“Pengakuan Iman” Baru SSPX Memuat Problem Besar
Agustus 10, 2026
SUPPORT
Copy Link
https://endtimes.video/id/sspx-pengakuan-iman-kesalahan-modern/
Copy Embed
vatikankatolik.id - Saluran dalam Bahasa Indonesia

|

Bruder Peter Dimond, OSB

Tanggal 24 Juni 2026, Serikat St. Pius X mengeluarkan pengakuan iman baru yang panjang. Meski memuat banyak pernyataan yang benar, pengakuan iman ini juga berisi macam-macam kesalahan dan menentang ajaran Katolik dalam berbagai hal. Langsung kita bahas saja, ya.

59. Saya mengakui bahwa Allah telah berkehendak menjadikan Gereja sebagai sarana yang diperlukan untuk keselamatan; sama halnya di bawah Surga tiada nama yang diberikan kepada manusia selain nama Yesus Kristus yang olehnya kita harus diselamatkan, demikian juga tidak ada keselamatan adikodrati terpisah dari Gereja Katolik. Sebab, semua keselamatan datangnya dari Yesus Kristus; dan semua rahmat penyelamatan, entah diberikan di dalam dan melalui Gereja tunggal yang telah didirikan-Nya itu, atau mengatur penerima rahmat tersebut menuju Gereja yang sama.[1]

Pada butir 59, SSPX dengan benar mengakui bahwa Gereja Katolik diperlukan untuk keselamatan, dan bahwa di bawah Surga, tidak ada nama yang diberikan kepada manusia selain nama Yesus Kristus yang olehnya kita harus diselamatkan. Namun, pada poin berikutnya, mereka lalu menyangkal kebenaran itu. Sayang sekali, ini tipikal di kalangan orang-orang yang menyangkal dogma Di Luar Gereja Tidak Terdapat Keselamatan (EENS). Mereka awalnya mengaku menegaskan posisi itu (seperti yang mereka tahu harus mereka lakukan), namun mereka lalu mencari-cari cara untuk menyangkalnya.

Pada butir 60, SSPX mengakui hal berikut:

“Kebenaran ini berarti bahwa tidak seorang pun dapat diselamatkan tanpa Kristus dan Gereja-Nya, melalui agama sesat, ataupun dapat terjamin dalam memperoleh keselamatan-Nya di luar struktur kasatmata Gereja. Jika ada orang-orang yang diselamatkan tanpa berada sebagai anggota masyarakat kasatmata yang merupakan Gereja, Tubuh Mistis Kristus, mereka diselamatkan melalui pengaturan adikodrati kepada satu-satunya Gereja keselamatan, dan itu terjadi kendati kesalahan-kesalahan dari agama-agama sesat tempat mereka berada. Mereka memerdekakan diri dari kesalahan-kesalahan itu dengan tidak menolak rahmat yang ditawarkan kepada mereka, dan dengan menanggapi rahmat tersebut.”[2]

Pernyataan ini mengajarkan bahwa orang-orang dapat diselamatkan dalam agama-agama sesat, karena dikatakan di sini bahwa orang-orang dapat diselamatkan “kendati kesalahan-kesalahan dari agama-agama sesat tempat mereka berada.” Itu adalah bidah. Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa orang-orang dapat diselamatkan dalam agama sesat, ataupun dalam agama non-Katolik, kendati kesalahan-kesalahan dari agama sesat tersebut.

Paus Pius IV, Iniunctum Nobis, 13 November 1564 (Syahadat Pius IV):
“Saya mengakui pula bahwa terdapat, secara benar dan secara layak, tujuh sakramen dari Hukum Baru, yang diinstitusikan oleh Tuhan kita Yesus Kristus dan diperlukan untuk keselamatan umat manusia, walaupun tidaklah diperlukan bagi setiap orang untuk menerima semuanya … Saya berjanji, berikrar, dan bersumpah bahwa, dengan pertolongan Allah, saya akan selalu memercayai dan mengakui dengan amat setia iman Katolik sejati ini, di luar mana tidak seorang pun dapat diselamatkan dan yang sekarang saya akui dengan sukarela dan yang benar-benar saya percayai. Dengan pertolongan Allah, saya akan mengakuinya utuh dan murni sampai napas terakhir saya ….”

