Argumen Terbaik untuk Melawan “Pembaptisan Keinginan”
Juli 4, 2022
Copy Link
https://endtimes.video/id/argumen-terbaik-pembaptisan-keinginan/
Copy Embed
vatikankatolik.id - Saluran dalam Bahasa Indonesia

|

BRUDER PETER DIMOND

Saya ingin membahas argumen yang teramat untuk melawan “pembaptisan keinginan”, yang juga terkadang disebut sebagai baptis rindu.

Ada sekitar tujuh sampai sepuluh argumen dari ajaran dogmatis Gereja Katolik yang secara mutlak membuktikan bahwa teori pembaptisan keinginan tidak selaras dengan ajaran Katolik yang infalibel. Saya akan secara cepat menyebutkan ketujuh argumen tersebut, dan saya lalu akan menjelaskan yang mana dari semua argumen yang mungkin adalah argumen yang terbaik.

 

ARGUMEN PERTAMA

Di dalam setiap pernyataan dogmatis tentang perkara ini, Gereja Katolik memahami perkataan Yesus Kristus sendiri di dalam Yohanes 3:5 sebagaimana yang tertulis. Yesus menyatakan bahwa:

“Amin, amin, Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan kembali dari air dan Roh Kudus, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” - Yohanes 3:5

Yesus mengawali pernyataan-Nya dengan kata-kata “Amin, amin”. Ini adalah pertanda bahwa pernyataan-Nya luar biasa serius dan khidmat. Dengan memahami perkataan Yesus sebagaimana yang tertulis – seperti di dalam setiap pernyataan dogmatis yang membahas Yohanes 3:5, Gereja Katolik secara infalibel mengajarkan bahwa tidak seorang pun dapat masuk Surga tanpa dilahirkan kembali dari air dan Roh Kudus, persis seperti yang dinyatakan oleh Yesus Kristus sendiri. Kenyataan tersebut menentang pembaptisan keinginan, suatu teori yang mengajukan bahwa keselamatan dapat diperoleh tanpa kelahiran kembali dari air dan Roh Kudus.

 

ARGUMEN KEDUA

Gereja Katolik mengajarkan secara infalibel bahwa adalah suatu hal yang diperlukan secara mutlak untuk keselamatan bagi “setiap makhluk manusia” untuk tunduk kepada Paus Roma (Bonifasius VIII, Unam Sanctam). Gereja Katolik juga mengajarkan secara infalibel bahwa Gereja dan Paus Roma memang tidak – dan tidak dapat – melaksanakan yurisdiksi atas orang-orang yang belum menerima Sakramen Pembaptisan. Lihatlah Konsili Trente, Sesi 14, Bab 2.

Karena adalah suatu hal yang diperlukan secara mutlak untuk keselamatan bagi setiap makhluk manusia untuk tunduk kepada yurisdiksi Gereja dan Paus Roma, dan seorang makhluk manusia tidak dapat tunduk kepada Gereja dan Paus Roma tanpa menerima Sakramen Pembaptisan – maka secara logis setiap makhluk manusia harus menerima Sakramen Pembaptisan untuk dapat memperoleh keselamatan. Argumen ini sama sekali tidak dapat dielakkan. Dan bahkan para pendukung dari apa yang disebut-sebut sebagai pembaptisan keinginan mengakui bahwa pembaptisan keinginan bukanlah sebuah sakramen.

 

ARGUMEN KETIGA

Di dalam definisi dogmatis yang pertama dari ajaran Di Luar Gereja Tidak Terdapat Keselamatan, Paus Inosensius III pada Konsili Lateran IV di tahun 1215 mendefinisikan secara infalibel bahwa:

Paus Inosensius III, Konsili Lateran IV, 1215:
“Sesungguhnya, hanya terdapat satu Gereja universal dari para umat beriman, di luar mana sama sekali tiada seorang pun yang diselamatkan.”

Gereja didefinisikan secara dogmatis sebagai para umat beriman dan segala keselamatan di luar para umat beriman ditiadakan secara tegas dengan kata-kata nullus omnino (sama sekali tiada seorang pun).

“Sesungguhnya, hanya terdapat satu Gereja universal dari para umat beriman, di luar mana sama sekali tiada seorang pun (nullus omnino) yang diselamatkan.”

Nah, hanya orang-orang yang telah menerima pembaptisan airlah yang merupakan bagian dari para umat beriman. Hal itu terlihat jelas dari ajaran, tradisi, dan liturgi Gereja. Orang-orang yang belum dibaptis, termasuk para katekumen yang belum dibaptis, secara eksplisit terkecuali dari kategori para umat beriman. Sebagai contoh, pertimbangkanlah Misa Para Katekumen (yakni, orang-orang yang belum dibaptis) berbanding dengan Misa Para Umat Beriman (yakni, orang-orang yang sudah dibaptis). Karena hanya orang-orang yang sudah dibaptis airlah yang merupakan bagian dari para umat beriman, seperti yang kita pelajari dari ajaran, tradisi, dan liturgi Gereja, dan karena adalah kepastian yang infalibel bahwa sama sekali tiada keselamatan bagi siapa pun yang berada di luar para umat beriman, seperti yang didefinisikan oleh Gereja – maka secara logis, sama sekali tiada keselamatan bagi orang-orang yang tidak dibaptis air.

 

ARGUMEN KEEMPAT

Gereja Katolik mengajarkan secara infalibel bahwa tanpa Sakramen Pembaptisan, tidak seorang pun dapat berada di dalam Gereja Katolik (yakni, Gereja di luar mana tidak seorang pun diselamatkan). Gereja juga mengajarkan bahwa seseorang tidak dapat menjadi anggota dari Gereja Katolik ataupun bagian dari Tubuh Gereja tanpa Sakramen Pembaptisan. Lihatlah, antara lain, surat ensiklik Mystici Corporis.

Ajaran bahwa hanya orang-orang yang sudah menerima pembaptisan airlah yang berada di dalam Gereja atau yang merupakan anggota Gereja menimbulkan berbagai masalah yang begitu besar bagi para pendukung pembaptisan keinginan sehingga mereka dengan terpaksa telah membuat-buat berbagai teori yang konyol seperti teori bahwa seseorang dapat dianggap berada di dalam Gereja Katolik tanpa menjadi anggota Gereja Katolik; dan bahwa seseorang dapat menjadi bagian dari jiwa Gereja tanpa menjadi bagian dari Tubuh Gereja. Teori-teori semacam itu, tentunya, tidak pernah diajarkan oleh Gereja Katolik, dan memang ditentang oleh dekret-dekret Gereja yang infalibel.

Misalnya, Gereja mengajarkan secara infalibel bahwa semua orang yang berada di dalam Gereja memang adalah anggota dari Gereja Katolik. Lihatlah, antara lain, Konsili Vatikan I.

Itulah sebabnya, pernyataan bahwa seseorang dapat berada di dalam Gereja tanpa menjadi anggota Gereja adalah suatu kesalahan. Gereja juga mengajarkan bahwa hanya orang-orang yang berada di dalam Tubuh Gerejalah yang dapat diselamatkan. Lihatlah surat bulla Cantate Domino dari Konsili Florence.

Paus Eugenius IV, Cantate Domino, 1441:
“ … bahwa kesatuan dari tubuh gerejawi ini sedemikian kuatnya sehingga hanya kepada mereka yang tetap tinggal di dalamnyalah sakramen-sakramen Gereja berdaya guna menuju keselamatan, dan hanya kepada mereka jugalah puasa, derma, dan karya-karya kesalehan serta praktik-praktik lain dari para laskar Kristiani menghasilkan upah yang abadi; dan bahwa tidak seorang pun dapat diselamatkan, sebanyak apa pun ia telah berderma, walaupun ia telah menumpahkan darah dalam nama Kristus, kecuali jika ia telah bertekun di pangkuan dan di dalam kesatuan Gereja Katolik.”

Maka, pendapat bahwa seseorang yang dianggap berada di dalam jiwa Gereja – tetapi tidak berada di dalam Tubuh Gereja – dapat diselamatkan, tidak selaras dengan ajaran Katolik. Ajaran Katolik yang infalibel tentang diperlukannya kesatuan dan keanggotaan Gereja, dan bagaimana ajaran ini secara tak terpisahkan berhubungan dengan penerimaan Sakramen Pembaptisan, membantah teori pembaptisan keinginan serta doktrin-doktrin sesat yang terkait.

 

ARGUMEN KELIMA

Di dalam Syahadatnya dan di dalam banyak ketetapan magisterial lainnya, Gereja Katolik mengajarkan secara infalibel bahwa hanya terdapat satu pembaptisan – dan bukan tiga. Gereja tidak hanya mengajarkan secara infalibel bahwa hanya terdapat satu pembaptisan, tetapi bahwa pembaptisan yang satu itu diselenggarakan di dalam air (Konsili Vienne, 1311-1312).

Konsili Vienne yang dogmatis menyatakan secara khusus bahwa pembaptisan yang satu ini, yang diselenggarakan di dalam air, adalah apa yang harus diakui dengan setia oleh para anggota Gereja Katolik. Sama sekali tiada pembaptisan yang lain, menurut ajaran Katolik yang infalibel. Konsili Vienne menyatakan:

Paus Klemens V, Konsili Vienne, 1311-1312:
“Di samping itu, satu pembaptisan yang esa yang meregenerasikan semua orang yang dibaptis dalam Kristus harus diakui dengan setia oleh semua orang, sama halnya dengan ‘satu Tuhan dan satu iman yang esa’; Pembaptisan ini, yang diselenggarakan di dalam air dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Kami memercayainya sebagai obat yang sempurna untuk keselamatan baik bagi orang dewasa maupun anak-anak.”

