St. Atanasius & Yohanes 16 Membuktikan Filioque
April 29, 2026
SUPPORT
Copy Link
https://endtimes.video/id/st-atanasius-yohanes-16-membuktikan-filioque/
Copy Embed
vatikankatolik.id - Saluran dalam Bahasa Indonesia

|

Bruder Peter Dimond, OSB

Meskipun anda kemungkinan tidak akan mendengar hal ini dari kalangan “Ortodoks” Timur, doktrin Filioque kuat didukung oleh sumber patristik (para Bapa Gereja). Akan makan terlalu banyak waktu hanya untuk membahas bagian besarnya sekalipun. Ada banyak kutipan pendukung Filioque yang bisa dipetik dari para Bapa Latin dan Barat. Tetapi, banyak orang tampaknya tidak menyadari bahwa doktrin Filioque juga kuat didukung oleh pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh para Bapa Yunani dan Timur.

Contohnya, St. Atanasius, seorang Bapa Yunani, berulang kali mengajarkan bahwa Roh Kudus adalah Roh Putra. St. Atanasius juga membuat pernyataan-pernyataan lain yang sangat relevan pada topik kita ini. Mengenai Putra, St. Atanasius berkata:

St. Atanasius, Diskursus I Melawan Kaum Arian, Bab 12, #50, sekitar 356 M:
“Lantas, melalui siapa dan dari siapa gerangan Roh seyogianya diberikan, jikalau bukan melalui Putra, yang juga yang empunya Roh itu?”

St. Atanasius juga berkata demikian tentang Putra:

St. Atanasius, Diskursus I Melawan Kaum Arian, Bab 12, #49, sekitar 356 M:
“‘ … karena tiada siapa pun juga selain Engkau yang sanggup menyatukan manusia dengan Roh Kudus, Kau Citra Bapa, yang seturutnya kami dijadikan pada mulanya; sebab Dikaulah yang empunya Roh sekalipun.’”

Dalam Diskursus III-nya Melawan Kaum Arian, St. Atanasius berkata:

St. Atanasius, Diskursus III Melawan Kaum Arian, Bab 25, #24, sekitar 356 M:
“Sebab Dia [Putra], seperti yang sudah dikatakan, memberi kepada Roh, dan segala sesuatu milik Roh, itu dimiliki-Nya dari Sabda.”

Karena segala sesuatu milik Roh dimiliki-Nya dari Sabda, artinya Roh Kudus memiliki asal-muasal hipostatik dan kodrat ilahi-Nya dari Putra, seperti Dia memilikinya dari Bapa. Teks semacam ini jelas mendukung Filioque.

Teks selanjutnya dari St. Atanasius berkenaan dengan sebuah ayat di Yohanes 16, sebuah teks yang sangat amat penting. Maka dari itu, teks ini harus kita pertimbangkan, sebab ini merupakan bukti lain yang kuat mendukung Filioque. Seperti tercatat di Yohanes 16:13-15, Yesus menyatakan:

Yohanes 16:13-15 - “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku. Segala sesuatu yang Bapa punya, adalah Aku punya; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku.”

Di sini, kita membaca bahwa Roh Kudus akan memberitakan apa yang diterima/diambil-Nya dari Putra. Kalau Roh Kudus menerima/mengambil dari Putra, itu menyiratkan adanya sumber atau pangkal. Ini merupakan indikasi bahwa Putra, bersama dengan Bapa, merupakan pangkal/sumber abadi Roh Kudus, dan karena itu Roh Kudus beroleh asal-muasal hipostatik dan kodrat ilahi-Nya dari Putra dan juga dari Bapa. Ini membuktikan Filioque.

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Laetentur Caeli”, 6 Juli 1439:
“ ... dalam nama Tritunggal Mahakudus: Bapa, Putra dan Roh Kudus, dengan sepersetujuan konsili suci dan universal Florence ini, Kami menetapkan ... Bahwa Roh Kudus, sepanjang segala keabadian adalah dari Bapa dan Putra dan beroleh seluruh esensi serta keberadaan berdaulat-Nya dari Bapa sekaligus dari Putra, dan sepanjang segala keabadian berasal dari kedua-duanya, layaknya berasal dari satu pangkal dan dari satu spirasi yang esa.”

Untuk semakin paham alasannya, coba dipikirkan seperti ini: kita tahu bahwa Roh Kudus beroleh asal-muasal hipostatik dan kodrat ilahi-Nya dari Bapa melalui prosesi abadi. Dan dari prosesi abadi itu, Roh Kudus tidak kekurangan apa pun juga yang Dia punya.

