebagai gambaran sempurna Allah, Firman yang sejak segala keabadian dilahirkan oleh Bapa memiliki substansi, esensi atau kodrat yang persis sama dengan pihak yang melahirkan-Nya. Firman Allah setara dengan Bapa yang melahirkan-Nya.

Itulah sebabnya ada tertulis di Ibrani 1:3:

Ibrani 1:3 - “Dia [Putra] yang merupakan pancaran kemuliaan dan gambaran sempurna dari hakikat-Nya [Allah], dan yang menopang segala sesuatu dengan firman kuasa-Nya ....”

Orang Katolik juga merujuk kepada Kelahiran Abadi Putra Allah sebagai prosesi akal dalam diri Allah, atau mengalirnya akal dalam Allah. Prosesi akal kadang kala dikontraskan dengan prosesi kehendak/prosesi kasih. Ini nanti akan kami bahas.

St. Tomas Aquinas, Summa Theologiae, Bagian I, Pertanyaan 27, Artikel 3:
“ ... dalam diri Allah, ada dua prosesi: prosesi Sabda dan prosesi yang lain. Agar hal ini lebih jelas, harus dipertimbangkan bahwa tidak ada prosesi dalam diri Allah selain dalam konteks aksi yang tidak tertuju kepada sesuatu yang eksternal (di luar), namun tetap berada dalam agennya sendiri. Aksi semacam ini dalam kodrat berakal merupakan aksi akal dan aksi kehendak.

Makna kata Prosesi dallam konteks ini adalah berasalnya sesuatu dari suatu hal lain. Prosesi bisa bersifat eksternal atau internal. Sebutannya eksternal ketika terminus atau tujuan akhir prosesi tersebut ada di luar pangkal dari mana terminus itu muncul. Sebagai contoh, Penciptaan bisa disebut sebagai prosesi yang berpangkal dari Allah menuju ke luar (ad extra). Namun prosesi dalam diri Allah yang sedang kita bahas – yaitu prosesi akal dan kehendak – bersifat imanen dan abadi. Kedua prosesi itu tetap berada dalam diri Allah dan dengan demikian sama sekali tidak melibatkan penciptaan. Aktivitas akal dan kehendak Allah beserta prosesi-prosesi terkait tetap berada di dalam diri Allah. Dan dengan demikian, aktivitas-aktivitas itu disebut sebagai opera ad intra (yaitu aktivitas-aktivitas internal). Kontrasnya dengan opera ad extra, yaitu aktivitas-aktivitas eksternal Allah, seperti ketika jiwa manusia tercipta sebagai buah kuasa Allah.

Semua opera ad extra Allah dikerjakan oleh Ketiga Pribadi Tritunggal bersama-sama, walaupun dalam Alkitab, ada beberapa aktivitas (seperti pengudusan yang dikerjakan Roh Kudus) yang kadang-kadang disematkan kepada satu pribadi saja untuk menandakan atau menyoroti ciri khas Pribadi tersebut. Pembedaan antara opera ad intra (yaitu aktivitas abadi yang tetap berada dalam diri Allah) dengan opera ad extra sangat penting sekali. Karena, dalam teologi Kristen sejati (yaitu, dalam teologi Katolik), segala sesuatu yang bukan Allah merupakan ciptaan. Demikian juga, segala sesuatu yang di luar Allah merupakan ciptaan.

Dalam setiap prosesi ad extra yang berasal dari Allah, terminus atau tujuan akhir prosesi tersebut berada di luar Allah. Dengan demikian, terminus-nya muncul dari ketiadaan sama sekali berkat penciptaan yang dikerjakan oleh Allah dan terminusnya juga punya permulaan.

St. Atanasius, Tentang Konsili Nisea, De Decretis, #13, sekitar tahun 351:
“Orang mana yang berpikiran sehat dan tidak seketika melihat bahwa hal-hal yang diciptakan dan dijadikan, ada di luar sang Pencipta, sedangkan telah diperlihatkan dalam diskursus kami bahwa Putra tidak berada di luar Bapa, namun keberadaan Putra ialah dari Bapa yang melahirkan-Nya?” 

Kebenaran ini, bahwa segala sesuatu yang berprosesi/berasal dari Allah secara ad extra diciptakan dari ketiadaan sama sekali, berbeda jauh dengan teologi bidah kaum “Ortodoks” Timur dan dengan paham sesat pembedaan esensi-energi yang mereka anut. Menurut ajaran bidah mereka itu, yang disebut-sebut energi-energi tak tercipta berprosesi/berasal dari esensi ilahi secara ad extra, dan berubah dalam waktu, namun tetap mereka anggap “tak tercipta”, dan karena itu tetap mereka anggap sebagai “Allah”.        

Gregorius Palamas, Triade:
“ … dari pihak kita, kita tahu bahwa meskipun semua energi Allah tak tercipta, tidak semuanya tak berawal.”

Gregorius Palamas, Triade:
“Pertama-tama, esensi itu tunggal, meskipun sinar-sinarnya ada banyak, dan dikirim keluar dengan cara yang layak bagi mereka yang turut serta dalam sinar-sinar itu, diperbanyak sesuai kemampuan yang beragam dari mereka yang menerima sinar-sinar tersebut ....”

Romo Dumitru Staniloae, The Experience of God [Pengalaman akan Allah], Holy Cross Orthodox Press, 1994, hal. 150: “Rumusan yang paling signifikan dari sintesis ini didapati dalam doktrin Palamit tentang energi-energi tak tercipta yang memang berubah meskipun energi-energi itu muncul dari esensi Allah yang tetap tidak berubah.”

Ajaran mereka itu bidah, keliru dan merupakan semacam Panteisme. Ajaran mereka mencampuradukkan tatanan tercipta dengan tatanan tak tercipta, seperti yang telah kami tunjukkan dalam video kami berjudul “Ortodoksi” Timur Terbongkar: Doktrin Sesat Mereka tentang Allah. Posisi Ortodoks Timur juga berujung politeisme, karena percaya bahwa ada banyak prosesi yang berasal secara ad extra dari esensi ilahi, yang walau demikian dengan tegas mereka anggap “tak tercipta”.

Sekarang, dalam setiap prosesi, ada perbedaan antara pangkal prosesi dan yang muncul dari pangkal tersebut. Itulah sebabnya, meski Firman Allah merupakan gambaran sempurna Allah Bapa dan juga persis sama dalam esensi/substansi/hakikat-Nya dengan Bapa, Firman Allah merupakan pribadi yang berbeda dengan Bapa. Alasan Firman berbeda dengan Bapa, adalah adanya oposisi relasi, atau relasi asal-muasal yang berlawanan. Bapa tidak berasal dari siapa pun juga dan merupakan pihak yang sepanjang kebadian melahirkan Putra. Putra sepanjang segala keabadian dilahirkan oleh Bapa. Itulah sebabnya Konsili Florence menyatakan bahwa dalam Tritunggal, semuanya satu adanya “dengan syarat hal ini tidak dimustahilkan oleh oposisi relasi”.

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Cantate Domino”, 1441, ex cathedra:
Ketiga pribadi ini adalah satu Allah, bukan tiga ilah, karena ketiga-tiga-Nya memiliki satu substansi, satu esensi, satu kodrat, satu keilahian, satu kemahabesaran, satu keabadian, dan semuanya satu adanya dengan syarat hal ini tidak dimustahilkan oleh oposisi relasi. Karena kesatuan ini, Bapa utuh adanya di dalam Putra dan utuh adanya di dalam Roh Kudus, Putra utuh adanya di dalam Bapa dan utuh adanya di dalam Roh Kudus, Roh Kudus utuh adanya di dalam Bapa dan utuh adanya di dalam Putra. Tiada satu pun yang mendahului yang lain dalam keabadian, atau melampaui yang lain dalam kebesaran, ataupun melebihi yang lain dalam kuasa.”

Esensi ilahi bersifat sederhana secara absolut. Artinya: sama sekali tidak terdiri dari bagian-bagian. Esensi ilahi yang persis sama itu disalurkan kepada Putra melalui kelahiran abadi.

St. Atanasius, Diskursus I Melawan Kaum Arian, Bab 8, #28, sekitar 356 M:
“Sebagaimana yang sudah dikatakan di atas, demikian juga sekarang kami ulangi, bahwa janganlah kelahiran ilahi dibandingkan dengan kodrat manusia, jangan pula Putra dianggap sebagai bagian dari Allah, jangan pula kelahiran dipandang menyiratkan adanya nafsu macam apa pun ... ini tidak mungkin berlaku pada Allah; sebab Ia tidak terdiri dari bagian-bagian, namun karena bersifat impasibel dan sederhana, Ia secara impasibel dan tak terbagi-bagi merupakan Bapa dari Putra. Ini kembali lagi ditunjukkan dan dibuktikan dengan kuat oleh Kitab ilahi. Sebab Sabda Allah merupakan Putra-Nya, dan Putra adalah Sabda dan Kebijaksanaan Bapa; dan Sabda serta Kebijaksanaan bukanlah ciptaan ataupun bagian dari Ia, Sang Pemilik Sabda, ataupun keturunan yang lahir secara pasibel.”

Walaupun memiliki esensi ilahi yang persis sama dan karena itu kedua-duanya adalah Allah seutuh-utuhnya, Bapa dan Putra merupakan dua pribadi yang berbeda. Alasan mereka merupakan dua pribadi yang berbeda dikarenakan oposisi relasi mereka, yang kadang-kadang juga disebut sebagai relasi asal-muasal yang berlawanan. Asal-muasal dalam konteks ini berarti aktivitas abadi, bukan sesuatu yang punya permulaan. Bapa melahirkan Putra, dan Putra dilahirkan oleh Bapa. Dan juga, patut dikemukakan bahwa meski Putra berasal dari Bapa dan Bapa sepanjang segala keabadian melahirkan Putra, tidak ada ketergantungan dari pihak Putra pada Bapa, ataupun dari pihak Bapa pada Putra.

Dalam memahami diri-Nya sendiri, Bapa tidak mampu tidak melahirkan Sabda. Bapa tidak bisa berada tanpa Putra, namun demikian Bapa tidak bergantung pada Putra. Begitu juga, Putra tidak bisa berada tanpa Bapa, namun Putra tidak bergantung pada Bapa. Meskipun Bapa melahirkan Putra, Putra tidak pernah kekurangan atau tidak pernah bisa kekurangan suatu hal pun yang Dia miliki. Begitu juga dengan Bapa, yang tidak pernah kekurangan dan tidak pernah bisa kekurangan apa pun juga yang Dia punya. Itulah sebabnya tidak ada ketergantungan.

Kelahiran Firman/Sabda Allah sepanjang keabadian ini juga dibandingkan dengan bagaimana seorang bapak manusia membuahkan seorang putra, karena Yesus, Sang Firman Abadi, disamakan dengan Putra Allah dalam Kitab Suci.

St. Tomas Aquinas, Summa Theologiae, Bagian I, Pertanyaan 34, Artikel 2:
“Sebab Dia [Sabda] melambangkan emanasi akal: dan pribadi yang berprosesi dalam diri Allah melalui emanasi akal, disebut Putra, dan prosesi ini disebut generasi (kelahiran).”

Tetapi, harap diingat: meskipun bisa dibuat analogi antara kelahiran manusia (seperti seorang bapak membuahkan anak dalam citra kodrat yang sama) berbanding dengan kelahiran Allah (yakni, Allah Bapa yang melahirkan Putra), kedua peristiwa ini tentu saja tidak sama. Analoginya sekali lagi tidak sempurna. Ada perbedaan tak terhingga antara kelahiran manusia dengan kelahiran Allah. Ketika seorang anak dibuahkan dalam kelahiran manusia, keturunan manusia diperbanyak. Tetapi kodrat Allah tidak bisa diperbanyak. Dalam kelahiran Allah, kodrat ilahi tidak diperbanyak, namun kodrat Allah disalurkan kepada Putra yang dilahirkan. Dan juga, dalam kelahiran manusia, pihak yang dilahirkan punya permulaan. Dia itu mulai ada. Namun, dalam kelahiran Allah, tidak ada permulaannya. Bapa adalah Bapa dan selalu merupakan Bapa, sebab Bapa tidak pernah ada tanpa Putra, seperti yang ditegaskan oleh St. Atanasius melawan kaum Arian.

St. Atanasius, Diskursus IV Melawan Kaum Arian, #2, sekitar 356 M:
“Sebab sama halnya ada terang dari api, demikian juga dari Allah datanglah Sabda, dan Kebijaksanaan datang dari Orang Bijak, dan dari Bapa datanglah Putra … Demikianlah firman Tuhan, ‘Aku dan Bapa adalah satu’, sebab Sabda tidak terpisah dari Bapa, Bapa pun tidak pernah tak memiliki Sabda; tentang hal ini Dia berkata, ‘Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku.’”

Bapa sepanjang keabadian melahirkan Putra, dan Putra sepanjang keabadian dilahirkan oleh Bapa. Terbilang benar, kalau orang berkata bahwa kelahiran Putra sepanjang keabadian merupakan asal Putra dari Bapa, namun tentu saja harus dipahami bahwa tidak ada permulaan dan sama sekali tidak melibatkan penciptaan. Kelahiran abadi Putra merupakan aktivitas kodrati, vital dan imanen milik Allah sejak segala keabadian. Itulah sebabnya Yesus berkata:

Yohanes 8:42 - “Jikalau Allah itu Bapamu, niscayalah kamu mengasihi Aku, karena daripada Allah Aku datang dan Aku ada di sini.”

Yohanes 16:28 – “ … Aku telah datang daripada Bapa, lalu masuk ke dalam dunia.”

Yohanes 8:58 - “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.”

Dalam segala keabadian, Bapa tidak hanya melahirkan Putra, namun juga menginginkan kebaikan Putra atau mengasihi Putra yang dilahirkan-Nya. Ini, seperti yang sudah kami sebutkan, dikarenakan di dalam setiap kodrat rohani, ada dua aktivitas imanen: aktivitas akal dan aktivitas kehendak. Sebagai gambaran sempurna Allah Bapa, Putra demikian juga sepanjang segala keabadian menginginkan kebaikan Bapa atau mengasihi Bapa yang melahirkan-Nya. Tentang saling mengasihi antara Bapa dan Putra, St. Atanasius menyatakan:

St. Atanasius, Diskursus III Melawan Kaum Arian, Bab 30, #66, sekitar 356 M:
“Sebab dengan kesukaan baik yang olehnya Putra merupakan objek kesukaan Bapa, Bapa pun merupakan objek kasih, kesukaan dan kehormatan Putra.”

St. Atanasius juga berkata:

St. Atanasius, Diskursus III Melawan Kaum Arian, Bab 30, #66, 356 M:
“ ... dalam kasus Bapa dan Putra, dapat dikatakan dengan benar bahwa Bapa memiliki kasih dan kesukaan baik terhadap Putra, dan Putra memiliki kasih dan kesukaan baik terhadap Bapa.”

Kasih ini tidak terhingga dan juga sempurna, sama halnya dengan Bapa dan Putra. Dari saling mengasihi antara Bapa dan Putra, muncullah, datanglah, berprosesilah Pribadi Ketiga Allah Tritunggal Mahakudus, yang kita kenal sebagai Roh Kudus. Kepada Roh Kudus ini, esensi ilahi yang persis sama disalurkan dalam prosesi-Nya. Roh Kudus adalah Allah, setara dengan Bapa dan Putra.

Paus Leo XIII, Divinum Illud Munus #9, 9 Mei 1987:
“Sebab Dia [Roh Kudus] tidak hanya membawa karunia-karunia ilahi kepada kita, namun Dialah pencipta karunia-karunia itu, dan Dia sendirilah karunia terluhur; berpangkal dari saling mengasihi antara Bapa dan Putra, Dia itulah yang dengan benar dianggap dan disebut sebagai karunia Allah Yang Mahatinggi.”

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Laetentur Caeli”, 6 Juli 1439:
“ ... dalam nama Tritunggal Mahakudus: Bapa, Putra dan Roh Kudus, dengan sepersetujuan konsili suci dan universal Florence ini, Kami menetapkan bahwa kebenaran iman ini harus dipercayai dan diterima oleh semua orang Kristen, dan karena itu semua orang harus mengakuinya: Bahwa Roh Kudus, sepanjang segala keabadian adalah dari Bapa dan Putra dan beroleh seluruh esensi serta hipostasis-Nya dari Bapa sekaligus dari Putra, dan sepanjang segala keabadian berasal dari kedua-duanya, layaknya berasal dari satu pangkal dan dari satu spirasi yang esa.”

Sebutan untuk prosesi Roh Kudus adalah “spirasi”, karena spirasi berarti bernapas atau mengembuskan roh. Roh merupakan dorongan atau gerakan yang menuju sesuatu. Dari saling mengasihi satu sama lain, Bapa dan Putra sebagai satu pangkal menapaskan atau mengembuskan Roh Kudus. Istilah Spirasi Akftif adalah Bapa dan Putra sebagai satu pangkal mengembuskan Roh Kudus dalam satu embusan saja. Sedangkan Spirasi Pasif adalah Pribadi tak terhingga Roh Kudus diembuskan oleh Bapa dan Putra sebagai satu pangkal dan dalam satu embusan saja.

Dalam diri Allah, ada dua prosesi. Yang pertama prosesi akal: dengan prosesi ini Firman abadi Allah dilahirkan; dan yang kedua, prosesi kehendak: dengan prosesi ini, Roh Kudus diembuskan. Inilah tepatnya alasan ada tiga pribadi yang memiliki satu esensi ilahi, ketiga-tiganya sama-sama setara dan sama-sama abadi. Itulah sebabnya ada satu Allah dalam tiga pribadi ilahi.

Pertimbangan-pertimbangan ini sangat menarik, tetapi, harus dicatat bahwa Tritunggal adalah misteri sejati. Tritunggal sungguh melampaui akal kodrati, sehingga manusia tidak bisa membuktikan atau sampai pada misteri tersebut hanya dengan menggunakan akal kodrati saja. Bukan berarti Tritunggal berlawanan dengan akal, tentunya, namun misteri ini tidak bisa terungkap tanpa wahyu ilahi. 

Konsili Vatikan I, Sesi 3, Bab 4, 24 April 1870:
“Sebab oleh karena kodrat misteri-misteri itu sendiri, misteri-misteri itu sedemikian melampaui akal tercipta sehingga meskipun disampaikan melalui wahyu dan diterima oleh iman, misteri-misteri itu tetap terbungkus oleh selubung iman sendiri, dan bagaikan diliputi semacam kabut, selama kita mengembara dari Tuhan di dalam kehidupan fana ini: ‘sebab kita berjalan dengan iman dan bukan dengan penglihatan.’”

Keberadaan Allah dan kenyataan bahwa hanya ada satu Allah bisa dibuktikan dengan akal kodrati, dan dengan hal-hal tercipta, namun untuk tahu bahwa Allah memiliki tiga Pribadi, perlu adanya wahyu. Dilandasi dan dipandu oleh wahyu serta iman ilahi, kita dapat menggunakan akal untuk memperlihatkan kemungkinan adanya Tritunggal, namun kita tahu bahwa Tritunggal itu benar karena sudah diwahyukan oleh Yesus Kristus.

Yohanes 1:18 – “Tidak seorang pun pernah melihat Allah; Dia, Putra tunggal yang ada pada dekapan Bapa, Dialah yang telah menyatakan-Nya.”

Sebelum kami lanjutkan, perlu kami bantah sebuah argumen menyesatkan yang diajukan oleh beberapa penganut Ortodoks Timur. Beberapa orang bidah Ortodoks Timur mengklaim bahwa penjelasan Katolik yang telah kami bahas mengenai berasalnya Roh Kudus dari aktivitas abadi dan imanen kehendak Allah adalah “argumen subordinasionis Arian”; karena kaum Arian percaya bahwa Putra dan Roh Kudus merupakan buah kehendak Allah.

Sebagai contoh, seorang bidah Ortodoks Timur berkata sebagai berikut.

[Jay Dyer:] Ini bukan cuma perkara bisa tidaknya kita menentukan dengan jitu bahwa Roh Kudus dianggap berasal dari kehendak Allah, yang ini jelas saja adalah argumen subordinasionis Arian ....

Klaimnya ini omong kosong. Untuk membantahnya, cukup diketahui bahwa kaum Arian percaya bahwa Putra dan Roh Kudus diciptakan oleh Bapa. Menurut pandangan kaum Arian, Putra dan Roh Kudus diciptakan oleh kehendak Allah dari ketiadaan sama sekali. Dulu, ada juga dari kalangan Arian yang percaya bahwa Putra adalah ciptaan Bapa yang membantu atau digunakan sebagai alat dalam penciptaan Roh Kudus yang dilakukan oleh Bapa. Dengan demikian, kaum Arian percaya bahwa Putra dan Roh Kudus punya permulaan, dan bahwa ada suatu kala ketika Putra dan Roh Kudus tidak ada. Ya, itu tentu saja sama sekali berbeda dengan posisi Katolik dan dengan yang sudah kami bahas. Perbedaannya diilustrasikan oleh Santo Atanasius, yang menjelaskan posisi Arian dalam kutipan berikut:

St. Atanasius, Diskursus III Melawan Kaum Arian, Bab 25, #15, 356 M:
“Namun sebaliknya, kaum Ario-maniak ini akan dengan benar mendapat tuduhan politeisme atau ateisme, karena mereka dengan serampangannya berkata bahwa Putra ada di luar dan merupakan ciptaan, dan juga bahwa Roh berasal dari ketiadaan.”

Seperti yang bisa kita lihat, ini sama sekali berbeda dengan posisi Katolik. Orang Arian berpandangan

  • bahwa Putra dan Roh Kudus ada di luar Bapa,
  • bahwa Roh Kudus dan Putra punya permulaan dan
  • bahwa mereka berdua diciptakan dari ketiadaan sama sekali oleh kehendak Allah

Posisi Katolik yang sudah kami bahas justru sebaliknya:

  • bahwa Roh Kudus seutuhnya Allah,
  • bahwa Roh Kudus abadi dan tak punya permulaan,
  • serta berprosesi secara internal (bukan eksternal) dari aksi kasih dalam diri Allah.