Konsili yang sama ini juga mengajarkan bahwa semua orang yang berada di dalam Gereja memiliki pembaptisan yang sama.

Paus Klemens V, Konsili Vienne, 1311-1312:
“ … satu Gereja yang universal, di luar mana tidak terdapat keselamatan, dan karena untuk mereka semua hanya ada satu Tuhan, satu iman, dan satu pembaptisan.”

Mari mempertimbangkan kedua pernyataan dogmatis dari Konsili Vienne tentang pembaptisan sebagai sebuah unit, sebagai poin A dan poin B.

Poin A: Semua orang yang berada di dalam Gereja (di luar mana tidak terdapat keselamatan) memiliki satu pembaptisan yang sama; dan

Poin B: Bahwa pembaptisan yang satu itu (yang dimiliki oleh semua orang yang berada di dalam Gereja) adalah pembaptisan air. Maka, pembaptisan keinginan adalah ajaran sesat.

 

ARGUMEN KEENAM

Surat tomus dogmatis dari Paus St. Leo Agung kepada Flavianus (dari tahun 449) – yang diulangi di Konsili Kalsedon pada tahun 451 – menyatakan bahwa air pembaptisan, roh pengudusan, dan darah Penebusan tidak dapat dipisahkan di dalam pengudusan.

Paus St. Leo Agung, Konsili Kalsedon, 451:
“Dalam kata lain, Roh Pengudusan dan Darah Penebusan serta air Pembaptisan: ketiga hal ini satu adanya dan tetap tidak terpisahkan. Tidak satu pun dari ketiganya dapat dipisahkan dari hubungannya dengan yang lain.”

Hubungan antara air, roh, dan darah sedemikian rupa adanya sehingga tidak dapat dipisahkan di dalam pengudusan – sedangkan teori pembaptisan keinginan dan pembaptisan darah mendalilkan bahwa seseorang dapat memperoleh pengudusan yang terpisah dari pembaptisan air. Itulah mengapa pembaptisan keinginan dan pembaptisan darah adalah ajaran sesat.

 

ARGUMEN KETUJUH

Surat bulla Exultate Deo di Konsili Florence secara infalibel dan eksplisit mengajarkan bahwa manusia tidak dapat masuk Surga tanpa kelahiran kembali dari air dan Roh, sebagaimana yang dikatakan oleh sang Kebenaran, yakni Yesus Kristus sendiri, di dalam Yohanes 3:5:

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, Exultate Deo, 1439
“Dan karena maut memasuki alam semesta melalui manusia pertama, ‘jika kita tidak dilahirkan kembali dari air dan Roh, kita tidak dapat’, sebagaimana yang dikatakan oleh sang Kebenaran, ‘masuk ke dalam Kerajaan Surga [Yohanes 3:5].’ Materi dari sakramen ini adalah air yang sejati dan alami.”   

Maka, Konsili Florence menggunakan kata-katanya sendiri, bahwa tidak seorang pun masuk Surga tanpa kelahiran kembali dari air dan Roh di dalam Sakramen Pembaptisan, untuk menyajikan ajaran Yohanes 3:5 sebagai suatu kebenaran dari wahyu ilahi. Itulah ajaran yang infalibel dari Gereja Katolik dan janganlah biarkan orang lain berkata sebaliknya kepada anda. Ajaran tersebut membantah pembaptisan keinginan, yang mendalilkan keselamatan tanpa kelahiran kembali dari air dan Roh.

 

ARGUMEN TERBAIK MELAWAN PEMBAPTISAN KEINGINAN

Ada sejumlah argumen lain yang dapat saya bahas untuk membantah pembaptisan keinginan lebih lanjut. Tetapi, argumen yang hendak saya diskusikan pada saat ini kemungkinan adalah argumen yang terbaik dari semua argumen yang melawan “pembaptisan keinginan”. Sebabnya argumen ini membuktikan bahwa pembaptisan keinginan TIDAK MUNGKIN benar berdasarkan definisi pembaptisan keinginan sendiri yang diberikan kepada kita oleh para teolog yang mendukung gagasan tersebut!

Maka dari itu, argumen yang akan kita pertimbangkan pada saat ini, secara mutlak fatal kepada teori sesat tersebut dan kepada orang-orang yang mendukungnya. Definisi “pembaptisan keinginan” yang mungkin paling terkenal – yang diajukan oleh para pendukung gagasan tersebut – adalah pendapat dari St. Alfonsus De Liguori tentang perkara itu.

Nah, Gereja Katolik sama sekali tidak pernah mengajarkan pembaptisan keinginan. Tidak pernah. Itulah sebabnya para pendukung Pembaptisan Keinginan harus mengutip penjelasan yang diajukan oleh para teolog yang falibel. Dan dari antara penjelasan para teolog itu, mereka menganggap penjelasan dan definisi untuk gagasan itu dari St. Alfonsus De Liguori, di dalam bukunya Teologi Moral, sebagai definisi yang paling signifikan dan penting. Mereka selalu membawa-bawa penjelasan dan definisi dari St. Alfonsus De Liguori itu.

Sebelum kami membuktikan bahwa penjelasan St. Alfonsus tentang pembaptisan keinginan” secara pasti tidak selaras dengan ajaran Katolik – harus diperjelas bahwa St. Alfonsus hanya percaya bahwa pembaptisan keinginan hanya dapat berlaku kepada orang-orang yang secara eksplisit percaya akan Yesus Kristus dan Allah Tritunggal, tetapi yang meninggal tanpa pembaptisan air.

Santo Alfonsus tidak percaya bahwa pembaptisan keinginan dapat berlaku kepada orang-orang yang tidak percaya atau yang tidak tahu akan misteri-misteri esensial dari iman Katolik. Tidak seperti para pendukung pembaptisan keinginan di zaman modern, St. Alfonsus berpendapat bahwa semua orang yang mati tanpa percaya akan misteri-misteri esensial dari iman Katolik (misalnya, semua orang Muslim, Yahudi, pagan, dsb.) serta semua orang bidah dan skismatis, semua orang ini binasa.

Sermons of St. Alphonsus Liguori [Khotbah St. Alfonsus Liguori], 219:
“Lihatlah pula cinta kasih yang istimewa yang telah dipertunjukkan oleh Allah kepada diri anda dengan membuat anda terlahir di dalam suatu negeri Kristiani, dan di pangkuan Gereja Katolik atau Gereja yang sejati. Betapa banyaknya orang yang terlahir dari antara orang-orang pagan, dari antara orang-orang Yahudi, dari antara orang-orang Mahometan [Muslim] serta para bidah, dan MEREKA SEMUA BINASA.”

Untuk menjelaskan teori pembaptisan keinginan, St. Alfonsus menyebutnya sebagai Baptismus Flaminis. Baptismus Flaminis sering diterjemahkan sebagai “pembaptisan keinginan”, walaupun artinya bukanlah pembaptisan keinginan. Artinya yang sebenarnya adalah pembaptisan peniupan atau napas. Kami akan membahas hal itu lebih lanjut kemudian.

 

ST. ALFONSUS DE LIGUORI

Sekarang, mari kita mempertimbangkan poin kuncinya. Seperti yang telah kami buktikan di dalam artikel kami St. Alfonsus Jelas Membuat Kesalahan tentang “Pembaptisan Keinginan” dan seperti yang kami diskusikan di dalam perkara-perkara yang terkait di dalam buku kami tentang Keselamatan, St. Alfonsus mencoba menjelaskan gagasan “pembaptisan keinginan” ini.

St. Alfonsus, Moral Theology [Teologi Moral], Volume 5, Buku 6, n. 96:
“Pembaptisan peniupan menggantikan sungai pembaptisan air yang sejati “sehubungan dengan pengampunan atas kebersalahan, tetapi bukan sehubungan dengan karakter yang dibekaskan, bukan pula sehubungan dengan segenap utang hukuman yang dihapuskan: sebutannya adalah peniupan karena dilakukan melalui dorongan Roh Kudus, yang disebut sebagai suatu peniupan.”

Ia berkata di dalam penjelasannya bahwa pembaptisan keinginan dianggap memberikan kepada orang-orang pengampunan atas kebersalahan dosa, tetapi tidak menggantikan karakter sakramental Pembaptisan dan tidak menghapuskan hukuman temporal yang terutang akibat dosa. Pendapat St. Alfonsus adalah bahwa apa yang disebut-sebut sebagai “pembaptisan keinginan” tidak menghapuskan hukuman temporal yang terutang akibat dosa. Itulah mengapa ia percaya bahwa orang yang meninggal dengan “pembaptisan keinginan” mungkin harus masuk ke dalam Api Penyucian.

 

SANTO THOMAS AQUINAS

Sangat penting untuk mencatat bahwa itulah pula bagaimana St. Thomas Aquinas menjelaskan Pembaptisan Keinginan.

(Summa Theologiae, Bagian III, Pertanyaan. 68, Artikel. 2, Jawaban kepada Penolakan 2):
“Maka, jika seorang
katekumen memiliki keinginan untuk menerima pembaptisan … lantas, orang semacam itu yang meninggal tidak langsung sampai kepada kehidupan kekal, tetapi akan menderita hukuman untuk dosa-dosa masa lalu. Bagaimanapun, ia sendiri akan diselamatkan dengan cara demikian seperti melalui api, sebagaimana yang dinyatakan di dalam 1 Kor. III.”

Karena seperti itulah penjelasan St. Thomas dan St. Alfonsus untuk “pembaptisan keinginan” – dan karena penjelasan itu diulangi oleh para teolog falibel lainnya – poin yang sekarang akan saya buat luar biasa penting; sebab penjelasan untuk “pembaptisan keinginan” yang diberikan oleh St. Thomas dan St. Alfonsus adalah pembaptisan keinginan. Jika penjelasan mereka untuk pembaptisan keinginan runtuh, maka teori itu pun runtuh sepenuhnya.

