Bait Allah dalam Nubuat (2 Tes. 2:4) Bukan Bait Yahudi
Agustus 22, 2026
SUPPORT
Copy Link
https://endtimes.video/id/bait-allah-dalam-nubuat-2-tes-2-4-bukan-bait-yahudi/
Copy Embed
vatikankatolik.id - Saluran dalam Bahasa Indonesia

| | |

Bruder Peter Dimond, OSB

Di 2 Tesalonika 2:4, berbicara tentang kemurtadan di akhir zaman, St. Paulus berkata bahwa manusia durhaka atau manusia pendosa akan “duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah.”

2 Tes. 2:4 - “Bahkan ia duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah.”

Pada video ini akan kami tunjukkan apa yang dimaksud dengan istilah bait Allah di nubuat 2 Tes. 2:4, dan apa yang pastinya bukan maksud istilah ini. Pandangan-pandangan sesat soal perkara ini terkait dengan berbagai kesalahan masif dalam memahami nubuat-nubuat Perjanjian Baru, dan terkait dengan diadopsinya teori-teori absurd tentang akhir zaman dan berbagai kesalahan signifikan dalam perkara doktrin. Ini isu yang luar biasa penting.

Pertama-tama, bait Allah di nubuat 2 Tes. 2:4 pastinya bukan bait suci Yerusalem atau bait Yahudi yang dibangun kembali, sebab bangunan semacam itu sama sekali tidak mungkin bait Allah. Sayangnya, ada banyak orang Protestan dan bahkan beberapa orang teperdaya yang mengaku-ngaku Katolik, telah mengadopsi posisi bahwa manusia durhaka/manusia pendosa akan duduk di bait suci Yerusalem yang dibangun kembali. Tetapi, posisi itu sama sekali keliru, tidak logis dan tidak alkitabiah.

Gereja Kristus adalah Israel milik Allah (Galatia 6:16).

Galatia 6:15-16 - “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah.”

Upacara-upacara, kurban-kurban dan ritus-ritus Yudaisme serta Hukum Taurat, dahulu kala sebelum Yesus Kristus datang, merupakan tanda-tanda yang menunjuk kepada Kristus; namun setelah Kristus datang, dan apa yang dilambangkan oleh tanda-tanda tersebut sudah hadir, upacara-upacara itu pun berakhir sudah dan digantikan dengan sakramen-sakramen Perjanjian Baru. 

Yohanes 1:29 - “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.”

Efesus 2:14-16 – “Karena Dialah damai sejahtera kita, yang telah mempersatukan kedua pihak dan yang telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera, dan untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan Allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.”

Kehancuran bait suci di tahun 70 M merupakan tanda definitif bahwa Yudaisme beserta kurban-kurban, upacara-upacara dan ritus-ritusnya sudah mati dan dikuburkan, dan bahwa agama itu sudah digantikan oleh Gereja Yesus Kristus.

Paus Pius XII, Mystici Corporis Christi (#29-30), 29 Juni 1943:
“ ... dengan wafatnya sang Penebus, Perjanjian Baru menggantikan Hukum Lama yang telah dihapuskan ... pada tiang kematian-Nya, Yesus telah membuat batal Hukum Lama beserta ketentuan-ketentuannya [bdk. Ef. 2:15] ... menetapkan Perjanjian Baru dalam darah-Nya yang ditumpahkan demi seluruh umat manusia. ‘Maka, kemudian’, seperti yang dituturkan oleh St. Leo Agung tentang Salib Tuhan kita, ‘terjadilah peralihan yang sedemikian nyata dari Hukum Lama kepada Injil, dari Sinagoga kepada Gereja, dari banyak kurban kepada satu kurban, sehingga ketika Tuhan menyerahkan roh-Nya, tabir mistis ... bait suci ... telah dikoyakkan dengan dahsyat dari atas ke bawah oleh suatu kuasa yang datang tiba-tiba.’ Itulah sebabnya, di Salib, Hukum Lama telah mati, dan akan segera dikuburkan dan menjadi pembawa kematian ....”

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, 1441, ex cathedra:
Gereja Roma Adikudus dengan teguh percaya, mengakui dan mengajarkan bahwa ketentuan-ketentuan hukum Perjanjian Lama atau Hukum Musa, yang terbagi menjadi upacara-upacara, kurban suci dan sakramen-sakramen, dahulu kala ditetapkan sebagai penanda akan datangnya sesuatu di masa depan dan layak untuk ibadat ilahi pada masa itu, namun sudah berakhir ketika yang ditandakan oleh ketentuan-ketentuan hukum itu – yakni, Tuhan kita Yesus Kristus – telah datang. Dan sejak itu, sakramen-sakramen Perjanjian Baru pun mulai berlaku. Selain itu, sesudah Sengsara Kristus, barang siapa menaruh harapan dan tunduk pada ketentuan-ketentuan hukum tersebut dengan anggapan bahwa ketentuan-ketentuan hukum itu diperlukan untuk keselamatan, seolah-olah tanpa ketentuan-ketentuan hukum itu, iman akan Kristus tidak mampu menyelamatkan, orang itu telah berbuat dosa berat. Namun demikian, Gereja tidak menyangkal bahwa sejak Sengsara Kristus sampai waktu pewartaan Injil, ketentuan-ketentuan hukum itu boleh ditunaikan, asalkan sama sekali tidak dipercaya diperlukan untuk keselamatan. Namun Gereja menyatakan bahwa setelah pewartaan Injil, orang tidak dapat menunaikan ketentuan-ketentuan hukum itu tanpa mengalami hilangnya keselamatan kekal. Dengan demikian, Gereja menyatakan bahwa setelah masa tersebut [pewartaan Injil], mereka semua yang menunaikan sunat, Sabat dan ketentuan-ketentuan lain dari Hukum Musa yang sudah disebutkan itu adalah orang-orang yang terasing dari iman akan Kristus dan sama sekali tidak dapat mengambil bagian dalam keselamatan kekal ....”