Bapa melahirkan Sabda yang tak terhingga, dan ini sudah kodrat Bapa, yang dengan demikian membuat Bapa niscaya melahirkan Putra. Begitu juga, Bapa dan Sabda secara kodrat mengasihi satu sama lain dan dari aksi kehendak ini, mereka mengembuskan Roh Kudus. Itulah sebabnya, prosesi Roh Kudus tidak bisa tak berlangsung. Jadi, aksi kasih abadi dalam diri Allah yang merupakan pangkal munculnya Roh Kudus, sama sekali tidak bisa dengan benar dibandingkan dengan Allah yang memilih untuk menciptakan hal-hal dari ketiadaan dan di luar diri-Nya sendiri.

Memang benar, untuk semakin mengenali kesalahan pada inti penolakan tak berdasar yang baru saja kami bantah, harap dipertimbangkan bahwa ada perbedaan antara apa yang dikehendaki Allah, secara niscaya, secara kodrat dan sehubungan diri-Nya sendiri dengan yang dikehendaki-Nya sehubungan hal-hal lain di luar diri-Nya sendiri.

St. Tomas Aquinas, Summa Theologiae, Bagian 1, Pertanyaan 19, Artikel 3:
“ … mengenai hal-hal yang dikehendaki Allah, harus dicermati bahwa Dia menghendaki sesuatu atas dasar keniscayaan mutlak: namun ini tidak berlaku bagi segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Sebab, kehendak ilahi memiliki hubungan niscaya dengan kebaikan ilahi, karena kebaikan ilahi merupakan objek khas dari kehendak ilahi. Itulah sebabnya, Allah niscaya menghendaki kebaikan-Nya sendiri, sama seperti kita niscaya menghendaki kebahagiaan kita sendiri ….”

Sewaktu kami berkata bahwa Allah niscaya menghendaki kebaikan-Nya sendiri, maksud kami bukan bahwa Allah terdesak oleh apa pun juga di luar diri-Nya, namun bahwa sudah kodrat Allah untuk mengasihi diri-Nya sendiri. Karena itulah Allah tidak bisa tak menghendaki kebaikan-Nya sendiri, sama seperti manusia menghendaki kebahagiannya sendiri.

St. Tomas Aquinas, Summa Theologiae, Bagian 1, Pertanyaan 41, Artikel 2, Jawaban terhadap Penolakan 3: “ … kehendak, sejauh merupakan kodrat, secara kodrati menginginkan sesuatu; sama seperti kehendak manusia secara kodrati cenderung tertuju kepada kebahagiaan. Demikian pula, Allah secara kodrati menghendaki dan mengasihi diri-Nya sendiri. Namun sehubungan hal-hal selain Allah sendiri, kehendak-Nya bebas untuk lebih menyukai hal yang satu daripada yang lain, seperti yang sudah dikatakan sebelumnya … Namun Roh Kudus berprosesi sebagai Kasih, sejauh Allah mengasihi diri-Nya sendiri. Itulah sebabnya Roh Kudus secara kodrati berprosesi, meskipun Dia berprosesi melalui modus kehendak.”

Sehubungan hal-hal selain Allah sendiri/atau di luar diri-Nya sendiri, kehendak Allah tidak tentu; artinya, Allah bisa saja memilih supaya keadaan hal-hal tersebut berbeda dari yang ada atau supaya hal-hal tersebut sama sekali tidak ada. Maka, sewaktu kita berbicara tentang hal-hal lain yang muncul dari kehendak Allah, semua hal-hal yang muncul dari kehendak Allah itu diciptakan dan memiliki kodrat yang berbeda dengan Allah. Istilah hal-hal lain yang muncul dari kehendak Allah ini merupakan rujukan terumum yang digunakan untuk mengungkapkan hal-hal yang muncul dari kehendak Allah, dan ini merupakan cara pandang bidah kaum Arian terhadap Kristus dan Roh Kudus. Namun sehubungan diri-Nya sendiri, Allah niscaya menginginkan kebaikan-Nya sendiri dan mengasihi diri-Nya sendiri, seturut ketentuan kodrat-Nya, sama halnya manusia secara kodrati menginginkan kebahagiaannya sendiri. Aksi kodrati Allah ini, yaitu ingin mengasihi diri-Nya sendiri, adalah aksi Bapa dan Putra saling mengasihi satu sama lain, dan Roh Kudus muncul dari aksi saling mengasihi tersebut bukan sebagai sesuatu yang di luar, eksternal ataupun sebagai ciptaan, melainkan sebagai prosesi internal, tak tercipta, abadi dan dari kodrat yang sama.

Maka kembali lagi, bisa kita lihat bahwa penolakan kaum skismatis Timur pada perkara ini sama sekali salah. Alasannya, antara lain, penolakan mereka dengan salah mencampuradukkan kehendak Allah sehubungan hal-hal di luar Allah sendiri dengan kehendak Allah untuk mengasihi diri-Nya sendiri. Maka, ketika St. Atanasius membantah kaum Arian dengan membandingkan hal-hal yang tergolong kodrat Allah dan yang tergolong kehendak-Nya, konteksnya adalah tentang hal-hal yang muncul dari kehendak Allah secara eksternal dan tercipta.

St. Atanasius, Diskursus III Melawan Kaum Arian, Bab 30, #62, 356 M:
“Manusia membangun rumah atas dasar pertimbangan, namun dia membuahkan seorang putra atas dasar kodrat … yang sedang dibangun itu mulai ada karena kehendak penciptanya, dan berada di luar si pencipta itu; namun putra adalah keturunan khas dari esensi bapaknya, dan tidak berada di luar bapaknya itu ….”

Pada perikop-perikop seperti itu, St. Atanasius tidak sedang membahas posisi bahwa Allah secara kodrati berkehendak mengasihi diri-Nya sendiri, dan bahwa yang berprosesi secara internal dari aksi kodrati kehendak (maksudnya, Roh Kudus), adalah sesuatu yang abadi dan tidak tercipta. Namun kekeliruan dari penolakan yang sudah disebutkan itu jelas terang-benderang dari fakta sederhana bahwa kaum Arian percaya bahwa Putra dan Roh Kudus ada di luar Allah, tercipta, dan memiliki permulaan, sedangkan Katolik tentu saja tidak berpandangan demikian. Maka, klaim bahwa penjelasan Katolik itu Arian sama sekali omong kosong. Argumen menyesatkan macam itulah yang terus membuat orang berada dalam gelapnya bidah. Dan pada kenyataannya, seperti yang akan kita lihat, menyangkal Filioque justru membuat kaum “Ortodoks” Timur mengadopsi posisi yang menyangkal kebenaran Kristiani tentang Putra Allah & Roh Kudus.

Menarik juga untuk dicatat bahwa kalau anda membaca St. Atanasius dan anda bersikap jujur, akan anda temukan bahwa prinsip-prinsip St. Atanasius membantah teologi Ortodoksi Timur. Karena menurut St. Atanasius, Konsili Nisea dan Gereja perdana, segala sesuatu yang dapat berubah merupakan ciptaan.

Konsili Nisea, 325, Kanon Dogmatis:
“Dan bagi mereka yang berkata bahwa ada suatu kala ketika Ia [Putra Allah] tidak ada, atau bahwa sebelum diri-Nya dilahirkan Ia tidak ada, atau bahwa Ia dijadikan dari hal-hal yang dahulunya tidak ada, atau bahwa hakikat atau esensi-Nya berbeda [dari Bapa] atau bahwa Ia adalah ciptaan, atau mereka yang menyatakan diri-Nya dapat mengalami alterasi atau perubahan, Gereja Katolik dan Apostolik menganatemakan mereka.”

St. Atanasius dengan tegas dan berulang kali menekankan ketidakberubahan Allah. Berikut salah satu dari banyak perikop yang bisa dikutip dari St. Atanasius:

St. Atanasius, Diskursus IV Melawan Kaum Arian, #15, 356 M:
“ ... bahwa Allah berubah, merupakan gagasan absurd ... namun jika mereka berargumen bahwa sehubungan penciptaan, Dia kemudian menjadi Pencipta, hendaknya mereka mengetahui bahwa perubahannya ada pada hal-hal yang kemudian jadi, dan bukan pada diri Allah.”

St. Atanasius juga berkata:

St. Atanasius, Diskursus I Melawan Kaum Arian, Bab 10, #36, 356 M:
“Sebab … dalam menunjukkan … bahwa kodrat segala sesuatu yang … tercipta itu dapat teralterasi dan dapat berubah, namun mengecualikan Putra dari hal-hal ini … Kitab Suci … mengajarkan bahwa diri-Nya mengubah segala sesuatu yang lain, dan Ia sendiri tidak berubah.

... karena Putra adalah dari Bapa, dan sebagaimana pantas bagi esensi-Nya, Ia tak dapat berubah dan tak teralterasi sama seperti Bapa sendiri. Sebab merupakan dosa untuk berkata bahwa dari esensi yang tak berubah itu, terlahir sabda yang dapat teralterasi dan kebijaksanaan yang dapat berubah. Sebab bagaimana gerangan Dia tetap Sabda, sekiranya dia dapat teralterasi? Atau bagaimana Dia mungkin adalah Kebijaksanaan jikalau dapat berubah? ...

Maka jika Tuhan sendiri berkata demikian tentang diri-Nya sendiri, dan menyatakan ketidakberubahan-Nya, dan para Kudus telah mendapat pengetahuan serta bersaksi tentang perihal ini, dan bahwasanya ide-ide kita tentang Allah mengakui ketidakberubahan-Nya sebagai bagian dari agama, dari manakah orang-orang tak beragama ini menimba kebaruan mereka itu? Mereka memuntahkannya dari hati mereka, laksana dari takhta kebusukan ....”

Bagi St. Atanasius, dan bahwasanya bagi Gereja perdana, segala sesuatu yang dapat berubah itu diciptakan. Sebaliknya, Allah, Dia yang tak tercipta, sama sekali tidak dapat berubah. Ketidakberubahan Allah merupakan dogma inti Kekristenan yang diajarkan oleh Konsili Nisea dan konsili-konsili ekumenis awal. Namun seperti yang sudah kami buktikan dalam video “Ortodoksi” Timur Terbongkar: Doktrin Sesat Mereka tentang Allah, kaum Ortodoks Timur menyangkal ketidakberubahan/imutabilitas Allah, karena mereka berpandangan bahwa Allah berubah dalam “energi-energi tak tercipta”-Nya. Untuk mendokumentasikan posisi bidah Ortodoksi Timur bahwa Allah sendiri berubah dalam “energi-energi tak tercipta”-Nya, kami mengutip si bidah Gregorius Palamas dan salah seorang teolog mereka yang paling terkenal. Penolakan mereka terhadap imutabilitas Allah terkait dengan pandangan mereka yang sesat bahwa berbagai macam prosesi yang berasal dari Allah secara ad extra bersifat “tak tercipta”, padahal, seperti yang sudah kami jelaskan sebelumnya, segala sesuatu yang berasal dari Allah secara ad extra merupakan ciptaan.

Terlebih, coba pertimbangkan teks yang sangat relevan berikut dari St. Atanasius:

St. Atanasius, De Synodis, Bagian 2, #15, 359 M:
“Arius dan mereka yang bersama dirinya berpikir dan mengakui demikian: [menurut pandangan mereka] Allah menjadikan Putra dari ketiadaan, dan menyebut-Nya sebagai Putra-Nya; ‘Firman Allah adalah salah satu ciptaan’; dan ‘Pada suatu ketika Dia pernah tidak ada’; dan ‘Dia dapat berubah; sanggup berubah ketika Dia menghendakinya.’ Itulah sebabnya mereka didepak keluar Gereja oleh Aleksander terberkati.”

Di sini, St. Atanasius kembali menggambarkan posisi sesat, menghujat dan bidah yang dianut kaum Arian. Mereka mengajarkan bahwa Putra adalah ciptaan, bahwa diri-Nya diciptakan dari ketiadaan dan bahwa ada suatu kala ketika Dia tidak ada. Hal-hal yang serupa itu juga dipercayai oleh kaum Arian sehubungan Roh Kudus. Bidah-bidah mereka itu tentu saja sama sekali berbeda dengan posisi Katolik. Tetapi, coba diperhatikan: kaum Arian juga percaya bahwa Putra bisa berubah/beralterasi sesuai kehendak Allah. Posisi Arian itu adalah bidah, dan posisi Arian itulah yang sebenarnya dipercayai kaum Ortodoks Timur, karena kaum Ortodoks Timur berpandangan bahwa dalam “energi-energi tak tercipta”, Putra Allah, serta Bapa dan Roh Kudus juga, mampu beralterasi/berubah dan pada kenyataannya memang beralterasi/berubah. Jadi, ketika kaum bidah Ortodoks Timur mengklaim bahwa posisi Katolik itu Arian, mereka tidak hanya membuat tuduhan yang benar-benar salah, namun sebetulnya posisi merekalah yang sebanding dengan Arianisme.

Namun, ketika kita sedang membahas prosesi abadi dalam diri Allah (maksudnya, Putra yang dilahirkan sepanjang keabadian atau dilahirkan oleh Bapa, atau Roh Kudus yang di sepanjang keabadian berprosesi dari Bapa dan Putra), perlu dicatat bahwa subjek prosesi dalam makna aktif dan pasifnya adalah pribadi-pribadi Allah, bukan esensi ilahi. Dalam kata lain, kita tidak berkata bahwa esensi ilahi melahirkan, atau esensi ilahi dilahirkan, atau esensi ilahi berprosesi. Namun cara pengungkapannya adalah Bapa melahirkan, Putra dilahirkan dan Roh Kudus berprosesi. Tentang poin ini, Konsili Lateran IV menyatakan:

Paus Inosensius III, Konsili Lateran IV, 1215:
“ … realitas itu [yakni, esensi, atau kodrat atau substansi ilahi] bukanlah yang melahirkan, atau dilahirkan atau berprosesi, namun Bapalah yang melahirkan, dan Putralah yang dilahirkan, dan Roh Kuduslah yang berprosesi: sehingga perbedaan-perbedaannya ada dalam pribadi, dan kesatuannya ada dalam kodrat.”

Terlebih, sehubungan prosesi abadi akal dan kehendak dalam diri Allah, harap diperhatikan bahwa Kejadian 1:27 mengajarkan kita bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut citra-Nya.

Kejadian 1:27 -  “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.”

Arti dari diciptakan menurut gambar atau citra Allah, adalah manusia dikaruniai kekuatan akal dan juga kekuatan kehendak. Manusia adalah makhluk rasional dan berkehendak. Manusia tentu saja merupakan gambar tak sempurna Allah, bukan gambar sempurna-Nya. Itulah alasan dikatakan bahwa manusia diciptakan dalam gambar Allah, atau menurut gambar-Nya. Karena diciptakan menurut gambar Allah berarti manusia terlibat dalam aksi akal dan kehendak, masuk akal bahwa dalam diri Allah sendiri, selaku patokan gambar untuk penciptaan manusia, aktivitas akal dan kehendak merupakan alasan adanya tiga pribadi. Perlu dipahami juga bahwa ketiga pribadi ilahi (Bapa, Putra dan Roh Kudus), tentu saja adalah Allah dan memiliki esensi yang sama. Karena Mereka memiliki esensi ilahi yang sama, esensi ilahi tunggal satu-satunya, mereka semua memiliki pemahaman yang satu dan sama dan kehendak yang juga satu dan sama.

Setiap pribadi-Nya adalah Allah dan setiap pribadi-Nya memahami, setiap pribadi-Nya bijak, berkehendak dan mengasihi oleh karena esensi mereka bersama: lalu, kok masing-masing pribadi tidak melahirkan Sabda tak terhingga dan mengapa, kok setiap pribad-Nyai tidak mengembuskan Roh?

Jawabannya: diketahui dari wahyu ilahi, bahwa Putra adalah Sabda dan dilahirkan dari Bapa.

Namun Sabda Abadi yang dilahirkan oleh Bapa dalam aksi pemahaman Allah, sedemikian sempurna dan tak terbatasnya mengekspresikan substansi tak terhingga Bapa, sehingga ibarat kata menghabiskan prosesi internal akal dalam diri Allah, sehingga tidak bisa ada Sabda yang lain. Dengan demikian, hanya ada satu Sabda dan hanya mungkin ada satu Sabda saja. Demikian pula, diketahui dari wahyu bahwa Roh Kudus berprosesi. Kasih timbal balik antara Bapa dan Putra, kasih yang merupakan sumber berprosesinya Roh Kudus, adalah kasih sempurna dan terhingga. Dan karena itulah, kasih tersebut ibarat kata menghabiskan prosesi internal kehendak dalam diri Allah, sehingga tidak bisa ada prosesi yang lain. Maka dari itulah, hanya ada satu Roh Kudus dan hanya mungkin ada satu Roh Kudus saja.

Sekarang, kebenaran dari penjelasan yang sudah kami bahas tentang prosesi abadi Roh Kudus dari aksi internal kehendak dalam diri Allah didukung oleh nama Roh Kudus (τὸ ἅγιον πνεῦμα). Roh adalah sesuatu yang terasosiasi dengan aktivitas, gerakan dan impuls. Roh terasosiasi dengan aktivitas kehendak. Ketika orang-orang penuh Roh Kudus, mereka sering bertindak demi Allah, seperti dengan cara bernubuat.

Kalau Roh Kudus muncul dari saling mengasihi antara Bapa dan Putra (seperti yang sudah kami sebutkan), masuk akal bahwa Roh Kudus terasosiasi dengan berbagai perbuatan dan impuls suci kehendak. Inilah juga alasan tercurahnya kasih Allah dan pengudusan manusia disematkan kepada Roh Kudus di dalam Kitab Suci, meskipun semua aktivitas ad extra milik Allah dihasilkan oleh ketiga Pribadi bersama-sama. Kasih Allah dan juga pengudusan terasosiasi dengan penggunaan khas kehendak itu sendiri. Dan karena Roh Kudus berasal dari saling mengasihi antara Bapa dan Putra, masuk akal bahwa Kitab Suci mengasosiasikan kasih Allah dan pengudusan manusia dengan Roh Kudus.

Roma 5:5 -  “ ... kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”

1 Petrus 1:2 – “ ... yang dikuduskan oleh Roh ....”

Penjelasan ini juga didukung oleh Perjanjian Baru yang menghubungkan “karunia” dengan Roh Kudus. Kisah Para Rasul berulang kali bercerita tentang karunia Roh Kudus.

Kisah Para Rasul 2:38 – “Jawab Petrus kepada mereka: ‘Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.‘”

Kisah Para Rasul 8:18-20 - “Ketika Simon melihat, bahwa pemberian Roh Kudus terjadi oleh karena rasul-rasul itu menumpangkan tangannya, ia menawarkan uang kepada mereka, serta berkata: ‘Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus.’ Tetapi Petrus berkata kepadanya: ‘Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang.’”

Mengapa Roh Kudus berulang kali diasosiasikan dengan karunia?

Jawabannya, karena Roh Kudus berprosesi dari saling mengasihi antara Bapa dan Putra, lantas Dia itulah karunia tak tercipta dan tak terbatas dari Bapa dan Putra. Itulah sebabnya, masuk akal bahwa Perjanjian Baru mengasosiasikan karunia-karunia rohaniah dengan Roh Kudus.

Tetapi, meskipun Roh Kudus merupakan karunia tak terhingga, ini sama sekali tidak menyiratkan ketundukan macam apa pun, namun hanya asal abadi.

St. Tomas Aquinas, Summa Theologiae, Bagian I, Pertanyaan 38, Artikel 2:
“Namun sebaliknya, Agustinus berkata (De Trin. iv, 20): ‘Sama halnya bagi Putra ‘dilahirkan’ berarti berasal dari Bapa, demikian juga bagi Roh Kudus ‘merupakan Karunia Allah’ berarti berasal dari Bapa dan Putra’ … Oleh sebab itulah, Karunia juga adalah nama diri Roh Kudus.”

Meskipun poin-poin ini koheren, banyak atau mungkin semua penganut “Ortodoksi” Timur dengan kurang bijaknya menolak beberapa poin ini. Sekalipun demikian, penyangkalan terhadap Filioque tetap saja dibantah penuh oleh bukti dari Kitab Suci, para Bapa Gereja dan konsili-konsili, seperti yang akan kita lihat. Yang sudah kita bahas sejauh ini baru introduksi saja. Menimbang poin-poin ini, bisa dilihat mengapa masuk akal bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra layaknya berasal dari satu pangkal dan dari satu spirasi, seperti ajaran Gereja Katolik. Selaku gambar sempurna Bapa, yang meski demikian berbeda dengan Bapa karena oposisi relasi atau relasi asal-muasal yang berlawanan, Putra memiliki kodrat yang persis sama dengan Bapa dan Putra juga sepanjang keabadian mengasihi Bapa sama seperti Bapa mengasihi Putra sepanjang keabadian. 

Karena itulah, Roh Kudus muncul dari saling mengasihi antara Bapa dan Putra, layaknya berasal dari satu pangkal dan dari satu spirasi. Seperti dikatakan Yesus di Yohanes 16:15:

Yesus berkata: “Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya ....” - Yohanes 16:5

Ayat ini sangat penting pada perkara yang sedang kita bahas. Karena Bapa mengembuskan Roh Kudus, dan Putra punya segala sesuatu yang Bapa punya, Putra juga mengembuskan Roh Kudus.

St. Atanasius, Diskursus III Melawan Kaum Arian, Bab 23, #4, sekitar 356 M:
“Dan dengan demikian, karena mereka [Bapa dan Putra] satu adanya, dan Ketuhanan sendiri esa, hal-hal yang sama yang dikatakan tentang Bapa juga dikatakan tentang Putra, kecuali keberadaan-Nya dikatakan merupakan Bapa ‘Sebab segala sesuatu’, ujar Putra sendiri, ‘apa pun yang Bapa punya, adalah yang Kupunya;’ dan kembali lagi, dan milik-Ku adalah milik-Mu.”

Menyangkal bahwa Roh Kudus berasal dari Putra, setara menyangkal fakta bahwa Putra punya segala sesuatu yang Bapa punya, yang tentu saja tidak termasuk keberadaan Bapa sebagai Bapa sendiri, karena keberadaan-Nya sebagai Bapa tidak bisa disalurkan. Seperti yang juga dikatakan Yesus di Yohanes 5:19:

Yesus berkata: “ … karena apa pun itu yang Dia [Bapa] lakukan, seperti itu pulalah Putra melakukan hal-hal itu.”