Tidak. Gereja mengajarkan bahwa setiap orang harus beriman Katolik serta berada di pangkuan dan di dalam kesatuan Gereja supaya selamat, dan bahwa tidak ada orang yang selamat di dalam agama sesat. Terlebih, dalam publikasi-publikasi SSPX, ide bahwa orang dapat diselamatkan dalam agama-agama sesat mereka terapkan kepada agama-agama bukan Kristen, seperti Islam, Yudaisme, Buddhisme, Animisme, dsb. Itu jelas-jelas bidah. Contohnya, dalam buku Against the Heresies (terbitan SSPX), pendiri Serikat St. Pius X, Marcel Lefebvre menulis demikian:

“Jelas adanya bahwa pembedaan-pembedaan tertentu harus dibuat. Jiwa-jiwa dapat diselamatkan di dalam suatu agama selain agama Katolik (Protestanisme, Islam, Buddhisme, dll.), tetapi bukan oleh agama ini.”

Itu adalah bidah.

Bernard Fellay, mantan jenderal superior SSPX, secara terbuka menyatakan bahwa orang Hindu di Tibet dapat diselamatkan tanpa tahu atau percaya akan Kristus dan iman Katolik.

Uskup Bernard Fellay, Konferensi di Denver, Co., 18 Februari 2006/The Angelus, “A Talk Heard Round the Word,” April 2006, hal. 5:
Kita tahu bahwa terdapat dua pembaptisan yang lain, pembaptisan keinginan dan pembaptisan darah. Pembaptisan-pembaptisan ini menghasilkan suatu ikatan yang tidak kelihatan yang, bagaimanapun, nyata dengan Kristus, tetapi tidak membuahkan segala hasil yang diterima di dalam pembaptisan air … Dan Gereja selalu mengajarkan bahwa akan ada orang-orang, yang berada di dalam keadaan rahmat, yang telah diselamatkan tanpa mengenal Gereja Katolik. Kita mengetahui hal ini. Tetapi, bagaimanakah hal itu mungkin terjadi jika anda tidak dapat diselamatkan di luar Gereja? Sungguh benar bahwa mereka akan diselamatkan melalui Gereja Katolik, karena mereka akan dipersatukan kepada Kristus, kepada Tubuh Mistis Kristus, yang adalah Gereja Katolik. Tetapi, pemersatuan itu akan tetap tidak terlihat, karena hubungan yang kelihatan ini tidak mungkin terjadi bagi mereka. Ambillah contoh seorang Hindu di Tibet yang sama sekali tidak mengenal Gereja Katolik. Ia hidup menurut hati nuraninya dan hukum-hukum yang telah ditempatkan oleh Allah di dalam hatinya. Ia dapat berada di dalam keadaan rahmat, dan jika ia meninggal dalam keadaan rahmat, ia akan masuk Surga.”

Itu adalah bidah dan menentang banyak ketetapan definitif Kepausan.

Schmidberger dari SSPX menulis demikian:

Romo Schmidberger, Time Bombs of the Second Vatican Council [SSPX], hal. 10: “Bapak ibu, jelas bahwa para pengikut agama-agama lain dapat diselamatkan dengan syarat-syarat tertentu, yaitu, jika mereka berada dalam kesalahan yang tidak teratasi.”

Itu adalah bidah.

Gereja sudah secara dogmatis dan berulang kali mengajarkan bahwa iman akan Kristus diperlukan secara mutlak untuk keselamatan, bahwa tidak ada orang yang diselamatkan tanpa iman Katolik, bahwa semua orang pagan, Yahudi, dsb. yang mati di luar Gereja tidak diselamatkan, dsb. Seperti diajarkan oleh Paus Gregorius XVI:

Paus Gregorius XVI, Summo Iugiter Studio (#2), 27 Mei 1832:
“Pada akhirnya, tiada kekurangan dari antara kalangan orang-orang yang teperdaya ini, mereka yang mencoba untuk meyakinkan diri mereka sendiri serta orang lain, bahwa manusia dapat diselamatkan tidak hanya dalam agama Katolik saja; namun bahwa para bidah yang meninggal dalam bidah pun dapat memperoleh kehidupan kekal.”

Perhatikan, ya: manusia diselamatkan hanya dalam agama Katolik saja.

Kisah Para Rasul 4:11-12 - “[Yesus] Inilah batu yang telah ditolak oleh kalian, para tukang bangunan, namun Ia telah menjadi batu penjuru. Dan tiada keselamatan dalam seorang lain pun, sebab tiada nama lain di bawah Surga yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita harus diselamatkan.