Seperti yang sudah diajarkan secara dogmatis oleh Gereja Katolik, menunaikan atau mempraktikkan ritus-ritus Perjanjian Lama setelah Injil diwartakan, adalah dosa berat.

St. Tomas Aquinas, Summa Theologiae, Bagian I-II, Pertanyaan 103, Artikel 4:
Dan demikian juga, upacara-upacara Hukum Lama merupakan penanda Kristus masih belum lahir dan menderita Sengsara, sedangkan sakramen-sakramen kita merupakan penanda Dia sudah lahir dan menderita Sengsara. Itulah sebabnya, sama halnya siapa saja akan berdosa berat sekiranya dia sekarang membuat pengakuan iman dan berkata bahwa Kristus masih belum lahir (sesuatu yang dahulu dikatakan dengan saleh dan benar oleh nenek moyang kita); demikian juga orang itu akan berdosa berat sekiranya dia sekarang menunaikan upacara-upacara yang dahulu ditunaikan dengan saleh dan setia oleh nenek moyang kita. Dan seperti itulah yang diajarkan oleh Agustinus (Contra Faust. xix, 16) ....”

St. Tomas Aquinas dengan benar menjelaskan bahwa upacara-upacara Hukum Lama merupakan penanda orang-orang dahulu sedang menantikan kedatangan Mesias.

Paus Benediktus XIV, Ex Quo Primum (#61), 1 Maret 1756:
“Pertimbangan pertama adalah bahwa perayaan-perayaan Hukum Musa telah dihapuskan oleh kedatangan Kristus dan bahwa perayaan-perayaan tersebut tidak lagi dapat ditaati tanpa dosa setelah pewartaan Injil.”

Paus Benediktus XIV, Ex Quo Primum (#59), 1 Maret 1756:
“ … ketentuan-ketentuan Hukum Lama, yang, sebagaimana jelas bagi semua orang, sudah dihapuskan oleh kedatangan Kristus.”

Maka dari itu, menunaikan upacara-upacara Perjanjian Lama sekarang, sesudah Yesus Kristus datang dan Injil diwartakan, sama saja berpura-pura Mesias belum datang dan menggenapi apa yang dilambangkan oleh upacara-upacara tersebut. Perbuatan ini adalah bidah dan penghujatan.

Menunaikan Yudaisme atau Hukum Lama sekarang, pada praktiknya setara menyangkal Yesus Kristus adalah Mesias, dan karena itu mengamalkan Yudaisme atau menunaikan upacara-upacara Hukum Lama sekarang, setelah Injil diwartakan, adalah dosa berat. Inilah juga alasan semua bait “suci” yang dibangun kembali dan didedikasikan untuk ritus-ritus kedaluarsa semacam itu tidak mungkin bait Allah. Itulah sebabnya, bait Allah di mana duduk manusia durhaka/manusia pendosa, tentu saja bukan bait “suci” Yerusalem atau bait “suci” Yahudi yang dibangun kembali.

Posisi keliru bahwa bait Allah dalam nubuat itu adalah bait suci Yahudi yang dibangun kembali, pada umumnya terkait dengan doktrin sesat. Menurut doktrin sesat ini, orang Yahudi di masa Perjanjian Baru, adalah umat Allah atau agama mereka adalah agama yang diberikan Allah. Pandangan semacam ini sama sekali keliru dan pada kenyataannya adalah bidah, yang dianut secara luas di zaman kita. Namun Alkitab sangat jelas: orang Kristen sejati, bukan orang Yahudi yang tidak percaya, adalah Israel dan umat Allah.

Ide bahwa ada kelompok yang merupakan umat Allah di luar Gereja dihancurkan oleh 1 Petrus 2:9, ketika ayat ini berkata demikian tentang orang Kristen sejati:

1 Petrus 2 :9 – “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib ....”

Seperti yang bisa kita lihat, orang Kristen, dan bukan orang Yahudi, adalah bangsa/umat kepunyaan Allah. Kebenaran yang sama ini juga dituangkan di Kolose 3:12.

Kolose 3:11-12 - “ … dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.”

Bahkan, setiap kali istilah pilihan digunakan di Perjanjian Baru, yang dimaksud oleh istilah ini adalah Yesus Kristus atau orang Kristen, dan tidak pernah memaksudkan orang Yahudi atau bangsa spesifik secara lahiriah. Umat pilihan Allah bukan mereka yang merupakan keturunan Abraham secara jasmaniah atau orang-orang yang bergabung ke dalam keturunan jasmaniah itu. Alih-alih, umat pilihan Allah adalah mereka yang sudah lahir kembali secara rohani di dalam Kristus dan mempertahankan iman sejati-Nya.

Galatia 3:16 – “Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan ‘kepada keturunan-keturunannya’ seolah-olah dimaksud banyak orang, tetapi hanya satu orang: ‘dan kepada keturunanmu’, yaitu Kristus.”

Galatia 3:27-29 – “Karena kamu semua, yang dibaptis dalam Kristus, telah mengenakan Kristus … Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.”

Galatia 3:16 berkata bahwa janji telah dibuat kepada Abraham dan kepada keturunannya, dan bahwa keturunan Abraham hanya satu orang, bukan banyak orang: keturunannya ialah Yesus Kristus. Selanjutnya, Galatia 3:29 berkata bahwa jika anda adalah milik Kristus, maka anda juga adalah keturunan Abraham. Demikianlah, ajaran infalibel Kitab Suci tentang keturunan Abraham. Sangat jelas sekali.