Karena Bapa sepanjang keabadian mengembuskan Roh Kudus, Putra pun juga melakukannya.

Sebelum kami lanjutkan, perlu kami catat bahwa sama sekali tidak diragukan bahwa Roh Kudus adalah pribadi yang berbeda dari Bapa dan Putra, dan bahwa Roh Kudus adalah Allah, sebab Dia memiliki esensi yang persis sama dengan milik Bapa dan Putra. Roh Kudus bukan kuasa nirpribadi/impersonal, namun Dia adalah pribadi Allah. Pada video ini kami tidak akan membahas panjang lebar bukti-bukti ketuhanan Bapa dan Putra, namun berikut beberapa saja bukti kilat ketuhanan Roh Kudus.

  • Kehidupan rohani manusia dianggap berasal dari Roh Kudus, dan itu hanya mungkin demikian karena Roh Kudus adalah Allah.

Yohanes 20:27-28 - “Kemudian Ia berkata kepada Tomas: ‘Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.’ Tomas menjawab Dia: ‘Ya Tuhanku dan Allahku!’”

Galatia 5:25 – “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh ….”

  • Kita harus menjadi bait Roh Kudus, dan itu hanya pantas kalau Roh Kudus adalah Allah.

1 Korintus 3:16 - “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?”

  • Roh Kudus, sama seperti Allah, mengilhami orang-orang. Roh Kudus memiliki segala pengetahuan. Itulah sebabnya kita membaca bahwa Dia menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah, dan bahwa tidak ada yang tahu apa yang terdapat dalam diri Allah, selain Roh Allah.

1 Korintus 2:10-11 - “ ... sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah ... tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.”

  • Di Kisah Para Rasul bab 5, Petrus berkata bahwa ketika Ananias mendustai Roh Kudus, dia berdusta bukan kepada manusia, tetapi kepada Allah.

Kisah Para Rasul 5:3-4 - “Tetapi Petrus berkata: ‘Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? ... Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.’”

  • Di Kisah Para Rasul 28:25-27, firman Allah yang disampaikan di Yesaya 6:8-10 disamakan dengan firman Roh Kudus. Itu tentu saja dikarenakan Roh Kudus adalah Allah.

Kisah Para Rasul 28:25-27 - “Maka bubarlah pertemuan itu dengan tidak ada kesesuaian di antara mereka. Tetapi Paulus masih mengatakan perkataan yang satu ini: ‘Tepatlah firman yang disampaikan Roh Kudus kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi Yesaya: ‘Pergilah kepada bangsa ini, dan katakanlah: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak menanggap.’ Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup ....‘”

Yesaya 6:8-10 - “Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: … Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: ‘Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan!’ Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup ....”

  • Orang dibaptis dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, karena ada satu Allah dalam tiga pribadi. Masih ada lagi bukti-bukti lain tentang ketuhanan Roh Kudus yang bisa disajikan.

Sekarang, kaum “Ortodoks” Timur percaya bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa, namun bukan dari Putra. Posisi ini terutama mereka dasari pada dua hal: Yohanes 15:26 dan Syahadat yang dipermaklumkan di Konsili Konstantinopel pada tahun 381. Syahadat tersebut menyatakan bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa, namun tidak berkata “dan Putra”. Seperti yang akan kita lihat, kedua argumen mereka itu gagal total.

Konsili Konstantinopel I, 381: “Kami percaya akan satu Allah, Bapa yang Mahakuasa ... dan akan satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah yang tunggal ... Allah benar dari Allah benar. Ia dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa … Dan akan Roh Kudus, Ia Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa, yang serta Bapa dan Putra, disembah dan dimuliakan; Ia bersabda dengan perantaraan para nabi ....”

Yohanes 15:26 – Yesus berkata: “Jikalau Penghibur yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku.”

Jelas adanya, bahwa ayat ini tidak membuktikan posisi “Ortodoks” Timur. Ayat ini tidak berkata bahwa Roh Kudus berasal hanya dari Bapa saja, atau bahwa Roh Kudus tidak berasal dari Putra. Ayat ini tidak menyangkal Roh Kudus berasal dari Putra sepanjang keabadian. Bahkan, di sini pun, bisa dilihat bahwa Putra memiliki andil dalam mengutus Roh ke dunia. Seperti yang akan kami jelaskan kemudian, itu juga merupakan indikasi dan cerminan bahwa Roh Kudus berasal dari Putra sepanjang keabadian. Pada ayat ini, kita lihat juga bahwa Roh Kudus disebut sebagai Roh Kebenaran. Nanti akan kita lihat betapa pentingnya istilah ini. Harap diingat, ya: Yesus adalah Kebenaran. Untuk semakin membantah argumen Ortodoks Timur tentang ayat ini, harap dipertimbangkan bahwa di Matius 11:27, kita membaca hal berikut:

Yesus berkata: “ … tidak seorang pun mengenal Putra selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Putra dan orang yang kepadanya Putra itu berkenan menyatakannya.” – Matius 11:27

Apakah pernyataan ini berarti bahwa Roh Kudus tidak mengenal Bapa dan Putra? Tidak, tidak begitu. Sudah kita lihat bahwa Roh Kudus adalah Allah dan memiliki semua pengetahuan yang bahkan mencakup hal-hal tersembunyi di dalam diri Allah. Inti dari Matius 11:27, adalah hanya Allah yang sungguh-sungguh punya pengetahuan tentang cara mencapai diri-Nya, dan manusia hanya mendapat pengetahuan tentang cara mencapai Allah, kalau Putra berkenan menyatakannya kepada orang tersebut. Begitu juga, di Yohanes 15:26, yang bahkan lebih tidak eksklusif dalam pernyataannya ketimbang Matius 11:27, maknanya adalah Roh Kudus berasal dari Allah Bapa, bukan dari manusia ataupun dari sumber duniawi. Ini tidak menentang prosesi abadi Roh Kudus dari Putra, karena segala sesuatu yang Bapa punya juga dimiliki oleh Putra. Dan segala sesuatu yang dilakukan Bapa, Putra juga melakukannya. Jadi, sama sekali tidak ada bukti di Yohanes 15:26 yang mendukung posisi “Ortodoksi” Timur.

Memang benar, kita sekarang akan melihat mengapa ajaran Perjanjian Baru sama sekali membantah posisi bidah kaum “Ortodoks” Timur. Untuk tahu alasannya, coba pertama-tama pertimbangkan bahwa dalam Kitab Suci, Roh Kudus disebut sebagai Roh Bapa.

Matius 10:20 – “Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.”

Efesus 3:14-16 - “Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya. Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu ....”

Mengapa Roh Kudus disebut sebagai Roh Bapa? Alasannya, Roh Kudus berasal dari Bapa sepanjang keabadian. Alasan Roh Kudus juga disebut sebagai Roh Bapa, dikarenakan adanya relasi asal-muasal yang berlawanan di sepanjang keabadian antara Bapa dan Roh Kudus. Roh Kudus sepanjang keabadian diembuskan oleh Bapa, dan karena itulah Dia adalah Roh Bapa. Inilah alasan di Ef. 3:14-16, Roh Kudus disebut sebagai Roh-Nya, merujuk kepada Bapa. Roh Kudus adalah Roh Bapa, karena Roh Kudus berasal dari Bapa. Karena alasan ini jugalah Roh Kudus disebut dalam Kitab Suci sebagai “Roh Allah” dan juga “Roh Tuhan”.

1 Korintus 2:14 – “Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan ....”

1 Korintus 3:16 – “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?”

2 Korintus 3:3 – “Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.”

Alasan Roh Kudus disebut Roh Bapa, Roh Allah dan Roh Tuhan, adalah Roh Kudus berasal dari Allah Bapa sepanjang segala keabadian. Roh Kudus berprosesi secara abadi dari Allah.

Namun rupa-rupanya, Kitab Suci juga mengajarkan bahwa Roh Kudus adalah Roh Putra, Roh Yesus dan juga Roh Kristus. Sebagai contoh:

Galatia 4:6 – “Dan karena kamu adalah anak, Allah telah mengirim Roh Putra-Nya ke dalam hatimu, untuk berseru, ‘Abba, Bapa!’”

Kisah Para Rasul 16:7 – “Dan setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka.”

Filipi 1:19 – “ … karena aku tahu, bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.”

Seperti yang bisa kita lihat, Alkitab menyamakan Roh Kudus dengan Roh Putra dan Roh Yesus Kristus, sama seperti Alkitab menyamakan-Nya dengan Roh Bapa. Ini dikarenakan Roh Kudus berasal dari Putra dan juga dari Bapa, dan dengan demikian membantah kaum “Ortodoks” Timur. Argumen ini, bahwa Roh Kudus di dalam Kitab Suci disamakan dengan Roh Putra karena Dia berasal dari Putra dan karena itu berprosesi dari Putra adalah argumen definitif.

Sebagai contoh, anda tidak akan mendapati gelar “Putra Roh Kudus” diberikan untuk Putra Allah di Perjanjian Baru, karena Putra Allah tidak berasal dari Roh Kudus di dalam Allah Tritunggal. Justru, yang akan anda temukan berulang kali di Perjanjian Baru, adalah ajaran bahwa Yesus merupakan Putra Bapa, dan ini dikarenakan Yesus berasal dari Allah Bapa di dalam Allah Tritunggal. Dengan demikian, Roh Kudus disamakan dengan Roh Putra, Roh Kristus, dan lain-lain, karena Roh Kudus sepanjang keabadian diembuskan oleh Putra dan Roh Kudus juga berasal dari Putra di dalam Trinitas (serta tentunya juga berasal dari Allah Bapa).

Sebagai balasannya, beberapa dari kaum bidah “Ortodoks” Timur berkeberatan, dengan berargumen bahwa Alkitab menyebut Roh Kudus sebagai Roh Putra hanya dalam konteks Tritunggal Ekonomis, bukan dalam konteks Tritunggal abadi yang sebetul-betulnya serta prosesi-prosesi abadi di dalam-Nya.

Tritunggal Ekonomis ini (yang kadang kala hanya disebut sebagai ekonomi) adalah istilah bagaimana Allah menyatakan diri-Nya sendiri atau menyampaikan kehidupan-Nya kepada manusia di bumi dalam waktu. Sedangkan Tritunggal Imanen, adalah istilah untuk Tritunggal sendiri, istilah yang menggambarkan kehidupan kekal dalam diri Allah, atau prosesi-prosesi abadi yang sudah kami bahas.

Para penganut “Ortodoksi” Timur pada umumnya mengakui bahwa Roh Kudus dicurahkan oleh Putra dalam waktu dan bahwa Roh Kudus diutus oleh Putra di dalam ekonomi. Itulah alasan Roh Kudus disebut Roh Putra menurut berbagai argumen yang mereka buat. Tetapi, mereka akan menyangkal bahwa Roh Kudus adalah Roh Putra dalam konteks Roh Kudus diembuskan oleh Putra dalam kehidupan kekal Trinitas atau dalam teologi murni. Sebagai contoh, berikut Romo Thomas Hopko, yang dahulu merupakan Dekan dari St. Vladimir’s Orthodox Theological Seminary (Seminari Teologi Ortodoks Santo Vladimirus). Di sini dia sedang berargumen bahwa ketika St. Agustinus mengajarkan Filioque (yang memang dia ajarkan), St. Agustinus sebenarnya mencampuradukkan teologi dengan ekonomi.

[Hopko:] St. Agustinus jelas-jelas mengajarkan bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra; bahwa Bapa dan Putra bersama-sama adalah Allah dan Roh adalah Roh Allah, Roh Kristus. Karena itu, asal-muasal Roh Kudus adalah di dalam Bapa dan Putra. Tetapi, pada St. Agustinus saja sudah ada percampuran dari apa yang secara tradisional disebut di Gereja Timur sebagai theologia dan ekonomia. Dalam kata lain, cara kita mengungkapkan Ketuhanan sejak segala keabadian dan hubungan Bapa, Putra dan Roh Kudus. Lalu, yang dikatakan tentang Kristus dalam ekonomia (di bumi) mengenai keselamatan, ketika Dia mengutus Roh Kudus dari Bapa kepada para murid-Nya.

Berikut perkataan seorang bidah Ortodoks Timur, yang membuat argumen yang sama.

[Dyer:] Kita membuat pembedaan antara asal hipostatik dengan ekonomia. Jadi, waktu St. Gregorius berkata bahwa sah-sah saja berbicara soal Putra mengutus Roh Kudus, dalam konteks ekonomia, tetapi itu tidak ada sangkut-pautnya dengan asalnya Roh.

Argumen menyesatkan itu dibantah oleh banyak hal. Pertama-tama Kitab Suci tidak mengindikasikan bahwa Roh Kudus adalah Roh Putra hanya dalam konteks Pengutusan Sementara atau Aktivitas Sementara saja. Justru, Kitab Suci mengajarkan bahwa Roh Kudus adalah Roh Putra tanpa kualifikasi – sama halnya Roh Kudus adalah Roh Bapa. Kedua, pengutusan Putra dalam peristiwa Penjelmaan; dan pengutusan Roh Kudus ke dunia, yang disebut Pengutusan Sementara, mencerminkan prosesi-prosesi abadi (seperti yang akan kita lihat). Terkait poin pertamanya, 2 Petrus 1:21 berkata bahwa para nabi dahulu berbicara “oleh dorongan Roh Kudus”:

2 Petrus 1:21 – “ … sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.”

Dan di 1 Petrus 1:10-11, St. Petrus berkata bahwa para nabi yang menubuatkan rahmat dan keselamatan untuk Perjanjian Baru “meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka”

1 Petrus 1:10-11 - “Keselamatan itulah yang diselidiki dan diteliti oleh nabi-nabi, yang telah bernubuat tentang kasih karunia yang diuntukkan bagimu. Dan mereka meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka, yaitu Roh yang sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudah itu.”

Jadi, Roh Kudus yang mengilhami para nabi di Perjanjian Lama dipandang sama dengan Roh Kristus. Soal ayat ini, St. Sirilus dari Yerusalem menyatakan:

St. Sirilus dari Yerusalem, Kuliah Katekese 17, #4, Abad ke-4:
Dia [Roh Kudus] juga disebut Roh Kristus, seperti ada tertulis [di 1 Petrus], ‘Meneliti saat yang mana dan yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus yang ada di dalam mereka ....’”

Ini berarti Roh Kudus disebut sebagai “Roh Kristus” sehubungan kurun waktu sebelum Penjelmaan dan juga sebelum Kebangkitan. Fakta ini terutama sangat penting, karena di Yohanes 7:39, kita membaca bahwa Roh Kudus belum datang karena Yesus belum dimuliakan.

Yohanes 7:39 - “Yang dimaksudkan-Nya ialah Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum datang, karena Yesus belum dimuliakan.”

Yohanes 7:39 berbicara tentang bagaimana Roh Kudus akan diutus ke Bumi oleh Allah Bapa dan Putra pada hari Pentakosta demi tujuan pengudusan di Perjanjian Baru; namun pengutusan Roh Kudusnya terjadi setelah Kebangkitan. Tetapi, 1 Petrus 1:11 toh mengajarkan bahwa Roh Kudus adalah Roh Kristus sebelum Penjelmaan dan sebelum datangnya Roh Kudus yang dibahas di Yohanes 7. Ini merupakan petunjuk bahwa Roh Kudus adalah Roh Kristus sepanjang keabadian dan tanpa kualifikasi, dan dengan demikian membantah kaum Ortodoks Timur. Roh Kudus adalah Roh Kristus bahkan sebelum Penjelmaan. Ini dikarenakan Roh Kudus sepanjang keabadian berasal dari Putra dan juga dari Bapa.

Filioque juga ditegaskan oleh Roma 8:9:

Roma 8:9 – “Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.”

Kembali lagi, Roh Kudus disebut Roh Kristus. Dia disebut Roh Kristus dalam konteks yang sama diri-Nya disebut Roh Allah. Alasannya, Roh Kudus sepanjang keabadian berasal dari Putra dan juga dari Bapa. Coba dipertimbangkan pula: kelahiran abadi Putra diajarkan di Perjanjian Baru dan juga oleh Tuhan, dan merupakan kebenaran mendasar Kekristenan yang dinyatakan oleh Nisea serta konsili-konsili lainnya, padahal tidak dituangkan secara eksplisit dan sistematis pada banyak ayat. Justru, yang paling jelas menyatakan kelahiran abadi Putra di dalam Alkitab adalah pernyataan bahwa Yesus adalah Firman, bahwa Dia datang dari Allah, bahwa Dia adalah Putra Allah Bapa, dsb.

Poin terakhir ini, mengenai gelar Bapa dan Putra, dahulu krusial di masa Gereja perdana dalam membela kebenaran tentang kelahiran abadi Putra. Poin ini sangat diandalkan oleh St. Atanasius dalam melawan kaum Arian.

St. Atanasius, Diskursus I Melawan Kaum Arian, Bab 9, #33, sekitar 356 M:
“ ... barang siapa memanggil Allah Bapa dengan demikian memikirkan dan melihat Putra.”

Gelar Bapa dan Putra berarti bahwa Putra dilahirkan oleh Bapa sepanjang keabadian. Dan karena itu, orang seharusnya menyadari betapa penting Alkitab menyebut Roh Kudus sebagai Roh Putra dan juga Roh Kristus. Roh Kudus adalah Roh Putra, karena Dia sepanjang keabadian berasal dari Putra, sama halnya Dia sepanjang keabadian berasal dari Bapa. Sebelum kami bahas bukti dari Alkitab yang lebih banyak lagi, mari kita mencermati beberapa bukti patristik yang kuat (yakni bukti dari para Bapa) yang mendukung Filioque.

Meskipun anda kemungkinan tidak akan mendengar hal ini dari kalangan “Ortodoks” Timur, doktrin Filioque kuat didukung oleh sumber patristik (para Bapa Gereja). Akan makan terlalu banyak waktu hanya untuk membahas bagian besarnya sekalipun. Ada banyak kutipan pendukung Filioque yang bisa dipetik dari para Bapa Latin dan Barat. Tetapi, banyak orang tampaknya tidak menyadari bahwa doktrin Filioque juga kuat didukung oleh pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh para Bapa Yunani dan Timur. Contohnya, St. Atanasius, seorang Bapa Yunani, berulang kali mengajarkan bahwa Roh Kudus adalah Roh Putra. St. Atanasius juga membuat pernyataan-pernyataan lain yang sangat relevan pada topik kita ini. Mengenai Putra, St. Atanasius berkata:

St. Atanasius, Diskursus I Melawan Kaum Arian, Bab 12, #50, sekitar 356 M:
“Lantas, melalui siapa dan dari siapa gerangan Roh seyogianya diberikan, jikalau bukan melalui Putra, yang juga yang empunya Roh itu?”

St. Atanasius juga berkata demikian tentang Putra:

St. Atanasius, Diskursus I Melawan Kaum Arian, Bab 12, #49, sekitar 356 M:
“‘ … karena tiada siapa pun juga selain Engkau yang sanggup menyatukan manusia dengan Roh Kudus, Kau Citra Bapa, yang seturutnya kami dijadikan pada mulanya; sebab Dikaulah yang empunya Roh sekalipun.’”

Dalam Diskursus III-nya Melawan Kaum Arian, St. Atanasius berkata:

St. Atanasius, Diskursus III Melawan Kaum Arian, Bab 25, #24, sekitar 356 M:
“Sebab Dia [Putra], seperti yang sudah dikatakan, memberi kepada Roh, dan segala sesuatu milik Roh, itu dimiliki-Nya dari Sabda.”

Karena segala sesuatu milik Roh dimiliki-Nya dari Sabda, artinya Roh Kudus memiliki asal-muasal hipostatik dan kodrat ilahi-Nya dari Putra, seperti Dia memilikinya dari Bapa. Teks semacam ini jelas mendukung Filioque. Teks selanjutnya dari St. Atanasius berkenaan dengan sebuah ayat di Yohanes 16, sebuah teks yang sangat amat penting. Maka dari itu, teks ini harus kita pertimbangkan, sebab ini merupakan bukti lain yang kuat mendukung Filioque. Seperti tercatat di Yohanes 16:13-15, Yesus menyatakan:

Yohanes 16:13-15 - “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku.”

Di sini, kita membaca bahwa Roh Kudus akan memberitakan apa yang diterima/diambil-Nya dari Putra. Kalau Roh Kudus menerima/mengambil dari Putra, itu menyiratkan adanya sumber atau pangkal. Ini merupakan indikasi bahwa Putra, bersama dengan Bapa, merupakan pangkal/sumber abadi Roh Kudus, dan karena itu Roh Kudus beroleh asal-muasal hipostatik dan kodrat ilahi-Nya dari Putra dan juga dari Bapa. Ini membuktikan Filioque.

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Laetentur Caeli”, 6 Juli 1439:
“ ... dalam nama Tritunggal Mahakudus: Bapa, Putra dan Roh Kudus, dengan sepersetujuan konsili suci dan universal Florence ini, Kami menetapkan ... Bahwa Roh Kudus, sepanjang segala keabadian adalah dari Bapa dan Putra dan beroleh seluruh esensi sertakeberadaan-Nya dari Bapa sekaligus dari Putra, dan sepanjang segala keabadian berasal dari kedua-duanya, layaknya berasal dari satu pangkal dan dari satu spirasi yang esa.”

Untuk semakin paham alasannya, coba dipikirkan seperti ini: kita tahu bahwa Roh Kudus beroleh asal-muasal hipostatik dan kodrat ilahi-Nya dari Bapa melalui prosesi abadi. Dan dari prosesi abadi itu, Roh Kudus tidak kekurangan apa pun juga yang Dia punya.

1 Korintus 2:10-11 - “ ... sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah ... tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.”

Roh Kudus sama sekali tidak kekurangan kodrat ilahi, tidak kekurangan pengetahuan tentang masa depan, dan lain sebagainya. Maka dari itu, kalau Roh Kudus juga menerima atau mengambil dari Putra dalam hal memberitakan masa depan, itu hanya mungkin demikian kalau Roh Kudus beroleh asal-muasal hipostatik dan kodrat ilahi-Nya dari Putra dan juga dari Bapa. Terkait soal ini, beberapa orang mungkin bertanya:

“Kalau ayat ini membahas prosesi abadi Roh Kudus dari Putra, kok kalimat dalam bahasa Yunaninya menggunakan kala linguistik masa depan dan berkata bahwa Roh Kudus akan menerima atau akan mengambil dari Putra?”