Harus ada ungkapan iman dalam nama Yesus Kristus, sebab nama-Nya adalah satu-satunya nama yang olehnya manusia diselamatkan. Ungkapan iman yang mutlak esensial ini dibuat dalam nama Yesus Kristus. Oleh ungkapan iman inilah manusia harus diselamatkan. Dan yang dimaksud dengan ungkapan iman itu adalah Sakramen Pembaptisan, seperti dijelaskan materi kami.

Konsili Trente, Sesi 5, Tentang Dosa Asal: “ ... barang siapa menyangkal bahwa jasa yang sama dari Yesus Kristus itu dibubuhkan baik kepada orang dewasa maupun kepada anak-anak melalui Sakramen Pembaptisan, yang diselenggarakan secara layak seturut formula yang digunakan Gereja, terkutuklah dia; sebab tiada nama lain di bawah Surga yang diberikan kepada manusia, yang di dalamnya kita harus diselamatkan [Kisah Para Rasul 4:12].”

Namun demikian, SSPX dengan bidahnya mengakui bahwa orang-orang dapat diselamatkan dalam agama-agama sesat, termasuk agama-agama bukan Kristen, kendati kesalahan-kesalahan dari agama tempat mereka berada. Itu bukan ajaran Katolik. Orang seharusnya tidak heran ketika SSPX percaya bidah ini, karena selama bertahun-tahun dan dengan banyak video serta artikel, sudah kami dokumentasikan bahwa mereka memang percaya bahwa jiwa-jiwa dapat diselamatkan tanpa iman Katolik dan tanpa percaya akan Tuhan kita Yesus Kristus sekalipun. Sekarang, posisi sesat mereka pada perkara ini sudah diungkap jelas dalam pengakuan iman publik! Tidak ada orang Katolik sejati yang dapat setuju dengan pengakuan iman itu.

Dicatat, ya: posisi SSPX pada perkara ini tidak hanya terang-terangan menentang dogma Katolik terdefinisi, namun juga menentang ajaran semua doktor Gereja. Tidak ada satu pun doktor Gereja Katolik yang percaya bidah yang diajarkan SSPX, bahwa jiwa-jiwa dapat diselamatkan dalam agama-agama non-Katolik, seperti agama Islam.

St. Tomas Aquinas, Summa Theologiae, Bagian II-II, Pertanyaan 10, Artikel 1: “Tetapi jika dipandang dalam bentuk negasi murni, seperti yang didapati pada mereka yang tidak pernah mendengar apa-apa tentang iman, ketidakberimanan sifatnya bukanlah dosa, melainkan hukuman, karena ketidaktahuan semacam itu tentang hal-hal ilahi merupakan akibat dari dosa nenek moyang pertama kita. Namun orang-orang kafir semacam ini [yaitu mereka yang tidak memiliki iman, akibat ketidaktahuan dan bukan pertentangankenyataannya terkutuk karena dosa-dosa lainnya, dosa-dosa yang tidak dapat diampuni tanpa iman, namun mereka terkutuk bukan karena dosa ketidakberimanan. Oleh sebab itulah Tuhan kita berkata (Yohanes 15:22): ‘Sekiranya Aku tidak datang dan berbicara kepada mereka, mereka tidak akan berdosa’; Agustinus menjabarkan bahwa perkataan itu (Tract. lxxxix in Joan.) ‘mengacu kepada dosa yang mereka perbuat dengan tidak percaya akan Kristus.’”

St. Robertus Belarminus, De Gratia et Libero Arbitrio, Buku 5, Bab 2:
“Sudah ditetapkan dengan jelas dari surat yang sama [kepada jemaat di Roma] ini, pada bab 3 dan 4, bahwa tidak seorang pun dibenarkan tanpa iman akan Kristus.”

Posisi mereka itu juga diremukkan oleh ajaran definitif Gereja Katolik dan para Paus. Posisi bidah yang sama itu juga dianut oleh CMRI serta para “imam tradisionalis” independen lain dalam jumlah tak terhitung yang tidak punya iman Katolik sejati. Itulah yang dahulu merupakan sebab utama terjadinya Kemurtadan Besar dan apa yang sedang kita lihat di Roma sekarang. Para imam itu punya penampilan luar, namun tidak punya iman sejati. Mereka tidak bisa berkenan kepada Allah karena dengan keras kepala menyangkal wahyu Allah bahwa Yesus Kristus secara mutlak diperlukan untuk keselamatan.