1 Korintus 2:10-11 - “ ... sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah ... tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.”

Roh Kudus sama sekali tidak kekurangan kodrat ilahi, tidak kekurangan pengetahuan tentang masa depan, dan lain sebagainya. Maka dari itu, kalau Roh Kudus juga menerima atau mengambil dari Putra dalam hal memberitakan masa depan, itu hanya mungkin demikian kalau Roh Kudus beroleh asal-muasal hipostatik dan kodrat ilahi-Nya dari Putra dan juga dari Bapa. 

Terkait soal ini, beberapa orang mungkin bertanya:

“Kalau ayat ini membahas prosesi abadi Roh Kudus dari Putra, kok kalimat dalam bahasa Yunaninya menggunakan kala linguistik masa depan dan berkata bahwa Roh Kudus akan menerima atau akan mengambil dari Putra?

Jawabannya: seperti diutarakan oleh St. Tomas Aquinas, adalah sebagai berikut:

St. Tomas Aquinas, Summa Contra Gentiles, Buku IV, Bab 23:
“ ... Roh Kudus menerima sepanjang keabadian, dan kata kerja dengan kala linguistik mana pun juga dapat diterapkan kepada yang abadi, sebab keabadian merangkum waktu segenap-genapnya.”

Fakta bahwa Kitab Suci menggambarkan Roh Kudus menerima seperti itu dari Putra, membuktikan bahwa ini merupakan rujukan kepada prosesi abadi dari Putra. Namun kala linguistik masa depan itu pantas, karena kata kerja dalam kala linguistik masa depan dapat digunakan untuk hal-hal abadi, dan Roh Kudus pada waktu itu juga akan memberitakan hal-hal kepada para Rasul di masa depan.

Dan juga, harap dipertimbangkan bahwa yang menjadi manusia hanyalah Putra Allah. Bapa dan Roh Kudus tidak menjadi manusia. Lantas, bagaimana bisa Roh Kudus, selaku pribadi ilahi yang tidak menjelma, menerima atau mengambil dari pribadi ilahi yang lain dalam memberitakan masa depan? Ini hanya mungkin berlangsung berkat prosesi abadi.

Itulah sebabnya, Roh Kudus secara abadi berasal dari Putra dan juga dari Bapa. Bahkan, ketika Yesus mengulangi pernyataan-Nya bahwa Roh Kudus akan menerima dari-Nya, pernyataan ini dikaitkan-Nya dengan kebenaran bahwa segala sesuatu yang Bapa punya adalah Aku punya. Karena Putra punya semua yang dipunya Bapa, dan Bapa mengembuskan Roh Kudus, lantas Putra juga mengembuskan Roh Kudus.

Harap diperhatikan juga, Yohanes 16:13 berkata bahwa Roh Kudus akan mengatakan “segala sesuatu yang didengar-Nya”. Ini merujuk kepada yang didengar Roh Kudus dari Putra; pada dasarnya serupa dengan perkataan Yesus tentang diri-Nya sendiri sehubungan Bapa.

Yohanes 5:30 – “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri [ἀπ’ ἐμαυτοῦ]; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil ....”

Yohanes 5:19-20 – “ … ‘Sesungguh-sungguhnya Aku berkata kepadamu, Putra tidak dapat melakukan apa pun dari diri-Nya sendiri, kecuali apa yang Dia lihat Bapa melakukannya; karena apa pun itu yang Dia lakukan, seperti itu pulalah Putra melakukan hal-hal itu. Sebab Bapa mengasihi Putra dan memperlihatkan kepada-Nya segala sesuatu yang Dia sendiri lakukan.”

Sewaktu Kristus berkata bahwa Dia tidak dapat melakukan apa pun dari diri-Nya sendiri, kecuali apa yang Dia lihat Bapa melakukannya, Dia tidak sedang berkata bahwa diri-Nya tidak punya kuasa, namun bahwa kodrat ilahi yang Dia punya berasal dari Bapa dan satu adanya dengan Dia dalam ketuhanan. Kristus sedang menjawab orang Yahudi yang berupaya membunuh -Nya, sebab Dia pernah berkata bahwa Allah adalah Bapa-Nya; dan karena itu bahwa Dia setara dengan Allah.