 Jawabannya: seperti diutarakan oleh St. Tomas Aquinas, adalah sebagai berikut:

St. Tomas Aquinas, Summa Contra Gentiles, Buku IV, Bab 23:
“ ... Roh Kudus menerima sepanjang keabadian, dan kata kerja dengan kala linguistik mana pun juga dapat diterapkan kepada yang abadi, sebab keabadian merangkum waktu segenap-genapnya.”

Fakta bahwa Kitab Suci menggambarkan Roh Kudus menerima seperti itu dari Putra, membuktikan bahwa ini merupakan rujukan kepada prosesi abadi dari Putra. Namun kala linguistik masa depan itu pantas, karena kata kerja dalam kala linguistik masa depan dapat digunakan untuk hal-hal abadi, dan Roh Kudus pada waktu itu juga akan memberitakan hal-hal kepada para Rasul di masa depan.

Dan juga, harap dipertimbangkan bahwa yang menjadi manusia hanyalah Putra Allah. Bapa dan Roh Kudus tidak menjadi manusia. Lantas, bagaimana bisa Roh Kudus, selaku pribadi ilahi yang tidak menjelma, menerima atau mengambil dari pribadi ilahi yang lain dalam memberitakan masa depan? Ini hanya mungkin berlangsung berkat prosesi abadi. Itulah sebabnya, Roh Kudus secara abadi berasal dari Putra dan juga dari Bapa. Bahkan, ketika Yesus mengulangi pernyataan-Nya bahwa Roh Kudus akan menerima dari-Nya, pernyataan ini dikaitkan-Nya dengan kebenaran bahwa segala sesuatu yang Bapa punya adalah Aku punya. Karena Putra punya semua yang dipunya Bapa, dan Bapa mengembuskan Roh Kudus, lantas Putra juga mengembuskan Roh Kudus.

Harap diperhatikan juga, Yohanes 16:13 berkata bahwa Roh Kudus akan mengatakan “segala sesuatu yang didengar-Nya”. Ini merujuk kepada yang didengar Roh Kudus dari Putra; pada dasarnya serupa dengan perkataan Yesus tentang diri-Nya sendiri sehubungan Bapa.

Yohanes 5:30 – “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri [ἀπ’ ἐμαυτοῦ]; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil ....”

Yohanes 5:19-20 – “ … ‘Sesungguh-sungguhnya Aku berkata kepadamu, Putra tidak dapat melakukan apa pun dari diri-Nya sendiri, kecuali apa yang Dia lihat Bapa melakukannya; karena apa pun itu yang Dia lakukan, seperti itu pulalah Putra melakukan hal-hal itu. Sebab Bapa mengasihi Putra dan memperlihatkan kepada-Nya segala sesuatu yang Dia sendiri lakukan.”

Sewaktu Kristus berkata bahwa Dia tidak dapat melakukan apa pun dari diri-Nya sendiri, kecuali apa yang Dia lihat Bapa melakukannya, Dia tidak sedang berkata bahwa diri-Nya tidak punya kuasa, namun bahwa kodrat ilahi yang Dia punya berasal dari Bapa dan satu adanya dengan Dia dalam ketuhanan. Kristus sedang menjawab orang Yahudi yang berupaya membunuh-Nya, sebab Dia pernah berkata bahwa Allah adalah Bapa-Nya; dan karena itu bahwa Dia setara dengan Allah. Maka, ketika Yesus berkata bahwa Dia tidak dapat melakukan apa pun dari diri-Nya sendiri, Dia sedang memberi petunjuk bahwa Dia bukan sesosok ilah pemberontak yang mencari-cari supaya dipuja sebagai Allah, berlawanan dengan Bapa, namun bahwa diri-Nya adalah satu Allah dengan Bapa, dan apa yang Dia miliki itu Dia peroleh dari Bapa. Karena alasan inilah Yesus berkata di Yohanes 5:26:

Yohanes 5:26 – “Sebab, sama seperti Bapa mempunyai hidup di dalam diri-Nya, demikian pula Dia memberikan kepada Putra untuk memiliki hidup di dalam diri-Nya [ἐν ἑαυτῷ].”

Terkait perkara Bapa “memperlihatkan” dan Putra “mendengar” di Yohanes 5, St. Tomas Aquinas berkomentar demikian:

St. Tomas Aquinas, Summa Theologiae, Bagian I, Pertanyaan 42, Artikel 6, Jawaban kepada Penolakan 2: “Hendaknya Bapa yang ‘memperlihatkan’ dan Putra yang ‘mendengar’, jangan dipahami dengan makna selain Bapa menyalurkan pengetahuan kepada Putra, serta esensi-Nya pula.”

Perihal “mendengar” dari Bapa ini merupakan indikasi bahwa kodrat Allah disalurkan kepada Putra dari Bapa. Dan seperti yang baru saja kita baca, Roh Kudus juga mendengar dari Putra.

“ … segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku.”

Maka, sama halnya Kristus mendengar dari Bapa karena kodrat ilahi disalurkan kepada Putra dari Bapa, Roh Kudus juga “mendengar” dari Putra, karena kodrat ilahi disalurkan kepada Roh Kudus melalui prosesi abadi dari Putra dan juga dari Bapa. Perhatikan juga, bahwa Yesus berkata demikian:

“ ... apa pun itu yang Dia [Bapa] lakukan, seperti itu pulalah Putra melakukan hal-hal itu ....”

Karena Bapa mengembuskan Roh Kudus, Putra juga melakukannya.

Pada suratnya yang pertama kepada Serapion dan mengomentari Yohanes bab 16, St. Atanasius menyatakan:

St. Atanasius, Surat Pertama kepada Serapion #21, 357 M (Khaled Anatolios, Athanasius, hal. 220): “ … Roh itu, pada gilirannya, menerima dari Putra; ‘Ia akan mengambil dari apa yang adalah milik-Ku,’ ujar-Nya, ‘dan menyatakannya kepadamu’ [Yohanes 16:14] … Maka dari itu, karena Roh memiliki relasi kodrat dan tatanan yang sama terhadap Putra dengan yang dimiliki oleh Putra terhadap Bapa, bagaimanakah orang yang menyebut Roh sebagai ciptaan dapat meloloskan diri dari kesimpulan berpikir seperti itu pula tentang Putra?”

Kalau Roh memiliki relasi kodrat yang sama terhadap Putra, dengan yang dimiliki Putra terhadap Bapa, itu hanya mungkin demikian kalau Roh Kudus beroleh asal hipostatik dan kodrat ilahi-Nya dari Putra, karena Putra memilikinya dari Bapa. Dengan demikian, Roh Kudus berasal dari Putra dan juga dari Bapa. Teks semacam ini jelas mendukung Filioque.

Masih ada lagi yang bisa kami bahas dari St. Atanasius, namun banyak perikop dari para Bapa semacam ini dihadirkan pada berbagai perdebatan di Konsili reunifikasi Florence, sehingga meyakinkan Besarion dari Nisea dan Isidorus dari Kiev (yang dahulunya terpisah dari Gereja Katolik) untuk menerima Filioque. Mengenai perikop dari para Bapa yang mendukung Filioque, Besarion menulis:

Besarion dari Nisea, dikutip dalam A. Edward Siecienski, The Filioque, Oxford Univ. Press, 2010, hal. 162: “Bukanlah silogisme … atau kekuatan argumen yang membimbing saya sehingga percaya ini [yaitu, posisi Latin tentang Filioque], namun kata-kata lugas para doktor. Sebab ketika melihat dan mendengar perkataan mereka itu, langsung saja saya kesampingkan segala pertentangan dan kontroversi dan saya pun tunduk kepada otoritas dari mereka yang empunya kata-kata itu … Sebab saya berkeyakinan bahwa para bapa kudus, ketika berbicara demikian dalam Roh Kudus, tidak mungkin menyimpang dari kebenaran dan saya pun berduka karena sebelumnya tidak pernah mendengar kata-kata mereka.”

St. Sirilus dari Aleksandria adalah salah seorang bapa Yunani lain yang karya tulisnya kuat mendukung Filioque. St. Sirilus dari Aleksandria memainkan peran kunci di Konsili Efesus, dan terkenal karena membantah si bidah Nestorius.

St. Sirilus dari Aleksandria, Thesaurus de sancta et consubstantiali trinitate 34; PG 75, 608:
Perlu adanya mengakui bahwa Roh berasal dari esensi Putra. Sebab karena keberadaan-Nya adalah dari Dia seturut kodrat, dan telah diutus dari Dia kepada ciptaan, Dia mengerjakan pembaruan.”

Di sini, St. Sirilus mengajarkan bahwa Roh berasal dari Putra seturut kodrat, dalam Tritunggal abadi. Teks semacam ini jelas mendukung Filioque. Kutipan semacam ini juga sangat signifikan karena menunjukkan bahwa ada bapa Yunani lain yang menentang argumen umum Ortodoks Timur, argumen yang mengklaim bahwa Roh Kudus berasal dari Putra bukan dalam konteks Tritunggal sendiri, namun hanya dalam konteks ekonomi. Kami sebelumnya sudah memutar klip perkataan kaum bidah Ortodoks Timur sendiri yang membuat argumen sesat semacam itu.

Bertentangan dengan pernyataan-pernyataan mereka, bisa kita lihat bahwa bapa Yunani sendiri, St. Sirilus dan St. Atanasius, mengajarkan bahwa Roh Kudus berasal dari Putra dalam Tritunggal sendiri. Sudah kita lihat pula bahwa Kitab Suci membantah klaim sesat mereka.

Mari kita lanjutkan. St. Sirilus juga menyatakan:

St. Sirilus dari Aleksandria, Thesaurus de sancta et consubstantiali trinitate 34; PG 75, 585:
“Karena ketika Roh Kudus berada dalam diri kita, Dia membuahkan keselarasan diri kita dengan Allah, dan Dia sesungguhnya melaju dari Bapa dan Putra, jelas adanya bahwa Dia memiliki esensi ilahi ....”

St. Sirilus berkata pula:

St. Sirilus dari Aleksandria, De Adoratione in Spiritu et Veritate 1, PG 68, 148:
“Karena Roh Kudus berasal dari Allah Bapa, dan juga dari Putra, Dia mengalir secara substansi dari kedua-duanya (το ουσιωδως ἐξ αμφοιν), yakni, dari Bapa melalui Putra.”

 Di sini, St. Sirilus dari Aleksandria menyamakan perihal Roh Kudus mengalir secara substansi “dari Bapa dan Putra” dengan konsep mengalir “dari Bapa melalui Putra”. Ini penting, karena para Bapa Yunani lainnya, seperti Gregorius dari Nyssa dan Santo Basilius, mengajarkan bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa melalui Putra. Tentang frasa “melalui Putra”, Konsili Florence mengutarakan:

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Laetentur Caeli,” 6 Juli 1439:
“Telah dikemukakan bukti-bukti dari kitab-kitab ilahi serta banyak otoritas para Doktor kudus dari Timur dan Barat; beberapa dari antaranya memang berkata bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra, sedangkan yang lain berkata bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa melalui Putra. Dan dengan istilah yang berbeda-beda itu, mereka semua mengarah kepada pengertian yang sama.”

Di waktu sekarang ini, orang harus mengakui bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra. Tetapi, yang hendak dipertahankan oleh orang-orang yang dulu menggunakan frasa “melalui Putra” adalah posisi bahwa Bapa adalah pihak Archē, atau sumber/pangkal seluruh keilahian.

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Laetentur Caeli,” 6 Juli 1439:
“Namun, kaum Latin menegaskan bahwa dengan berkata bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra, mereka tidak bermaksud menyangkal Bapa sebagai sumber dan pangkal seluruh keilahian [fons ac principium totius deitatis], yakni, keilahian Putra dan Roh Kudus ....”

Mereka juga hendak mempertahankan posisi bahwa hanya ada satu pangkal Roh Kudus. Namun seperti yang sedang kami perlihatkan, posisi alkitabiah dan Katolik sejati konsisten dengan kebenaran-kebenaran itu, sebab Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra sebagai satu pangkal, bukan dua pangkal. Dan alasan Bapa merupakan pangkal seluruh keilahian, adalah Putra beroleh keilahian-Nya dari Bapa, sehingga Roh Kudus berasal dari Putra. Seperti dideklarasikan oleh Konsili Florence:

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Laetentur Caeli,” 6 Juli 1439:
“Dengan melahirkan Putra Tunggal-Nya, Bapa telah memberikan segala sesuatu yang Dia miliki kepada Putra (kecuali keberadaan-Nya sendiri sebagai Bapa). Dengan demikian, berasalnya Roh Kudus dari Putra merupakan atribut milik Putra yang didapatkan-Nya dari Bapa sepanjang segala keabadian, Bapa yang bahwasanya melahirkan Putra sepanjang segala keabadian.”

Itulah alasan Paus Leo XIII, yang menerima Filioque, demikian pula mengajarkan seraya mengutip St. Agustinus: bahwa Bapa merupakan pangkal seluruh keilahian.

Paus Leo XIII, Divinum Illud Munus, #3, 9 Mei 1897:
“ … Bapa yang merupakan pangkal seluruh keilahian (St. Aug. De Trin. 1 iv., c. 20) ....”

Bapa merupakan pangkal seluruh keilahian karena Dia adalah pangkal tanpa pangkal. Putra adalah pangkal dari pangkal. Bersama-sama, Bapa dan Putra adalah satu pangkal munculnya Roh Kudus.

Artikulasi berpresisi kebenaran ini dalam dogma Katolik adalah suatu contoh lain bagaimana Gereja sejati, Gereja Katolik, Gereja yang didirikan oleh Kristus di atas St. Petrus, dilindungi dalam ajaran resminya oleh Allah. Rumusan-rumusan dogmatis infalibel Gereja Katolik telah melestarikan doktrin alkitabiah dan ajaran apostolik sejati para Bapa. Ada banyak kutipan dari para Bapa yang mengungkapkan posisi yang benar, seperti yang sedang kami tunjukkan. Namun, karena para Bapa secara perorangan tidak infalibel, ada juga kutipan-kutipan dari mereka yang tidak 100% akurat. Ada pula kutipan-kutipan dari mereka yang pada garis besarnya memuat doktrin sejati, namun tidak mengartikulasikan doktrin itu secara sempurna. Tetapi, Gereja yang didirikan di atas St. Petrus, melestarikan dan menuangkan ajaran sejati Alkitab dan patristik dalam rumusan-rumusan dogmatisnya. Itulah sebabnya, Konsili Florence dengan benar menyatakan:

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Cantate Domino,” 1441:
“ ... keberadaan Putra adalah dari Bapa sepanjang keabadian dan tanpa permulaan, dan berasalnya Roh Kudus dari Bapa dan Putra adalah sepanjang keabadian dan tanpa permulaan. Segala keberadaan Bapa dan segala sesuatu milik Bapa itu tidak dimiliki-Nya dari pihak lain, namun hanya dari diri Bapa sendiri, dan Bapa adalah pangkal tanpa pangkal. Segala keberadaan Putra dan segala sesuatu milik Putra itu dimiliki-Nya dari Bapa, dan Putra adalah pangkal dari pangkal. Segala keberadaan dan segala sesuatu milik Roh Kudus itu dimiliki-Nya dari Bapa bersama Putra.

Namun Bapa dan Putra bukanlah dua pangkal Roh Kudus, melainkan satu pangkal Roh Kudus, sama halnya Bapa, Putra dan Roh Kudus bukanlah tiga pangkal penciptaan, melainkan satu pangkal penciptaan. Maka, Gereja mengutuk, menolak, menganatema semua orang yang percaya akan pandangan-pandangan yang bertentangan atau berlawanan, dan mencela mereka sebagai orang-orang yang terasing dari tubuh Kristus yang adalah Gereja.”

Sudah kami tunjukkan bahwa St. Sirilus mengajarkan bahwa Roh Kudus sepanjang keabadian berasal dari Bapa dan Putra. St. Sirilus dari Aleksandria memainkan peran kunci di Konsili Efesus pada tahun 431. Efesus adalah konsili yang kaum “Ortodoks” klaim mereka terima. Di surat III Sirilus kepada Nestorius, yang dianggap telah dibaca dan disetujui di Efesus, kita membaca:

St. Sirilus dari Aleksandria, Surat III kepada Nestorius, Konsili Efesus, 431 M:
“Dengan demikian, Roh mengerjakan mukjizat dengan tangan para rasul kudus dan memuliakannya sedemikian rupa setelah kenaikan Tuhan kita Yesus Kristus ke Surga. Sebab, dahulu dipercayai bahwa dia (Putra) adalah Allah berdasarkan kodrat dan bekerja melalui Roh miliknya sendiri. Oleh sebab inilah dia juga berkata: ‘Dia (Roh) akan menerima milikku, dan menyatakannya kepadamu.’”

Dalam sepucuk Surat yang diterima di Efesus, Sirilus menggambarkan Roh Kudus sebagai roh milik Putra sendiri dalam konteks dirinya menyebut Putra sebagai Allah berdasarkan kodrat. Itu dikarenakan Roh Kudus sepanjang keabadian berasal dari Putra dan juga dari Bapa. Bahkan, di kitab Roma 8:32, Yesus disebut sebagai Putra Allah sendiri.

Roma 8:32 - “Ia, yang tidak menyayangkan Putra-Nya sendiri [τοῦ ἰδίου Υἱοῦ], tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua ....”

Alasan Yesus disebut Putra Allah sendiri, adalah di dalam Tritunggal sendiri, Putra dilahirkan oleh Bapa. Demikian juga, di Surat III Sirilus kepada Nestorius, Roh Kudus dianggap sama dengan Roh Putra sendiri, karena di dalam Tritunggal sendiri, Roh Kudus adalah dari Putra, dan juga dari Bapa. Namun masih ada lagi: pada beberapa baris sebelum perkataan dari surat St. Sirilus itu, kita membaca hal berikut (dan harap diingat, surat ini diterima di Konsili Efesus):

St. Sirilus dari Aleksandria, Surat III kepada Nestorius, Konsili Efesus, 431 M:
“Sebab meskipun Roh ada dalam hipostasis-Nya sendiri dan juga dipandang sebagai pribadi yang berbeda (karena Dia adalah Roh dan bukan Putra), namun itu tidak berarti Dia terpisah dari Putra. Sebab Dia disebut Roh Kebenaran dan Kristus adalah Kebenaran, dan Roh dicurahkan dari-Nya, bahwasanya sama seperti dari Allah Bapa.”

Harap dicatat, ya: St. Sirilus secara khusus berkata bahwa Roh Kudus dicurahkan dari Putra, bahwasanya sama seperti dari Allah Bapa. Lalu, kaum skismatis Timur mungkin mengajukan argumen tanggapannya bahwa kata-kata ini hanya membahas pencurahan Roh Kudus dari Putra sama seperti dari Allah Bapa di dalam ekonomi, karena kata-kata ini ada persis sebelum kutipan yang kami petik tentang Roh Kudus mengerjakan mukjizat setelah Kenaikan Kristus.

Tetapi, sama sekali tidak 100% jelas bahwa Sirilus hanya sedang membahas ekonomi ketika berkata bahwa Roh Kudus dicurahkan dari Putra bahwasanya sama seperti dari Allah Bapa. Kata-kata yang sebelumnya hanya membahas Roh Kudus sebagai pribadi yang berbeda dalam Tritunggal abadi, dan tidak terpisah dari Putra. Menurut St. Sirilus, Roh Kudus tidak terpisah dari Putra, sebab Dia adalah Roh kebenaran dan Kristus adalah kebenaran, dan Roh Kudus dicurahkan dari Putra bahwasanya sama seperti dari Allah Bapa. Bisa kita lihat juga bagaimana St. Sirilus di bagian lain dengan jelas mengajarkan bahwa Roh Kudus berasal dari Putra (sehubungan dengan Tritunggal abadi). 

Lebih lanjut dalam konteks ini pula, ketika menyebutkan bahwa Putra adalah Allah berdasarkan kodrat, St. Sirilus juga dengan jelas mengajarkan bahwa Roh Kudus adalah Roh Putra sendiri, dan ini menunjukkan bahwa relasi berasalnya Roh dari Putra abadi. 

… dan bekerja melalui Roh miliknya sendiri [τοῦ ἰδίου πνεύματος]. Oleh sebab inilah …

 Terlebih, St. Sirilus berkata bahwa Yesus bekerja melalui Roh milik-Nya sendiri, dan tidak berkata bahwa Roh Kudus adalah Roh-Nya sendiri karena Yesus bekerja melalui-Nya. Ini semua menengarai bahwa Roh Kudus adalah Roh Putra dalam Tritunggal sendiri, dan dengan demikian bahwa Roh Kudus berasal dari Putra dan juga dari Bapa. Tetapi, sekiranya pun orang menerima klaim bahwa St. Sirilus hanya merujuk kepada ekonomi pada baris tentang Roh Kudus dicurahkan dari Putra bahwasanya sama seperti dari Allah Bapa, pencurahan Roh Kudus dari Putra bahwasanya sama seperti dari Allah Bapa di dalam ekonomi bertujuan mencerminkan apa yang terjadi di dalam Tritunggal abadi, seperti yang akan kita lihat.

Wahyu menggambarkan pencurahan ini terjadi demikian di dalam ekonomi, karena seperti itulah yang terjadi di dalam diri Tritunggal. Bahkan, mengapa Allah, dalam Penyelenggaraan dan hikmat-Nya, memberi kita gambaran Bapa dan Putra bersama-sama mencurahkan Roh Kudus di dalam ekonomi, kalau itu tidak mencerminkan yang terjadi di dalam Tritunggal? Dan mengapa Allah berbuat demikian, kalau seperti yang diklaim Ortodoks Timur, percaya bahwa itu terjadi demikian di dalam Tritunggal adalah bidah? Pandangan Ortodoks Timur ini konyol. Dan seperti yang akan terus kita lihat, pengutusan/pencurahan Roh Kudus oleh Bapa dan Putra di dalam ekonomi mencerminkan apa yang terjadi di dalam Tritunggal.