Di dalam Summa Theologiae, Bagian III, Pertanyaan 68, Artikel 2, Jawaban kepada Penolakan 2, St. Thomas mengungkapkan pendapatnya yang falibel tentang Pembaptisan Keinginan dengan cara demikian. Penting adanya agar orang-orang memperhatikan hal ini secara khusus sebab poin-poin ini menyangkut inti permasalahannya. St. Thomas berkata sebagai berikut:

Santo Thomas Aquinas, Summa Theologiae, Bagian III, Pertanyaan. 68, Artikel. 2, Jawaban kepada Penolakan 2:
“Maka, jika seorang katekumen memiliki keinginan untuk menerima pembaptisan … lantas, orang semacam itu yang meninggal [atau mati] tidak langsung sampai kepada kehidupan kekal, tetapi akan menderita hukuman untuk dosa-dosa masa lalu. Bagaimanapun, ia sendiri akan diselamatkan dengan cara demikian seperti melalui api, sebagaimana yang dinyatakan di dalam 1 Kor. III.”

Seperti St. Alfonsus, St. Thomas percaya bahwa apa yang disebut-sebut sebagai pembaptisan keinginan ini, yang ada di dalam diri seorang katekumen yang memiliki kepercayaan serta disposisi yang diperlukan, dapat menghapuskan kebersalahan dosa tetapi tidak akan menggantikan karakter sakramental Pembaptisan – dan yang terpenting untuk poin yang sedang kita diskusikan: Santo Thomas berkata bahwa “pembaptisan keinginan” itu tidak akan menghapuskan hukuman temporal yang terutang akibat dosa. Itulah mengapa ia berkata bahwa seorang katekumen semacam itu yang belum dibaptis, yang menerima “pembaptisan keinginan”, akan harus menderita di dalam Api Penyucian. Orang itu tidak akan langsung masuk Surga. Seperti yang sekarang akan saya buktikan dan jelaskan, pengakuan St. Thomas itu menghancurkan teori pembaptisan keinginan sepenuhnya.

Alasan pertamanya adalah bahwa Konsili Florence dan Konsili Trente secara infalibel mengajarkan bahwa rahmat pembaptisan bukan hanya adalah pengampunan atas kebersalahan dosa, tetapi juga adalah pengampunan atas hukuman temporal yang terutang akibat setiap dosa.

Rahmat Pembaptisan

  • pengampunan atas kebersalahan dosa
  • pengampunan atas hukuman temporal yang terutang akibat setiap dosa

Penting adanya bagi orang-orang mengerti arti dari istilah-istilah ini. Untuk orang-orang yang tidak tahu perbedaan antara kebersalahan dosa dan hukuman temporal yang terutang akibat dosa, pertimbangkanlah kasus Raja Daud.

 

KASUS RAJA DAUD

Daud adalah seorang manusia yang benar, yang berkenan di hati Tuhan (seperti yang kita baca di 1 Samuel 13:14). Tetapi, Daud lalu melakukan dosa berat, yakni, percabulan dan pembunuhan, dan ia kehilangan justifikasi atau pembenarannya. Dengan melakukan dosa-dosa berat itu, Daud kehilangan justifikasi dan menempatkan dirinya sendiri di dalam jalan menuju pengutukan.

Tetapi, Daud bertobat dengan tulus dari dosa-dosa beratnya setelah ia ditegur oleh Nabi Natan (seperti yang kita baca di 2 Samuel 12). Oleh karena pertobatannya yang tulus, kebersalahan atau hukuman abadi akibat dosa-dosa berat Daud diampuni, sehingga Daud dibawa keluar dari jalan menuju pengutukan. Tetapi, masalahnya tidak berakhir di situ. Kita membaca bahwa Daud masih harus menderita kematian anaknya sebagai bagian dari hukuman temporal yang terutang akibat dosa-dosa yang telah dilakukannya.

Pertobatan Daud

  • kebersalahan akibat dosa-dosa berat diampuni
  • hukuman temporal yang terutang akibat dosa-dosa yang telah dilakukannya

Ia harus mengalami suatu penderitaan demi membuat ganti rugi atau silih untuk dosa-dosa itu, yang kebersalahannya telah diampuni oleh Allah.

Itulah perbedaan antara kebersalahan dosa dan hukuman temporal yang terutang akibat dosa. Walaupun kebersalahan dosa dihapuskan dalam suatu kasus, bukan berarti bahwa hukuman temporal yang terutang akibat dosa telah dihapuskan.

Itulah mengapa beberapa orang yang diselamatkan harus masuk ke dalam Api Penyucian. Mereka meninggal dalam iman sejati dan dalam keadaan rahmat, karena mereka telah membuat pengakuan atas dosa-dosa berat yang mungkin telah mereka lakukan setelah pembaptisan, dan karena mereka juga telah diampuni dari dosa-dosa tersebut. Bagaimanapun, mereka terkadang perlu membuat silih atau menderita hukuman untuk dosa-dosa yang dilakukan setelah pembaptisan.

Seseorang dapat membuat silih secara penuh atas semua dosanya di dalam hidup ini, dan membuat hukuman temporal yang terutang akibat dosa-dosanya itu sepenuhnya dihapuskan. Orang itu dapat melakukan keduanya dengan melaksanakan kehendak Allah, melakukan perbuatan-perbuatan baik, dan menanggapi hal-hal yang diberikan kepadanya oleh Allah dengan cara yang layak. Bagaimanapun, sewaktu seseorang mati dalam keadaan rahmat tetapi ia masih harus membuat silih atas dosa-dosa tertentu yang telah diampuni, ia tidak langsung masuk Surga. Orang itu harus masuk ke dalam Api Penyucian.

 

RAHMAT SAKRAMEN PEMBAPTISAN

Sakramen Tobat menghapuskan kebersalahan atau hukuman abadi akibat dosa, tetapi tidak secara pasti menghapuskan hukuman temporal yang terutang akibat dosa. Sebaliknya, Sakramen Pembaptisan, yang menyediakan jalan masuk pertama ke dalam Kristus, menghapuskan segalanya. Sakramen Pembaptisan menghapuskan kebersalahan akibat dosa serta hukuman temporal yang terutang akibat setiap dosa. Dengan menerima Sakramen Pembaptisan, seseorang mengalami kelahiran kembali di dalam Yesus Kristus (permandian Roh Kudus). Itulah sebabnya, orang-orang yang menerima rahmat kelahiran kembali atau rahmat pembaptisan ini, tidak perlu membuat silih untuk dosa-dosa masa lalu atau menderita hukuman temporal apa pun untuk dosa-dosa yang dilakukan sebelum menerima rahmat keselamatan yang luar biasa ini. Titus 3:5 menjelaskan tentang rahmat keselamatan yang dianugerahkan di dalam pembaptisan air:

“Ia telah menyelamatkan kita … melalui permandian kelahiran kembali dan pembaruan Roh Kudus.” - Titus 3:5

Rahmat kelahiran kembali atau rahmat pembaptisan berbeda dari pengampunan yang dianugerahkan kepada orang yang sudah dibaptis yang jatuh ke dalam dosa berat, tetapi lalu bertobat dan dipulihkan ke dalam keadaan rahmat. Perbedaan ini harus dipahami.

Mengenai hasil atau rahmat Sakramen Pembaptisan, Konsili Florence menyatakan:

Pembaptisan suciHasil dari sakramen ini adalah pengampunan atas segala kesalahan, baik kesalahan asal maupun nyata, serta atas segala hukuman yang terutang akibat kesalahan tersebut. Maka, penyilihan untuk dosa-dosa masa lalu tidak diberlakukan kepada orang-orang yang dibaptis, tetapi jika mereka mati sebelum melakukan suatu kesalahan apa pun, mereka langsung sampai kepada Kerajaan Surga dan kepada Penglihatan akan Allah.”

Adalah suatu dogma bahwa hasil atau rahmat pembaptisan adalah pengampunan atas setiap dosa dan atas setiap hukuman yang terutang akibat dosa. Rahmat Pembaptisan membuat seseorang berada di dalam suatu keadaan di mana ia akan langsung masuk Surga (tanpa masuk Api Penyucian) jika orang itu mati sebelum melakukan suatu dosa yang lain.

 

KONSILI FLORENCE TENTANG PEMBAPTISAN VS AJARAN ST. THOMAS TENTANG “PEMBAPTISAN KEINGINAN”

Untuk mengungkapkan bagaimana individu yang telah menerima rahmat ini, dan mati sebelum melakukan suatu kesalahan lain, akan langsung masuk Surga, teks yang baru saja kami kutip dari Konsili Florence berkata di dalam bahasa Latin:

Konsili Florence:

Latin: “statim ad regnum caelorum et Dei visionem perveniunt.”

Yang berarti:

Terjemahan: “mereka langsung sampai kepada Kerajaan Surga dan kepada Penglihatan akan Allah.”

Di dalam teks dari St. Thomas yang telah kami kutip – di mana ia berkata bahwa katekumen yang mati dengan “pembaptisan keinginantidak akan langsung sampai kepada Surga tetapi akan menderita hukuman untuk dosa-dosa masa lalunya, St. Thomas menggunakan kata-kata yang hampir persis sama dalam bahasa Latin untuk mengajarkan hal yang persis berlawanan dengan Konsili Florence tentang bilamana orang itu langsung masuk Surga dan bilamana orang itu akan menderita hukuman.

St. Thomas berkata:

Latin:  “non statim pervenit ad vitam aeternam.”