Maka, ketika Yesus berkata bahwa Dia tidak dapat melakukan apa pun dari diri-Nya sendiri, Dia sedang memberi petunjuk bahwa Dia bukan sesosok ilah pemberontak yang mencari-cari supaya dipuja sebagai Allah, berlawanan dengan Bapa, namun bahwa diri-Nya adalah satu Allah dengan Bapa, dan apa yang Dia miliki itu Dia peroleh dari Bapa. Karena alasan inilah Yesus berkata di Yohanes 5:26:

Yohanes 5:26 – “Sebab, sama seperti Bapa mempunyai hidup di dalam diri-Nya, demikian pula Dia memberikan kepada Putra untuk memiliki hidup di dalam diri-Nya [ἐν ἑαυτῷ].”

Terkait perkara Bapa “memperlihatkan” dan Putra “mendengar” di Yohanes 5, St. Tomas Aquinas berkomentar demikian:

St. Tomas Aquinas, Summa Theologiae, Bagian I, Pertanyaan 42, Artikel 6, Jawaban kepada Penolakan 2: “Hendaknya Bapa yang ‘memperlihatkan’ dan Putra yang ‘mendengar’, jangan dipahami dengan makna selain Bapa menyalurkan pengetahuan kepada Putra, serta esensi-Nya pula.”

Perihal “mendengar” dari Bapa ini merupakan indikasi bahwa kodrat Allah disalurkan kepada Putra dari Bapa. Dan seperti yang baru saja kita baca, Roh Kudus juga mendengar dari Putra.

“ … segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari pada-Ku.”

Maka, sama halnya Kristus mendengar dari Bapa karena kodrat ilahi disalurkan kepada Putra dari Bapa, Roh Kudus juga “mendengar” dari Putra, karena kodrat ilahi disalurkan kepada Roh Kudus melalui prosesi abadi dari Putra dan juga dari Bapa.

Perhatikan juga, bahwa Yesus berkata demikian:

“ ... apa pun itu yang Dia [Bapa] lakukan, seperti itu pulalah Putra melakukan hal-hal itu ....”

Karena Bapa mengembuskan Roh Kudus, Putra juga melakukannya.

Pada suratnya yang pertama kepada Serapion dan mengomentari Yohanes bab 16, St. Atanasius menyatakan:

St. Atanasius, Surat Pertama kepada Serapion #21, 357 M (Khaled Anatolios, Athanasius, hal. 220): “ … Roh itu, pada gilirannya, menerima dari Putra; ‘Ia akan mengambil dari apa yang adalah milik-Ku,’ ujar-Nya, ‘dan menyatakannya kepadamu’ [Yohanes 16:14] … Maka dari itu, karena Roh memiliki relasi kodrat dan tatanan yang sama terhadap Putra dengan yang dimiliki oleh Putra terhadap Bapa, bagaimanakah orang yang menyebut Roh sebagai ciptaan dapat meloloskan diri dari kesimpulan berpikir seperti itu pula tentang Putra?”

Kalau Roh memiliki relasi kodrat yang sama terhadap Putra, dengan yang dimiliki Putra terhadap Bapa, itu hanya mungkin demikian kalau Roh Kudus beroleh asal hipostatik dan kodrat ilahi-Nya dari Putra, karena Putra memilikinya dari Bapa. Dengan demikian, Roh Kudus berasal dari Putra dan juga dari Bapa. Teks semacam ini jelas mendukung Filioque.

Masih ada lagi yang bisa kami bahas dari St. Atanasius, namun banyak perikop dari para Bapa semacam ini dihadirkan pada berbagai perdebatan di Konsili reunifikasi Florence, sehingga meyakinkan Besarion dari Nisea dan Isidorus dari Kiev (yang dahulunya terpisah dari Gereja Katolik) untuk menerima Filioque.

Mengenai perikop dari para Bapa yang mendukung Filioque, Besarion menulis:

Besarion dari Nisea, dikutip dalam A. Edward Siecienski, The Filioque, Oxford Univ. Press, 2010, hal. 162: “Bukanlah silogisme … atau kekuatan argumen yang membimbing saya sehingga percaya ini [yaitu, posisi Latin tentang Filioque], namun kata-kata lugas para doktor. Sebab ketika melihat dan mendengar perkataan mereka itu, langsung saja saya kesampingkan segala pertentangan dan kontroversi dan saya pun tunduk kepada otoritas dari mereka yang empunya kata-kata itu … Sebab saya berkeyakinan bahwa para bapa kudus, ketika berbicara demikian dalam Roh Kudus, tidak mungkin menyimpang dari kebenaran dan saya pun berduka karena sebelumnya tidak pernah mendengar kata-kata mereka.”

SHOW MORE