Paus Leo XII, Ubi Primum (#14), 5 Mei 1824: “Allah yang Mahabenar, yang bahwasanya adalah kebenaran yang terluhur sendiri, sang Penyelenggara yang Mahabaik dan Mahabijak, tidak mungkin menyetujui semua sekte yang mengajarkan doktrin-doktrin sesat yang saling bertentangan dan berkontradiksi, serta menganugerahkan imbalan-imbalan abadi kepada orang-orang yang mengakui doktrin-doktrin sesat tersebut … dengan Iman Ilahi Kami percaya akan satu Tuhan, satu Iman, satu Pembaptisan, dan bahwa tiada nama lain yang diberikan di bawah Surga kepada manusia selain nama Yesus Kristus dari Nazaret, yang di dalamnya kita harus diselamatkan, dan oleh karena itu Kami mengakui bahwa tidak terdapat keselamatan di luar Gereja.”

Pada catatan kaki mereka, SSPX juga mengutip Surat Kantor Suci palsu dari tahun 1949 yang disebut Suprema Haec Sacra.

Pius XII, Surat Ensiklik Mystici corporis (29 Juni 1943); Surat Kantor Suci kepada Uskup Agung Boston (8 Agustus 1949); Dekret Kantor Suci yang mengekskomunikasi Romo Leonard Feeney (13 Februari 1953). Dalam Surat kepada Uskup Agung Boston, dikatakan (DS 3869): “Dalam kerahiman-Nya yang tak terhingga, Allah telah menghendaki agar dampak-dampak yang diperlukan bagi orang untuk beroleh keselamatan, dan yang dihasilkan oleh pertolongan-pertolongan untuk keselamatan yang diperuntukkan bagi tujuan akhir manusia (bukan berdasar keperluan intrinsik, namun hanya karena ketetapan Allah), juga dapat diperoleh dalam keadaan-keadaan tertentu ketika pertolongan-pertolongan itu digunakan hanya dalam keinginan dan kerinduan”; dan (DS 3870): “Hal yang sama itu hendaknya dikatakan tentang Gereja pula, sejauh Gereja merupakan sarana umum keselamatan. Sebab orang tidak wajib diinkorporasi secara riil sebagai anggota dalam Gereja demi beroleh keselamatan; dia cukup berada sebagai anggota setidak-tidaknya melalui keinginan dan kerinduan. Namun demikian, tidak selalu diperlukan keinginan eksplisit, seperti yang ada pada para katekumen; ketika orang berjuang dalam ketidaktahuan tak teratasi, Allah juga menerima keinginan implisit. Keinginan itu disebut demikian, sebab terangkum dalam disposisi jiwa yang baik. Dengan disposisi ini, orang mau menyelaraskan kehendaknya agar sesuai dengan Kehendak Allah.”

Surat bidah itu bahkan tidak pernah diterbitkan dalam Akta-Akta Takhta Apostolik dan karena itu secara teknis bersifat privat. Surat itu tentu saja tidak infalibel, tetapi juga bahkan bukan akta resmi Kantor Suci. Dokumen bidah itu telah memperdaya banyak orang yang menyangkal dogma, dan mereka berpura-pura bahwa itu adalah akta magisterium, padahal bukan. Mereka memperdaya banyak orang soal perkara itu juga. Informasi lebih lanjut tentang hal ini bisa disimak pada materi kami.

Kembali ke pengakuan iman SSPX. Sambil mengajarkan bidah bahwa jiwa-jiwa dapat diselamatkan dalam agama-agama sesat., SSPX mengakui bahwa manusia dapat diselamatkan:

“tanpa berada sebagai anggota masyarakat kasatmata yang merupakan Gereja, Tubuh Mistis Kristus ....”

Ini keliru dan bertentangan dengan ajaran Katolik. Kami hendak membahas alasannya.

Pada surat bulla Cantate Domino, Paus Eugenius IV secara infalibel mendefinisikan bahwa semua orang yang mati sebagai pagan, Yahudi. dst. tidak selamat kalau mereka tidak berkonversi kepada Gereja sebelum kematian, dan juga bahwa semua orang harus merupakan anggota tubuh gerejawi supaya selamat.