Yang berarti:

Terjemahan:  “ia tidak langsung sampai kepada kehidupan kekal.”

Pernyataan ini persis berlawanan dengan apa yang dinyatakan oleh Konsili Florence tentang bagaimana orang yang menerima rahmat pembaptisan memang secara langsung sampai kepada Surga dan kehidupan kekal! Baik Konsili Florence maupun St. Thomas menggunakan “statim”, yang berarti “langsung”. Konsili Florence berkata bahwa orang itu statim (langsung) sampai kepada penglihatan akan Allah, dan oleh karena itu, sampai kepada kehidupan kekal, sedangkan St. Thomas berkata non statim (tidak langsung).

Konsili Florence:  statim ad regnum caelorum et Dei visionem perveniunt.” 
Terjemahan:  “mereka langsung sampai kepada Kerajaan Surga dan kepada Penglihatan akan Allah.”

 

St. Thomas Aquinas:  “non statim pervenit ad vitam aeternam.”
Terjemahan:  “ia tidak langsung sampai kepada kehidupan kekal.”

Di samping itu, Konsili Florence dan St. Thomas menggunakan kata kerja yang persis sama pervenire, yang berarti, sampai kepada atau mencapai. Florence menggunakan kata perveniunt, bentuk orang ketiga jamak dari kata kerja tersebut, untuk menyatakan bahwa mereka langsung sampai kepada Penglihatan akan Allah, dan oleh karena itu, kepada kehidupan kekal.

Konsili Florence:  statim ad regnum caelorum et Dei visionem perveniunt.”
Terjemahan:  “mereka langsung sampai kepada Kerajaan Surga dan kepada Penglihatan akan Allah.”

St. Thomas Aquinas:  “non statim pervenit ad vitam aeternam.”
Terjemahan:  “ia tidak langsung sampai kepada kehidupan kekal.”

St. Thomas menggunakan pervenit, bentuk orang ketiga tunggal dari kata kerja yang persis sama, untuk menyatakan bahwa orang itu tidak langsung sampai kepada (atau mencapai) kehidupan kekal. Dan masih ada lagi. Konsili Florence menyatakan bahwa karena rahmat pembaptisan menghapuskan segalanya, orang-orang yang menerima rahmat ini tidak perlu membuat suatu silih pun atau menderita hukuman untuk dosa-dosa masa lalu. Kata-kata yang digunakan oleh Florence untuk dosa-dosa masa lalu dalam bahasa Latin adalah “pro peccatis praeteritis.”

Konsili Florence, Exultate Deo:
“Pembaptisan Suci … Hasil dari sakramen ini adalah pengampunan atas segala kesalahan, baik kesalahan asal maupun nyata, serta atas segala hukuman yang menjadi utang akibat kesalahan tersebut. Maka, penyilihan untuk dosa-dosa masa lalu (pro peccatis praeteritis) tidak diberlakukan kepada orang-orang yang dibaptis tidak diberlakukan kepada orang-orang yang dibaptis, tetapi jika mereka mati sebelum melakukan suatu kesalahan apa pun, mereka langsung sampai kepada Kerajaan Surga dan kepada Penglihatan akan Allah.”

St. Thomas menggunakan kata-kata yang persis sama – “pro peccatis praeteritis” (yang berarti “untuk dosa-dosa masa lalu”) – untuk mengajarkan bahwa orang yang menerima “pembaptisan keinginan” itu akan harus menderita hukuman untuk dosa-dosa masa lalu, yang bertentangan dengan ajaran Konsili Florence. St. Thomas berkata, “tetapi ia [sang katekumen] akan menderita hukuman untuk dosa-dosa masa lalu.”

St. Thomas Aquinas, Summa Theologiae, Bagian III, Pertanyaan 68, Artikel 2, Jawaban kepada Penolakan 2:
“Maka, jika seorang katekumen memiliki keinginan untuk menerima pembaptisan … maka, orang semacam itu yang meninggal tidak langsung sampai kepada kehidupan kekal, tetapi akan menderita hukuman untuk dosa-dosa masa lalu (pro peccatis praeteritis). Bagaimanapun, ia sendiri akan diselamatkan dengan cara demikian seperti melalui api, sebagaimana yang dinyatakan di dalam 1 Kor. III.”

Fakta-fakta ini membuktikan: bahwa pembaptisan keinginan, sebagaimana yang dijelaskan oleh para pendukungnya yang paling terkemuka, tidak menganugerahkan rahmat pembaptisan atau kelahiran kembali secara rohani. Itu adalah suatu fakta; dan fakta itu menghancurkan dan membantah seluruh teori pembaptisan keinginan, persisnya oleh karena poin yang kedua ini: yakni, bahwa Konsili Trente menyatakan bahwa rahmat justifikasi (pembenaran) adalah rahmat kelahiran kembali secara rohani atau rahmat pembaptisan.

Izinkan saya mengulanginya: Konsili Trente menyatakan bahwa rahmat justifikasi pertama sendiri adalah rahmat kelahiran kembali secara rohani, keadaan di mana segalanya (yakni, kebersalahan dosa dan hukuman temporal yang terutang akibat dosa) dihapuskan, sedemikian rupa sehingga orang yang dilahirkan kembali berada di dalam keadaan di mana ia akan langsung masuk Surga, jika ia mati setelah dilahirkan kembali dengan cara demikian. Pembaptisan keinginan, oleh karena itu, adalah ajaran sesat. Sama sekali tidak ada keraguan tentang hal ini.

 

KONSILI TRENTE TENTANG KELAHIRAN KEMBALI

Di dalam dekretnya tentang Justifikasi, Konsili Trente Sesi 6, Bab 3 secara infalibel menyatakan:

Konsili Trente, Dekret tentang Justifikasi, Sesi 6, Bab 3:
“ … SEHINGGA JIKA MEREKA TIDAK DILAHIRKAN KEMBALI DI DALAM KRISTUS, MEREKA TIDAK AKAN PERNAH DIBENARKAN, karena oleh kelahiran baru [kelahiran kembali] itu melalui jasa dari Sengsara-Nya rahmat yang membenarkan mereka dianugerahkan atas diri mereka.”

Perhatikan, Konsili Trente mengajarkan bahwa anda harus dilahirkan kembali di dalam Kristus untuk dibenarkan. Artinya, anda bahkan tidak dapat ditempatkan di dalam keadaan rahmat tanpa menerima kelahiran kembali dari Yesus Kristus. Dan kelahiran kembali itu, seperti yang diajarkan berulang kali oleh Konsili Trente, menghapuskan segalanya: baik kebersalahan dosa maupun semua hukuman yang terutang akibat dosa. Tentunya, seandainya kelahiran kembali itu tidak menghapuskan segalanya, kelahiran kembali itu tidak akan menciptakan manusia yang baru, dan tentunya bukanlah kelahiran kembali. Kelahiran kembali membuat seseorang berada di dalam suatu keadaan di mana ia akan langsung masuk Surga. Tentang poin ini, Konsili Trente menyatakan di dalam suatu deklarasi infalibel yang lain, di dalam Sesi 5 tentang Dosa Asal, #5:

Konsili Trente, Sesi 5 tentang Dosa Asal, #5:
SEBAB DI DALAM DIRI MEREKA YANG DILAHIRKAN KEMBALI, tiada suatu hal pun yang dibenci oleh Allah; karena tiada pengutukan bagi mereka yang sungguh-sungguh dikuburkan bersama dengan Kristus oleh pembaptisan ke dalam kematian; yang tidak berjalan seturut daging, tetapi, dengan menanggalkan manusia lama, dan mengenakan manusia baru yang diciptakan sesuai dengan kehendak Allah, mereka dijadikan tak bersalah, tak bernoda, murni, tanpa cela, dan kekasih Allah, mereka memang dijadikan ahli waris Allah, dan ahli waris bersama Kristus; sedemikian rupa sehingga sama sekali tiada suatu hal pun yang dapat menunda mereka untuk masuk ke dalam Surga.”

Konsili Trente lalu berkata bahwa mereka “dijadikan tak bersalah, tak bernoda, murni, tanpa cela … mereka memang dijadikan ahli waris Allah, dan ahli waris bersama Kristus; sedemikian rupa sehingga sama sekali tiada suatu hal pun yang dapat menunda mereka untuk masuk ke dalam Surga.”

Jadi, ajaran yang infalibel dari konsili Trente adalah bahwa orang-orang yang dilahirkan kembali, dijadikan tak bersalah, tak bernoda, dst. sedemikian rupa sehingga tiada suatu hal pun yang dapat menunda mereka untuk masuk ke dalam Surga. Itulah persisnya apa yang juga diajarkan oleh Konsili Florence lebih awal. Sewaktu anda dilahirkan kembali, jika anda meninggal di dalam keadaan itu sebelum melakukan suatu kesalahan, anda langsung masuk Surga. Dan hal yang begitu signifikan tentang teks Konsili Trente di Sesi 5, #5 ini adalah bahwa pernyataan ini bukan hanya membahas hasil dari pembaptisan, tetapi juga hasil dari kelahiran kembali.Sebab di dalam diri mereka yang dilahirkan kembali”, ujar Konsili Trente, “sama sekali tiada suatu hal pun yang dapat menunda mereka untuk masuk ke dalam Surga.”

Maka, jika anda telah menerima rahmat kelahiran kembali, anda bukan hanya telah menerima pengampunan atas kebersalahan dosa tetapi juga pengampunan atas hukuman temporal yang terutang akibat setiap dosa. Itulah mengapa tiada suatu hal pun yang menunda anda untuk masuk ke dalam Surga.