Memang benar, soal pencurahan Roh Kudus di dalam ekonomi, Titus 3:5-6 berkata demikian:

“ … oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaharuan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan [ἐξέχεεν]-Nya kepada kita oleh Yesus Kristus, Juruselamat kita ....” - Titus 3:5-6 

Kata “-Nya” pada ayat ini, yaitu pihak yang melimpahkan/mencurahkan Roh Kudus oleh Yesus Kristus, adalah Allah Bapa. Namun di Kisah Para Rasul 2:33, ayat yang merujuk pada contoh lain dicurahkannya Roh Kudus, kita mendapati kata bahasa Yunani yang persis sama untuk mencurahkan. Tetapi, di situ kita membaca bahwa yang mencurahkan Roh Kudus justru adalah Putra.

Kisah Para Rasul 2:33 - “ … setelah ditinggikan di sebelah kanan Allah, dan karena menerima janji Roh Kudus dari Bapa, Dia [Yesus] mencurahkan [ἐξέχεεν] hal ini, yaitu apa yang sedang kamu lihat dan dengar sekarang ....”

Ini mencerminkan kebenaran bahwa dalam Tritunggal abadi, Bapa dan Putra bersama-sama mengembuskan atau mencurahkan Roh Kudus. Patut dicatat pula, bahwa di ayat ini, dikatakan bahwa sesudah Yesus menerima Roh Kudus yang dijanjikan dari Bapa, lantas Yesus lalu mencurahkan Roh Kudus. Inilah cerminan bagaimana berasalnya Roh Kudus dari Putra juga, merupakan sesuatu yang dimiliki Putra dari Bapa, karena Bapa adalah pangkal tanpa pangkal dan Putra adalah pangkal dari pangkal. Bersama-sama, mereka layaknya dari satu pangkal dan satu spirasi yang esa mengembuskan Roh Kudus sepanjang keabadian. Ketika sedang mempertimbangkan kebenaran Filioque, ayat berikut ini hendaknya dicermati secara khusus.

Yohanes 20:21-23 – “Maka kata Yesus sekali lagi: ‘Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.’ Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: ‘Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.’”

Yesus mengembusi mereka, dan mereka menerima Roh Kudus. Meskipun peristiwa ini terjadi dalam waktu, ini mencerminkan kebenaran bahwa dalam Tritunggal abadi, Bapa dan Putra bersama-sama mengembuskan atau menspirasikan Roh Kudus. Seperti dikatakan oleh St. Agustinus:

St. Agustinus, Risalah-Risalah tentang Injil Yohanes, Risalah 99, #7:
“Sebab apa lagi yang dimaksudkan dengan mengembusi mereka seperti itu, kalau bukan bahwa Roh Kudus berasal dari Dia pula?”

Kaum skismatis Timur juga mengajukan penolakan lain soal perikop sebelumnya dari St. Sirilus dan petikan-petikan serupa dari para Bapa. Ujar mereka, kata kerja bahasa Yunani yang digunakan St. Sirilus ketika menulis bahwa Roh “dicurahkan” atau “mengalir” dari Putra bahwasanya sama seperti dari Bapa, bukan kata kerja yang sama dengan yang digunakan di Yohanes 15:26 dan di Syahadat Konstantinopel, pada bagian Syahadat yang berkata bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa.

St. Sirilus dari Aleksandria, Surat III kepada Nestorius, Konsili Efesus, 431 M:
“Sebab meskipun Roh ada dalam hipostasis-Nya sendiri dan juga dipandang sebagai pribadi yang berbeda (karena Dia adalah Roh dan bukan Putra), namun itu tidak berarti Dia terpisah dari Putra. Sebab Dia disebut Roh Kebenaran dan Kristus adalah Kebenaran, dan Roh dicurahkan [προχειται] dari-Nya, bahwasanya sama seperti dari Allah Bapa.”

Pada petikan ini, St. Sirilus menggunakan kata

προχειται (prokheitai),

sebuah bentuk dari kata kerja προχέω (prokheo), yang berarti “saya mencurahkan”.

Maka προχειται, sebuah bentuk dari προχέω, berarti bahwa Roh Kudus dicurahkan atau mengalir dari Putra. Tetapi di Yohanes 15:26 dan di Syahadat Konstantinopel, pada bagian yang berkata bahwa Roh Kudus berasal dari Putra, kata kerja yang digunakan adalah:

ἐκπορεύομαι (ekporeuomai)

Kata ini berarti: Saya berasal, atau saya berangkat dari, atau saya mengalir dari

Menurut mereka, berkata bahwa Roh Kudus dicurahkan atau mengalir dari Putra (προχειται – prokheitai) atau menggunakan kata kerja yang berbeda seperti yang dilakukan para Bapa dalam berbagai kutipan, tidak sama dengan berkata bahwa Roh Kudus berasal dari Putra. Argumen ini menyesatkan. Untuk membantahnya, akan kami kutip St. Sirilus dari Aleksandria sendiri.

St. Sirilus dari Aleksandria, Surat 55:
“Sebab Roh sehakikat dengan mereka dan Dia (Roh) dicurahkan (προχειται - prokheitai), yakni, berasal (ἐκπορευεται - ekporeuetai), bagaikan dari mata air Allah Bapa dan dikaruniakan pada ciptaan melalui Putra.”

Bisa anda lihat, yang dikatakan St. Sirilus? Untuk menggambarkan bagaimana Roh Kudus berasal dari Allah Bapa, St. Sirilus menyamakan kedua kata kerja yang sedang kita bahas.

  • Προχειται (prokheitai), yang berarti “dicurahkan” atau “mengalir”, adalah kata kerja yang juga dia gunakan di Surat III kepada Nestorius, ketika St. Sirilus mengajarkan bahwa Roh Kudus dicurahkan dari Putra bahwasanya sama seperti dari Bapa.
  • ἐκπορευεται (ekporeuetai) adalah sebuah bentuk dari kata kerja ἐκπορεύομαι (ekporeuomai), yang digunakan di Yohanes 15:26 dan pada Syahadat Konstantinopel.

Pada Surat 55, St. Sirilus menyamakan kedua kata kerja itu sehubungan berasalnya Roh Kudus dari Bapa. Karena itu, waktu St. Sirilus berkata bahwa Roh Kudus dicurahkan/mengalir dari Putra dengan menggunakan kata Προχειται (prokeitai), ini setara mengajarkan bahwa Roh berasal dari Putra. Bahkan, ada berbagai Bapa yang menggunakan kata kerja:

Προϊενάι (proienai – yang berarti saya melaju)

untuk merujuk kepada asal hipostatik Roh Kudus. Kata kerja ἐκπορευεμαι (ekporeuemai) bukan satu-satunya yang digunakan untuk mengungkapkan konsep ini, tidak seperti yang beberapa kaum skismatis Timur mungkin ingin anda percayai. Dengan demikian, sama sekali tidak ada alasan untuk membuat pembedaan signifikan antara berbagai kata kerja yang digunakan untuk menggambarkan asal abadi atau mengalirnya Roh Kudus dalam keabadian. Sejumlah kata kerja yang berbeda dapat di dalam konteks tertentu digunakan sebagai sinonim. 

Menarik juga untuk mencatat perkataan St. Tomas Aquinas pada poin ini. St. Tomas memang membahas klaim beberapa orang di Timur yang berargumen bahwa berkata Roh Kudus dicurahkan atau mengalir dari Putra tidak berarti Roh Kudus berasal dari Putra. St. Tomas dengan benar menunjukkan bahwa klaim semacam itu bodoh. Berikut perkataannya:

St. Tomas Aquinas, Summa Theologiae, Bagian I, Pertanyaan 36, Artikel 2:
Dan beberapa dari mereka [yakni, oknum tertentu di Timur] dikatakan mengakui bahwa ‘Dia [Roh Kudus] adalah dari Putra’; atau bahwa ‘Dia mengalir dari Putra’, namun bukan bahwa Dia berasal. Ini tampaknya bersumber dari ketidaktahuan atau ketegaran. Sebab siapa saja mempertimbangkan dengan benar, akan mendapati bahwa kata asal merupakan yang terlazim dari segala sesuatu yang menandakan asal-usul macam apa pun juga.

Sebab kita menggunakan istilah tersebut untuk mengutarakan segala macam asal-usul; seperti ketika kita berkata bahwa sebuah garis berasal dari sebuah titik, secercah sinar dari matahari, sungai dari mata air, dan demikian pula adanya dengan segala sesuatu yang lain. Maka dari itu, berdasarkan hal-hal lain yang berkenaan dengan asal-usul ini, dapat disimpulkan bahwa Roh Kudus berasal dari Putra.”

Maka, argumen dari oknum skismatis itu tidak berbobot, mereka yang mengungkit-ungkit bahwa Roh Kudus dicurahkan dari Putra, namun tidak berasal dari-Nya. Argumen mereka ini omong kosong, dan dibantah oleh perkataan St. Sirilus sendiri.

Ini membawa kita pada masalah besar lainnya dalam bidah penolakan Ortodoks Timur terhadap doktrin Filioque. Masalahnya, umpamanya doktrin Filioque tidak benar, lantas Putra dan Roh Kudus tidak akan dapat dibedakan satu sama lain. Pendapat keliru kaum Ortodoks Timur berujung pada pandangan bahwa Putra dan Roh Kudus adalah pribadi yang sama. Santo Tomas Aquinas menjelaskan:

St. Tomas Aquinas, Summa Theologiae, Bagian I, Pertanyaan 36, Artikel 2:
“ … perlu dikatakan bahwa Roh Kudus adalah dari Putra. Sebab sekiranya Roh Kudus bukanlah dari Putra, lantas Roh Kudus sebagai pribadi sama sekali tidak akan dapat dibedakan dari Putra. Hal ini jelas dari yang sudah dikatakan sebelumnya. Sebab tidak mungkin dikatakan bahwa pribadi-pribadi ilahi dibedakan yang satu dengan yang lainnya berdasarkan sesuatu yang absolut, karena konsekuensinya adalah ketiga-tiganya tidak memiliki satu esensi; sebab segala sesuatu yang dikatakan secara absolut tentang Allah berkaitan dengan kesatuan esensi.

Maka, perlu disimpulkan bahwa pribadi-pribadi ilahi dibedakan yang satu dari yang lain hanya dengan relasi-relasi mereka. Namun, relasi tidak dapat membedakan pribadi-pribadi, kalau relasi-relasi itu tidak saling berlawanan. Ini terlihat jelas dari fakta bahwa Bapa memiliki dua relasi: yang satu berkaitan dengan Putra, yang lain dengan Roh Kudus. Namun demikian, karena kedua relasi ini tidak berlawanan yang satu dengan yang lain, relasi-relasi ini tidak menghasilkan adanya dua pribadi, namun hanya berhubungan dengan satu pribadi Bapa saja.

Itulah sebabnya, sekiranya dalam diri Putra dan Roh Kudus ditemukan dua relasi saja yang menghubungkan mereka masing-masing dengan Bapa, relasi-relasi itu tidak akan berlawanan yang satu dengan yang lain, sebagaimana kedua relasi yang menghubungkan Bapa dengan mereka tidak saling berlawanan. Maka dari itu, menimbang pribadi Bapa satu adanya, akan disimpulkan bahwa pribadi Putra dan Roh Kudus adalah satu pribadi, yang memiliki dua relasi berlawanan dengan dua relasi milik Bapa.”

Seperti diutarakan oleh St. Tomas, penolakan terhadap Filioque berujung pada posisi bahwa Putra dan Roh Kudus adalah pribadi yang sama, dan itu bidah. Namun dalam teologi Kristen sejati, yaitu di dalam teologi Katolik, Putra dan Roh Kudus secara riil dibedakan satu dengan yang lain, karena Putra adalah dari Bapa saja, sedangkan Roh Kudus adalah dari Bapa dan Putra.

Fakta ini (yang terkait dengan kebenaran tentang pembedaan antara prosesi akal dan prosesi kehendak dalam diri Allah) adalah alasan kelahiran abadi Putra benar-benar berbeda dengan prosesi Roh Kudus. Itulah sebabnya syahadat yang disebut sebagai Syahadat Atanasius menyatakan demikian:

Syahadat Atanasius: “Sebab sama halnya kita didesak oleh kebenaran Kristiani untuk mengakui masing-masing pribadi sebagai Allah dan Tuhan, demikian juga kita dilarang oleh agama Katolik untuk berkata bahwa ada tiga ilah atau tuhan. Bapa tidak dijadikan atau diciptakan atau dilahirkan oleh siapa pun; Putra hanyalah dari Bapa saja, tidak dijadikan, ataupun diciptakan, melainkan dilahirkan. Roh Kudus adalah dari Bapa dan Putra, tidak dijadikan, ataupun diciptakan, melainkan berprosesi.

Oleh sebab itulah, ada satu Bapa, bukan tiga bapa; ada satu Putra, bukan tiga putra; ada satu Roh Kudus, bukan tiga roh kudus. Dan dalam Tritunggal ini, tiada yang dahulu atau kemudian, tiada yang lebih besar atau lebih kecil, namun ketiga pribadi-Nya sama-sama abadi dan sama-sama setara satu sama lain, sehingga dalam segala sesuatu, seperti yang sudah dikatakan di atas, baik keesaan di dalam Tritunggal maupun Tritunggal di dalam keesaan harus disembah.

Oleh karena itu, barang siapa hendak diselamatkan, hendaknya ia berpikir demikian tentang Tritunggal.”

Perlu dicatat juga bahwa ada oknum skismatis Timur yang akan mencoba berkelit dari bukti yang mendukung Filioque, dengan membuat pembedaan antara prosesi abadi pribadi Roh Kudus, dan dengan yang mereka sebut sebagai “manifestasi abadi” Roh Kudus.

Tetapi, argumen itu juga keliru, tidak koheren, tidak berdasar dan sarat masalah. Bukti yang sudah kami sajikan dari Kitab Suci dan para Bapa memperlihatkan bahwa pribadi Roh Kudus adalah dari Putra dalam Tritunggal sendiri. Roh Kudus memiliki asal hipostatik dan kodrat ilahi-Nya dari Putra, sama seperti Dia juga memilikinya dari Bapa. Tidak ada yang disebut-sebut “manifestasi abadi”, dalam definisi yang kemungkinan mereka inginkan, seolah-olah ada saksi abadi selain ketiga pribadi Tritunggal Mahakudus, yang kepadanya Roh Kudus mungkin dapat “bermanifestasi secara abadi”. Soal Roh Kudus yang datang secara abadi, hanya ada prosesi abadi saja.

Seorang Bapa Timur lain yang mengajarkan Filioque adalah Epifanius dari Salamis. Dia menulis:

St. Epifanius, Ancoratus 67; PG 43 137B:
“Kristus dipercaya berasal dari Bapa, Allah dari Allah, dan Roh dari Kristus, dari kedua-duanya.”

Dia juga berkata:

St. Epifanius, Ancoratus 9; PG 32C:
“Roh adalah Allah yang berasal dari Bapa dan Putra.”

Ada banyak Bapa Latin yang juga bisa dikutip untuk mendukung Filioque, termasuk St. Hilarius, St. Ambrosius, St. Leo Agung, dsb. Beberapa individu ini diakui sebagai orang kudus oleh kaum “Ortodoks” Timur; padahal di waktu yang sama, banyak dari kaum Ortodoks Timur memandang posisi dari para Bapa itu soal Filioque sebagai bidah yang menyangkal Allah

Sekarang, mari kita membahas Pengutusan Pribadi-Pribadi Ilahi. Akan kita lihat bahwa pengutusan-pengutusan ini membuktikan Filioque.

Karena Allah ada di mana-mana dan menopang segala ciptaan dengan firman kuasa-Nya, Dia sudah aktif di dunia dengan sarana Kuasa/kemahabesaran-Nya. Tetapi, Allah itu berbeda dari ciptaan dalam realitas dan dalam esensi. Namun melalui yang disebut sebagai Pengutusan Ilahi (seperti Penjelmaan Allah Putra, kedatangan Roh Kudus di hari Pentakosta, dan kedatangan Roh Kudus untuk mendiami jiwa orang benar), Allah menjadi hadir di dunia ini dan di dalam manusia dengan suatu cara yang baru.

Sehubungan Penjelmaan/Inkarnasi, Perjanjian Baru berulang kali mengajarkan bahwa Allah Bapa mengutus Putra ke dunia.

Yohanes 3:17 – “Sebab Allah mengutus Putra-Nya ke dunia tidak untuk menghakimi dunia, sebaliknya supaya dunia dapat diselamatkan oleh-Nya.”

Yohanes 5:36 – “Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, bahwa Bapa yang mengutus Aku.”

Dengan Pengutusan Sementara ini, Bapa mengirim Putra ke dunia. Dan ini merupakan cerminan Prosesi Abadi, yang dengannya Bapa melahirkan Putra sepanjang keabadian. Harap dicatat ya: pengutusan sementara bukan kelahiran abadi, tetapi, pengutusan sementara merupakan cerminan asal-muasal Allah, dan boleh dibilang diatur oleh asal-muasal Allah. Pengutusan sementara bermula dalam waktu. Inilah alasan Galatia 4:4 berkata demikian:

Galatia 4:4 - “Namun ketika penggenapan waktu telah datang, Allah mengirimkan Putra-Nya supaya dilahirkan dari seorang wanita ....”

Pengutusan sementara Yesus, yaitu ketika Dia diutus oleh Bapa, mencerminkan bagaimana Yesus datang dari Bapa sepanjang keabadian dalam Tritunggal. Kaum “Ortodoks” Timur menolak adanya hubungan antara pengutusan sementara dengan relasi abadi asal-muasal di dalam Tritunggal, tetapi posisi mereka keliru. Contohnya, harap pertimbangkan hal berikut.

Yohanes 17:23 – “ … agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.”

Yohanes 17:25 – “Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku ....”

Harap diperhatikan ya: tahu bahwa Yesus diutus oleh Bapa adalah komponen kunci pesan Injil. Ini sering kali diutarakan dengan menonjol, sama seperti perlunya pengetahuan dan kepercayaan bahwa Yesus adalah Putra Allah. Fokus Injil pada bagaimana Bapa mengutus Putra, mendukung posisi bahwa pengutusan sementara mencerminkan kebenaran bahwa Putra sepanjang keabadian berasal dari Bapa di dalam Tritunggal. Sekali lagi: pengutusan sementara – pengutusan yang dilakukan oleh Bapa – berbeda dengan kelahiran abadi, tetapi merupakan cerminannya. Hubungan erat antara kedua konsep ini kita lihat di Yohanes 8:42:

Yohanes 8:42 - “Jikalau Allah itu Bapamu, niscayalah kamu mengasihi Aku, karena daripada Allah Aku datang dan Aku ada di sini; karena Aku pun bukan datang dengan kehendak-Ku sendiri, melainkan Ialah yang mengutus Aku.”

Bagian pertama dari ayat ini yang berbunyi: “daripada Allah aku datang”, sering dimengerti merujuk kepada kelahiran abadi. Seperti itulah, contohnya, cara St. Atanasius & St. Tomas Aquinas memahaminya. Namun bagian keduanya, yang berbunyi “Ialah yang mengutus Aku”, mengacu kepada pengutusan sementara. Tetapi, coba diperhatikan betapa erat kaitan kedua konsep ini dituangkan dalam Injil. Alasannya: meskipun keduanya berbeda satu sama lain, pengutusan sementara mencerminkan relasi dalam Tritunggal. Bapa tidak diutus: karena dalam Tritunggal sendiri, Bapa bukan dari siapa pun juga.

Maka dari itu, berkata seperti kaum skismatis Timur, bahwa pengutusan sementara (seperti Bapa mengutus Putra ke dunia) tidak mencerminkan/tidak berpatokan pada relasi-relasi asal-muasal abadi dalam Tritunggal, adalah perbuatan yang keliru. Jadi, Bapa mengutus Putra dalam pengutusan sementara karena Bapa sepanjang keabadian melahirkan Putra dalam Tritunggal. Nah, dalam Kitab Suci, kita mendapati pula bahwa Roh Kudus diutus ke dunia.

Yohanes 14:26 - “ … tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”

Di sini, kita melihat bahwa Roh Kudus diutus oleh Bapa. Mengapa, kok Roh Kudus diutus ke dunia oleh Bapa? Alasannya: Roh Kudus berasal dari Bapa di dalam Tritunggal. Tetapi, coba tebak apa lagi! Roh Kudus juga diutus ke dunia oleh Putra.

Yohanes 16:7 – Yesus berkata: “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.”

Ini adalah bukti lain yang kuat mendukung Filioque, sebab meskipun pengutusan Roh Kudus yang dilakukan Putra ini merujuk pada pengutusan sementara, dan bukan prosesi abadi, namun ini mencerminkan prosesi abadi. Di Yohanes 15:26, kita juga mendapati Yesus mengutus Roh Kudus. Dalam pengutusan sementara pribadi ilahi hanya diutus oleh pribadi atau pribadi-pribadi dari mana dia muncul di dalam Tritunggal abadi. Itulah sebabnya Bapa tidak diutus. Alasan Bapa serta Putra mengutus Roh Kudus, adalah di dalam Tritunggal sendiri, Roh Kudus sepanjang keabadian berasal dari Bapa dan Putra, seperti yang sudah kami tunjukkan.

Harap dicatat pula, bahwa pengutusan pribadi ilahi kembali lagi membuktikan perbedaan riil antara pihak pengutus dan pihak diutus. Meski Bapa, Putra dan Roh Kudus persis sama di dalam esensi, namun mereka adalah Pribadi yang berbeda, tidak seperti pandangan sejumlah kaum bidah modalis yang sedang bertumbuh jumlahnya di kalangan Protestan tertentu di zaman kita ini. Mereka menganut pandangan bidah bahwa Bapa, Putra dan Roh Kudus adalah Pribadi yang sama.

Untuk semakin meneguhkan bahwa pengutusan sementara mencerminkan prosesi abadi, harap dipertimbangkan bahwa karena ketiga Pribadi ilahi itu setara, pengutusan sementara Pribadi ilahi tidak mungkin berlangsung dengan perintah atau nasihat; namun justru mencerminkan prosesi asal-muasal. Pengutusan sementara Pribadi ilahi tidak mungkin berlangsung dengan perintah atau nasihat, karena mereka setara. Ini poin yang sangat signifikan untuk membantah posisi bidah kaum Ortodoks Timur.

