Dua Alasan Utama Orang Tetap Jauh dari Allah
September 26, 2026
SUPPORT
Copy Link
https://endtimes.video/id/dua-alasan-utama-orang-tetap-jauh-dari-allah/
Copy Embed
vatikankatolik.id - Saluran dalam Bahasa Indonesia

| |

Bruder Peter Dimond, OSB

Ada dua alasan utama orang tetap jauh dari Allah. Yang pertama keangkuhan. Yang kedua, mencari-cari pengakuan dari orang lain.

Soal keangkuhan (yang juga kita kenal sebagai kesombongan atau kecongkakan), bagi setiap orang yang tersesat secara rohani atau mengalami depresi, setiap orang yang terbiasa berbuat dosa berat, setiap orang ateis, setiap orang bidah, setiap orang tak percaya, dan bahkan setiap orang beriman sejati yang gagal melaksanakan kehendak Allah dalam hidup, masalahnya selalu keangkuhan. Selalu saja keangkuhan. Orang-orang seharusnya menghafal Yakobus 4:6.

Yakobus 4:6 - “Allah melawan orang yang angkuh tetapi Ia memberikan rahmat kepada orang yang rendah hati.”

Direnungkan sering-sering, ya. Ini adalah alasan Santo Agustinus menyebut kerendahan hati sebagai seluruh disiplin Kristiani.

Agar dapat menghindari dosa, menerima kebenaran, dan berbuat yang benar di dunia yang sudah jatuh ini, orang perlu rahmat Allah. Tetapi, Allah menahan rahmat dan pertolongan-Nya bagi orang-orang yang angkuh. Inilah alasan Alkitab berulang kali mengajarkan bahwa takut akan Allah adalah awal dari kebijaksanaan, seperti tercatat di Amsal 9:10, Mazmur 111, dsb. Itulah alasan Yesus berkata:

Matius 11:25 – “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa ... karena hal-hal ini telah Kausembunyikan dari orang bijak dan pandai, dan telah Kauwahyukan kepada anak-anak kecil.”

Mengomentari ayat ini, St. Tomas Aquinas berkata:

St. Tomas Aquinas, Summa Theologiae, Bagian II-II, Pertanyaan 162, Artikel 3, Jawaban kepada Penolakan 1: “ … hal-hal ini telah Kausembunyikan dari orang bijak dan pandai, yaitu dari orang-orang angkuh, yang bijak dan pandai di mata mereka sendiri, dan telah Kauwahyukan kepada anak-anak kecil, yakni kepada orang-orang yang rendah hati.”

St. Vinsensius Ferarius, Risalah tentang Kehidupan Rohani:
“Yesus Kristus, yang telah mengajarkan kita kerendahan hati dengan teladan-Nya sendiri, menyembunyikan kebenaran-Nya dari orang yang angkuh, dan hanya mewahyukannya kepada orang yang rendah hati.”

Keangkuhan bukan hanya akar penyebab ketidakberimanan, namun juga merupakan awal dari segala dosa (Sirakh 10:15).

St. Robertus Belarminus berkata:

“ … dosa pertama nenek moyang pertama kita [Adam dan Hawa] bukanlah ketidakberimanan namun tiada lain dari keangkuhan.” (De Amissione Gratiae et Statu Peccati, Buku 3, Bab 4)

Mengapa, tidak terhitung jumlah orang yang terus-menerus berdosa berat terkait dengan nafsu daging dan ketidakmurnian, seperti percabulan, perselingkuhan, menonton pornografi, dsb? Dosa-dosa ini, kan, menjerumuskan orang ke Neraka. Mengapa, kok mereka terus saja berbuat dosa: dosa-dosa yang jelas menentang hukum positif ilahi Allah atau hukum kodrat?