Rahmat Kelahiran Kembali

  • pengampunan atas kebersalahan dosa
  • pengampunan atas hukuman temporal yang terutang akibat setiap dosa
  • tiada penundaan untuk masuk Surga

Dan Sesi 6, Bab 3 dari Konsili Trente (yang telah saya kutip) menyatakan bahwa jika seseorang tidak dilahirkan kembali di dalam Kristus, ia bahkan tidak dapat dibenarkan. Anda lihat masalahnya untuk pembaptisan keinginan?

Konsili Trente mengajarkan bahwa seseorang bahkan tidak dapat ditempatkan di dalam keadaan rahmat tanpa dilahirkan kembali di dalam Kristus. Dan kelahiran kembali di dalam Kristus itu menghapuskan segalanya: kebersalahan dosa serta hukuman temporal yang terutang akibat dosa.

Konsili Trente, Dekret tentang Justifikasi, Sesi 6, Bab 3:
“ … SEHINGGA JIKA MEREKA TIDAK DILAHIRKAN KEMBALI DI DALAM KRISTUS, MEREKA TIDAK AKAN PERNAH DIBENARKAN ….”

Konsili Trente, Sesi 5 tentang Dosa Asal, #5:
SEBAB DI DALAM DIRI MEREKA YANG DILAHIRKAN KEMBALI … sekali tiada sesuatu pun yang dapat menunda mereka untuk masuk ke dalam Surga.”

Tetapi, menurut definisi pembaptisan keinginan sendiri – yang diberikan oleh para pendukungnya yang paling terkemuka – pembaptisan keinginan tidak menganugerahkan rahmat kelahiran kembali karena pembaptisan keinginan tidak menghapuskan hukuman temporal yang terutang akibat dosa.

Maka, pembaptisan keinginan pastinya adalah ajaran sesat. Orang harus menolak pembaptisan keinginan, yang adalah teori sesat ciptaan manusia. Itulah mengapa Gereja tidak pernah mengajarkan teori semacam itu. Jika orang-orang menerima doktrin-doktrin dari Allah, seperti yang diajarkan secara infalibel oleh Gereja, doktrin-doktrin itu benar dan konsisten. Tetapi, jika suatu pandangan teologis adalah hasil dari pendapat-pendapat atau spekulasi manusia, pandangan tersebut akan memuat banyak kecacatan dan ketidakkonsistenan. Dalam kasus “pembaptisan keinginan”, yang sederhananya adalah suatu doktrin ciptaan manusia, dan bukan doktrin Gereja dan Allah, terdapat suatu cacat yang lebar dan menganga di dalam inti teori tersebut. Demikianlah yang telah kita diskusikan.

Inilah titik lemah dari teori pembaptisan keinginan, yakni, gagasan bahwa orang dapat dibenarkan tanpa dilahirkan kembali. Gagasan itu secara langsung menentang ajaran Katolik. Anda harus dilahirkan kembali untuk dibenarkan atau diselamatkan. Agar gagasan  “pembaptisan keinginan” bahkan dapat mulai konsisten dengan ajaran Katolik, gagasan itu harus mendalilkan bahwa pembaptisan keinginan menganugerahkan rahmat kelahiran kembali. Tetapi, gagasan itu tidak mengajarkan hal tersebut, seperti yang dibuktikan oleh penjelasan dari St. Thomas, St. Alfonsus, dan lain sebagainya tentang perkara ini. Allah membiarkan gagasan sesat “pembaptisan keinginan” memuat masalah dan ketidakkonsistenan yang besar ini di dalam inti gagasan tersebut – sehingga orang-orang pada akhirnya dapat melihat gagasan itu sebagaimana adanya: sebagai suatu doktrin sesat. Fakta-fakta yang telah kami diskusikan membuktikan bahwa teori pembaptisan keinginan berakhir sudah. Pembaptisan keinginan adalah gagasan yang sesat.

 

PERTANYAAN UNTUK MENGHANCURKAN TEORI “PEMBAPTISAN KEINGINAN”

Jadi, berikut cara anda dapat menyudahi segala debat tentang pembaptisan keinginan dalam waktu satu atau dua menit, dengan satu pertanyaan. Tanyakanlah saja hal berikut kepada pendukung pembaptisan keinginan:

Pertanyaan: Apakah hal yang disebut-sebut “pembaptisan keinginan” menganugerahkan rahmat pembaptisan/kelahiran kembali secara rohani, ya atau tidak?

Jika mereka tidak tahu apa itu rahmat pembaptisan/kelahiran kembali secara rohani, jelaskanlah kepada mereka bahwa menurut ajaran Katolik, itu adalah rahmat yang mengampuni segala dosa, segala hukuman yang terutang akibat dosa, dan menjadikan seseorang berada di dalam keadaan di mana ia langsung masuk Surga jika ia meninggal di dalam keadaan itu, tanpa perlu masuk Api Penyucian. Apakah pembaptisan keinginan memberikan keadaan itu kepada orang tersebut, ya atau tidak?

Jika jawaban mereka “tidak”, bahwa pembaptisan keinginan tidak menganugerahkan rahmat pembaptisan/kelahiran kembali secara rohani, melainkan hanya keadaan rahmat dan pengampunan atas kebersalahaan dosa, tetapi tidak menganugerahkan pengampunan atas hukuman temporal yang terutang akibat dosa – mereka baru saja membuktkan bahwa pembaptisan keinginan adalah ajaran sesat dan tidak dapat menyelamatkan seorang pun. Alasannya adalah bahwa Konsili Trente menyatakan bahwa tidak seorang pun dapat dibenarkan (yakni, ditempatkan dalam keadaan rahmat) tanpa dilahirkan kembali di dalam Kristus (Sesi 6, Bab 3).

Kenyataannya, di sepanjang Dekret Justifikasi di dalam Konsili Trente, keadaan justifikasi pertama diidentifikasikan sebagai keadaan kelahiran kembali. Sebagai contoh, Konsili Trente menyatakan di dalam Sesi 6, Bab 4, bahwa transisi kepada justifikasi bukan hanya suatu transisi kepada keadaan rahmat – melainkan kepada keadaan rahmat dan pengangkatan sebagai anak-anak, di mana seorang manusia dilahirkan kembali. Jadi, dengan menjawab “tidak, pembaptisan keinginan tidak menganugerahkan rahmat kelahiran kembali atau rahmat pembaptisan”, mereka baru saja menghancurkan teori pembaptisan keinginan. Mereka telah membuktikan bahwa tidak seorang pun dapat dibenarkan atau diselamatkan olehnya.

Jika sebaliknya, mereka menjawab “ya, pembaptisan keinginan menganugerahkan rahmat pembaptisan/kelahiran kembali secara rohani”, mereka telah menolak seluruh teori pembaptisan keinginan dan membuktikan bahwa teori itu sesat. Sebabnya adalah pembaptisan keinginan didasari ajaran St. Thomas, St. Alfonsus, dan para teolog lainnya.

Para teolog itu mengajarkan bahwa “pembaptisan keinginan” tidak menganugerahkan rahmat kelahiran kembali. Kenyataannya, definisi dan penjelasan teori tersebut ditemukan di dalam berbagai buku panduan teologis yang falibel dari abad ke-19 dan ke-20. Para pendukung pembaptisan keinginan gemar mengutip buku-buku semacam itu, dan dengan salah percaya bahwa buku-buku semacam itu infalibel atau pasti benar. Tetapi para teolog itu mengajarkan bahwa “pembaptisan keinginan” tidak menghapuskan hukuman temporal yang terutang akibat dosa, dan oleh karena itu, tidak menganugerahkan rahmat pembaptisan atau kelahiran kembali secara rohani. Itulah pembaptisan keinginan. Itulah teori tersebut. Itulah posisi tersebut. Maka, dengan menjawab “ya, pembaptisan keinginan menganugerahkan rahmat kelahiran kembali”, seorang pendukung pembaptisan keinginan telah sepenuhnya menolak pembaptisan keinginan. Ia telah menolak ajaran St. Thomas, St. Alfonsus, dan para teolog lain tentang masalah itu dan memang menyatakan bahwa ajaran mereka keliru dan salah.

Dengan menjawab “ya” terhadap pertanyaan itu, orang tersebut telah menolak pembaptisan keinginan, karena argumen-argumen yang mendukung pembaptisan keinginan secara erat terikat kepada, dan berlandaskan penjelasan yang diberikan oleh individu-individu tersebut. Maka, terlepas bilamana jawaban mereka terhadap pertanyaan tersebut adalah ya atau tidak, mereka membuktikan bahwa pembaptisan keinginan adalah ajaran sesat. Karena pembaptisan keinginan hanyalah suatu teori ciptaan manusia yang tidak pernah diajarkan oleh Gereja. Teori itu tidak konsisten terhadap dirinya sendiri dan tidak konsisten terhadap ajaran Katolik, sebab teori itu adalah doktrin sesat.

Misalnya, menarik untuk dicatat bahwa para teolog yang telah disebutkan itu (yang disertakan di dalam berbagai buku panduan teologis yang gemar dikutip oleh para pendukung pembaptisan keinginan) sering mengajarkan bahwa “pembaptisan darah” (yang juga tidak pernah diajarkan oleh Gereja) menganugerahkan rahmat pembaptisan atau kelahiran kembali, sedangkan “pembaptisan keinginan” tidak menganugerahkan rahmat tersebut. Jadi, menurut mereka, “pembaptisan darah” menganugerahkan suatu rahmat, sedangkan “pembaptisan keinginan” menganugerahkan suatu rahmat yang lain.

Memangnya di mana Gereja pernah mengajarkan hal semacam itu? Jawabannya, Tidak di suatu tempat pun.