Inilah juga alasan di Kis. 3:23, St. Petrus, berbicara tentang Yesus Kristus (Allah benar dan manusia benar), berkata demikian:

“Dan akan terjadi, bahwa semua orang yang tidak mendengarkan nabi itu, akan dibasmi dari umat kita.” – Kisah Para Rasul 3:23

Menurut ajaran Alkitab, orang Yahudi yang tidak menerima Yesus Kristus akan dibasmi dari umat Allah. Maka dari itu, semua rumah ibadah atau “bait suci” yang akan mereka bangun tidak mungkin bait Allah. Ada begitu banyak bukti lain dari Alkitab yang bisa dikutip untuk semakin membuktikan bahwa orang Kristen, dan bukan Yahudi, adalah Israel dan umat Allah.

Jeffrey A.D. Weima, 1-2 Thessalonians, Baker Academic, 2014, hal. 548-549:
“Alasan kedua frasa ‘dikasihi Tuhan’ [di 2 Tes. 2:13] begitu mencolok, adalah frasa ini menghadirkan contoh lain bagaimana Paulus mengambil istilah yang pada mulanya digunakan untuk Israel … dan menggunakannya kembali untuk gereja Kristiani.”

 Jeffrey A.D. Weima, 1-2 Thessalonians, Baker Academic, 2014, hal. 548-549:
“ … besar kemungkinannya, fakta bahwa Paulus sedang mengambil istilah-istilah yang pada mulanya dikhususkan untuk Israel (atau lebih spesifiknya untuk Benyamin, sebuah suku Israel tertentu) dan menggunakan istilah-istilah itu untuk jemaat Tesalonika yang mayoritasnya terdiri dari orang bukan Yahudi, tidak mungkin suatu kebetulan, namun berpangkal pada keyakinannya bahwa gereja … sekarang merupakan Israel yang sudah diperbarui milik Allah.”

 Jeffrey A.D. Weima, 1-2 Thessalonians, Baker Academic, 2014, hal. 548-549:
“Yang dinyatakan Marshall (1990:262) mengenai frasa serupa di 1 Tes. 1:4 juga sama benar sehubungan dengan perkataan Paulus di sini: ‘Jelas bahwa pada fase awal pemikirannya ini, Paulus sudah mengembangkan konsep gereja sebagai Israel milik Allah … Gereja telah mewarisi posisi Israel.’”

 Karena kita sedang membahas istilah bait Allah dalam nubuat 2 Tes. 2:4, penting untuk dicatat bahwa ada banyak komentator yang mengutarakan bahwa dalam surat-suratnya, termasuk 1 dan 2 Tesalonika, St. Paulus mengambil istilah yang pada awalnya dikhususkan untuk Israel dan dia gunakan untuk Gereja. St. Paulus mengajarkan bahwa Gereja sudah mengambil posisi Israel.

Ada banyak ayat yang membuktikan bahwa mereka yang di luar Yesus Kristus dan Gereja-Nya bukanlah milik Allah. Orang-orang itu bukan Israel, dan mereka tidak memiliki bagian dalam kerajaan Allah. Mereka perlu dipertobatkan agar menganut iman sejati Kristus untuk menjadi bagian dari Israel milik Allah. Maka dari itu, semua “bait suci” bukan Kristen atau bait “suci” Yahudi yang dibangun kembali di Yerusalem, termasuk yang digadang-gadang sebagai restorasi bait suci kuno, tidak mungkin bait Allah. Bangunan semacam itu hanya akan menjadi kuil Iblis yang dibaktikan kepada agama sesat.

Karena alasan ini juga, semua upaya membangun kembali bait suci Yerusalem telah gagal dan bahkan pernah dicegah oleh peristiwa-peristiwa mukjizat. Contohnya, coba pertimbangkan upaya yang dilakukan di tahun 363 oleh Kaisar Romawi bernama Yulianus Pemurtad. Banyak orang yang tidak akrab dengan berbagai peristiwa mukjizat yang menghentikan upaya membangun kembali bait suci Yerusalem, kendati peristiwa-peristiwa ini sangat terkenal di masa Gereja perdana. Yulianus Pemurtad, seorang musuh Kekristenan, ingin membangun kembali bait suci Yerusalem pada tahun 363, karena kehancuran bait suci itu dahulu menjadikan umat Yahudi tidak mampu menunaikan agama Perjanjian Lama. Luluh lantaknya bait suci mereka, seturut riwayat hidup Yesus dan nubuat-nubuat-Nya, merupakan bukti dari Allah bahwa Mesias sudah datang dan bahwa Kekristenan telah menggantikan Yudaisme.

Matius 24:1-2 -  “Sesudah itu Yesus keluar dari Bait Allah, lalu pergi. Maka datanglah murid-murid-Nya dan menunjuk kepada bangunan-bangunan Bait Allah. Ia berkata kepada mereka: ‘Kamu melihat semuanya itu? Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak satu batupun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.’”