Mereka biasanya menolak pandangan bahwa pengutusan sementara mencerminkan Tritunggal abadi. Karena itu, posisi mereka lantas adalah sebagai berikut: diutusnya Putra oleh Bapa ke dunia, dan diutusnya Roh Kudus ke dunia oleh Bapa dan Putra, tidak diatur atau tidak berpatokan pada prosesi-prosesi ilahi, namun diatur oleh sesuatu yang lain. Ya, sesuatu yang lain itu hanya mungkin merupakan perintah atau nasihat, dan dengan demikian berujung pada bidah subordinasionisme: pandangan bahwa Putra di bawah Bapa dan Roh Kudus di bawah Bapa dan Putra. Tetapi itu bertentangan dengan iman Kristiani.

Sebagai ilustrasi poin ini, St. Tomas Aquinas menyebutkan bahwa sebuah pengutusan memiliki praanggapan adanya pengaruh tertentu dari pihak pengutus kepada pihak yang diutus. Pengaruh pihak pengutus ini memiliki hakikat sebuah perintah (seperti ketika majikan mengutus hambanya), atau hakikat sebuah nasihat (seperti ketika seorang penasihat dikatakan menyuruh orang pergi ke medan perang), atau hakikat asal-muasal (seperti ketika dedaunan muncul dari pohon).

Tetapi, pribadi ilahi tidak diutus dengan perintah atau nasihat, karena perintah atau nasihat menengarai adanya superioritas dari pihak pemberi perintah/pemberi nasihat. Yang memberi perintah itu lebih besar, dan yang memberi nasihat itu lebih bijak. Dengan demikian, pengutusan pribadi ilahi berpolakan prosesi asal-muasal. Itulah sebabnya, kalau Roh Kudus diutus oleh Bapa dan Putra, ini dikarenakan Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra. Kalau dipertimbangkan bersama dengan banyak poin lain yang sudah kami bahas, poin-poin tentang pengutusan ini seharusnya meyakinkan siapa saja bahwa Filioque itu benar.

Meski begitu, ada berbagai oknum bidah Ortodoks Timur yang akan tetap menolak dengan berkata bahwa pengutusan sementara tidak mencerminkan Tritunggal abadi. Mereka mungkin berargumen bahwa di dalam Syahadat, Yesus dikatakan telah “menjelma atau dikandung dari Roh Kudus”, walaupun Yesus tentu saja tidak berasal dari Roh Kudus di dalam Tritunggal. Tetapi, argumen-argumen seperti itu salah karena mencampuradukkan pengutusan pribadi ilahi dengan penggenapan efek pengutusan tersebut.

Penggenapan efeknya, yaitu menjelma menjadi manusia, dimungkinkan terjadi oleh karena kuasa Roh Kudus, yang juga merupakan kuasa Bapa dan Putra. Namun, yang mengutus Putra ke dunia hanyalah Bapa sendiri. Demikian pula, yang mengutus Roh Kudus ke dunia adalah Bapa dan Putra. Jadi, gagal sudah semua argumen yang mencampuradukkan pengutusan pribadi ilahi dengan penggenapan efeknya.

Ada juga orang-orang tertentu yang menolak, dengan berkata bahwa di Yesaya 48:16, dikatakan bahwa Roh mengutus Mesias, Mesias yang adalah Putra Allah; padahal dalam Tritunggal, Roh Kudus tidak mengutus Putra.

Yesaya 48:16 – “Dan sekarang, Tuhan Allah mengutus aku dengan Roh-Nya.”

Tetapi argumen itu gagal. Karena, yang mengucapkan kata-kata di Yesaya 48:16 ini adalah Nabi Yesaya, bukan Mesias.

Ada juga argumen serupa yang dibuat berdasarkan Lukas 4:18. Di ayat ini dan ayat selanjutnya, dikisahkan bahwa Yesus membaca kita-kita Mesias dari naskah kitab Yesaya dan memberitakan bahwa Dialah yang menggenapi nas itu.

Lukas 4:18-19 - “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia [Tuhan] telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas ....”

Tetapi, argumen ini gagal, karena Lukas 4:18 mengutip Yesaya 61:1. Dan di Yesaya 61:1, subjek dari kata kerja “mengutus” bukan Roh, melainkan Tuhan.

Yesaya 61:1 - “Roh Tuhan Allah ada padaku, oleh karena Tuhan telah mengurapi aku; Ia [Tuhan] telah mengutus aku untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang sengsara, dan merawat orang-orang yang remuk hati, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan kepada orang-orang yang terkurung kelepasan dari penjara ....”

Jadi, Tuhan yang mengutus, seperti disebutkan pada ayat ini, bisa dimengerti sebagai Allah Bapa.

Terlebih, teks Lukas 4:18 juga telah dipahami beberapa orang dengan makna bahwa Kristus, dalam kehendak manusia-Nya, diutus oleh Roh Kudus untuk tugas-tugas spesifik dan bahwa penggenapan karya-Nya berbeda dengan pengutusan-Nya ke dunia oleh Bapa. Maka gagal sudah argumen-argumen yang mencoba menyangkal bobot dari makna pengutusan sementara sehubungan Tritunggal.

Salah satu alasan Perjanjian Lama berulang kali menekankan bahwa Bapa mengutus Putra ke dunia, dan menjadikan hal ini sebagai komponen kunci wahyu Kristiani, adalah pengutusan Putra oleh Bapa ini mencerminkan kebenaran bahwa dalam Tritunggal sendiri, Putra muncul dari Bapa. Begitu juga, alasan Bapa dan Putra mengutus Roh Kudus ke dunia, adalah pengutusan Roh Kudus oleh kedua-duanya ini mencerminkan kebenaran tentang prosesi abadi Roh Kudus dari Bapa dan Putra. Inilah juga alasan Bapa tidak diutus.

Karena kami sudah membahas perbedaan riil antara pribadi-pribadi di dalam Allah Tritunggal, penting untuk memahami maknanya, ketika kami berkata bahwa ketiga pribadi itu memiliki esensi ilahi yang sama.

Ini adalah yang disebut sebagai keesaan numerik dari esensi/kodrat/substansi ilahi.

Ada banyak kutipan dari para Bapa, orang kudus, dsb. yang merujuk kepada esensi Bapa atau esensi Putra atau esensi Roh Kudus. Kutipan-kutipan ini benar, karena esensi/kodrat/substansi ilahi memang merupakan milik setiap pribadi. Tetapi, pernyataan-pernyataan ini tidak menentang kebenaran bahwa ketiga pribadi Tritunggal memiliki esensi ilahi yang persis sama – esensi ilahi tunggal satu-satunya. Hanya ada satu, dan hanya mungkin ada satu esensi ilahi.

Jadi, bukan berarti Bapa memiliki esensi ilahi, dan Putra memiliki esensi ilahi lain yang setara, serta Roh Kudus memiliki esensi ilahi lain yang setara pula. Bukan. Ketiga pribadi memiliki esensi ilahi yang tunggal, satu-satunya esensi ilahi yang ada. Inilah maksud perkataan bahwa esensi ilahi itu satu secara numerik, atau secara numerik sama di dalam ketiga pribadi. Karena esensi ilahinya secara numerik hanya ada satu dalam tiga pribadi, hanya ada satu Allah, bukan tiga.

Ulangan 6:4 - “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa!”

Yesaya 45:6 – “ … supaya orang tahu dari terbitnya matahari sampai terbenamnya, bahwa tidak ada yang lain di luar Aku. Akulah Tuhan dan tidak ada yang lain ....”

Yesaya 46:8-10 – “Ingatlah hal itu dan jadilah malu, pertimbangkanlah dalam hati, hai orang-orang pemberontak! Ingatlah hal-hal yang dahulu dari sejak purbakala, bahwasanya Akulah Allah dan tidak ada yang lain, Akulah Allah dan tidak ada yang seperti Aku, yang memberitahukan dari mulanya hal yang kemudian dan dari zaman purbakala apa yang belum terlaksana ....”

Seperti dideklarasikan oleh Konsili Florence:

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Cantate Domino”, 1441, ex cathedra:
Ketiga pribadi ini adalah satu Allah, bukan tiga ilah, karena ketiga-tiga-Nya memiliki satu substansi, satu esensi, satu kodrat, satu keilahian, satu kemahabesaran, satu keabadian, dan semuanya satu adanya dengan syarat hal ini tidak dimustahilkan oleh oposisi relasi. Karena kesatuan ini, Bapa utuh adanya di dalam Putra dan utuh adanya di dalam Roh Kudus, Putra utuh adanya di dalam Bapa dan utuh adanya di dalam Roh Kudus, Roh Kudus utuh adanya di dalam Bapa dan utuh adanya di dalam Putra. Tiada satu pun yang mendahului yang lain dalam keabadian, atau melampaui yang lain dalam kebesaran, ataupun melebihi yang lain dalam kuasa.”

Demikian juga, Konsili Konstantinopel II menyatakan:

Konsili Konstantinopel II, 553, Kanon 1:
“Barang siapa tidak mengakui kodrat atau esensi yang tunggal milik Bapa dan Putra dan Roh Kudus, serta kekuatan dan kuasa yang tunggal, Tritunggal sehakikat yang harus disembah sebagai satu Ketuhanan dalam tiga hipostasis atau pribadi, terkutuklah orang semacam itu ....”

Poin lainnya yang menarik dan penting adalah meskipun ada perbedaan riil antara pribadi-pribadi itu sendiri dalam Tritunggal – seperti antara Bapa dan Putra, dan antara Putra dan Roh Kudus, dsb. – tidak ada perbedaan riil antara pribadi ilahi dengan esensi ilahi. Maka dari itu, ketika kita membandingkan Bapa dengan Putra, Putra dengan Roh Kudus, dan Bapa dengan Roh Kudus, Bapa bukanlah Putra, Putra bukanlah Roh Kudus, dsb.

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Cantate Domino”, 1441, ex cathedra:
“ ... Gereja Roma Adikudus ... dengan teguh percaya, mengakui dan mengkhotbahkan satu Allah benar, Mahakuasa, tidak dapat berubah dan abadi: Bapa dan Putra dan Roh Kudus; satu dalam esensi, tiga dalam pribadi, Bapa tak dilahirkan, Putra dilahirkan dari Bapa, Roh Kudus berasal dari Bapa dan Putra; Bapa bukanlah Putra ataupun Roh Kudus, Putra bukanlah Bapa ataupun Roh Kudus, Roh Kudus bukanlah Bapa ataupun Putra, namun hanya Bapa sendirilah Bapa, hanya Putra sendirilah Putra, hanya Roh Kudus sendirilah Roh Kudus.”

Ada perbedaan riil antara pribadi-pribadi ilahi sendiri atas dasar oposisi relasi. Tetapi, ketika kita membandingkan Bapa dengan esensi ilahi, atau Putra dengan esensi ilahi, atau Roh Kudus dengan esensi ilahi, tidak ada perbedaan riil antara pribadi ilahi dengan esensi ilahi. Masing-masing pribadi, baik secara individu maupun ketiganya bersama-sama, dalam realitas identik dengan esensi ilahi. Soal perkara ini, Konsili Lateran IV menyatakan:

Paus Inosensius III, Konsili Lateran IV, 1215:
“ ... ada satu realitas terluhur yang bahwasanya tak terselami dan tak terlukiskan [yaitu esensi ilahi]. Realitas itu sesungguhnya adalah Bapa, dan Putra dan Roh Kudus; tiga pribadi bersama-sama, dan masing-masing dari mereka secara individu: dan dengan demikian, di dalam Allah hanya ada Tritunggal, bukan caturtunggal, sebab tiap-tiap dari ketiga pribadi itu merupakan realitas tersebut, yakni substansi, esensi atau kodrat ilahi. Realitas itulah satu-satunya pangkal keberadaan segala sesuatu, dan selain realitas itu tidak mungkin didapati sesuatu pun juga ....”

Bapa adalah esensi ilahi, Putra adalah esensi ilahi, Roh Kudus adalah esensi ilahi. Begitu juga, Bapa, Putra dan Roh Kudus adalah esensi ilahi. Ini masuk akal sewaktu anda mempertimbangkan bahwa esensi ilahi adalah Allah, dan Bapa adalah Allah, Putra adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah. Meskipun ada banyak pihak otoritas dan teks terkemuka yang berbicara tentang Bapa, Putra dan Roh Kudus memiliki/mempunyai esensi atau kodrat ilahi (dan ini memang bisa dibicarakan secara benar), perlu kita akui bahwa ungkapan semacam itu tidak bermaksud menunjukkan adanya perbedaan riil antara pribadi Ilahi dengan esensi ilahi.

Memang benar: tidak mungkin ada perbedaan riil antara pribadi ilahi dengan esensi ilahi, sebab sekiranya ada, lantas akan ada suatu entitas ilahi tertinggi, yaitu esensi, yang bukan salah satu pun dari ketiga pribadi. Namun pandangan semacam itu keliru. Inilah alasan St. Tomas mengutip St. Agustinus:

St. Tomas Aquinas, Summa Theologiae, Bagian I, Pertanyaan 39, Artikel 1:
“Agustinus berkata: Ketika kita menyebut Pribadi Bapa, kita tidak mengatakan apa pun selain substansi Bapa.”

Jadi, pribadi-pribadi ilahi tidak secara riil berbeda dari esensi ilahi, meskipun mereka secara riil berbeda satu sama lain akibat oposisi relasi. Terlebih, meskipun masing-masing pribadi ilahi secara riil saling berbeda satu sama lain, apa yang merupakan masing-masing pribadi itu (yaitu Allah/esensi ilahi) identik. Itulah sebabnya, setelah menunjukkan perbedaan antara pribadi-pribadi itu sendiri, Konsili Lateran IV menyatakan:

Paus Inosensius III, Konsili Lateran IV, 1215:
“ ... namun apa yang merupakan Bapa, seutuh-utuhnya sama dengan Putra dan Roh Kudus, sehingga seturut iman ortodoks dan Katolik, mereka dipercaya sehakikat.”

Itulah sebabnya, Bapa Timur St. Gregorius dari Nazianzus menyatakan demikian:

St. Gregorius dari Nazianzus, Orasi 31, #9, Abad IV:
“Sebab Putra juga bukan Bapa, karena Bapa adalah Satu, namun Dia [Putra] adalah apa yang merupakan Bapa; Roh pun bukan Putra … namun Dia [Roh Kudus] adalah apa yang merupakan Putra.”

Tentang poin terkait dengan masing-masing pribadi identik dengan Allah, Konsili Lyon II di bawah Paus Gregorius X juga menyatakan:

Paus Gregorius X, Konsili Lyon II¸1274:
“Kami percaya bahwa masing-masing Pribadi secara individu dalam Tritunggal adalah Allah Maha Esa yang benar, utuh dan sempurna.”

Karena masing-masing pribadi secara individu sepenuhnya Allah, lantas ketiga pribadi bersama-sama tidak membentuk suatu kesempurnaan lebih besar atau lebih banyak lagi daripada masing-masing pribadi secara individu. Alasannya, esensi ilahi ada dalam setiap pribadi, dan kenyataannya memang merupakan masing-masing pribadi itu. Itulah sebabnya Yesus berkata kepada Filipus, seperti tercatat di Yohanes 14:9

Yohanes 14:9 - “Kata Yesus kepadanya: ‘Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.’”

Putra bukanlah Bapa ataupun Roh Kudus, karena ada perbedaan riil antara pribadi-pribadi Tritunggal sendiri.

Yohanes 16:28 – “ … Aku telah datang daripada Bapa, lalu masuk ke dalam dunia.”

Namun apa yang merupakan Putra (yaitu, Allah/esensi ilahi) identik dengan apa yang merupakan Bapa dan Roh Kudus. Ada oknum bidah tertentu yang membuat penolakan menyesatkan, melawan kebenaran luhur bahwa setiap pribadi ilahi Tritunggal secara riil identik dengan esensi ilahi. Mereka membuat penolakan ini, karena mereka gagal untuk memahami suatu poin lain yang lebih subtil: bahwa istilah “pribadi” dan “esensi” memiliki modus pemahaman yang berbeda. Karena istilah pribadi dan esensi memiliki modus pemahaman yang berbeda, kedua istilah ini hendaknya tidak digunakan secara bergantian dalam setiap konteks.

Konsili Kalsedon, 451:
“ … Kristus, Putra Tunggal sejati yang dilahirkan, Tuhan yang satu dan sama, Dia harus diakui tanpa percampuran, tanpa perubahan, tanpa pembagian maupun pemisahan. Perbedaan kodrat-kodrat-Nya tidak pernah terhapus akibat persatuan, namun kekhasan dari kedua kodrat-Nya justru tetap terjaga dan bersatu dalam satu pribadi serta satu hipostasis ....”

Contohnya, ketika kita membahas misteri Penjelmaan: karena persatuan kedua kodrat terjadi dalam pribadi, bukan dalam kodrat: maksudnya, terjadi dalam diri Putra sebagai pribadi yang berbeda dengan Bapa dan Roh Kudus, apa yang dinyatakan tentang pribadi Putra di dalam kemanusiaan-Nya, tidak dinyatakan tentang esensi ilahi itu sendiri, melainkan hanya tentang pribadi Putra saja. Maka dari itu, pada banyak konteks, harus kita perbedakan istilah pribadi dengan esensi, atau pribadi dengan kodrat.

Dalam video ini, kami tidak akan menghabiskan waktu lagi untuk terus membantah berbagai argumen keliru yang sudah dibuat soal perkara itu. Namun, akan kami kutip seorang bidah “Ortodoks” Timur. Dia berpikir bahwa dogma Kristiani yang baru saja kami bahas: yaitu, berkata bahwa masing-masing pribadi adalah esensi dalam realitas, meskipun masing-masing pribadi-Nya berbeda satu sama lain, adalah pandangan yang salah. Si bidah itu menyatakan:

[Dyer:] Di Tradisi Katolik Roma, ada begitu banyak campur aduk antara pribadi dan energi-energi, serta pribadi dan esensi … Shoe-on [tokoh internet] tidak paham bahwa dalam teologi kami, Bapa bukan hal yang sama dengan esensi Allah.

Dia berkata bahwa Bapa bukan hal sama dengan esensi Allah. Menarik ya, St. Atanasius justru mengajarkan kebalikannya.

St. Atanasius, Tentang Konsili Nisea, De Decretis, #22, sekitar tahun 351:
“Namun jikalau Allah sederhana, sebagaimana Dia memang demikian adanya, lantas sangat jelaslah ketika kita berkata ‘Allah’ dan menyebut Bapa, kita tidak sedang menyebut sesuatu di sekeliling-Nya, namun yang kita maksud adalah esensi (ousia)-Nya sendiri.”

Seperti yang bisa kita lihat, yang diajarkan St. Atanasius justru 180 derajat berkebalikan dengan si bidah itu. St. Atanasius mengajarkan kebalikan dari pandangan si bidah itu, karena St. Atanasius orang Kristen, dan si bidah Ortodoks Timur bukan. Harap dicatat pula, bahwa St. Atanasius berkata, bahwa ketika kita berkata Allah, kita tidak sedang menyebut sesuatu di sekeliling Allah. Ini hanyalah salah satu dari banyak kutipan dari St. Atanasius yang menentang posisi bidah “Ortodoks” Timur tentang “energi-energi tak tercipta”, yang mereka klaim berada di sekeliling esensi ilahi, namun bukan esensi ilahi itu. Bahkan, pada konteks yang sama, St. Atanasius juga menyatakan:

St. Atanasius, Tentang Konsili Nisea, De Decretis, #22, sekitar tahun 351:
“Namun jika seseorang memandang Allah sebagai komposit, sebagai esensi yang di dalamnya terdapat aksiden, atau memiliki selubung luar serta terbungkus dan tersembunyi (kaluptesthai), atau jika seseorang berpendapat bahwa ada sesuatu di sekeliling-Nya (peri auton) yang melengkapi esensi-Nya, sehingga ketika kita berkata ‘Allah’ atau menyebut-Nya ‘Bapa,’ yang kita maksud bukanlah esensi yang tak terlihat dan tak terselami itu sendiri melainkan sesuatu dari apa yang ada di sekeliling Allah, maka hendaknya mereka mengecam konsili karena telah menulis bahwa ‘Putra berasal dari esensi Allah.’ Namun, hendaknya mereka perhatikan baik-baik bahwa berpikir demikian adalah menghujat dua kali lipat .…”

Ini jelas berkontradiksi dengan ajaran bidah “Ortodoks” Timur, dan si orang bidah yang sudah dikutip sebelumnya. St. Atanasius mengutarakan poin bahwa esensi Allah tak terselami. Maka, tidak ada kata-kata yang kita punya yang dapat menangkap esensi-Nya dengan sempurna. Namun, St. Atanasius mengajarkan bahwa ketika kita menyebut Allah atau nama Bapa, maksud yang hendak kita sampaikan, sejauh yang kita bisa, adalah esensi tak terselami itu sendiri – justru berlawanan dengan pendapat si bidah.

Tetapi, meski seperti yang sudah kami sebutkan, pribadi Bapa identik dengan esensi ilahi ketika kedua-duanya dibandingkan, namun pribadi Bapa benar-benar merupakan pribadi yang berbeda dengan Putra dan Roh Kudus. Pada perikop ini, St. Atanasius juga mengajarkan bahwa kalau orang berkata bahwa Allah atau Bapa mungkin merupakan sesuatu yang ada di sekeliling esensi ilahi, orang itu menghujat dua kali lipat. Namun inilah yang justru yang persisnya dilakukan kaum Ortodoks Timur, ketika mereka menganut posisi keliru bahwa dalam Allah sendiri, ada perbedaan riil antara esensi ilahi dengan “energi-energi tak tercipta”. Mereka mengklaim bahwa “energi-energi tak tercipta” sepenuhnya Allah dan ada di sekeliling esensi ilahi serta dapat dilihat secara terpisah dari esensi ilahi.

Gregorius Palamas, Triade:
“Tak satu pun dari hal-hal ini merupakan esensi Allah – kebaikan tak tercipta bukan, kehidupan kekal pun bukan; semua hal ini ada bukan dalam Dia, namun di sekeliling-Nya.”

Gregorius Palamas, Triade:
“Pertama-tama, esensi itu tunggal, meskipun sinar-sinarnya ada banyak, dan dikirim keluar dengan cara yang layak bagi mereka yang turut serta dalam sinar-sinar itu, diperbanyak sesuai kemampuan yang beragam dari mereka yang menerima sinar-sinar tersebut ....”