Saya ulangi ya: anda harus merupakan anggota Tubuh Gereja supaya selamat.

“ … kesatuan dari tubuh gerejawi ini sedemikian kuatnya sehingga hanya kepada mereka yang tetap tinggal di dalamnyalah sakramen-sakramen Gereja berdaya guna menuju keselamatan ....”

Maka, sudah pasti secara dogmatis bahwa kalau orang mau berada di dalam Gereja dan diselamatkan, dia harus berada “di dalam tubuh Gereja”. Lalu, apa maksudnya berada di dalam Tubuh Gereja? Maksudnya, anda adalah bagian/aspek kelihatan Gereja. Seperti diajarkan oleh Paus Leo XIII:

Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#3), 29 Juni 1896:
“ … itulah alasan Gereja, dalam Kitab Suci, begitu seringnya disebut satu tubuh, dan juga tubuh Kristus. ‘Kamu semua adalah tubuh Kristus’ (I Corinth. XII, 27). Gereja adalah sebuah tubuh, karena itulah Gereja bersifat kasatmata ....”

Harap dipertimbangkan baik-baik ya: karena Gereja adalah sebuah tubuh, lantas Gereja kasatmata. Berada dalam tubuh Gereja dan berada sebagai aspek kasatmata Gereja sungguh berkelindan dan tidak terpisahkan. Ini benar-benar masuk akal kalau dipikirkan, karena tubuh itu kelihatan dan anggota-anggotanya juga kelihatan. Maka dari itu, kalau anda satu dengan tubuhnya, anda merupakan aspek kelihatan tubuh tersebut. Itulah ajaran Paus Leo XIII. Jadi, ide bahwa orang mungkin merupakan anggota jiwa Gereja, namun bukan anggota Tubuh Gereja, adalah doktrin sesat. Doktrin ini sayangnya diajarkan dalam beberapa sumber falibel (seperti di katekismus tertentu dan beberapa orang teolog), namun doktrin ini bertentangan dengan ajaran Magisterium.

Itulah sebabnya, ketika SSPX dan kelompok-kelompok lain mengajarkan bahwa orang dapat diselamatkan tanpa berada sebagai anggota masyarakat kasatmata yang merupakan Gereja, mereka sedang menentang ajaran dogmatis Paus Eugenius IV bahwa setiap orang harus berada sebagai anggota tubuh gerejawi supaya selamat. Mereka sedang menentang dogma Katolik terdefinisi. Dan seperti yang sudah kami sebutkan, pandangan itu mereka terapkan untuk orang Muslim, Buddhis, Hindu, Yahudi, dll., suatu bidah konyol yang menyangkal banyak ketetapan Paus. Mereka tidak punya iman, dan bidah mereka pada perkara itu menghancurkan iman. Bidah mereka ini juga memutus keanggotaan mereka dengan Allah pada akarnya sendiri, karena mereka menyangkal wahyu Allah. Mereka menyangkal perkataan Yesus tentang perlunya diri-Nya sendiri, ajaran St. Paulus tentang perlunya Yesus, dsb.

Yohanes 3:18 – “ … barang siapa tidak percaya [akan Putra] sudah terkutuk, karena ia tidak percaya dalam nama Putra tunggal Allah.”

Bidah mereka ini membuat mereka tidak dapat benar-benar membaca Kitab Suci, menyembah Allah dan berdoa dengan iman sejati, ketulusan hati dan juga efektivitas. Kembali lagi, mereka punya penampilan luar, namun tidak punya iman sejati. Mereka tidak bisa benar-benar mengenal Allah dan berkenan kepada-Nya ketika mereka merangkul posisi seperti bidah bahwa Muslim dan Buddhis serta orang lain dapat diselamatkan tanpa iman akan Kristus. Ajaran Paus Eugenius IV bahwa setiap orang harus berada dalam tubuh Gereja supaya selamat juga membuktikan bahwa tidak ada orang yang selamat tanpa Sakramen Pembaptisan, karena hanya mereka yang sudah menerima sakramen kasatmata itulah yang merupakan anggota tubuh Gereja.