Nah, faktanya, yang juga ditegaskan oleh banyak sumber, ketika para pekerja Yulianus sedang membamgun kembali bait suci, terjadilah mukjizat bola-bola api yang meledak di daerah itu. Tanahnya berguncang dan muncullah salib-salib pada pakaian orang-orang. Peristiwa ini juga memakan korban jiwa, sehingga seluruh upaya pembangunannya ditelantarkan. Ini bukan hanya legenda belaka, namun merupakan peristiwa sejarah yang terdokumentasi dengan baik. Kejadian-kejadian luar biasa dan bermukjizat ini menggagalkan pembangunan kembali Bait Suci di Yerusalem dan dicatat oleh St. Gregorius dari Nazianzus, St. Ambrosius, St. Yohanes Krisostomus, sejarawan Gereja perdana bernama Sokrates dan Sozomenus, dsb. Kejadian-kejadian ini bahkan ditegaskan oleh sejarawan pagan bernama Amianus Marselinus (Ammianus Marcellinus), seorang sahabat Yulianus pemurtad. Ujarnya :

“ … bola-bola api mengerikan terus meledak-ledak di dekat fondasi-fondasi bait suci, dan menutup akses tempat itu bagi para pekerja, beberapa dari mereka terbakar sampai mati; dan karena dengan demikian unsur [api] itu terus saja merintangi mereka, pekerjaannya pun terbengkalai.” (Amianus Marselinus, Roman History, Loeb Classical Library, 1940, Vol. 2, Buku 23)

Peristiwa-peristiwa luar biasa ini menghentikan pembangunan bait suci, dan terdokumentasi dengan begitu baiknya sehingga St. Ambrosius menggunakan peristiwa-peristiwa ini sebagai argumen di dalam suratnya kepada Kaisar Grasianus di tahun 380. St. Ambrosius tentu saja tidak akan berbuat demikian, sekiranya fakta-faktanya tidak dianggap benar oleh khalayak umum. Peristiwa-peristiwa mukjizat ini merupakan sarana campur tangan Allah demi mencegah rekonstruksi bait suci Yerusalem. Dan ini merupakan petunjuk yang kuat, bahwa nubuat akhir zaman tentang bait Allah di Perjanjian Baru tidak mengacu kepada bait suci Yerusalem yang dibangun kembali. Bahkan, sekiranya pun orang menerima demi tujuan argumen bahwa Allah bersedia membiarkan struktur yang digadang-gadang sebagai restorasi bait suci Yerusalem dirampungkan, fakta-fakta yang sudah kami bahas membuktikan bahwa struktur semacam itu tentunya bukan bait Allah, melainkan kuil agama sesat. Itulah sebabnya, doktor Gereja dari abad IV, St. Yohanes Krisostomus, dengan benar menggambarkan sinagoga Yahudi di masa Perjanjian Baru, bukan sebagai bait Allah, namun sebagai tempat menginapnya roh-roh jahat.

St. Yohanes Krisostomus, Diskursus I Melawan Yahudi, Abad IV:
“ ... sinagoga masih lebih tidak terhormat lagi daripada tempat penginapan mana pun. Sinagoga adalah tempat menginapnya para penyamun, orang jangak dan bahkan roh-roh jahat; seperti itu jugalah adanya dengan jiwa Yahudi.”

St. Yohanes Krisostomus menganggap sinagoga sebagai rumah roh-roh jahat dan berkata bahwa sinagoga lebih tidak terhormat daripada tempat penginapan. Ini konsisten dengan ajaran Alkitab di Wahyu 3:9, bahwa orang Yahudi yang menolak Yesus Kristus bukan bagian dari agama Allah, namun merupakan anggota jemaah Iblis (atau sinagoga Setan, kalau diterjemahkan secara harfiah dari bahasa Yunani).

Wahyu 3:9 - “Lihatlah, beberapa orang dari jemaah Iblis*, yaitu mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, melainkan berdusta, akan Kuserahkan kepadamu. Sesungguhnya Aku akan menyuruh mereka datang dan tersungkur di depan kakimu dan mengaku, bahwa Aku mengasihi engkau.”

* συναγωγης του σατανα (sinagoges tou satana) = sinagoga Setan

Seperti semua orang lainnya yang ada di luar Gereja, Yahudi perlu dipertobatkan agar menganut iman sejati Kristus supaya beroleh keselamatan. Makna dari Wahyu 3:9 adalah Yahudi yang menolak Yesus Kristus bukan orang Yudea ataupun Yahudi sejati. Mereka juga bukan Israel, karena hanya orang Kristen sejatilah yang merupakan Israel. Orang Yahudi yang tidak percaya, adalah bagian dari sinagoga Setan. Keturunan Abraham hanyalah mereka yang dimiliki Kristus. Itulah sebabnya, beranggapan bahwa bait Allah di 2 Tes. 2:4 merupakan bait suci Yahudi, sebenarnya setara menyamakan tempat menginapnya roh-roh jahat dan sinagoga Setan dengan bait suci Allah; pandangan yang tentu saja salah besar.

Fakta “bait Allah” yang disebut di 2 Tes. 2:4 sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan Yudaisme semakin terbukti ketika kita mempertimbangkan makna istilah “bait Allah” di surat-surat St. Paulus. Waktu bait suci Yerusalem dulu masih berdiri sekalipun, St. Paulus memberi tahu jemaat Korintus dengan jelas bahwa orang Kristen sudah menggantikan bait suci Yerusalem sebagai bait Allah. Contohnya bisa dilihat pada ayat-ayat berikut:

1 Korintus 3:16-17 - “Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah ... Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu.”

2 Korintus 6:15-16 – “Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya? Apakah hubungan bait Allah dengan berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup ....”

Menurut Perjanjian Baru, orang Kristen sejati adalah bait Allah. Gereja Kristus telah mewarisi posisi Israel dan menggantikan bait suci Perjanjian Lama (yang sudah dihancurkan hampir 2.000 tahun lalu sebagai tanda dari Allah beralihnya segala sesuatu dari Yudaisme Perjanjian Lama kepada Gereja milik Kristus). Bahkan, St. Paulus menggunakan frasa “bait Allah” empat kali selain di 2 Tesalonika 2:4. Setiap kali, frasa ini mengacu kepada Gereja. Identifikasi Gereja sebagai bait Allah didapati berulang kali di Perjanjian Baru, termasuk di kitab Efesus dan juga 1 Petrus.