Sebetulnya, alasannya adalah keangkuhan. Terlalu congkak, mereka, sehingga tidak menghormati perintah-perintah Allah sebagaimana mestinya. Betul-betul tidak cukup rasa hormat mereka kepada Allah, sehingga mereka tidak berubah dan bertolak haluan hidup supaya membuang kesempatan berbuat dosa. Jenjang pertama dari kerendahan hati, yang melibatkan rasa takut dan hormat yang memadai kepada Allah bahwa Dia akan mencampakkan mereka ke dalam Neraka karena dosa-dosa semacam itu, kurang pada diri mereka. Mereka terlalu sombong. Seperti dikatakan oleh St. Benediktus:

St. Benediktus, Aturan Suci: “Maka, jenjang pertama dari kerendahan hati, adalah bahwa manusia senantiasa memiliki rasa takut akan Allah di hadapan matanya, dengan menghindari segala kelupaan dan bahwa ia selalu ingat akan segala sesuatu yang telah diperintahkan oleh Allah, bahwa ia senantiasa merenungkan di dalam benaknya bagaimana orang-orang yang membenci Allah akan terbakar di dalam Neraka akibat dosa-dosa mereka, dan bahwa kehidupan kekal disiapkan bagi mereka yang takut akan Allah.”

Orang yang rendah hati senantiasa mengingat hukum dan persyaratan Allah di benaknya. Itulah sebabnya Mazmur pertama berkata demikian:

Mazmur 1:1-2 - “Berbahagialah orang yang … merenungkan hukum Allah siang dan malam.”

Paus Leo XIII, Praktik Kerendahan Hati: Sebuah Risalah, 1898:
“Orang yang benar-benar rendah hati selalu waspada, takut akan adanya kesalahan bahkan dalam perbuatan-perbuatan terkecilnya sekalipun.”

Kerendahan hati adalah pengakuan akan transendensi dan kemahakuasaan Allah, serta pengakuan betapa tidak berartinya diri kita.

St. Paulus berkata di Galatia 6:3 – “Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri.”

“ … di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa”, firman Yesus di Yohanes 15:5.

1 Korintus 4:7 - “Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima?”

Kerendahan hati adalah syarat orang menghormati Allah dalam perilakunya, namun juga dia perlukan untuk benar-benar melihat dirinya sendiri serta keterbatasannya.

Alasan Allah membiarkan banyak orang terus berada di dalam ketidaktahuan akan iman sejati (dan tersesat dalam tipu daya) adalah Dia melihat bahwa orang-orang itu menjalani hidup tanpa cukup memikirkan diri-Nya yang telah menciptakan mereka serta wahyu dan perintah yang sudah Dia berikan. Sehubungan orang-orang macam ini, Mazmur 138 berkata bahwa Allah mengenal orang yang sombong dari jauh.

Mazmur 138:6 – “Tuhan … mengenal orang yang sombong dari jauh ….”

Tuhan menjaga jarak dari mereka. Mengenai Lewiatan, yang melambangkan Iblis, Ayub 41:34 berkata:

Ayub 41:34 (MILT) - “ … dia adalah raja di atas semua anak kesombongan.”

Keangkuhan tidak hanya berarti melalaikan hukum Allah dalam perbuatan-perbuatan anda atau menilai diri anda lebih dari yang sebenarnya. Keangkuhan juga bisa berarti anda mengandalkan pemikiran dan penilaian diri anda sendiri lebih dari seharusnya. Ini termasuk memandang diri anda sendiri tahu atau paham hal-hal yang sebetulnya tidak anda ketahui/pahami.

Perkara ini merupakan masalah besar di media sosial, di mana banyak orang tanpa henti memberi komentar dengan arogan, tidak tulus, atau terlalu tegas mengenai hal-hal yang sebenarnya tidak mereka ketahui. Ada juga banyak orang di media sosial yang meremehkan dan mengutuk orang lain serta hal-hal yang belum mereka pertimbangkan dengan sepantasnya atau dengan adil. Pada kesombongan, ada aspek intelektualnya, yang harus dilawan dengan kerendahan hati dalam menilai.

Keyakinan yang berlebihan terhadap pemikiran dan pendapat diri sendiri ketika keyakinan itu tidak ada dasarnya (dan ini disebut sebagai keangkuhan intelektual) sering kali membuat orang terlibat dalam perkara yang bukan urusannya, padahal orang itu melalaikan tanggung jawab inti dan jalan hidup yang dia tempuh.