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Exultate Deo, 22 Nov. 1439:
Pembaptisan suci, yang merupakan pintu gerbang kehidupan rohani, memegang tempat yang pertama dari antara segala sakramen; melaluinya, kita dijadikan sebagai anggota-anggota dari Kristus dan dari Tubuh Gereja. Dan karena maut memasuki alam semesta melalui manusia pertama, ‘jika kita tidak dilahirkan kembali dari air dan Roh, kita tidak dapat,’ sebagaimana yang dikatakan oleh sang Kebenaran, ‘masuk ke dalam Kerajaan Surga’ [Yohanes 3:5]. Materi dari sakramen ini adalah air yang sejati dan alami ....”

Pengakuan iman Serikat St. Pius X tentu saja juga menyangkal kebenaran bahwa orang harus dibaptis supaya dapat masuk Surga.

112. Saya percaya bahwa Pembaptisan merupakan pintu Gereja dan diperlukan untuk keselamatan. Dalam keadaan biasa, tidak seorang pun dapat diselamatkan tanpa menerimanya; melalui sakramen ini, manusia dibasuh dari dosa asal, diinkorporasi ke dalam Kristus, ditandai dengan markah Kristiani, dan dijadikan anggota Gereja. Saya dengan demikian menolak praktik menunda Pembaptisan anak-anak yang belum dapat menggunakan akal, jika tidak ada sebab berat. Namun demikian, siapa saja yang sudah berusia akal dan tanpa bersalah terintangi dalam memperoleh sakramen ini, dapat diselamatkan dalam sarana luar biasa melalui Pembaptisan Keinginan, yakni, dengan ungkapan iman adikodrati dan kasih sempurna yang mengatur orang itu menuju Gereja.[3]

SSPX mengajarkan bahwa pembaptisan diperlukan hanya dalam keadaan biasa, namun itu melawan ajaran infalibel Gereja tentang Yohanes 3:5 dan keperluan mutlak sakramen tersebut.

Paus St. Zosimus¸ Tractoria ad Orientales ecclesias, Aegypti diocesim, Constantinopolim. Thessalonicam, Hierosolymam, 418: “Sebab melalui-Nya, kita dilahirkan kembali secara rohani, melalui-Nya kita disalibkan bagi dunia. Dengan wafat-Nya, dibatalkanlah putusan [harfiah: kirograf] itu, putusan yang ditanggungkan melalui keturunan, putusan maut yang telah dibawa masuk ke dalam segenap umat manusia oleh Adam dan diwariskan kepada setiap jiwa, [dengan putusan itu juga,] sama sekali tiada manusia yang lahir, sebelum dimerdekakan melalui Pembaptisan, tanpa dianggap patut menerima hukuman.”[4]

Harap tonton video kami dalam bahasa Inggris berjudul 2,000 Years of Infallible Papal Teaching On Baptism’s Absolute Necessity”, yang kalau Allah berkenan, kami harap dapat dibahasaindonesiakan menjadi “2.000 Tahun Ajaran Infalibel Kepausan tentang Keperluan Mutlak Pembaptisan”. Video ini menyajikan begitu banyak dokumentasi soal poin itu dan juga membantah posisi sesat SSPX serta kelompok-kelompok lainnya.

Konsili Trente, Sesi 5, Kanon 4, Tentang Dosa Asal:
“ … melalui satu orang, dosa telah masuk ke dalam dunia & maut telah masuk melalui dosa itu … sehingga apa yang telah menjangkiti mereka secara keturunan, dapat dibersihkan dalam diri mereka melalui kelahiran kembali: sebab jika seseorang tidak dilahirkan kembali dari air dan Roh Kudus, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah [Yohanes 3:5].”

Pengakuan iman baru SSPX ini juga menentang ajaran Katolik, ketika menyatakan bahwa Bunda Maria adalah “Co-Redemptrix” (“Penebus Serta”).

50. Saya mengakui bahwa karena dipersatukan secara demikian dengan Putranya yang ilahi, Bunda Allah, atas dasar kepantasan, dalam Bela Rasanya telah berjasa memperoleh apa yang Kristus telah peroleh secara berjasa atas dasar keadilan yang ketat dalam Sengsara-Nya; namun ini tidak berarti bahwa Bunda Allah adalah sebab utama Penebusan, melainkan rekan yang tunduk, bergantung dan seutuhnya relatif pada Putranya, dalam satu tindakan penebusan yang sama bagi jiwa-jiwa kita. Dalam makna inilah kesalehan Katolik yang dilandasi ajaran tradisional para Paus dan para teolog, dengan benar menyebut Bunda Allah oleh sebab Bela Rasanya ini sebagai ‘Co-Redemptrix’ (‘Penebus Serta’), dan dengan demikian ‘Perantara universal’.[5]

Perkara itu dibahas rinci dalam salah satu video kami, yang membuktikan bahwa gelar “Co-Redemptrix” (“Penebus Serta”) tidak akurat, dan menentang ajaran Katolik.