Gereja mengajarkan bahwa terdapat satu pembaptisan air yang esa, yang dimiliki semua orang yang berada di dalam Gereja. Pembaptisan air yang esa itu, yang dimiliki oleh semua orang di dalam Gereja, adalah apa yang harus diakui dengan setia oleh semua orang (seturut Konsili Vienne), seperti yang telah dikutip sebelumnya.

 

KONTRADIKSI PARA TEOLOG TENTANG “PEMBAPTISAN KEINGINAN”

Pembaptisan keinginan dan pembaptisan darah adalah teori-teori sesat ciptaan manusia. Itulah mengapa, sewaktu para teolog mencoba untuk menjelaskan teori-teori sesat ini, mereka menentang diri mereka sendiri hanya dalam hitungan beberapa paragraf saja. Contohnya, jika anda membaca sebuah buku panduan teologis yang falibel, yang mempromosikan gagasan-gagasan tersebut, dalam satu paragraf, mereka akan memberi tahu anda bahwa hasil atau rahmat pembaptisan dapat diperoleh tanpa pembaptisan air melalui pembaptisan darah dan keinginan. Tetapi tunggu dulu: mereka tidak percaya bahwa “pembaptisan keinginan” menganugerahkan rahmat pembaptisan / kelahiran kembali kepada seorang pun, karena “pembaptisan keinginan” tidak menganugerahkan kepada seorang pun pengampunan atas hukuman temporal yang terutang akibat dosa, seperti yang telah kami tunjukkan. Bagaimanapun, karena mereka tidak menyadari detail serta fakta dari posisi mereka sendiri, mereka terkadang akan menyatakan bahwa “pembaptisan keinginan” memang menganugerahkan rahmat pembaptisan, tetapi beberapa paragraf kemudian, mereka akan menentang diri mereka sendiri dan mengakui bahwa “pembaptisan keinginan” tidak menganugerahkan rahmat pembaptisan atau kelahiran kembali sebab pembaptisan keinginan tidak menghapuskan hukuman temporal yang terutang akibat dosa. Mereka bahkan tidak menyadari kontradiksi yang besar di dalam posisi mereka sendiri.

Itulah apa yang terjadi sewaktu orang-orang mencoba untuk membela dan menjelaskan doktrin-doktrin sesat yang tidak pernah diajarkan oleh Gereja – melainkan hanya oleh orang-orang yang falibel.

Orang-orang yang lebih percaya akan manusia – bahkan manusia yang suci – daripada ajaran Gereja, selalu, selalu kalah. Allah tidak pernah menjanjikan infalibilitas kepada semua orang kudus, semua teolog atau semua doktor Gereja, melainkan hanya kepada St. Petrus dan para penerusnya di dalam jabatan pengajaran mereka yang otoritatif. St. Petrus dan para penerusnya dianugerahi iman yang tidak akan gugur. Iman itu tidak diberikan kepada semua anggota Gereja, semua teolog, orang kudus atau doktor Gereja.

Allah membiarkan teori sesat pembaptisan keinginan diajarkan oleh para teolog falibel dan di dalam berbagai karya tulis yang falibel, sebab Ia membiarkan kesalahan-kesalahan untuk beredar. Tetapi Ia melindungi pernyataan-pernyataan Gereja yang resmi sehingga sama sekali tidak mengajarkan teori sesat itu. Itulah mengapa pembaptisan keinginan sama sekali tidak muncul di dalam dekret yang infalibel. Di samping itu, walaupun Allah membiarkan pembaptisan keinginan beredar di dalam sumber-sumber yang falibel, Ia meninggalkan suatu cacat yang besar di dalam inti penjelasan teori tersebut. Cacat yang besar ini membuktikan bahwa pembaptisan keinginan tidak mampu menganugerahkan justifikasi kepada seorang pun karena pembaptisan keinginan tidak menganugerahkan kelahiran kembali secara rohani.

Untuk bersikeras mempromosikan pembaptisan keinginan di hadapan fakta-fakta ini sederhananya adalah untuk berkehendak buruk. Dengan melakukannya, seseorang berdusta dan mempromosikan bidah, atau doktrin sesat. Perbuatan itu setara dengan percaya dan mengajarkan bahwa orang-orang dapat dibenarkan tanpa dilahirkan kembali, suatu hal yang bertentangan dengan ajaran eksplisit dari Gereja Katolik.

 

AJARAN GEREJA LEBIH BAIK DARIPADA AJARAN PARA TEOLOG

Orang-orang perlu mengerti bahwa anda tidak diizinkan untuk sederhananya mencari suatu opini, suatu ungkapan, atau suatu ajaran di dalam karya tulis dari seorang doktor Gereja atau dari seorang santo – dan semata-mata mengikutinya dan mempromosikannya tidak peduli apa yang terjadi. Gagasan semacam itu telah dikutuk oleh Paus Aleksander VIII di dalam Kesalahan-Kesalahan Para Jansenis.

Paus Aleksander VIII, Kesalahan-Kesalahan Para Jansenis #30:
“Sewaktu seseorang menemukan suatu doktrin yang secara jelas ditetapkan di dalam Agustinus, ia dapat secara mutlak memegangnya dan mengajarkannya, tanpa peduli suatu surat bulla pun dari Sri Paus.” – Dikutuk.

St. Agustinus adalah seorang santo dan doktor Gereja. Tetapi, ia tidak infalibel. Ia dahulu menulis sebuah buku pencabutan pernyataan. Jika anda menemukan suatu ajaran di dalam karya St. Agustinus, anda tidak dapat semata-mata berkata, “Ah, ajaran ini ada di dalam karya St. Agustinus. Saya akan memegang ajaran itu tidak peduli apa yang terjadi, bahkan jika tidak masuk akal, bahkan jika ajaran itu tidak konsisten dengan sesuatu yang bobotnya lebih besar.” Tidak, anda tidak dapat semata-mata memercayai gagasan semacam itu dan mempromosikannya. Pandangan semacam itu adalah agama ciptaan manusia.

Seperti yang telah saya tunjukkan, pembaptisan keinginan jelas adalah ajaran sesat, tetapi, pembaptisan darah juga adalah ajaran sesat. Pembaptisan darah bertentangan dengan argumen-argumen dogmatis yang telah saya sebutkan pada permulaan diskusi ini. Itulah sebabnya, pembaptisan darah tidak pernah diajarkan oleh Gereja dan secara harfiah sama sekali tidak ditemukan di dalam ajaran Magisterium Kepausan yang infalibel. Di samping itu, saya telah menunjukkan bahwa pandangan St. Alfonsus, St. Thomas, dsb. tentang pembaptisan keinginan tidak dapat dibela dan bertentangan dengan ajaran Katolik.

Kenyataannya, sewaktu St. Alfonsus mencoba menjelaskan posisinya tentang perkara ini, ia bahkan mengutip Konsili Trente secara salah, seperti yang telah kami buktikan di dalam artikel kami tentang perkara tersebut. Ia mengutip suatu hal yang dinyatakan oleh Konsili Trente tentang Sakramen Tobat, dan ia dengan keliru menerapkan pernyataan itu kepada pembaptisan air. Ia pada dasarnya salah. Anda tidak diizinkan untuk mendukung opininya atau opini St. Thomas atau opini seseorang pun – jika opini itu menentang sesuatu yang bobotnya lebih besar. Dan kita mengetahui sebagai suatu fakta bahwa penjelasan mereka tentang teori tersebut tidaklah benar.

Faktanya, ajaran bahwa seseorang harus menolak pandangan-pandangan para doktor Gereja jika pandangan mereka terbukti tidak selaras dengan pernyataan Gereja, adalah ajaran yang sama dari St. Thomas sendiri di dalam Summa Theologiae, Bagian II-II, Pertanyaan 10, Artikel 12. Ia berkata:

St. Thomas Aquinas, Summa Theologiae, Bagian II-II, Pertanyaan 10, Artikel 12:
“Adat Gereja memiliki otoritas yang sangat besar dan harus secara saksama ditaati dalam segala hal, sebab doktrin para doktor Katolik sendiri memperoleh otoritasnya dari Gereja. Maka dari itu, kita harus mematuhi otoritas Gereja dan bukan otoritas dari seorang Agustinus atau seorang Hieronimus atau seorang doktor mana pun.”

Teks ini sangat penting karena beberapa orang akan berargumentasi bahwa Gereja mendukung teologi St. Thomas. Ya, Gereja memang mendukung teologi St. Thomas secara umum. Tetapi, bahkan jika diterapkan secara spesifik, teologi St. Thomas adalah bahwa opini-opininya sendiri tidak infalibel, dan harus dikesampingkan sewaktu ajaran Magisterium menunjukkan bahwa opini-opini St. Thomas tidak benar.

Pandangan St. Thomas yang keliru tentang dogma Maria Dikandung Tanpa Noda adalah suatu contoh dari opini semacam itu.

St. Thomas Aquinas, Summa Theologiae, Bagian III, Pertanyaan 27, Artikel 2, Jawaban kepada Penolakan 2:
Seandainya jiwa dari sang Perawan Suci tidak pernah memperoleh noda dosa asal, hal itu akan menjadi penghinaan terhadap martabat Kristus, karena diri-Nya adalah Juru Selamat universal untuk semua orang.”

Prinsip ini berlaku kepada teolog atau doktor Gereja mana pun. Faktanya, sewaktu para pendukung pembaptisan keinginan bersikeras mengajukan posisi St. Thomas atau St. Alfonsus dalam perkara ini, di hadapan fakta-fakta yang telah kami bahas, mereka mempermalukan diri mereka sendiri; karena mereka bersikeras menyatakan bahwa orang-orang dapat diselamatkan oleh pembaptisan keinginan berdasarkan sumber-sumber yang penjelasannya membuktikan bahwa tidak seorang pun dapat diselamatkan oleh pembaptisan keinginan karena anda harus dilahirkan kembali untuk dibenarkan.