Efesus 2:19-21 - “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.”

1 Petrus 2:5 - “ ... kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.”

Bait Allah di 2 Tes. 2:4 bukan bait suci Yerusalem yang dibangun kembali. Terlebih, bait Allah pastinya bukan bait suci yang dibangun oleh manusia durhaka/manusia pendosa/antikristus, karena bangunan itu lantas akan menjadi bait miliknya sendiri. Sebutannya akan menjadi: ναός διαβόλου (naos diabolou), yakni kuil iblis, bukan ὁ ναὸς Θεοῦ (o naos theou), bait Allah. Bahkan, 2 Tes. 2:4 menggunakan artikel definit di depan kata bait dan juga kata Allah, sehingga, kalau diterjemahkan dengan sangat leterlek, frasa Yunaninya akan berkata bahwa manusia pendosa duduk di “bait sang Allah itu”. Jadi, bangunan yang disebut dalam nubuat ini, yakni “bait sang Allah itu”, bukan bangunan yang didirikan oleh manusia durhaka/antikristus. Bukan. Yang dimaksud dengan Bait Allah ini adalah Gereja Yesus Kristus. Karena nubuat di 2 Tes. 2:4 berkata bahwa manusia durhaka/manusia pendosa akan duduk di bait Allah, dan tentu saja orang tidak mungkin duduk secara jasmaniah dalam entitas spiritual Gereja, nubuat ini mengindikasikan bahwa manusia pendosa akan duduk di struktur fisik utama milik Gereja Yesus Kristus. Dia akan duduk di bangunan yang telah dikenal/dapat dengan benar dianggap sebagai bait suci universal Kekristenan. Nubuat-nubuat macam ini tentang bait Allah tentu saja tidak bisa ditemukan penggenapannya di dunia yang membayangkan Protestanisme sebagai Kekristenan, karena orang non-Katolik yang mengaku-ngaku Kristen tidak punya bait Allah yang diakui secara universal.

Bagi mereka, tidak ada bangunan yang secara universal diakui sebagai bait Allah yang dapat diduduki oleh manusia durhaka/manusia pendosa. Itulah sebabnya, begitu banyak dari mereka dengan putus asa telah mengadopsi ide bait suci Yerusalem yang dibangun kembali, suatu ide yang sama sekali sesat. Bahkan, banyak orang non-Katolik yang menolak gagasan bahwa Yahudi adalah umat Allah di Perjanjian Baru telah mengadopsi posisi bahwa bait “suci” Yahudi yang dibangun kembali akan menjadi bait suci dalam nubuat, karena mereka sadar bahwa nubuat itu mengacu kepada manusia pendosa duduk di struktur fisik yang diidentifikasikan sebagai bait Allah, dan karena sama sekali tidak ada bangunan yang mungkin bisa dianggap sebagai bait Allah universal di dalam “Kekristenan” non-Katolik. Pandangan keliru mereka tentang arti dari bait Allah itu berujung pada teori-teori absurd tentang rekonstruksi bait “suci” Yahudi dan dilanjutkannya ritus-ritus Yahudi yang sudah mati, yang menurut mereka harus terjadi agar nubuat-nubuat akhir zaman digenapi.

Matius 16:18-19 - “Dan Aku pun berkata kepadamu: engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku, dan pintu-pintu gerbang Neraka tidak akan berjaya melawannya. Aku akan memberikan kepadamu kunci-kunci Kerajaan Surga, dan apa pun yang kauikat di atas bumi akan terikat di dalam Surga dan apa pun yang kaulepaskan di atas bumi akan terlepas di dalam Surga.”

Yohanes 21:15-17 – “Ketika mereka telah selesai makan pagi, Yesus berkata kepada Simon Petrus, ‘Simon, putra Yunus, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada hal-hal ini?’ Ia berkata kepada-Nya, ‘Ya, Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.’ Ia berkata kepadanya, ‘Berilah makan anak-anak domba-Ku!’ Ia berkata lagi kedua kalinya kepadanya, ‘Simon, putra Yunus, apakah engkau mengasihi Aku?’ Ia berkata kepada-Nya, ‘Ya, Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.’ Ia berkata kepadanya, ‘Gembalakanlah domba-domba-Ku!’ Ia berkata kepadanya untuk ketiga kalinya, ‘Simon, putra Yunus, apakah engkau mengasihi Aku?’ Petrus menjadi sedih hatinya karena Ia berkata kepadanya untuk ketiga kalinya, ‘Apakah engkau mengasihi Aku?’ Maka ia berkata kepada-Nya, ‘Tuhan, Engkau mengetahui segala sesuatu. Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau!’ Yesus berkata kepadanya, ‘Berilah makan domba-domba-Ku!’”

Sebaliknya, nubuat tentang manusia pendosa duduk di bait Allah seharusnya menyadarkan mereka bahwa Protesanisme bukanlah Kekristenan sejati, karena di dalam Kekristenan sejati, sudah ada bait Allah yang diakui secara universal. Bait Allah yang diakui secara universal dalam Kekristenan sejati itu adalah Vatikan di Roma, dan lebih spesifik lagi, bait Allah universal itu adalah Basilika St. Petrus di Vatikan. Seperti yang akan kita lihat, Basilika St. Petrus adalah bait Allah itu. Bait suci ini dibangun pada tempat yang sama St. Petrus (Paus pertama) dikuburkan. Pembangunan bait suci ini di atas St. Petrus sendiri karena itu menjadi simbol yang pantas untuk Gereja. Sebab, Yesus dulu mendirikan Gereja universal-Nya di atas St. Petrus. Yesus menunjuk St. Petrus sebagai batu karang. Diberikan-Nya St. Petrus kunci-kunci Kerajaan Surga, dan St. Petrus juga Dia serahkan kawanan domba-Nya. Jadi, sama halnya Yesus mendirikan Gereja universal-Nya di atas St. Petrus, pantas adanya struktur fisik paling menonjol dan juga bait suci di Gereja itu, Basilika St. Petrus, juga dibangun di atas St. Petrus sendiri, yaitu persis di atas makamnya.