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Cantate Domino”, 1442, ex cathedra: “Gereja Roma Adikudus dengan teguh percaya, mengakui, dan mengajarkan bahwa tidak seorang pun yang dikandung dari pria dan wanita pernah terbebas dari kekuasaan Iblis, selain melalui iman akan sang perantara antara Allah dan manusia, Yesus Kristus Tuhan kita, Dia yang tanpa dosa dikandung, dilahirkan dan wafat. DENGAN WAFAT-NYA SEORANG DIRI, DIA TELAH MENEKUKLUTUTKAN MUSUH UMAT MANUSIA DENGAN MENGHAPUS DOSA-DOSA KITA, dan membuka pintu masuk Kerajaan Surga, yang akibat dosa manusia pertama sendiri telah dia hilangkan ....”

Alasannya, Gereja sudah mendefinisikan secara dogmatis bahwa yang menebus kita adalah Yesus seorang diri, dan bahwa Yesus seorang dirilah Penebus.

Konsili Trente, Sesi 25, Tentang Invokasi & Penghormatan kepada Para Kudus, Relikui-Relikui Mereka, serta Gambar-Gambar Suci: “ … baik dan berguna adanya memanggil para Kudus dalam permohonan dan kerendahan hati, mengandalkan doa-doa para Kudus, bantuan serta pertolongan mereka demi beroleh rahmat serta pertolongan Allah melalui perantaraan Putra-Nya Yesus Kristus Tuhan kita, Dia yang seorang diri merupakan Penebus dan Juru Selamat kita (qui solus noster redemptor et salvator est) ....”

Artinya, Bunda Maria bukan Co-Redemptrix. Ini sama sekali tidak mengurangi peranan atau kepentingan sejati Bunda Maria, namun sebaliknya justru menjunjung kebenaran Allah dengan setia. Kami notabene menyarankan umat Katolik, kalau mereka bisa, agar berdoa 15 dekade Rosario setiap hari dan sering-sering berdoa Salam Maria.

Bahkan belum lama lalu kami mempos sebuah pernyataan menarik yang dianggap berasal dari Romo Karlo Balić, seorang teolog Fransiskan dan konsultor Kantor Suci di bawah Paus Pius XII. Dia dilaporkan memberi tahu orang bahwa:

“[Paus] Pius XII telah menghapus kata Co-Redemptrix di dalam semua dokumen yang menyandang gelar ini dan menggantikannya dengan ‘Socia Christi Redemptoris’ (Rekan Kristus Penebus).”

Jadi, ketika orang mencoba memasukkan kata “Co-Redemptrix” ke dalam draf dokumen bagi Paus Pius XII, Sri Paus menyuruh semua rujukan itu dihapus, dan tidak pernah menggunakan istilah itu ketika menjabat Paus. Ini tentu saja dikarenakan Pius XII menyadari bahwa gelar Co-Redemptrix tidak akurat. Gelar itu tidak konsisten dengan pernyataan dogmatis Gereja bahwa Yesus menebus kita seorang diri. Orang-orang yang keras kepala berkata sebaliknya, ketika sudah mendapati ajaran dogmatis Florence dan Trente pada perkara ini, orang-orang itu bukan pendevosi sejati Bunda Maria, melainkan pendevosi palsu yang menentang kebenaran Allah serta dogma Katolik. Kembali lagi, perkara ini dibahas dengan jauh lebih rinci dalam video kami.

Di dalam pengakuan iman mereka, SSPX juga menolak ekumenisme sesat serta ajaran-ajaran sesat Vatikan II lainnya.