Seperti yang dinyatakan oleh Paus Benediktus XIV di dalam Apostolica (#6), 26 Juni 1749:

Paus Benediktus XIV, Apostolica (#6), 26 Juni 1749:
“Penilaian Gereja lebih baik daripada penilaian seorang Doktor yang terkenal oleh karena kesucian dan ajarannya.”

Orang-orang yang bersikeras mempromosikan posisi pembaptisan keinginan di hadapan fakta-fakta ini sederhananya mempromosikan doktrin sesat yang melawan ajaran Gereja Katolik dan jiwa mereka akan binasa.

 

MASALAH ISTILAH “PEMBAPTISAN KEINGINAN”

Suatu masalah yang lain untuk doktrin sesat pembaptisan keinginan berkenaan dengan istilah Baptismus Flaminis.

Itu adalah istilah dalam bahasa Latin yang sering diterjemahkan sebagai “baptism of desire” dalam bahasa Inggris, atau yang disadur sebagai baptisan keinginan dalam bahasa Indonesia. Tetapi, arti dari istilah itu bukanlah “pembaptisan keinginan”.

Flaminis adalah bentuk genitif dari deklinasi ketiga kata benda netral flamen. Flamen sesungguhnya berarti

flaminis – flamen

peniupan,
napas,
angin kencang atau
embusan angin.

dan tidak berarti keinginan. Tetapi, jika anda membaca materi-materi yang mendukung “pembaptisan keinginan”, anda akan melihat bahwa flaminis pada umumnya diterjemahkan sebagai “keinginan”, walaupun artinya bukanlah “keinginan”. Kenyataannya, di dalam karya tulis mereka, anda akan sering menemukan bahwa apa yang disebut-sebut sebagai baptismus flaminis (yang tidak ada) diterjemahkan sebagai:

baptismus flaminis

pembaptisan api atau
pembaptisan lidah api atau
pembaptisan roh atau
pembaptisan keinginan

Tetapi, baptismus flaminis sama sekali tidak berarti salah satu pun dari istilah-istilah itu. Pembaptisan lidah api akan menjadi baptismus flammae dan bukan flaminis, dan pembaptisan api akan menjadi baptismus ignis dan bukan baptismus flaminis. Intinya, mereka bahkan tidak dapat menemukan arti dari istilah baptismus flaminis, karena ini adalah suatu teori sesat ciptaan manusia.

 

DEKRET GEREJA YANG INFALIBEL TIDAK MENGAJARKAN “PEMBAPTISAN KEINGINAN”

Kenyataan bahwa “pembaptisan keinginan” adalah ajaran sesat persisnya merupakan alasan gagasan tersebut sama sekali tidak pernah ditemukan di dalam dekret yang infalibel atau di dalam ajaran dari konsili ekumenis. Pikirkanlah hal itu.

Terdapat banyak konsili yang telah berlangsung. Konsili-konsili tersebut mempermaklumkan dekret-dekret yang panjang tentang sakramen-sakramen, Gereja, Di Luar Gereja Tidak Terdapat Keselamatan, kesatuan Gereja, dan banyak perkara lainnya. Tetapi, hal yang yang menakjubkan, adalah “pembaptisan keinginan” dan “pembaptisan darah” tidak pernah diajarkan. Dan bertentangan dengan apa yang dinyatakan secara salah oleh para pendukung tertentu dari pembaptisan keinginan, Konsili Trente tidak mengajarkan gagasan itu sama sekali, seperti yang dibuktikan dengan jelas oleh materi kami tentang perkara itu.

Alasan “pembaptisan keinginan dan darah” tidak pernah diajarkan di dalam dekret yang infalibel atau di dalam suatu konsili mana pun adalah bahwa keduanya adalah doktrin-doktrin sesat. Konsili-konsili Gereja bahkan mempermaklumkan banyak dekret dogmatis tentang pembaptisan: keperluannya … formulanya … pembaptisan bayi berbanding dengan pembaptisan orang dewasa … satu pembaptisan, dll. Tetapi, “pembaptisan keinginan dan darah” tidak pernah diajarkan bahkan satu kali pun. Roh Kudus melindungi ajaran yang infalibel milik Gereja Katolik dari kesalahan-kesalahan itu.

Patut dicatat pula bahwa pembaptisan keinginan dan pembaptisan darah bukan hanya tidak pernah diajarkan di dalam proklamasi Gereja yang bersifat infalibel atau magisterial, tetapi, bahkan jika anda mempertimbangkan abad-abad sejak Konsili Trente sampai menjelang Vatikan II – dan jika anda mencari tahu tentang ajaran resmi para Paus di dalam surat-surat ensiklik Kepausan yang ditujukan kepada Gereja universal – anda akan menemukan bahwa gagasan pembaptisan keinginan dan pembaptisan darah yang sesat itu tidak pernah diajarkan sekali pun.

Walaupun ensiklik-ensiklik Kepausan yang ditujukan kepada segenap Gereja sering kali membahas pembaptisan, keperluan pembaptisan, dll. - pada periode di mana para teolog yang falibel sedang mengajukan gagasan-gagasan sesat pembaptisan keinginan dan darah di mana-mana – surat-surat ensiklik Kepausan yang ditujukan kepada segenap Gereja tidak pernah mengajarkan pembaptisan keinginan atau pembaptisan darah.

Roh Kudus terus melindungi ajaran resmi Gereja Katolik dari doktrin-doktrin sesat itu, walaupun Allah membiarkan doktrin-doktrin sesat tersebut beredar di dalam sumber-sumber yang falibel, seperti di dalam ajaran para teolog, katekismus, dll. Allah membiarkan kesalahan-kesalahan itu diajarkan di dalam sumber-sumber yang falibel dan Ia membiarkan orang-orang salah paham tentang perkara ini, sederhananya karena seperti yang dikatakan oleh 1 Korintus 11:19, harus ada bidah-bidah.

Sebab juga harus ada bidah-bidah: sehingga orang-orang yang teruji juga dapat menjadi nyata dari antara kalian.” - 1 Korintus 11:19

Pada akhirnya, doktrin sesat pembaptisan keinginan bertumbuh dan meluas sedemikian rupa sehingga setiap orang yang menerima gagasan itu juga percaya atau menerima gagasan bahwa anda tidak perlu percaya akan Yesus Kristus dan iman Katolik untuk memperoleh keselamatan. Itulah posisi yang dianut atau didukung oleh setiap pendukung “pembaptisan keinginan” di zaman kita. Mereka berpendapat bahwa jiwa-jiwa dapat diselamatkan di dalam agama-agama sesat oleh apa yang disebut-sebut sebagai “pembaptisan keinginan”. Itulah sebabnya, inti permasalahan dari doktrin sesat ini, yang telah kami ekspos di dalam video ini, tidak akan menjadi perkara bagi banyak dari antara mereka karena mereka tidak peduli bilamana posisi tersebut konsisten.

Para pendukung “pembaptisan keinginan” hanya ingin percaya akan sesuatu, apa pun hal itu, selama hal itu memungkinkan keselamatan di luar Yesus Kristus, Gereja-Nya (yakni, Gereja Katolik), dan Pembaptisan yang telah ditetapkan-Nya. Mereka menggunakan doktrin sesat pembaptisan keinginan sebagai sosok Kristus yang palsu, yang dianggap menyelamatkan orang-orang di luar Yesus Kristus serta iman-Nya. Posisi itu sepenuhnya bidah dan berlawanan dengan ajaran Gereja Katolik yang infalibel. Sebagai contoh, lihatlah surat bulla dogmatis Cantate Domino dari Konsili Florence.

Adalah suatu dogma yang telah didefinisikan bahwa tidak seorang pun dapat diselamatkan tanpa iman Katolik dan bahwa semua orang yang mati tanpa mengetahui atau tanpa percaya akan misteri-misteri esensial dari iman Katolik (yakni, Allah Tritunggal dan Penjelmaan) orang-orang semacam itu binasa. Hal itu berarti bahwa semua orang yang mati sebagai Muslim, Yahudi, pagan, dll. mereka semua binasa.

Gereja juga mengajarkan bahwa semua orang yang membangkang terhadap suatu ajaran Gereja yang bersifat otoritatif atau yang memisahkan diri mereka sendiri dari Gereja setelah mereka dibaptis di dalamnya, orang-orang semacam itu binasa. Itulah mengapa semua orang yang meninggal sebagai bidah atau skismatis binasa. Hanya orang-orang yang meninggal dengan Sakramen Pembaptisan, dengan iman Katolik, dan di dalam keadaan rahmatlah yang dapat diselamatkan. Semua pendukung Pembaptisan Keinginan di zaman kita ini percaya akan bidah tersebut, bahwa jiwa-jiwa dapat diselamatkan di dalam agama-agama sesat atau memandang orang-orang yang percaya akan bidah itu sebagai orang-orang Katolik. Memang benar bahwa promosi doktrin sesat ini di zaman kita merupakan sumber dari begitu banyak kejahatan.

 

SURAT ENSIKLIK KEPAUSAN KEPADA GEREJA UNIVERSAL, PASCA-TRENTE DAN PASCA-VATIKAN I TIDAK MENGAJARKAN “PEMBAPTISAN KEINGINAN”

Menarik untuk mencatat bahwa Allah bukan hanya tidak pernah mengizinkan Magisterium untuk mengajarkan pembaptisan keinginan atau darah – bahkan pada tahun-tahun menjelang Vatikan II – tetapi ajaran resmi dari Magisterium pada periode pasca-Trente dan pasca-Vatikan I itu juga secara resmi menyatakan doktrin yang sama, doktrin Gereja yang sejati: bahwa tidak seorang pun dapat menjadi anggota Gereja Katolik tanpa Sakramen Pembaptisan, dan bahwa tidak seorang pun dapat diselamatkan tanpa Sakramen Pembaptisan.