Harap dicatat: kerendahan hati tidak bertentangan dengan keyakinan sangat kuat akan kebenaran atau membela kebenaran itu dengan teguh. Seperti kata St. Alfonsus (sekitar tahun 1755):

St. Alfonsus Liguori:
“Kerendahan hati adalah kebenaran, seperti yang telah dikatakan secara benar oleh St. Teresa, dan karena itulah Tuhan amat mencintai orang yang rendah hati, sebab mereka cinta kebenaran.”

Ketika orang tahu bahwa dirinya punya kebenaran dan bahwa Allah ingin dia membagikan atau membela kebenaran tersebut, orang itu tidak berbuat angkuh, namun rendah hati dan taat kalau dia berbuat demikian dengan berani dan penuh keyakinan, sekalipun ditentang banyak orang. Tetapi, pada banyak situasi dan dalam banyak perkara lain, perbuatan yang baik dan rendah hati untuk dilakukan adalah tidak melibatkan diri.

Paus Leo XIII, Praktik Kerendahan Hati: Sebuah Risalah, 1898:
“Janganlah menyibukkan diri sesedikit apa pun dengan hal-hal yang sama sekali bukan urusanmu, dan yang bukan panggilanmu untuk kaupertanggungjawabkan baik kepada Allah maupun manusia. Sebab, ikut campur datangnya dari keangkuhan tersembunyi dan dari kegegabahan hampa; ia memupuk dan memperbesar kemegahan sia-sia, dan melahirkan serangkaian masalah, kegelisahan dan distraksi dalam jumlah tak terhitung; sedangkan, dengan mengurusi diri dalam kesendirian dan menangani tugas-tugas diri sendiri, manusia akan mendapati sumber damai sejahtera dan juga ketenteraman.”

Sudah kami lihat orang-orang yang tadinya diberi rahmat pertobatan istimewa, ujung-ujungnya disesatkan oleh Setan akibat keangkuhan. Alih-alih tetap rendah hati dan berfokus pada jalan hidup mereka, mereka menjadi gembung dengan kecongkakan dan mencoba melakukan hal-hal yang bukan panggilan mereka, atau mereka mengira diri mereka paham berbagai perkara lebih dari yang sebenarnya, atau mereka menjadi terlalu kritis. Akibatnya, mereka gagal melaksanakan kehendak Allah dalam hidup mereka atau malah menjadi seteru Allah, misalnya dengan terjerumus ke dalam berbagai macam bidah, atau menghabiskan banyak waktu dalam berbagai kesibukan atau konflik yang sebetulnya tidak berharga, atau tidak bajik, atau tidak penting. Orang-orang itu juga tidak menghasilkan buah bagi Allah. Keangkuhan membinasakan hal-hal yang hebat.

Paus St. Gregorius Agung, Aturan Pastoral, Buku 2, Bab 6:
“Maka setelah berjasa karena kerendahan hati, Saul pada puncak kekuasaannya berbusung dada dengan gembungnya kecongkakan. Dia dahulu memang disukai karena kerendahan hati, namun bahwasanya ditolak karena keangkuhan, sebagaimana kesaksian Tuhan ketika Dia bersabda: ‘Bukankah ketika engkau kecil di matamu sendiri, engkau Kujadikan kepala bagi suku-suku Israel?’ … Dengan ajaibnya, ketika ia dulu tampak kecil di hadapan dirinya sendiri, ia besar di hadapan Tuhan, namun bahwasanya ketika ia tampak besar di hadapan dirinya sendiri, ia kecil di hadapan Tuhan.”

Paus Leo XIII, Praktik Kerendahan Hati: Sebuah Risalah, 1898:
Kerendahan hati “mengajarkan kita bahwa hanya dalam [Allah] sajalah segenap kekuatan dan setiap penghiburan kita berada.”

Tuhan kita mengajarkan kita kerendahan hati dengan teladan-Nya. “Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:8). Firman-Nya, “belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati” (Matius 11:29).

Kerendahan hati juga ditekankan oleh Santa Perawan Maria. Bunda Maria berkata:

  • bahwa Tuhan “telah memperhatikan kerendahan hati hamba-Nya ....” (Lukas 1:48);
  • bahwa “Ia … mencerai-beraikan orang-orang yang congkak dalam keangkuhan hati mereka ....” (Lukas 1:51);
  • dan bahwa Ia “telah meninggikan orang yang rendah hati” (Lukas 1:52).