Gregorius Palamas, Triade:
“ … Esensi-Nya, yang melebihi energi-energi tak tercipta-Nya sekalipun, karena Esensi ini melampaui segala afirmasi dan segala negasi.”

Itu adalah bidah, seperti yang sudah kami tunjukkan pada video kami berjudul “Ortodoksi” Timur Terbongkar: Doktrin Sesat Mereka tentang Allah. Seperti yang bisa kita lihat di sini, prinsip-prinsip St. Atanasius juga membuktikan bahwa posisi mereka bidah. Untuk semakin membuktikan secara dogmatis bahwa Gereja Katolik benar dalam menyatakan bahwa Bapa identik dengan Esensi Ilahi ketika kedua-duanya dibandingkan, mari kita mengutip Konsili Nisea sendiri. Kebenaran ini notabene juga berlaku kepada Putra dan Roh Kudus, ketika mereka dibandingkan dengan Esensi Ilahi. Sekali lagi, Konsili Nisea adalah konsili yang kaum “Ortodoks” klaim mereka terima. Konsili Nisea menyatakan:

Konsili Nisea, 325, Pengakuan Iman:
“Kami percaya akan satu Tuhan Yesus Kristus, Putra Allah, Putra Tunggal yang dilahirkan dari Bapa, yakni, dari esensi Bapa, Allah dari Allah ....”

B. Yunani: “Πιστεύομεν εἰς ἕνα Κύριον Ἰησοῦν Χριστόν, τὸν υἱὸν τοῦ Θεοῦ, γεννηθέντα ἐκ τοῦ Πατρὸς μονογενῆ, τοὐτέστιν ἐκ τῆς οὐσίας τοῦ Πατρός, Θεὸν ἐκ Θεοῦ...”

Harap perhatikan rumusannya ya: Konsili Nisea secara dogmatis menyatakan bahwa Putra adalah Putra tunggal yang dilahirkan dari Bapa, lalu menambahkan, “yakni τοὐτέστιν (tutestin), dari esensi Bapa”. Konsili Nisea dapat benar-benar berkata “dilahirkan dari Bapa” – yakni, dari esensi Bapa, karena Bapa identik dengan esensi ilahi ketika kedua-duanya dibandingkan. Tetapi, sewaktu Bapa dibandingkan dengan Putra, jati diri Bapa benar-benar berbeda dengan Putra akibat oposisi relasi. Karena kelahiran abadi melibatkan relasi Bapa dengan Putra, lantas pribadinya, yaitu Bapa, adalah yang melahirkan. Esensi ilahi tidak melahirkan. Namun esensi ilahi disalurkan kepada pribadi Putra dalam kelahiran abadi-Nya.

Inilah alasan kita tidak berkata bahwa esensi ilahi melahirkan, atau bahwa esensi ilahi dilahirkan, atau bahwa esensi ilahi berprosesi. Namun yang kita katakan adalah bahwa Bapa melahirkan, Putra dilahirkan dan Roh Kudus berprosesi, sehingga perbedaan-perbedaannya ada dalam pribadi dan kesatuannya ada dalam kodrat.

Menarik pula untuk dicatat bahwa orang bidah Ortodoks Timur yang sudah disebutkan itu juga mengklaim bahwa menurut agamanya, sewaktu Allah berkata kepada Musa di Keluaran 3:14, “AKU ADALAH AKU”, ini bukan pernyataan tentang keberadaan Allah atau esensi-Nya.

[Dyer:] Ketika Allah berkata di Keluaran 3, “Aku adalah Aku”, itu bukan pernyataan keberadaan secara umum. Itu adalah pernyataan perjanjian mengenai kepribadian, kepribadian ilahi. Namun, kita memang berkeberatan kalau pernyataan itu dianggap mengutarakan bahwa Allah sedang menyatakan esensi-Nya. Konyol, itu. Tidak ada hubungannya dengan itu. Itu bukan pernyataan mengenai superesensi.

Menurut si bidah, konyol kalau berkata bahwa Keluaran 3:14 adalah pernyataan tentang esensi Allah. Tetapi, St. Atanasius ternyata sekali lagi justru mengajarkan yang berkebalikan dengan pernyataan si bidah itu.

St. Atanasius, Tentang Konsili Nisea, De Decretis, #22, sekitar tahun 351:
Maka dari itu, ketika Dia berkata ‘Aku adalah Aku’ [Keluaran 3:14] dan ‘Akulah Tuhan Allah’ [Keluaran 20:2] dan manakala Kitab Suci berkata ‘Allah’, kita mengakui bahwa yang dimaksud ini tiada lain dari esensi (ousia)-Nya yang tak terselami itu sendiri dan kita memahami bahwa yang mereka bicarakan adalah Dia yang adalah Dia.”

Menurut St. Atanasius, ketika Allah berkata “Aku adalah Aku” atau “Aku adalah Aku yang ada”, maksud perkataan ini tidak lain dari esensi-Nya yang terselami itu sendiri. Namun menurut si bidah Ortodoks Timur, berkata demikian itu konyol.

[Dyer:] Ketika Allah berkata di Keluaran 3, “Aku adalah Aku”, itu bukan pernyataan keberadaan secara umum. Itu adalah pernyataan perjanjian mengenai kepribadian, kepribadian ilahi. Namun, kita memang berkeberatan kalau pernyataan itu dianggap mengutarakan bahwa Allah sedang menyatakan esensi-Nya. Konyol, itu. Tidak ada hubungannya dengan itu.

Bapa Gereja Timur St. Gregorius dari Nazianzus juga mengajarkan kebalikan dari pandangan si bidah itu pada poin ini.

St. Gregorius dari Nazianzus, Orasi 30, #18, Abad IV:
“Maka sejauh yang dapat kita jangkau, Dia yang adalah Dia [Keluaran 3:14], dan Allah, merupakan nama-nama istimewa Esensi-Nya ....”

Pada video ini, sudah kami tunjukkan bahwa Filioque adalah ajaran sejati Kekristenan. Namun, bagaimana dengan argumen bahwa Syahadat Konstantinopel tidak boleh diubah dan karena itu, penambahan klausa “dan Putra” pada syahadat itu adalah kekeliruan?

Konsili Efesus, 431: “Sinode Suci telah menetapkan bahwa tidak seorang pun diperkenankan mengemukakan, atau menulis, atau menyusun iman selain yang sudah didefinisikan oleh para Bapa kudus yang berhimpun bersama-sama di Nisea bersama Roh Kudus. Namun barang siapa berani menyusun iman lain, atau mengemukakannya, atau menawarkannya kepada orang-orang yang ingin bertobat kepada pengakuan akan kebenaran … akan dimakzulkan ....”

Orang-orang mengutarakan bahwa Konsili Efesus telah mendeklarasikan larangan untuk menulis atau menyusun iman yang lain dari Syahadat, dan bahwa Konsili Kalsedon menyatakan terlarang perihal menyampaikan simbol/syahadat yang lain kepada orang-orang yang ingin bertobat kepada pengakuan akan kebenaran. Argumen ini tidak berbobot. Pernyataan Efesus mengacu pada Syahadat Nisea tahun 325, yang lebih singkat daripada versi Syahadat yang terbit di Konstantinopel pada tahun 381.

St. Atanasius, Diskursus III Melawan Kaum Arian, Bab 25, #24, sekitar 356 M:
“Sebab Dia [Putra], seperti yang sudah dikatakan, memberi kepada Roh, dan segala sesuatu milik Roh, itu dimiliki-Nya dari Sabda.”

Filioque tidak mengubah iman yang diungkapkan di Nisea.

  • Syahadat Nisea tahun 325 diperluas pada tahun 381 untuk menyertakan pernyataan-pernyataan tambahan tentang Roh Kudus.

Tambahan-tambahan itu sah karena isinya memang benar dan disetujui oleh otoritas Gereja. Kalau pernyataan Efesus melarang Gereja menambahkan kata-kata benar macam apa pun juga pada Syahadat Nisea (yang sebetulnya tidak demikian), lantas Syahadat Konstantinopel sampai hari ini melanggar larangan itu:

  • Syahadat Konstantinopel tahun 381 bahkan tidak mengikutsertakan kata-kata “dari esensi Bapa”, yang sudah ada di Syahadat Nisea tahun 325.

Terlebih, di Syahadat Konstantinopel tahun 381 (yang dengan salah dianggap oleh kaum skismatis sama sekali tidak boleh disentuh):

  • Istilah ὁμοούσιος (homoousios) tidak digunakan dalam merujuk kepada Roh Kudus, dan Roh Kudus pun tidak secara jelas disebut sebagai Allah.

Justru, keilahian Roh Kudus ditengarai dengan berbagai cara yang lain, seperti ketika Dia disebut “Tuhan”, “yang menghidupkan”, dsb. Dan tentu saja sekarang kita tahu, bahwa seperti yang dideklarasikan secara eksplisit dalam pernyataan-pernyataan Gereja, Roh Kudus adalah Allah dan sehakikat dengan Bapa dan Putra. Maka, dulu ada tambahan-tambahan yang dibuat untuk Syahadat Nisea tahun 325, namun dibuat secara sah, karena memang benar dan sudah disetujui Gereja.

Dan juga, ada orang yang bertanya:

Mengapa, kok Syahadat tahun 381 hanya berkata “dari Bapa”, bukan “dari Bapa dan Putra”?

Jawabannya, penyangkalan terhadap Filioque bukan kontroversi pada waktu itu. Problem utamanya di waktu itu adalah penyangkalan terhadap keilahian Kristus dan Roh Kudus. Itulah sebabnya, demi menekankan keilahian Roh Kudus, Konsili Konstantinopel pada tahun 381 hanya mengutip ulang pernyataan Alkitab bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa. Konsili itu tidak membahas rinci prosesi Roh Kudus dari Bapa dan Putra, yang, seperti sudah kami tunjukkan, merupakan posisi sejati yang terbukti dari Kitab Suci dan diteguhkan oleh pernyataan-pernyataan para Bapa Timur dan Barat. Adapun pernyataan Kalsedon yang melarang menyampaikan simbol atau syahadat yang lain, itu merupakan Syahadat disiplin yang bertujuan melarang simbol-simbol lain yang tidak disetujui agar jangan sampai digunakan untuk mengonversikan orang-orang.

Konsili Kalsedon, 451:
“ ... Sinode suci ekumenis ini mendefinisikan bahwa tidak seorang pun diperkenankan mengemukakan iman yang lain, ataupun menulis, ataupun menyusun, ataupun merekayasa, ataupun mengajarkannya kepada orang lain. Namun barang siapa berani entah menyusun iman yang lain, atau mengemukakan, atau mengajarkan, atau menyampaikan Syahadat lain kepada mereka yang ingin bertobat kepada pengakuan akan kebenaran ... hendaknya mereka dimakzulkan ....”

Konsili-konsili di kemudian hari, termasuk konsili berikutnya, Konsili Konstantinopel II di tahun 553, tidak terhentikan oleh larangan Kalsedon ini untuk mempermaklumkan kanon-kanon dogmatis lain yang menjadi kaidah iman dan harus diterima oleh para konvert baru serta orang-orang lainnya. Gereja, melalui Paus yang menggunakan otoritas tertinggi atas Gereja Kristus, memiliki otoritas untuk menambahkan pernyataan yang benar pada Syahadat demi membela iman atau untuk semakin mengklarifikasi suatu poin.

Maka, sama sekali tidak ada bobot pada argumen bahwa Gereja tidak dapat menambahkan kata-kata “dan Putra” (yaitu, Filioque) pada Syahadat demi membela doktrin sejati dan demi mengungkapkannya. Itulah sebabnya Konsili Florence di bawah Paus Eugenius IV dengan benar mendeklarasikan:

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Laetentur Caeli”, 6 Juli 1439:
“Selain itu, Kami mendefinisikan bahwa penjelasan yang dinyatakan dengan ungkapan ‘Filioque’ (dan Putra) telah secara sah dan masuk akal ditambahkan pada Simbol Iman, demi menyatakan kebenaran dan karena kebutuhan yang pada waktu itu mendesak.”

Keabsahan ditambahkannya Filioque pada Syahadat diakui oleh para perwakilan dari kelima Takhta Patriarkal di Konsili Florence, dan juga oleh Metropolitan Rusia dan delegasi besar dari Yunani, yang mencakup orang-orang yang dahulunya pernah menentang Filioque. Setelah berlangsungnya berbagai perdebatan dan presentasi di Florence, orang-orang itu ujung-ujungnya menerima Filioque serta keabsahan ditambahkannya Filioque di dalam Syahadat.

Pada video ini sudah kami tunjukkan bahwa Filioque adalah doktrin sejati. Menyangkal doktrin tersebut, kendati sudah mendapat fakta-fakta ini, setara menyangkal iman sejati. Penolakan kaum skismatis Timur terhadap Filioque dahulu sering menjadi faktor penggerak mereka untuk menolak keutamaan yurisdiksi Paus. Berikut perkataan teolog Ortodoks Timur Vladimir Lossky. Dia menyebut Filioque sebagai “satu-satunya landasan dogmatis perpisahan Timur dan Barat.” (Vladimir Lossky, In The Image and Likeness of God, St. Vladimir’s Seminary Press, 1985, hal. 71)

Karena rangkaian sekte yang menyusun Ortodoksi Timur telah berkomitmen menyangkal Filioque, fakta-fakta yang sudah kami bahas dan yang membuktikan Filioque juga membuktikan bahwa Ortodoksi Timur adalah agama sesat, dan Gereja Katolik adalah Gereja Kristus yang satu dan sejati, di luar mana tidak terdapat keselamatan.

Sangat menarik juga untuk dicatat bahwa karena kaum Ortodoks Timur menolak Kepausan, mereka beranggapan bahwa semua uskup memiliki otoritas yang setara. Mereka percaya bahwa beberapa orang uskup memiliki suatu posisi atau kehormatan yang khusus sehubungan dengan organisasi gerejawi, tetapi mereka berpendapat bahwa semua uskup pada dasarnya setara dalam hal otoritas dan “hak ilahi”. Seperti yang dikatakan oleh Uskup Metropolitan Ortodoks Timur, Timothy Ware, di dalam bukunya The Orthodox Church, yang terkadang digunakan sebagai katekismus “Ortodoks”:

Uskup Timothy Ware, The Orthodox Church, Penguin Books, 1993, hal. 7:
“ … sejak terjadinya skisma antara Timur dan Barat, ia [yakni Patriark Konstantinopel] telah menikmati suatu posisi kehormatan khusus dari antara semua komunitas Ortodoks; tetapi ia tidak memiliki hak untuk campur tangan dalam perkara-perkara internal dari Gereja-Gereja lainnya.”

Ia juga menyatakan:

“ … sistem Patriark dan Metropolitan adalah suatu perkara organisasi gerejawi. Tetapi jika kita memandang Gereja bukan dari sudut pandang tatanan gerejawi, melainkan dari sudut pandang hak ilahi, maka, kita harus berkata bahwa semua uskup pada dasarnya setara … Sistem Pentarki tidak mengganggu kesetaraan yang esensial dari semua uskup ….” (The Orthodox Church, hal. 27)

Posisi mereka menentang fakta bahwa Kristus telah mendirikan Kepausan di atas St. Petrus, di mana Kristus memberikan kepada St. Petrus dan para penerusnya suatu Keutamaan Yurisdiksi atas segenap kawanan domba Kristus, sebagaimana yang dibuktikan dengan jelas oleh Alkitab. Lihatlah Matius 16:18-19 dan Yohanes 21:15-17.

Matius 16:18-19 - “Dan Aku pun berkata kepadamu: engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku, dan pintu gerbang Neraka tidak akan berjaya melawannya. Aku akan memberikan kepadamu kunci Kerajaan Surga, dan apa pun yang kauikat di atas bumi akan terikat di dalam Surga dan apa pun yang kaulepaskan di atas bumi akan terlepas di dalam Surga.”

Yohanes 21:15-17 – “Ketika mereka telah selesai makan pagi, Yesus berkata kepada Simon Petrus, ‘Simon, putra Yunus, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada hal-hal ini?’ Ia berkata kepada-Nya, ‘Ya, Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.’ Ia berkata kepadanya, ‘Berilah makan anak-anak domba-Ku!’ Ia berkata lagi kedua kalinya kepadanya, ‘Simon, putra Yunus, apakah engkau mengasihi Aku?’ Ia berkata kepada-Nya, ‘Ya, Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.’ Ia berkata kepadanya, ‘Gembalakanlah domba-domba-Ku!’ Ia berkata kepadanya untuk ketiga kalinya, ‘Simon, putra Yunus, apakah engkau mengasihi Aku?’ Petrus menjadi sedih hatinya karena Ia berkata kepadanya untuk ketiga kalinya, ‘Apakah engkau mengasihi Aku?’ Maka ia berkata kepada-Nya, ‘Tuhan, Engkau mengetahui segala sesuatu. Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau!’ Yesus berkata kepadanya, ‘Berilah makan domba-domba-Ku!’”

Eklesiologi “Ortodoks” Timur yang tidak konsisten menjadi suatu bantahan lain terhadap agama mereka. Ketidakkonsistenan ini membuat mereka tidak mampu membereskan perkara di mana daerah kekuasaan atau yurisdiksi seorang uskup bermula dan di mana daerah kekuasaan atau yurisdiksi seorang uskup yang lain berakhir. Masalah ini terlihat pada tahun 2018 pada perpecahan akbar dan bersejarah dari persekutuan antara sekte “Ortodoks” Rusia dan sekte “Ortodoks” Yunani. Mereka tidak memiliki jalan yang konsisten untuk membereskan sengketa atas para “klerus” Ukraina karena mereka berpendapat bahwa semua uskup memiliki otoritas yang setara.

[Pembawa acara EWTN:] Gereja Ortodoks Rusia telah memutuskan hubungan dengan pemimpin dari komunitas Ortodoks sedunia. Pertengkaran ini sedang dibandingkan dengan perpecahan Ortodoks terbesar sejak Skisma dengan Katolisisme di tahun 1054. Mengapa hal ini terjadi? Pemimpin sedunia, Patriark Ekumenis Bartolomeus I, pekan lalu menganugerahkan kepada para klerus Ukraina kemerdekaan mereka dari Moskwa. Mereka telah berada di bawah kepemimpinan Rusia sejak tahun 1600-an. Metropolitan Hilarion dari Rusia menyebut keputusan tersebut “melanggar hukum dan batal secara kanonik”, dan berkata bahwa dapat berujung pada perpecahan religius yang mendalam di Ukraina. Bersama saya sekarang, Metropolitan Jonah Paffhausen, mantan Uskup Agung Washington, Primat Gereja Ortodoks di Amerika, yang sekarang melayani di dalam yurisdiksi Gereja Ortodoks Rusia di Luar Rusia. Metropolitan Jonah, selamat datang di program ini.

[Metropolitan:] Terima kasih banyak.

[Pembawa Acara:] Apa makna dari hal ini?

[Metropolitan:] Pada dasarnya, maknanya adalah bahwa terjadi suatu perpecahan persekutuan. Bukan perpecahan penuh, tetapi terjadi perpecahan persekutuan antara Gereja Ortodoks Rusia dan Gereja Konstantinopel.

[Pembawa Acara:] Dan apa maknanya bagi para umat beriman?

[Metropolitan:] Maknanya di Rusia sangatlah berbeda dari maknanya di Amerika. Di Rusia, artinya bahwa orang-orang Rusia yang sedang berlibur di Turki tidak dapat pergi ke gereja dan menerima Komuni. Di Amerika Serikat, artinya bahwa para anggota Gereja Ortodoks Rusia dan para anggota Gereja Ortodoks Yunani tidak seharusnya pergi ke gereja bersama.

Hilarion, Uskup yang ditugaskan atas diplomasi Gereja Ortodoks Rusia

[Hilarion:]  Pada akhir dari sinode Gereja Ortodoks, telah dibuat suatu keputusan tentang pemutusan penuh hubungan Ekaristi dengan Patriarkat Konstantinopel. Keputusan ini terpaksa dibuat tetapi sinode kami tidak dapat membuat suatu keputusan lain di dalam kondisi-kondisi ini, karena seluruh logika dari tindakan-tindakan yang dilaksanakan oleh Patriarkat Konstantinopel berujung kepada situasi ini. Selama keputusan-keputusan tidak legal dan anti-kanonik yang diambil oleh Konstantinopel ini tetap berlaku, kami tidak dapat berhubungan dengan gereja yang telah menjadi skismatis ini.

Eklesiologi mereka yang sesat dan tidak alkitabiah juga membuat mereka tidak mampu untuk secara konsisten membedakan konsili ekumenis sejati dan mengikat dari konsili yang sesat – karena terdapat banyak konsili sesat di dalam sejarah Gereja yang disetujui oleh banyak uskup. Jika semua uskup memiliki otoritas yang setara, mengapa konsili-konsili tertentu yang disetujui oleh para uskup dianggap infalibel dan mengikat, sedangkan yang lain tidak? Mereka tidak memiliki jawaban yang konsisten untuk menanggapi pertanyaan tersebut. Kenyataannya, berikut penjelasan dari Uskup “Ortodoks” Timur, Timothy Ware tentang mengapa mereka tidak dapat menentukan bilamana suatu konsili bersifat ekumenis berdasarkan jumlah uskup.

[Ware:]  Suatu kriteria kedua lainnya yang mungkin untuk ekumenisitas adalah peneguhan oleh suatu konsili ekumenis berikutnya. Tetapi kriteria ini tidak akan membantu kita, karena akan selalu ada satu konsili ekumenis – yang terkini dari urut-urutannya – yang belum diteguhkan oleh konsili mana pun yang berikutnya. Kriteria ketiga kemungkinan adalah jumlah uskup yang hadir. Tetapi kriteria itu pun tidak akan membantu. Pada Konsili Nisea I, secara tradisional dikatakan bahwa hadirin uskupnya 318 orang – kemungkinan jumlah sesungguhnya sekitar 220. Pada Konsili Konstantinopel I, terdapat 150 uskup. Pada Konsili Efesus, tahun 431, terdapat 160 uskup. Jumlah hadirin uskup di ketiga konsili itu jauh lebih sedikit daripada yang hadir di konsili Arian atau semi-Arian di Ariminum-Seleusia pada tahun 359, suatu konsili yang dihadiri oleh sekitar 500 uskup, tetapi ditolak. Atau, kembali lagi, konsili bidah ikonoklas di Hieria pada tahun 754 dihadiri oleh 338 uskup … Jadi, ekumenisitas tidak dapat ditentukan dengan menghitung jumlah kepala.