MEDIATOR DEI (1947)

Di dalam surat ensikliknya, Mediator Dei #43, 20 Nov. 1947, yang ditujukan kepada Gereja universal, Paus Pius XII merujuk kepada Sakramen Pembaptisan, dengan berkata demikian:

Paus Pius XII, Mediator Dei (#43), Nov. 20, 1947:
“ … permandian pembaptisan membedakan dan memisahkan semua orang Kristiani dari orang-orang lainnya yang belum dibasuh oleh sungai penebusan ini dan yang bukan anggota Kristus ….”

Sri Paus secara spesifik mengajarkan bahwa Sakramen Pembaptisan membedakan dan memisahkan semua orang Kristiani (christianos omnes dalam bahasa Latin). Sakramen Pembaptisan membedakan dan memisahkan semua orang Kristiani dari orang-orang lainnya: yakni, dari mereka yang bukan orang Kristiani dan bukan anggota Kristus.

“ … permandian pembaptisan membedakan dan memisahkan semua orang Kristiani (christianos omnes) dari orang-orang lainnya yang belum dibasuh oleh sungai penebusan ini dan yang bukan anggota Kristus ….”

Ia berkata bahwa pembedaan itu serupa dengan bagaimana seorang imam dibedakan dari para umat beriman yang lain dengan menerima Sakramen Imamat. Jadi, anda tidak dapat menjadi orang Kristiani tanpa Sakramen Pembaptisan; dan hanya orang-orang Kristianilah yang diselamatkan, seperti yang diajarkan secara dogmatis oleh Gereja. Maka, sekali lagi, doktrin yang persis sama ini, yang kita temukan di dalam ajaran yang infalibel dari Konsili-Konsili diulangi di sini: di dalam ensiklik yang satu ini, di dalam ajaran resmi dari Magisterium setelah Konsili Trente dan Vatikan I. Dan kita tidak menemukan pembaptisan keinginan atau pembaptisan darah.

MYSTICI CORPORIS (1943)

DI dalam surat ensikliknya Mystici Corporis #22, Paus Pius XII secara resmi mengajarkan:

Paus Pius XII, Mystici Corporis (#22), 29 Juni 1943
Tetapi, orang-orang yang kenyataannya terhitung sebagai anggota Gereja hanyalah mereka yang telah menerima permandian kelahiran kembali dan mengakui iman sejati ….”

Jika anda belum menerima permandian kelahiran kembali (pembaptisan air), anda tidak dapat dianggap sebagai anggota dari Gereja Katolik. Itulah ajaran resmi Gereja.

Omong-omong, harus dicatat bahwa bayi-bayi yang sudah dibaptis memang mengakui iman sejati, sebab kata kerja untuk mengakui yang ada di sini menggambarkan hal yang diperlihatkan secara terbuka. Dan atas dasar pembaptisan mereka, bayi-bayi itu ditandai atau dikhususkan sebagai orang-orang yang dimiliki oleh iman sejati atau yang mengakui iman tersebut. Itulah sebabnya, Gereja secara dogmatis mendefinisikan bahwa bayi-bayi yang sudah dibaptis adalah bagian dari para umat beriman. Dan oleh karena itu, Pius XII secara resmi mengajarkan bahwa anda tidak dapat dianggap sebagai seorang anggota Gereja Katolik tanpa menerima permandian kelahiran kembali (pembaptisan air). Itulah doktrin yang persis sama yang kita temukan di dalam ajaran Konsili-Konsili yang infalibel. Dan kita melihat ajaran itu diulangi di sini di dalam Mystici Corporis, di dalam ajaran resmi dari Magisterium setelah Konsili Trente dan Vatikan I. Dan kita tidak menemukan pembaptisan keinginan atau pembaptisan darah.

QUAS PRIMAS (1925)

Di dalam surat ensiklik Paus Pius XI, Quas Primas (#15), 11 Desember 1925, yang ditujukan kepada Gereja universal, kita juga membaca hal berikut sehubungan dengan perihal masuknya seseorang ke dalam kerajaan Allah:

Paus Pius XI, Quas Primas (#15), 11 Des. 1925:
“Kerajaan tersebut, sebagaimana yang dilukiskan oleh Injil, umat manusia bersiap diri untuk memasukinya dengan melakukan penitensi. Tidak seorang pun dapat memasukinya selain melalui iman dan pembaptisan; tetapi pembaptisan, yang sepenuhnya merupakan suatu ritus jasmani, menandakan dan menghasilkan regenerasi rohani.”

Paus Pius XI secara spesifik mengajarkan bahwa manusia tidak dapat memasuki Kerajaan Allah selain melalui iman dan pembaptisan. Dan ia berkata bahwa pembaptisan adalah suatu ritus jasmani. Karena pembaptisan keinginan dan darah bukanlah ritus-ritus jasmani, Sri Paus sedang mengajarkan bahwa manusia tidak dapat memasuki Kerajaan Allah tanpa iman dan tanpa Sakramen atau ritus pembaptisan. Itulah doktrin yang persis sama yang kita temukan di dalam ajaran yang infalibel dari berbagai Konsili. Kita melihat ajaran tersebut diulangi di dalam ajaran resmi Magisterium yang ditujukan kepada segenap Gereja setelah Konsili Trente dan Vatikan I. Dan kita tidak menemukan pembaptisan keinginan atau pembaptisan darah.

Doktrin sejati tentang pembaptisan bahwa tidak seorang pun dapat diselamatkan tanpa dilahirkan kembali dari air dan Roh – berasal dari ajaran Yesus Kristus sendiri.

“Amin, amin, Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan kembali dari air dan Roh Kudus, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” – Yohanes 3:5

Kita membaca perkataan Yesus sendiri tentang perkara ini di dalam Yohanes 3:5 dan Markus 16:16. Doktrin yang sama itu diulangi di sepanjang surat-surat St. Paulus, di mana ia merujuk kepada orang yang menerima pembaptisan air sebagai orang yang diselamatkan “melalui iman” (Galatia 3:26; Efesus 2:8-9; Kolose 2:12; dll.).

Doktrin apostolik yang sejati ini yang membahas Sakramen Pembaptisan – dan yang juga mengajarkan bahwa tidak seorang pun diselamatkan tanpa Sakramen Pembaptisan – termuat di dalam Kitab Suci. Doktrin ini diajarkan oleh para bapa dan secara infalibel dideklarasikan oleh konsili-konsili ekumenis. Dan seperti yang baru saja kita lihat, doktrin ini secara infalibel diulangi di dalam ajaran resmi dari para Paus dan Magisterium bahkan pada dekade-dekade serta abad-abad terkini di mana Allah membiarkan berbagai macam bidah dan kesesatan tersebar dan merajalela di dalam sumber-sumber yang falibel.

 

KESIMPULAN

Jadi, berikut cara untuk sepenuhnya menghancurkan teori pembaptisan keinginan, serta posisi siapa pun yang mendukung teori itu, di dalam suatu debat atau argumentasi. Anda dapat sederhananya bertanya kepada orang itu:

Apakah “pembaptisan keinginan” mengaruniakan rahmat pembaptisan/kelahiran kembali secara rohani/kelahiran kembali, ya atau tidak?

Jika mereka berkata tidak, mereka telah membuktikan bahwa tidak seorang pun dapat diselamatkan oleh “pembaptisan keinginan” karena anda harus dilahirkan kembali untuk dibenarkan (seturut Konsili Trente).

Jika mereka berkata ya, bahwa pembaptisan keinginan mengaruniakan rahmat kelahiran kembali secara rohani, mereka telah sepenuhnya meninggalkan dan menolak pembaptisan keinginan – karena sumber-sumber yang mereka andalkan untuk menjelaskan gagasan itu mengajarkan bahwa pembaptisan keinginan tidak mengaruniakan rahmat kelahiran kembali secara rohani. Teori itu adalah ajaran sesat, dan harus ditolak. Fakta-fakta ini seharusnya membuat hal itu jelas kepada semua orang.

Paus Klemens V, Konsili Vienne, 1311-1312:
“Di samping itu, satu pembaptisan yang esa yang meregenerasikan semua orang yang dibaptis dalam Kristus harus diakui dengan setia oleh semua orang sama halnya dengan ‘satu Tuhan dan satu iman yang esa’[Ef. 4:5]; Pembaptisan ini, yang diselenggarakan di dalam air dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Kami memercayainya sebagai obat yang sempurna untuk keselamatan baik bagi orang dewasa maupun anak-anak.”

Paus Paulus III, Konsili Trente, Kanon 5 tentang Sakramen Pembaptisan, Sesi 7, 1547:
“Barangsiapa berkata bahwa pembaptisan [Sakramen] adalah hal yang opsional, yaitu, tidak diperlukan untuk keselamatan: terkutuklah dia.”

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, Exultate Deo, 1439:
“Pembaptisan suci, yang merupakan pintu gerbang kehidupan rohani, memegang tempat yang pertama dari antara segala sakramen; melaluinya kita dijadikan sebagai anggota-anggota dari Kristus dan dari tubuh Gereja. Dan karena maut memasuki alam semesta melalui manusia pertama [Roma 5:12], ‘jika kita tidak dilahirkan kembali dari air dan Roh, kita tidak dapat,’ sebagaimana yang dikatakan oleh sang Kebenaran, ‘masuk ke dalam Kerajaan Surga.’ [Yohanes 3:5]. Materi dari sakramen ini adalah air yang sejati dan alami.”

SHOW MORE