3. Saya dengan demikian menolak semua kesalahan yang berlawanan dengan Iman ini, dan terutama kesalahan-kesalahan berikut: liberalisme, indiferentisme, modernisme, ekumenisme dan laisisme, yang telah dikutuk oleh Paus Pius IX, Paus Leo XIII, Paus Santo Pius X, Paus Pius XI dan Paus Pius XII. Kesalahan-kesalahan ini mengaburkan doktrin terwahyu, memalsukan Tradisi, mencacati liturgi suci, membejatkan moral, memperlemah semangat misionaris dan mencerai-beraikan tatanan sosial Kristiani, sehingga menimbulkan bahaya besar bagi keselamatan jiwa-jiwa.[6]

Memang baik ketika SSPX menolak doktrin-doktrin sesat itu, tetapi, ini sekali lagi menyoroti besarnya ketidakkonsistenan pada jantung posisi mereka sehubungan Sekte Vatikan II.

Sekte Vatikan II secara resmi mendukung ekumenisme sesat. Yohanes Paulus II menyebut dukungan bagi ekumenisme sebagai “tanggung jawab” di dalam surat ensikliknya bernama Ut Unum Sint. Maka dari itu, SSPX bertindak secara absurd ketika mereka menolak ajaran resmi para Anti-Paus Vatikan II (dan konsili Vatikan II sendiri) pada berbagai perkara, padahal, SSPX dengan keras kepala mengaku bersekutu dengan mereka! Posisi SSPX itu sesat. Posisi yang benar, adalah Sekte Vatikan II bukan Gereja Katolik, melainkan Kontra-Gereja akhir zaman, dan bahwa para pengklaim kepausan Vatikan II adalah Anti-Paus, seperti dijelaskan dan didokumentasikan dengan rinci dalam materi kami.

Masih ada banyak lagi yang bisa kami paparkan tentang posisi sesat Serikat St. Pius X tentang para Anti-Paus Vatikan II, dan itu kami lakukan pada video-video kami yang lain. Namun, fokus utama video ini adalah pengakuan iman mereka baru-baru ini. Untuk menganut iman Kristen sejati dan diselamatkan, orang harus menganut iman Katolik tradisional, seperti dijelaskan materi kami.

Catatan kaki:

[1] “I profess that God willed to make the Church the necessary means of salvation; just as there is under Heaven no other name given to men than that of Jesus Christ by which we must be saved, so there is no supernatural salvation independent of the Catholic Church.  For all salvation comes from Jesus Christ; and every saving grace is either given in and through the one Church He has founded, or orders the one who receives it to that same Church.”

[2] “This truth means that no one can be saved without Christ and His Church, through a false religion as such, nor be assured of His salvation outside the visible structure of the Church. If men are saved without belonging to the visible society which is the Church, the Mystical Body of Christ, it is by a supernatural ordination to the one Church of salvation, and in spite of the errors of the false religions in which they find themselves, from which they free themselves by not refusing the grace offered to them and by corresponding to it.”

[3] “I believe that Baptism is the door of the Church and that it is necessary for salvation. Ordinarily, no one can be saved without receiving it; through this sacrament, man is washed from original sin, incorporated into Christ, marked with the Christian character, and made a member of the Church. I therefore reject the practice of deferring without grave cause the Baptism of children who have not the use of reason. However, one who, after the age of reason and without fault on his part, is prevented from accessing this sacrament, can be saved in an extraordinary manner by Baptism of Desire, that is, by a supernatural act of faith and perfect charity which orders him to the Church.”

[4] Per ipsum enim renascimur spiritualiter, per ipsum crucifigimur mundo: ipsius morte mortis ab Adam omnibus introductae, atque transmissae universae animae illud propagatione contractum chyrographum rumpitur, in quo nullus omnino natorum, antequam per Baptismum liberetur, non tenetur obnoxius.

[5] “I profess that, thus united to her Divine Son, she merited by congruity in her Compassion what Christ merited by strict justice in His Passion; not as the principal cause of the Redemption, but as a subordinate associate, dependent upon and wholly relative to her Son, in one and the same act of the Redemption of our souls.  It is in this sense that Catholic piety, supported by the traditional teaching of Popes and theologians, rightly calls her, by reason of this Compassion, ‘Co-redemptrix’ and consequently ‘Universal Mediatrix’.”

[6] I consequently reject all errors contrary to this Faith, and in particular those of liberalism, indifferentism, modernism, ecumenism, and laicism, condemned by Popes Pius IX, Leo XIII, Saint Pius X, Pius XI, and Pius XII.  These errors obscure revealed doctrine, falsify Tradition, disfigure the sacred liturgy, corrupt morals, weaken the missionary spirit, and disintegrate the Christian social order, gravely harming the salvation of souls. 

 

SHOW MORE