Bahkan, coba dipikirkan seperti ini. Menurut ajaran Alkitab, Gereja Allah sama dengan bait Allah. Dan menurut ajaran Alkitab juga, Gereja Allah didirikan di atas St. Petrus. Lantas bisa disimpulkan bahwa bait Allah didirikan pula di atas St. Petrus, dan itulah tepatnya yang sudah terjadi di Basilika tersebut, yang didirikan tepat di atas makam orang kudus itu. Itu petunjuk lain Basilika St. Petrus adalah bait Allah yang disebut dalam nubuat St. Paulus.

1 Petrus 5:13- “Gereja yang berada di Babel, yang terpilih bersama dengan kalian, memberi salam kepada kamu sekalian ….”

Wahyu 18:2 - “ ... ‘Sudah jatuh, sudah jatuh, Babel yang agung! Dan ia telah menjadi tempat tinggal para iblis dan penjara segala roh yang najis, dan penjara setiap burung yang najis, dan penjara setiap binatang yang najis dan yang dibenci.’”

Dan juga, seperti yang sudah ditunjukkan dalam video kami, termasuk Babel Sudah Jatuh, Sudah Jatuh, di zaman ini, sudah kita lihat nubuat-nubuat apokaliptik tentang Babel dan binatang kitab Wahyu digenapi dengan mengejutkan pada titik yang satu itu di bait Allah, Basilika St. Petrus.

Wahyu 13:14 -  “ … ia menipu umat-umat-Ku sendiri yang tinggal di bumi, dengan berkata kepada orang-orang yang tinggal di bumi untuk membuat sebuah gambar bagi binatang yang dilukai oleh pedang, yang walau bagaimanapun hidup.”

Sekarang, sebelum kami bahas semua bukti lain bahwa Basilika St. Petrus adalah bait Allah yang disebut di nubuat 2 Tes. 2:4, harap pertimbangkan yang berikut ini. Di tanggal 23 Desember 1929, Paus Pius XI mengeluarkan surat ensikliknya, Quinquagesimo ante. Surat ensiklik ini menyebutkan dan merayakan Perjanjian Lateran tahun 1929. Seperti dijelaskan materi kami, Perjanjian Lateran ditandatangani pada 11 Februari 1929 dan menciptakan Negara Kota Vatikan. Dokumen tersebut menganugerahkan sebuah kerajaan baru di Roma kepada para pengklaim Kepausan, dan kerajaan ini merupakan kerajaan Romawi akhir zaman yang dinubuatkan di dalam kitab Wahyu.

Wahyu 17:4-10 - “Dan wanita itu didandani dengan kain ungu dan kain merah padam dan dihiasi dengan emas dan batu permata dan mutiara, sambil memegang cawan emas di tangannya yang penuh dengan kekejian dan kenajisan percabulannya. Dan pada dahinya ada tertulis suatu nama, suatu misteri: ‘Babel yang agung, Ibu dari para pelacur dan dari kekejian bumi.’ Dan aku melihat wanita itu, yang mabuk oleh karena darah orang-orang kudus dan oleh karena darah para martir Yesus. Sewaktu aku melihatnya, aku merasakan keheranan yang besar. Tetapi sang malaikat berkata kepadaku, ‘Mengapa engkau keheranan? Aku akan mengatakan kepadamu misteri sang wanita, dan binatang yang membawanya, yang mempunyai tujuh kepala dan sepuluh tanduk. Binatang yang engkau telah lihat itu dahulu ada dan sekarang tidak ada dan akan segera muncul dari jurang yang tak kedalamannya tak terhingga dan pergi menuju kebinasaan. Dan orang-orang yang berdiam di bumi, yang nama-namanya tidak tertulis di dalam Kitab Kehidupan sejak permulaan dunia, mereka akan heran saat melihat sang binatang, sebab ia dahulu ada, dan sekarang tidak ada, dan akan datang. Yang dituntut di sini adalah pikiran yang penuh kebijaksanaan: ketujuh kepala adalah tujuh gunung yang di atasnya sang wanita terduduk. Dan ketujuh kepala itu juga adalah tujuh raja, lima dari antaranya sudah jatuh, satu masih ada .…’”

Tujuh raja imam Negara Kota Vatikan, bermula dengan Paus Piux XI, jelas merupakan tujuh raja Romawi yang disebutkan dalam nubuat kitab Wahyu. Nubuat-nubuat ini cocok dengan mereka bertujuh dalam detail yang luar biasa, seperti

  • ketika Uni Eropa selaku binatang akhir zaman muncul sewaktu lima raja sudah jatuh;
  • bagaimana raja ketujuh memerintah sebentar saja;
  • bagaimana pelacur Babel (yakni Kontra-Gereja akhir zaman pasca-Vatikan II) terasosiasi dengan apa yang kelak terjadi di Negara Kota Vatikan;
  • bagaimana salah satu tanda di Wahyu 18:2 terjadi pada hari ulang tahun penandatanganan Perjanjian Lateran di 11 Februari, dan terjadi hanya beberapa jam saja setelah raja ketujuh Negara Kota Vatikan secara resmi mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya sebagai raja di 11 Februari;
  • dan masih banyak lagi, seperti dibahas dalam materi kami.

