![]() | vatikankatolik.id - Saluran dalam Bahasa Indonesia |
|
Bruder Peter Dimond, OSB Di tahun 563, ada sebuah konsili yang berlangsung di Braga (lokasinya sekarang di Portugal zaman modern). Konsili ini mempermaklumkan beberapa hal menarik, tentang orang-orang yang bunuh diri, dan juga tentang para katekumen yang mati tak dibaptis. Setahu kami, bab-bab Konsili ini, kecuali beberapa kutipannya, belum pernah diterjemahkan secara lengkap dari bahasa Latin ke dalam bahasa Inggris. Terjemahan bab 16 dan 17-nya akan kami sajikan dalam video ini. Sesudah mengutip bab-bab tersebut, akan kami tunjukkan bahwa Konsili ini disetujui oleh Paus dan kami juga akan membuat beberapa poin lainnya. Berikut teks bahasa Latin (bersama sebuah terjemahan ke bahasa Indonesia) dari bab 16 Konsili Braga tahun 563, mengenai mereka yang bunuh diri. Coba dicatat, ya, ada beberapa sumber yang menyebut Konsili tahun 563 sebagai Konsili Braga Pertama; sumber-sumber lain menganggapnya sebagai Konsili Braga Kedua - tergantung apabila Konsili Braga pada abad ke-5 dianggap autentik atau tidak.
Bunuh diri adalah dosa berat dan menjatuhkan orang masuk Neraka. Karena itu, orang-orang yang sayangnya bunuh diri, tidak boleh diberi ritus-ritus Katolik ataupun penguburan gerejawi; didoakan pun tidak boleh. Seperti itulah Tradisi Gereja, namun tradisi itu tentu saja dilanggar secara luas dalam Kontra-Gereja Vatikan II, yang memberi “Penguburan Kristiani” dan mempersembahkan “Misa-Misa” bagi segala macam pendosa notorius serta para bidah publik yang sudah meninggal dunia. Misalnya, media Sekte Vatikan II “Hidup” pada artikel tahun 2017 “Bolehkah Misa Requiem bagi Korban Bunuh Diri” (https://www.hidupkatolik.com/2017/12/07/15720/bolehkah-misa-requiem-bagi-korban-bunuh-diri.php) dan “Mirifica news” pada artikel tahun 2019 “Misa Kudus Bagi Orang Yang Meninggal Karena Bunuh Diri: Mengapa Diperbolehkan” (https://www.mirifica.net/misa-kudus-bagi-orang-yang-meninggal-karena-bunuh-diri-mengapa-diperbolehkan/). Bahkan ada perbedaan mencolok, antara ajaran serta tradisi Gereja Katolik pada perkara menolak memberi ritus-ritus Katolik dan penguburan Kristiani bagi para pendosa berat, dengan yang dilakukan oleh Sekte Vatikan II secara berkala. Penyimpangan Sekte Vatikan II dari ajaran & tradisi Katolik dalam ranah ini, pada hakikatnya sendiri merupakan bukti, bahwa Sekte Vatikan II bukan Gereja Katolik, melainkan Kontra-Gereja akhir zaman yang sudah dinubuatkan, seperti yang dijelaskan dalam materi kami. Sekarang, berikut teks berbahasa Latin dari bab 17 Konsili Braga sehubungan para katekumen yang mati tak dibaptis.
Lihat, ada yang disebut-sebut “momok Feeneyisme” pada konsili Braga tahun 563! Dekret ini jelas-jelas menentang gagasan “pembaptisan keinginan” dan secara spesifik melarang diadakannya ritus-ritus Katolik bagi para katekumen yang mati tak dibaptis. Kok, begitu ya? Alasannya: para katekumen yang mati tak dibaptis tidak dianggap sebagai bagian dari Gereja ataupun bagian dari para umat beriman; dan juga, karena tidak ada keselamatan di luar Gereja. Orang hanya menjadi bagian dari Gereja Katolik dengan menerima Sakramen Pembaptisan. Harap simak: Ketundukkan kepada Paus Roma & Perlunya Pembaptisan
Dengan demikian, para katekumen yang mati tak dibaptis tidak diberi ritus-ritus Katolik (sama seperti ritus-ritus Katolik dilarang diberikan bagi orang yang mati bunuh diri). Tetapi, beberapa oknum pencemooh Yohanes 3:5 benar-benar mencemooh Konsili ini, dengan menggambarkannya sebagai konsili kecil yang tidak signifikan dan hanya dihadiri 8 orang uskup. Sebagai tanggapannya, saya mau mengajukan beberapa poin. Pertama-tama, konsili ini merupakan konsili provinsial penting. Dan salah seorang dari delapan uskup hadirinnya adalah St. Martinus dari Braga. Kedua, seperti yang sudah kami sebutkan di waktu lalu, dekret konsili ini yang membahas katekumen tak dibaptis (dan baru saja kami kutip) direferensikan oleh The Catholic Encyclopedia (Ensiklopedia Katolik) sebagai cerminan Tradisi Gereja soal perkara ini. Namun, seperti yang akan kita lihat, masih ada lagi dokumen lebih penting yang mengekspresikan asas dan tradisi ini. Ketiga, konsili ini sudah disetujui oleh Paus; fakta ini kemungkinan hanya diketahui sedikit saja pencemooh Yohanes 3:5 atau mungkin tidak ada dari mereka yang tahu soal ini. Dalam suratnya kepada Raja Alfonsus VI dan Raja Sansius IV tertanggal 19 Maret 1074, Paus St. Gregorius VII (salah seorang Paus yang terhebat dan paling perkasa di dalam sejarah Gereja Katolik) menyatakan hal berikut ini tentang Konsili Braga tahun 563, konsili yang baru saja kami petik.