Alasan utama yang kedua orang tetap jauh dari Allah, dan alasan ini bisa saja dipandang sama bobotnya dengan alasan pertama, adalah mencari-cari pengakuan dari orang lain, alih-alih berfokus hanya kepada apa yang dipikirkan oleh Allah.

Masalah ini begitu besar dan luar biasa merajalela. Di Yohanes 5:44, Yesus menyatakan bahwa orang tidak diberi rahmat iman sejati karena mereka mencari kemuliaan, atau pengakuan, atau hormat dari orang lain, dan bukan dari Allah.

Yohanes 5:44 - “Bagaimanakah kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan yang tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa?”

Ketika Allah melihat orang terlalu peduli pendapat orang lain atau terlalu khawatir ditolak orang lain, dan bahwa orang itu tidak berfokus untuk berkenan kepada Allah saja (tidak peduli reaksi orang lain), Allah akan menarik atau menahan rahmat (terutama rahmat iman), dari orang semacam itu.

Ini terlihat sangat jelas, terutama pada orang-orang yang gonta-ganti keyakinan inti agamanya atau yang terus-menerus meragukan berbagai hal. Mereka tidak punya keteguhan dalam kebenaran, karena mereka terus saja digerakkan dan dipengaruhi oleh pendapat serta reaksi orang lain. Mereka perlu berfokus hanya untuk berkenan dan taat kepada Allah saja, tidak peduli betapa kuatkah penolakan yang akan mereka alami dari orang lain. Mereka perlu mengabaikan dan berpisah dari orang-orang semacam itu. Inilah alasan Perjanjian Baru berulang kali mengajarkan bahwa mereka yang merangkul kebenaran dan mengikut Kristus akan dibenci, dianiaya dan ditolak.

Galatia 1:10 - “Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.”

St. Fransiskus Borgia (abad ke-16): “Barang siapa hendak mengonsekrasikan dirinya sendiri kepada Allah, harus pertama-tama, menginjak-injak di bawah kakinya segala pertimbangan akan apa yang akan dikatakan oleh orang lain tentang dirinya.”

Matius 10:37-39 - “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku; dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.”

Matius 10:25 - “Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.”

2 Timotius 3:12 - “Dan juga, semua orang yang berkeinginan untuk hidup secara saleh di dalam Kristus Yesus, mereka akan dianiaya.”

Yohanes 15:18-19 - “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu.”

Sejalan dengan ini, penting sekali bagi orang untuk menyempatkan kurun waktu tertentu dalam hidup untuk menyendiri, yang disesuaikan dengan kondisi hidup masing-masing. Mereka di waktu-waktu itu bisa berada sendirian saja dan menjalin hubungan langsung dengan Allah, dengan cara berdoa, membaca, dsb.

St. Alfonsus Liguori: “Barang siapa mencintai Allah, mencintai kesendirian. Di sanalah Tuhan menyampaikan diri-Nya sendiri dengan cara yang lebih akrab kepada jiwa-jiwa, sebab di sana, Ia menemukan jiwa-jiwa lebih tidak terjerat oleh perkara-perkara duniawi, dan lebih terlepas dari keterlekatan-keterlekatan duniawi. St. Eukarius bercerita bahwa seorang pria yang hendak menjadi seorang kudus, bertanya kepada seorang hamba Allah di manakah ia harus mencari Allah. Hamba Allah itu membimbingnya kepada suatu tempat yang terpencil dan berkata, ‘Lihatlah tempat Allah ditemukan.’”

Ketika Allah melihat bahwa hati seseorang terlalu terpusat pada opini-opini orang lain dan terlalu ingin mendapat pengakuan dari mereka, bukan terpusat untuk berkenan kepada Allah dan merangkul kebenaran tidak peduli reaksi orang lain, Allah akan sering membutakan orang itu sedemikian rupa sehingga orang tersebut akan sepenuhnya meyakini kebohongan atau posisi yang sesat: maksudnya, posisi yang dipandang benar oleh dunia (atau kelompok tertentu) padahal sebetulnya tidak benar. Karena orang itu melihat segala sesuatu dengan sudut pandang reaksi dan pendapat orang lain, bukan dari sudut pandang sabda Allah yang sebetulnya, orang itu tidak dapat melihat berbagai hal sebagaimana adanya. Dia kemudian memandang hina orang-orang yang mengatakan kebenaran, kalau mereka tidak dihormati oleh dunia atau oleh kalangan tertentu, sekalipun yang mereka katakan itu konsisten dengan kebenaran Allah serta fakta-fakta yang ada. Ini juga terlihat jelas di kalangan orang-orang yang terlalu mengandalkan ajaran falibel para teolog, padahal ajaran para teolog itu mewakili opini-opini manusia, sementara itu mereka menyangkal wahyu Allah dan ajaran infalibel Gereja.