Sangat menarik juga, bahwa Paus Pius XI, raja pertama dari tujuh raja, tidak hanya menerima kedudukannya sebagai raja di 11 Februari 1929, namun juga di hari Senin, 11 Februari tahun itu. Sedangkan Anti-Paus Benediktus XVI, raja ketujuh, secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya pada hari Senin, 11 Feb. 2013. Dan ketujuh raja Romawi kemudian disusul oleh Anti-Paus Fransiskus. Anti-Paus Fransiskus bukan imam yang tertahbis secara valid (sebab dia ditahbiskan dalam ritus imamat baru tidak valid) dan karena itu tidak mungkin menjadi raja-imam di monarki imamat Negara Kota Vatikan. Anti-Paus Fransiskus juga secara terbuka menolak semua aspek kerajaan, suatu petunjuk bahwa tujuh raja Negara Kota Vatikan (dari Paus Pius XI sampai Anti-Paus Benediktus XVI) memang merupakan tujuh raja Romawi dalam nubuat.

Nah, pada tahun diciptakannya Negara Kota Vatikan dan dalam sebuah dokumen yang membahas kerajaan baru di Roma ini, Paus Pius XI berkata demikian tentang Basilika St. Petrus di Vatikan:

Paus Pius XI, Quinquagesimo Ante (#30), 30 Des. 1929:
“ ... di tanggal 1 Desember, berhimpunlah para putra dari dioses Kami sendiri dalam khalayak sedemikian besar di bait suci Petrus ... sehingga Kami mungkin tidak pernah sebelumnya melihat bait suci [Aedem] teramat luas ini dipadati begitu banyak orang.”

Paus Pius XI, raja pertama Negara Kota Vatikan, menyebut Basilika St. Petrus sebagai “bait suci teramat luas”. Sri Paus menggunakan kata bahasa Latin aedem, bentuk akusatif kata bahasa Latin aedēs, yang berarti bait suci. Bahkan, aedes adalah kata yang juga dapat digunakan sebagai terjemahan kata bahasa Yunani ναός (naos) ke dalam bahasa Latin. Ini tidak hanya membuktikan bahwa Basilika St. Petrus telah secara resmi dirujuk dengan istilah “bait suci”, namun ini adalah petunjuk yang disediakan Allah bahwa Basilika St. Petrus adalah bait Allah di nubuat St. Paulus. Dan petunjuk ini disediakan-Nya pada tahun yang sama Perjanjian Lateran ditandatangani di dalam dokumen yang membahas kerajaan baru di Roma ini. Itulah sebabnya, di zaman kita, nubuat-nubuat kitab Wahyu telah digenapi di tempat yang satu itu.

Wahyu 18:2 - “Dan ia [sang malaikat] berseru dengan suara yang kuat, ‘Sudah jatuh, sudah jatuh, Babel yang agung! Dan ia telah menjadi tempat tinggal para iblis dan penjara segala roh yang najis, dan penjara setiap burung yang najis, dan penjara setiap binatang yang najis dan yang dibenci.’”

B. YUNANI: “Καὶ ἔκραξεν ἐν ἰσχυρᾷ φωνῇ, λέγων, ἔπεσεν, ἔπεσεν Βαβυλὼν ἡ μεγάλη, καὶ ἐγένετο κατοικητήριον δαιμονίων, καὶ φυλακὴ παντὸς πνεύματος ἀκαθάρτου, καὶ φυλακὴ παντὸς ὀρνέου ἀκαθάρτου, καὶ φυλακὴ παντὸς θηρίου ἀκαθάρτου καὶ μεμισημένου.”

Sebagai contoh, dinubuatkan di Wahyu 18:2 bahwa Babel yang agung akan jatuh dan menjadi penjara setiap burung dan binatang najis. Seperti ditunjukkan dalam video kami, bagian nubuat itu digenapi dengan menakjubkan di Vatikan pada tanggal 8 Desember 2015. Hari itu, sekte Vatikan II melangsungkan pertunjukkan cahaya yang belum pernah diadakan sebelumnya. Acara bernama fiat lux ini berlangsung pada hari ulang tahun ke-50 penutupan Vatikan II. Di pertunjukkan cahaya tersebut, gambar-gambar dan suara-suara segala macam burung dan binatang najis diproyeksikan ke Basilika St. Petrus, persis sesuai dengan nubuat Wahyu 18:2 tentang bagaimana Babel yang agung telah menjadi penjara bagi setiap burung dan binatang yang najis.

Bahkan, seperti dibahas video kami, nubuat itu menggunakan kata φυλακ (fulake) dalam bahasa Yunani untuk menggambarkan bagaimana Babel sudah jatuh dan menjadi penjara atau kandang bagi setiap burung dan binatang najis. Pilar-pilar di depan Basilika St. Petrus terlihat persis seperti jeruji penjara, sehingga ketika gambar-gambar dari binatang-binatang dan burung-burung itu diproyeksikan pada Basilika St. Petrus selama pertunjukkan cahaya itu, mereka tampak seperti berada dalam penjara atau kandang, tepat seperti perkataan nubuat tersebut. Artinya, penggenapan nubuat itu berkelindan dengan ciri-ciri spesifik Basilika St. Petrus, Bait Allah. Pertunjukkan cahaya di Basilika St. Petrus secara menakjubkan dan langsung menggenapi nubuat Wahyu 18:2, dan acara ini melambangkan jatuhnya kota Roma ke dalam kenajisan dan kemurtadan pada akhir zaman, akibat Bait Allah dan Roma diambil alih oleh para Anti-Paus Vatikan II serta Kontra-Gereja akhir zaman mereka, sekte Vatikan II (yang merupakan pokok pembahasan nubuat-nubuat tentang Pelacur Babel secara umum).