Bagaimanapun, sehubungan dengan konsili-konsili ekumenis, banyak orang Ortodoks Timur akan menyebutkan bahwa partisipasi di dalam – dan/atau, penerimaan terhadap suatu konsili – oleh kelima takhta Patriarkal – yakni, Roma, Konstantinopel, Aleksandria, Antiokhia, dan Yerusalem – adalah suatu kriteria yang penting untuk mempertimbangkan bilamana suatu konsili bersifat ekumenis dan oleh karena itu bersifat mengikat dan infalibel dalam dekret-dekretnya tentang iman. Pandangan ini diasosiasikan dengan apa yang disebut sebagai Doktrin Pentarki. Seperti yang dicatat oleh teolog Ortodoks Timur, John Meyendorff tentang Pentarki:

“ … hal itu menjadi suatu faktor yang penting di dalam pengertian Bizantina tentang suatu konsili ‘ekumenis’ yang mewajibkan hadirnya kelima patriark, atau para perwakilan mereka, bahkan sewaktu takhta Aleksandria dan Antiokhia di Timur, kenyataannya, tidak lagi berpengaruh.” (John Meyendorff, Rome, Constantinople, Moscow, St. Vladimir’s Seminary Press, 1996, hal. 90.)

Nah, coba pertimbangkan hal ini. Konsili Florence pada abad ke-15 adalah Konsili reunifikasi akbar yang merekonsiliasikan banyak orang dari Timur kepada Gereja. Surat Bulla Persatuan dari tanggal 6 Juli 1439 dengan orang-orang Yunani di Konsili Florence, yang mengajarkan dogma Filioque dan Keutamaan Yurisdiksi Kepausan, didukung dan diterima oleh para perwakilan dari kelima Takhta Patriarkal.

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Laetentur Caeli”, 6 Juli 1439:
“ … dalam nama Tritunggal Mahakudus: Bapa, Putra dan Roh Kudus … Kami menetapkan … Bahwa Roh Kudus, sepanjang segala keabadian adalah dari Bapa dan Putra dan beroleh seluruh esensi serta hipostasis-Nya dari Bapa sekaligus dari Putra, dan sepanjang segala keabadian berasal dari kedua-duanya, layaknya berasal dari satu pangkal dan dari satu spirasi yang esa.”

Patriark Konstantinopel yang bernama Yosef II hadir pada Konsili Florence. Ia mendukung persatuan dengan Sri Paus dan Gereja Katolik, dan ia meninggal pada saat Konsili tersebut. Sebelum kematiannya, ia menulis suatu pernyataan yang menegaskan bahwa ia tunduk kepada ajaran Sri Paus dan Gereja Katolik.

  • Surat Bulla Persatuan Florence dengan orang-orang Yunani juga disetujui oleh para penerusnya sebagai Patriark Konstantinopel – yakni, Metrofanes II dan Gregorius III.
  • Di samping itu, di Konsili Florence, para staurophoroi (para diakon dari gereja utama di Konstantinopel), yang bertindak sebagai suatu dewan dari sang Patriark, menandatangani surat bulla persatuan itu.
  • Surat bulla persatuan Florence juga diterima oleh para perwakilan dari orang-orang yang mereka anggap sebagai Patriark Aleksandria, Antiokhia, dan Yerusalem.

Sri Paus, yaitu Uskup Roma, tentunya menerima surat bulla tersebut. Surat Bulla itu juga diterima oleh Isidorus dari Kiev, Uskup Metropolitan Rusia yang juga melayani sebagai prokurator dari Patriark Antiokhia. Isidorus menerima dogma Filioque dan Kepausan pada Konsili Florence, dan ia menjadi seorang pendukung yang kuat untuk persatuan itu. Dari antara banyak orang lain, surat Bulla itu juga diterima oleh Kaisar Bizantina pada saat itu, Yohanes VIII, serupa dengan bagaimana para Kaisar memainkan suatu peran untuk mengorganisir konsili-konsili awal.

Faktanya, surat bulla persatuan dengan orang-orang Yunani ditandatangani oleh segenap delegasi Yunani dengan pengecualian Markus dari Efesus. Penolakan dari uskup yang satu itu untuk menerima suatu konsili ekumenis sama sekali tidak berbobot terhadap bilamana konsili tersebut bersifat ekumenis. Andaikata penolakannya itu berbobot terhadap bilamana Konsili Florence bersifat ekumenis, maka ketujuh konsili pertama – yang dianggap bersifat ekumenis oleh orang-orang Ortodoks Timur– kenyataannya sama sekali tidak akan bersifat ekumenis, sebab semua konsili itu tidak diterima oleh semua uskup. Sebagai contoh, dua uskup yang hadir di Konsili Nisea menolak menerima dan menandatangani dekret konsili tersebut.

[Ware:]  Marilah mencatat bahwa pada ketujuh konsili ekumenis, keputusan-keputusannya tidak pernah tercapai melalui konsensus. Selalu ada suatu minoritas pembangkang berjumlah kecil namun signifikan yang menolak resolusi-resolusinya.

Jadi, dengan menerapkan kriteria mereka sendiri, para Ortodoks Timur sama sekali tidak memiliki dasar untuk menolak surat bulla persatuan Florence dari bulan Juli 1439 dengan orang-orang Yunani sebagai suatu akta dari konsili ekumenis yang sejati. Untuk menolak Florence sebagai konsili ekumenis akan secara logis memaksa mereka untuk percaya bahwa tidak pernah ada suatu konsili ekumenis sejati pun di dalam sejarah Gereja. Seperti yang dinyatakan oleh seorang sejarawan non-Katolik Sergey Dezhnyuk tentang Konsili Florence:

“ … orang-orang Yunani … harus mengakui bahwa syarat-syarat yang diperlukan agar konsili itu sungguh bersifat ekumenis telah terpenuhi: konsili itu diadakan sesuai dengan doktrin Pentarki dan Kaisar Bizantina hadir.” (Sergey Dezhnyuk, Council of Florence: The Unrealized Union, 2017, hal. 15)

Kaisar Bizantina pada waktu itu, Yohanes VIII, juga berkata:

“Saya memandang konsili suci dan ekumenis ini tidak lebih rendah daripada yang mana pun yang sebelumnya.” (Council of Florence, hal. 63).

[Ware:] Konsili reunifikasi Ferrara-Florence, 1438-39, tentu saja memandang dirinya sendiri sebagai ekumenis.

Bahkan Markus dari Efesus, si bidah yang berkeras kepala dan satu-satunya anggota delegasi Yunani yang menolak menandatangani surat bulla persatuan itu, mengakui, sewaktu berada di Florence, bahwa Konsili tersebut sungguh ekumenis.

Joseph Gill mungkin dikatakan sebagai sejarawan Konsili Florence yang paling terkemuka. Dia menunjukkan bahwa pada suatu pertemuan dengan Sri Paus dan beberapa orang lain di Florence:

Ia [Markus dari Efesus] memulai dengan menyatakan bahwa perhimpunan yang hadir tersebut adalah suatu Konsili Ekumenis sebab Sri Paus dan Gerejanya hadir untuk mewakili Barat, sedangkan dari Timur, hadir sang Kaisar, Patriark Konstantinopel, para prokurator dari Patriarkat-Patriarkat lainnya dan mayoritas dari Gereja oriental.” (Joseph Gill, The Council of Florence, Cambridge Univ. Press, 1959, hal. 128.)

Maka, menurut standar-standar mereka sendiri, para “Ortodoks” Timur akan harus menerima surat bulla persatuan Florence dari bulan Juli 1439 dengan orang-orang Yunani sebagai akta yang infalibel dari suatu konsili ekumenis serta menerima ajaran surat bulla itu sebagai suara dari Gereja Kristus yang sejati.

Di dalam surat bulla dari bulan Juli 1439 itu, dogma Filioque dan yurisdiksi tertinggi dari Sri Paus di atas Gereja diproklamasikan sebagai kebenaran-kebenaran iman. Jadi, jika anda seorang “Ortodoks” Timur, dan anda berpikir bahwa Filioque dan keutamaan yurisdiksi dari Kepausan adalah doktrin-doktrin sesat, maka secara logis, menurut prinsip-prinsip anda, anda akan harus menyimpulkan bahwa “Gereja” anda membelot dari iman sejati pada Konsili Florence di tahun 1439 dengan menerima dogma Filioque serta Keutamaan Kepausan.

Berikut apa yang diakui oleh Uskup Metropolitan “Ortodoks” Timur, Timothy Ware, di dalam bukunya:

Uskup Timothy Ware, The Orthodox Church [Gereja Ortodoks], Penguin Books, hal. 70-71:
“Suatu konsili reunifikasi kedua diadakan di Florence pada tahun 1438-9. Kaisar Yohanes VIII … hadir secara pribadi, bersama dengan Patriark Konstantinopel dan suatu delegasi yang besar dari Gereja Bizantina, serta para perwakilan dari Gereja-Gereja Ortodoks lainnya … disusunlah suatu rumusan persatuan yang membahas Filioque, Api Penyucian, ‘azyma’, dan klaim-klaim Kepausan; dan rumusan ini ditandatangani oleh semua kaum Ortodoks yang hadir pada konsili tersebut kecuali satu orang … Maka, dalam perkara doktrin, kaum Ortodoks menerima klaim-klaim Kepausan … mereka menerima doktrin … Prosesi Roh Kudus …; mereka menerima ajaran Roma tentang Api Penyucian ….”

Di dalam Penyelenggaraan-Nya, Allah mengizinkan agar Konsili Florence dihadiri oleh begitu banyak pihak – dan agar surat bulla dari bulan Juli 1439 itu memenuhi kriteria para Ortodoks Timur sendiri tentang apa yang harus dianggap sebagai konsili ekumenis. Allah melakukannya untuk memberikan kepada orang-orang di Timur suatu kesempatan lain, atau mungkin kesempatan terakhir, untuk mengakui iman sejati akan Kristus dan tunduk kepada otoritas Gereja sejati. Konsili Florence sungguh merupakan konsili ekumenis sejati dari Gereja Kristus. Di Florence, kelima Takhta – dari apa yang para Ortodoks anggap sebagai Pentarki – menerima iman sejati, sebagaimana yang diatur oleh Penyelenggaraan Ilahi. Setelah Konsili itu, bahkan berlangsung perayaan-perayaan untuk persatuan itu di sejumlah daerah.

Tetapi, sewaktu banyak dari mereka pulang, setelah dekret Konsili Florence ditandatangani, mereka menghadapi perlawanan yang ganas di berbagai tempat, dan persatuan itu tidak mencapai hasil-hasil yang bertahan lama yang diharapkan. Kenyataan bahwa surat bulla persatuan Florence dengan orang-orang Yunani, yang mengajarkan dogma Filioque dan meneguhkan Keutamaan Yurisdiksi seorang Paus, memenuhi kriteria Ortodoks Timur sendiri untuk suatu konsili ekumenis, sekali lagi membuktikan bahwa “Ortodoksi Timur” adalah suatu agama sesat dan bahwa Katolisisme adalah iman sejati akan Kristus. Penolakan kaum Ortodoks terhadap surat bulla Florence adalah penolakan terhadap ajaran dari suatu konsili ekumenis, yang mereka klaim percayai bersifat infalibel. Mereka dibantah oleh prinsip-prinsip mereka sendiri.

 Di hadapan fakta-fakta semacam itu, beberapa orang yang menganut Ortodoksi Timur mungkin mengandalkan “teori resepsi”. Ini adalah pandangan tentang konsili ekumenis yang dipromosikan oleh seorang teolog Ortodoks Timur pada abad ke-19.

Karena mereka menyadari bahwa mereka tidak mampu menentukan bilamana suatu konsili bersifat ekumenis atas dasar suatu standar objektif mana pun yang hendak mereka terima – seperti jumlah uskup, atau distribusi geografis para uskup, dan lain sebagainya – para penganut teori resepsi mengklaim bahwa suatu konsili hanya dapat dianggap ekumenis jika konsili itu “diterima” oleh kesadaran dari para umat beriman atau oleh tubuh segenap Gereja. Tentunya, mereka tidak mampu mendefinisikan arti dari diterima oleh kesadaran dari para umat beriman atau oleh tubuh segenap Gereja. Hal ini seharusnya jelas – teori resepsi itu sesat dan bidah. Pertama, ketujuh konsili pertama, yang mereka anggap ekumenis, tidak diterima oleh semua orang yang mengaku diri sebagai bagian dari Gereja. Kenyataan itu sendiri membantah teori resepsi.

Kedua, hasil dari teori resepsi adalah penyangkalan terhadap otoritas yang Kristus berikan kepada Gereja untuk mengajar di dalam nama-Nya dengan suatu cara yang mengikat dan infalibel pada waktu-waktu yang spesifik, dengan suatu cara yang akan menuntut persetujuan dari para umat beriman. Karena, menurut “teori resepsi”, sewaktu suatu konsili memproklamasikan suatu hal, bahkan dengan suatu kutukan, konsili itu tidak boleh dianggap mengikat atau secara pasti benar sampai suatu waktu kemudian – mungkin berpuluh-puluh tahun atau satu abad setelahnya – suatu kelompok orang yang tidak terdefinisikan memilih untuk menerimanya.

[Ware:]  Dan tidak ada batasan waktu spesifik untuk pengakuan ini. Mungkin ada suatu periode ketidakpastian yang agaknya berkepanjangan.

Maka, teori resepsi akan secara praktik, membuat ketetapan-ketetapan dari setiap konsili tunduk kepada suatu kelompok orang yang tidak terdefinisikan, termasuk orang awam. Teori semacam itu akan meniadakan dan membuat tidak bermakna otoritas yang Kristus berikan kepada petinggi-petinggi Gereja untuk mengajar para umat beriman dengan suatu cara yang menuntut persetujuan mereka. Jelas bahwa teori resepsi itu bidah. Di samping kesalahan-kesalahan fatal yang jelas di dalam teori resepsi yang telah kami bahas, juga tidak terdapat dukungan terhadap gagasan tersebut di dalam ajaran suatu konsili ekumenis mana pun.

[Ware:]  Tidak ada dekret doktrinal … tidak ada kanon … yang merujuk kepada tindak resepsi di kemudian waktu ini. Tak bisa ditemukan pernyataan spesifik dari para partisipan konsili ekumenis mana pun juga, yang kira-kira bermakna mereka menantikan keputusan-keputusan mereka diteguhkan oleh penerimaan di kemudian waktu dari pihak gereja secara umum.

Maka, haruslah ada, dan memang ada, suatu standar yang objektif, yang dengannya para umat beriman untuk mengenali bahwa Gereja sedang mengajar dengan otoritas Kristus. Orang-orang Katolik tahu bahwa standar ini berhubungan dengan jabatan Kepausan, tetapi tidak peduli bagaimana para Ortodoks Timur mencoba untuk menjelaskannya sehubungan dengan konsili-konsili ekumenis – seperti bilamana mereka membawa-bawa Pentarki atau hal yang lain – mereka tidak dapat bertindak secara konsisten dan menolak bahwa Konsili Florence adalah konsili ekumenis.

Memang benar, suatu contoh lain bagaimana Timur setuju dengan dekret Konsili Florence adalah peristiwa di tanggal 12 Desember 1452. Pada hari itu, dekret persatuan Florence, yang telah ditandatangani sebelumnya, diproklamasikan pada suatu liturgi di gereja utama Konstantinopel, Ayia Sofia, di hadirat sang Kaisar, banyak imam, dan banyak orang. Pada saat liturgi itu, Sri Paus dan Patriark Konstantinopel yang mendukung persatuan tersebut didoakan.

Bagaimanapun, walaupun persatuan itu ditandatangani dan difinalisasikan di Florence, terjadi suatu perlawanan di sepanjang periode ini di kalangan banyak orang di Konstantinopel serta tempat-tempat lain di Timur. Perlawanan itu menjadi begitu intens, sehingga terkadang para patriark Konstantinopel yang mendukung persatuan itu, harus mengungsi dari gereja negeri mereka sendiri, Ἁγία Σοφία (Ayia Sofia).

Banyak orang di Timur dan di Konstantinopel memberontak terhadap apa yang telah diproklamasikan secara resmi oleh Gereja universal di bawah Sri Paus, di Florence. Pemberontakan orang-orang ini, perlawanan mereka terhadap akta Gereja Allah – adalah mengapa Allah membiarkan Konstantinopel untuk jatuh ke dalam kegelapan dominasi Islam tidak lama setelah perlawanan ini terwujud. Maka, bukanlah semata-mata suatu kebetulan, menurut kami, bahwa setelah begitu banyak orang di Timur memberontak terhadap persatuan yang telah dicapai dan diproklamasikan di Florence – suatu persatuan yang secara resmi didukung oleh para perwakilan dari kelima takhta Patriarkal dari apa yang mereka anggap sebagai Pentarki – tidak lama setelahnya Allah membiarkan pusat kekuatan gerejawi utama di Timur, yakni Konstantinopel, untuk jatuh kepada orang-orang Muslim dan di bawah dominasi Islam.

 Setelah jatuhnya Konstantinopel pada abad ke-15, sang Sultan Muslim yang satanik memberlakukan pembatasan-pembatasan berat bagi para skismatis Yunani di daerah tersebut.

“ … Gereja [di Konstantinopel] sama sekali tidak diperbolehkan untuk melakukan karya misionaris, dan adalah suatu tindak kriminal untuk mengonversikan seorang Muslim kepada iman Kristiani.” (The Orthodox Church, Penguin Books, 1993, hal. 88.)

Itu adalah hukuman untuk pemberontakan mereka. Kaum skismatis Yunani sekarang adalah suatu sekte yang dikendalikan oleh orang-orang kafir, seperti bagaimana Gereja Ortodoks Rusia yang skismatis sering dikendalikan oleh Komunis pada abad ke-20. Sangat menarik juga, bahwa setelah orang-orang Muslim mengambil alih Konstantinopel, merekalah yang memutuskan siapa yang dapat melayani sebagai “patriark Konstantinopel” untuk sekte skismatis di sana. Orang-orang Muslim itu memilih Georgius Skolarius.

Skolarius adalah salah satu dari perwakilan yang paling penting dari delegasi Yunani di Konsili Florence. Di Konsili Florence, Skolarius menjadi yakin akan posisi Katolik tentang dogma Filioque dan keutamaan yurisdiksi Kepausan. Ia menandatangani surat bulla persatuan, dan ia mengakui bahwa Konsili Florence adalah suatu konsili ekumenis yang sejati.

“ … ia [yakni Georgius Skolarius, ketika di Florence] membuat nasihatnya serta kedua risalahnya yang mendukung persatuan tersebut dan memberikan suaranya yang dengan jelas menyatakan bahwa ia menerima Konsili tersebut sebagai ekumenis dan bahwa ia memandang doktrin Latin sebagai sehat secara teologis.” (Joseph Gill, The Council of Florence, Cambridge Univ. Press, 1959, hal. 366-367)

Tetapi, beberapa waktu setelah Konsili itu, akibat termangsa oleh permohonan Markus dari Efesus di ranjang kematiannya, Skolarius pun jatuh ke dalam bidah. Maka, pantas adanya bahwa setelah para Muslim mengambil alih Konstantinopel, orang-orang kafir itu memilih orang tak beriman yang jahanam seperti Skolarius sebagai “Patriark Konstantinopel” yang palsu untuk sekte skismatis Yunani di daerah tersebut.

Di dalam sejarah Kristiani, semua Takhta Patriarkal paling terkemuka yang dianggap oleh kaum Ortodoks Timur sebagai bagian dari Pentarki tetapi yang memberontak terhadap Kepausan – yakni, Aleksandria, Antiokhia, Yerusalem, dan Konstantinopel – pada akhirnya jatuh ke dalam belenggu Islam. Apakah ini hanya suatu kebetulan? Tidak, ini adalah suatu hukuman untuk perpisahan mereka dari Gereja sejati dan untuk penolakan mereka terhadap Kepausan, yang didirikan oleh Kristus di atas St. Petrus.

Di dalam Penyelenggaraan-Nya, Allah membiarkan keempat kota lainnya untuk jatuh ke dalam Islam, dengan kota Roma yang dijaga-Nya setidaknya sampai pada akhir zaman, untuk mewujudkan bahwa Takhta Petrus di Roma, di sepanjang sejarah Gereja, menikmati suatu otoritas yang unik dan perlindungan yang khusus yang tidak dimiliki oleh takhta-takhta lainnya.

“Pada waktu Konsili Florence, patriarkat Aleksandria, Yerusalem, dan Antiokhia telah kehilangan pengaruh mereka dan berada di tepi jurang kepunahan akibat faktor Islamik.” (Council of Florence, hal. 17.)

 Memang menarik adanya, bahwa jatuhnya Konstantinopel ke dalam tangan orang Muslim terjadi pada tanggal 29 Mei 1453, pada pesta Pentakosta, pesta yang secara khusus dimaksudkan untuk merayakan datangnya Roh Kudus. Apakah anda berpikir bahwa itu hanya suatu kebetulan? Kenyataannya, itu bukanlah suatu kebetulan. Allah membiarkan Konstantinopel untuk jatuh ke dalam tangan orang Muslim pada pesta Roh Kudus, sebagai suatu tanda yang menentang, dan sebagai suatu hukuman atas, perlawanan orang-orang terhadap dogma Filioque – doktrin sejati Gereja Kristus tentang Roh Kudus – serta perlawanan mereka terhadap kebenaran-kebenaran lain yang secara resmi diproklamasikan di suatu konsili yang harus dianggap sebagai ekumenis, bahkan menurut standar-standar mereka sendiri.

Bernard Granville Baker, The Passing of the Turkish Empire in Europe, hal. 43-44:
“ … lalu datanglah Muhammad sang Penakluk, dan Konstantinopel berpindah ke dalam tangan orang Turki. Pada Pesta Pentakostalah, di tanggal 29 Mei tahun 1453, Konstantinopel jatuh di hadapan Pedang Osman.”

SHOW MORE