Masalah orang diombang-ambingkan oleh opini manusia dan khalayak ramai juga sangat diperparah oleh media sosial, tempat begitu banyak orang bidah, orang bodoh serta orang jahat lainnya beropini (sering secara anonim) tentang perkara agama dan juga perkara Katolik, padahal mereka seharusnya tidak melakukannya.

Pengkhotbah 1:15 - “Yang bejat sulit dikoreksi, dan jumlah orang bodoh tak terhingga.”

Iblis memperalat orang-orang semacam itu untuk memberi momentum, mempos ulang, mendukung dan menarik perhatian kepada guru-guru sesat dan opini-opini sesat. Karena begitu banyak orang cenderung mengikuti khalayak ramai, dukungan publik yang tampak diberikan bagi para bidah dan guru-guru sesat semacam itu justru menggoda orang untuk menganut paham-paham sesat mereka yang jauh lebih berbahaya. Penting sekali berevangelisasi, tetapi, janganlah terus-terusan bergaul, mempromosikan atau terlalu banyak berkontak dengan guru-guru sesat atau orang-orang yang membahayakan iman. Kerap kali, orang menjadi tercemar dan murtad, karena terlalu sering atau terlalu lama mendengarkan orang-orang semacam itu.

1 Korintus 15:33- “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”

Pada video ini telah dibahas dua alasan utama orang tetap jauh dari Allah. Kedua alasan itu adalah keangkuhan dan mencari-cari pengakuan dari orang lain. Pokok pembahasan utama video ini bukan tentang doa. Tetapi, kehidupan doa yang kuat tentu saja esensial kalau orang mau selamat dan juga mengenal Allah.

Paus Leo XIII, Fidentem piumque animum (#2), 20 September 1896:
“Tiada tanggung jawab yang lebih ditekankan secara mendesak oleh Kristus dan para Rasul-Nya, baik melalui prinsip maupun teladan daripada tanggung jawab untuk berdoa dan memohon kepada Yang Mahakuasa. Para Bapa dan Doktor di kemudian hari telah mengajarkan bahwa perkara ini menyangkut kebutuhan yang sedemikian besarnya, sehingga jika manusia lalai untuk melaksanakannya, sia-sia mereka mengharapkan kehidupan kekal. Setiap orang yang berdoa menemukan pintu yang terbuka … mintalah, carilah, ketuklah (Matius 7:7).”

Kami sarankan kepada umat Katolik, kalau mereka bisa, agar berdoa 15 dekade Rosario setiap hari dan sering-sering berdoa Salam Maria. Kami sarankan pula agar orang sering berdoa 3 Salam Maria untuk kerendahan hati dan kemurnian intensi.

St. Louis de Montfort, Rahasia Rosario:
“Salam Maria adalah embun yang terberkati yang jatuh dari Surga di atas jiwa-jiwa yang dipredestinasikan. Embun itu memberikan kepada mereka kesuburan rohani yang mengagumkan sehingga mereka dapat tumbuh dalam segala kebajikan. Semakin taman jiwa diairi dengan doa ini, pikiran kita semakin dicerahkan, hati kita semakin bersemangat, dan tameng kita semakin kuat melawan semua musuh rohani kita.”

Situs internet kami vatikankatolik.id, dan saluran YouTube kami, vatikankatolik, memuat informasi krusial tentang iman yang satu dan sejati, yang diperlukan untuk keselamatan. Untuk menganut iman Kristen sejati dan diselamatkan, orang harus menganut iman Katolik tradisional, seperti dijelaskan materi kami.

SHOW MORE