Terlebih, video kami menunjukkan bagaimana bagian lain dari Wahyu 18:2, tentang bagaimana Babel sudah jatuh, sudah jatuh kepada para iblis dan segala roh najis, juga dengan mengejutkan digenapi pada lokasi yang sama persis, yakni di Basilika St. Petrus. Dan penggenapannya terjadi pada hari raja ketujuh Negara Kota Vatikan, Anti-Paus Benediktus XVI, mengumumkan pengunduran dirinya, di tanggal 11 Februari 2013. Tanda bahwa Babel sudah jatuh, sudah jatuh kepada para iblis dan segala roh najis adalah kilat, kilat, sambaran kilat berganda pada puncak Basilika St. Petrus di hari yang luar biasa penting bagi nubuat-nubuat akhir zaman. Ini persis bersesuaian dengan perkataan Yesus di Lukas 10:18, bahwa Dia melihat Setan jatuh seperti kilat. Dan ketika konteks Lukas 10:17-20 dibandingkan dengan konteks Wahyu 18:2, kesamaannya benar-benar tak terpungkiri.

Lukas 10:17-20- “ ... 17 ‘Tuhan, bahkan para iblis takluk kepada kami dalam nama-Mu.’ 18 Lalu Ia berkata kepada mereka: ‘Aku melihat Setan jatuh dari langit seperti kilat. 19 Lihatlah Aku telah memberikan kepada kalian kuasa untuk menginjak ular dan kalajengking, dan atas segala kekuatan musuh, dan tiada sesuatu pun yang akan melukai kalian. 20 Namun demikian janganlah bersukacita oleh karena roh-roh itu takluk kepada kalian, tetapi bersukacitalah karena nama kalian tertulis di Surga."

Dari kedua ayat ini kita mendapat informasi bahwa para iblis, roh-roh najis dan Setan jatuh di tempat tertentu. Lukas 10:18 memberi tahu kita bahwa tanda Setan jatuh satu kali adalah kilat. Maka, sungguh masuk akal bahwa tanda Babel sudah jatuh, sudah jatuh kepada para iblis dan segala roh najis, dalam kata lain, tanda bahwa Setan jatuh dua kali, satu kali dalam bentuk para iblis dan sekali lagi dalam bentuk segala roh najis, adalah kilat, kilat. Dan penggenapan nubuat ini bahkan lebih spesifik dan menakjubkan lagi, karena kubah Basilika St. Petrus dibangun persis di atas altar utamanya dan juga persis di atas kanopi perunggu yang menandai makam St. Petrus. Maka, kubah basilika itu persis menandai tempat berlokasinya St. Petrus, dan 1 Petrus 5:13 secara infalibel mendefinisikan dengan jitu lokasi Babel sebagai Basilika St. Petrus dan tempat St. Petrus berada. Itulah sebabnya, ketika kilat dua kali menyambar puncak teratas dari kubah Basilika St. Petrus, dan menggenapi nubuat sudah jatuh, sudah jatuhnya Babel kepada para iblis dan setiap roh najis, kilat itu dengan keakuratan amat jitu menyambar situs makam St. Petrus, lokasi persis dari Babel menurut Alkitab. Artinya, bisa kita jelaskan bagaimana setiap kata dalam nubuat Wahyu 18:2 digenapi di situs tersebut, Basilika St. Petrus. Masih ada banyak lagi ayat di kitab Wahyu yang bisa kami bahas dan kami juga bisa menunjukkan apa yang terjadi di Roma dan di Basilika St. Petrus di zaman kita menggenapi nubuat-nubuat itu.

Basilika ini adalah titik fokus dalam berbagai nubuat karena bangunan itu adalah bait Allah. Di 2 Tesalonika 2:4, St. Paulus menyebut basilika itu bukan sebagai kuil iblis, namun sebagai bait Allah, karena Gereja Katolik adalah Gereja Yesus Kristus yang satu dan sejati, di luar mana tidak terdapat keselamatan. Semua “gereja” lain itu sesat. Gereja Katolik adalah Gereja yang satu dan sejati, namun, di akhir zaman, pada kemurtadan terakhir, sebagai bagian dari penipuan besar, Allah telah membiarkan bait milik-Nya dan bangunan-bangunan Gereja-Nya diambil alih oleh gereja palsu yang dipimpin oleh para Anti-Paus bidah. Gereja Katolik masih ada dalam sisa umat Katolik Tradisional. Untuk menganut iman Katolik sejati, dan dengan demikian menganut iman Kristen sejati, orang harus memeluk iman Katolik tradisional. Video ini merupakan bagian pertama dari presentasi lebih panjang tentang bait Allah dalam nubuat. Nantikan bagian-bagian lainnya, dan harap simak video-video kami terkait dengan nubuat dan kitab Wahyu, antara lain termasuk Babel Sudah Jatuh, Sudah Jatuh, dan Identitas Sang Antikristus Terkuak.

2 Tesalonika 2:3-4 - “Sebab sebelum hari itu datang, haruslah datang dahulu kemurtadan [ ἀποστασία] dan haruslah disingkapkan dahulu manusia pendosa, putra kebinasaan, dia yang bersandar di seberang segala sesuatu yang disebut Allah atau segala sesuatu yang disembah, dan meninggikan diri di atas mereka semua ....”

 Identitas Sang Antikristus Terkuak membahas dengan rinci bagian lain dari 2 Tes. 2:3-4, tentang manusia pendosa yang bersandar di seberang segala sesuatu yang disebut sebagai Allah atau segala sesuatu yang disembah, dan meninggikan diri di atas mereka semua. Dan ini terjadi pada acara khas dari kemurtadan yang sudah dinubuatkan.

SHOW MORE