Seperti bisa kita lihat, Paus St. Gregorius VII berpandangan bahwa Konsili Braga tahun 563 bersifat otoritatif. Namun ada lagi yang bobotnya lebih besar dalam mengekspresikan Tradisi yang sudah disebutkan itu, Tradisi bahwa semua orang yang mati tak dibaptis tidak boleh diberi ritus-ritus Katolik ataupun penguburan Katolik. Dan ini ditemukan dalam asas Gereja yang berkata demikian:
Asas ini diartikulasikan oleh berbagai Paus, termasuk Paus St. Leo Agung dan Paus St. Gregorius VII, dan juga diinkorporasi ke dalam hukum kanon abad pertengahan. Sudah kami kutip sebelumnya. Harap tonton video kami berjudul: Dilarang Misa Latin atau Berdoa bagi Orang Non-Katolik yang Meninggal – Ajaran Kepausan. Orang tak dibaptis yang sudah mati, termasuk katekumen tak dibaptis yang sudah meninggal dunia, tidak berada dalam persekutuan dengan Gereja selama mereka masih hidup. Dan karena itu, anda tidak boleh memperlakukan mereka seolah-olah mereka bersekutu dengan Gereja sesudah mereka mati. Itulah sebabnya, mereka tidak boleh diberi penguburan Kristiani ataupun didoakan. Prinsip yang sama ini tentu saja juga berlaku kepada semua orang yang mati di luar Gereja Katolik.
Itulah asas otoritatif dan tradisional Gereja yang disetujui oleh berbagai Paus. Semakin banyak bukti bahwa kami benar pada perkara pembaptisan dan keselamatan, dan bahwa para pencemooh Yohanes 3:5 salah.
Ini juga semakin membuktikan bahwa kami benar bahwa anda tidak diperbolehkan berdoa bagi orang non-Katolik yang meninggal. Sekarang, asas Gereja ini (asas yang tidak hanya tergolong disiplin saja, namun juga terkait dengan iman dan hukum ilahi) terkompromi di abad ke-20, ketika modernisme dan kesalahan-kesalahan sedang merajalela, terutama soal perkara keselamatan. Ada kebaruan yang diperkenalkan di abad ke-20, bukan sebagai sesuatu yang mengikat semua orang dalam Gereja, namun hanya berlaku kepada segmen tertentu dalam Gereja: kebaruan ini bertentangan dengan asas otoritatif para Paus dan tradisi yang sudah disebutkan itu (seperti yang kita lihat di Braga). Jadi, bisakah hukum yang buruk disetujui seorang Paus bagi sebuah segmen tertentu dalam Gereja, atau bagai umat tertentu di dalam Gereja?
Gereja memang tak bernoda dalam hukum-hukum sucinya yang dia berlakukan bagi semua orang, seperti yang diajarkan oleh Paus Pius XII dalam Mystici Corporis. Tetapi, kesalahan bisa ditemukan pada hukum yang tidak dipermaklumkan sebagai hukum mengikat bagi semua orang di dalam Gereja, namun yang disetujui hanya bagi kalangan tertentu di dalam Gereja, atau hanya bagi sebuah segmen tertentu di dalam Gereja.
Ini sudah kami buktikan sebelumnya, namun ada beberapa fakta dan detail tambahan pada perkara ini yang kami rencanakan akan kami bahas. Paus Pius XII, Mediator Dei (#43), 20 Nov. 1947: Fakta-fakta ini akan sama sekali membantah para pencemooh Yohanes 3:5, mereka yang berpandangan secara tidak akurat dan terlalu luas tentang infalibilitas Gereja, padahal, ironisnya, orang-orang ini justru menolak pernyataan-pernyataan terkhidmat yang datang dari Takhta St. Petrus soal pembaptisan dan keselamatan!
Miskonsepsi mereka soal perkara ini akan kami bantah lebih lanjut pada video lain ke depannya, kalau Allah berkenan.
|
Tentang Bunuh Diri & Para Katekumen (Konsili Braga Diterjemahkan)
Januari 28, 2026
SHOW MORE















